Ada banyak persepsi dalam mendefinisikan arti sebuah kesuksesan.
ada yang berpendapat sukses adalah ketika seseorang telah mampu hidup mandiri
dan berdikari. Ada yang berpendapat, jika memiliki harta melimpah, rumah megah
dan mobil mewah. Ada pula yang berpandangan ketika seseorang bisa meraih apa
yang dicita-citakannya, maka itulah yang disebut sebuah kesuksesan. sungguh
beragam pandangan seseorang dalam mengartikan sebuah kesuksesan. semua pendapat
tidak mutlak salah tergantung siapa yang mendefinisikannya dan di lingkungan
mana dia hidup, tumbuh, dan berkembang.
Terlahir dari sebuah keluarga yang sangat sederhana di sebuah desa
di kabupaten Pasuruan, dari ayah berpendidikan tamat SD dan ibu tak tamat SD,
membuat saya hanya memiliki paradigma yang sempit dalam meraih sebuah
kesuksesan. Semenjak kecil, saya lebih banyak mendapatkan pendidikan agama dari
pada pendidikan formal/umum. Sejak masa SD, saya hanya bercita-cita setelah
lulus SD mau mondok di pondok Salaf (pondok tradisional yang mengajarkan
pendidikan agama saja tanpa kurikulum dan pendidikan formal). Untuk mewujudkan
cita-cita tersebut saya rajin menabung karena memang ekonomi keluarga saya
sangat pas-pasan. hampir semua keluarga besarku
dan masyarakat desa berpandangan bahwa pendidikan agama di pondok sangat
penting, bisa baca dan hitung saja sudah cukup tak perlu sekolah formal
tinggi-tinggi.
Namun cita-cita ku berubah dan terbalik 180 derajat ketika keluarga saya terkena masalah yang membutuhkan penyelesaian dari orang yang paham akan pengetahuan umum. Setelah itu saya tidak hanya ingin mondok saja tapi juga harus berpendidikan formal juga sampai jenjang setinggi-tingginya. saya percaya bahwa terlahir dalam keluarga miskin dan sederhana adalah sebuah ketentuan atau Tuhan, tapi jika hidup dalam keadaan miskin, bodoh, bahkan menyusahkan orang lain adalah sebuah kemalasan. Semangat tersebut selalu kujaga dengan rajin menabung, sedekah, dan berdoa. Sejak lulus SD, untuk pembayaran pendaftaran masuk MTs, SMA, dan pesantren (pesantren Terpadu) sebagian besar dari tabungan saya.
Namun cita-cita ku berubah dan terbalik 180 derajat ketika keluarga saya terkena masalah yang membutuhkan penyelesaian dari orang yang paham akan pengetahuan umum. Setelah itu saya tidak hanya ingin mondok saja tapi juga harus berpendidikan formal juga sampai jenjang setinggi-tingginya. saya percaya bahwa terlahir dalam keluarga miskin dan sederhana adalah sebuah ketentuan atau Tuhan, tapi jika hidup dalam keadaan miskin, bodoh, bahkan menyusahkan orang lain adalah sebuah kemalasan. Semangat tersebut selalu kujaga dengan rajin menabung, sedekah, dan berdoa. Sejak lulus SD, untuk pembayaran pendaftaran masuk MTs, SMA, dan pesantren (pesantren Terpadu) sebagian besar dari tabungan saya.
Ketika masa SMA dan di pesantren (SMA sambil mondok) saya banyak
mengikuti organisasi sekolah seperti ESSA (English Study Student Assosiation; sebagai ketua) yaitu sebuah program di bawah OSIS
yang bertugas dalam pengembangan bahasa Inggris di sekolah dan mengikuti ekstrakuriler
video editing. Sedangkan di pesantren saya diamanahi menjadi ketua OMIM
(Organisasi Murid Intra Madrasah) dan anggota petugas kebersihan pondok
pesantren. Selama masa itu saya merasakan betul beban ekonomi yang dipikul
orang tua dalam pembiayaan apalagi biaya kuliah, padahal saya masih ingin terus melanjutkan
studi dan mengembangkan potensi diri. Oleh karena itu saya ingin sekali mendapatan
beasiswa saat kuliah. Saya berusaha keras belajar dan bertanya kepada
orang-orang yang telah sukses, baik kepada guru, teman, dan kakak ulumni yang
sudah mendapatkan beasiswa. Dari situ saya bisa belajar banyak tentang cara
mendapat beasiswa sekaligus paradigma hidup mereka. Saya juga sering mengikuti
seminar motivasi dan leadership, baik yang diselenggarakan oleh sekolah
ataupun pesantren.
Syukur Alhamdulillah saya diterima
sebagai penerima beasiswa Bidikmisi 2011, sungguh nikmat tak terkira saya
rasakan. Bagi saya sukses terbesar dalam hidupku adalah mendapatkan beasiswa
bidikmisi tersebut, karena beasiswa tersebut telah meringankan beban orang tua
dalam pembiayaan, sehingga saya bisa merubah pola pikir dan paradigma warga
desa saya dan memotivasi bahwa pendidikan itu tidak mahal dan bisa dirasakan
oleh siapapun. Di bangku kuliah saya aktif mengikuti berbagai seminar dan
pelatihan, khususnya berkaitan dengan pendidikan dan kebahasaan. Saya juga
aktif dibeberapa organisasi intra kampus seperti Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ)
PBA sebagai sekretaris, sebagai pengurus harian Lembaga Kajian, Pengembangan dan
Penelitian Mahasiswa (LKP2M). Adapun Ekstra kampus seperti Ikatan Alumni Santri
Al-Yasini (INSANI) komisariat Malang sebagai ketua umum. Juga mengabdikan diri
selama 3 tahun menjadi Musyrif (Tutor Sebaya dan Pembimbing Mahasiswa Baru di
Asrama) di Pusat Ma’had Al-Jamiah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Arti sebuah kesuksesan terbesar
dalam hidupku setelah beasiswa bidikmisi adalah menjadi orang yang paling
bermanfaat, karena disamping tugas dan janji saya sebagai alumni bidikmisi juga
karena saya berprinsip bahwa apapun nikmat yang kita raih harus berbagi kepada
yang lain. Bagi saya tanggung jawab sosial merupakan sebuah keharusan yang
harus diimplementasikan sebagai wujud hidup bersama, karena Sejatinya nikmat terbesar
dalam hidup ini adalah saat melihat senyum bahagia orang lain yang kita kasihi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar