Banyak
orang yang beranggapan jika doa adalah permohonan kita kepada Tuhan yang
dipanjatkan dalam waktu tertentu atau istilahnya dalam waktu yang mustajab
dalam berdoa. Sedikit sekali dari kita yang meyakini bahwa setiap ucapan yang
keluar dari lisan kita adalah juga doa, walupun dalam keadaan bercanda. Coba kita
perhatikan kondisi atau hal-hal yang telah diraih oleh keluarga, guru, sahabat
atau orang-orang terdekat kita. Kebanyakan apa yang telah mereka raih hari ini
adalah buah dari ucapan yang pernah atau sering mereka utarakan kepada orang
lain. Contoh nyata, saya masih ingat cerita ini meskipun sudah hampir 10 tahun
lalu saya mendengarnya. Di suatu momen seminar entrepreneurship, salah satu
pembicara bercerita bahwa ada seorang gadis cantik jelita yang sering mengalami
putus cinta. Si gadis tersebut seakan tak percaya walaupun dia memiliki paras
cantik menawan tapi banyak lelaki yang mecintainya hanya sesaat saja. Hingga dia
berazam bahwa dia ingin jodohnya seorang lelaki yang akan mencintai dia
seutuhnya bukan karena parasnya. Qadarullah, dia benar-benar mendapatkan apa
yang dia idam-idamkan. Dia mendapati suaminya adalah seorang perjaka yang sangat
mencintai si gadis jelita tersebut seutuhnya bukan karena kecantikannya karena
lelaki tersebut tak dapat melihat alias kedua matanya buta.
Akupun
juga sering mengalami apa yang pernah sekali atau sering saya ucapkan kepada
orang lain misalkan saat diskusi atau sharing seputar kuliah, karir dimasa
depan, atau jodoh. Berbicara tentang jodoh, sungguh saya benar-benar merasakan apa yang pernah saya utarakan pada temen dekat
saya saat diskusi tema ini. Saya sering ketika ditanya oleh teman “jodoh
seperti apa yang kamu inginkan, san?”. Dengan mantap aku menjawab ”aku ingin
seseorang yang akan menjadi bidadari dunia akhiratku adalah dia yang aku
dapatkan dengan penuh perjuangan dan doa, dan aku bertemu dia saat aku sedang
sibuk-sibuknya penelitian tesis”. Pun dulu saat akan intake studi Master, aku juga
berjanji pada Allah bahwa aku tidak akan pacaran, dan aku yakin bahwa Allah akan
mempertemukanku dengan dia saat studiku akan selesai misalnya saat sudah mulai
tesis.
Dan ternyata
innallaha yaf’alu ma yurid aku menemukan dia saat aku sedang sibuk-sibuknya
akan sidang proposal tesis. Aku tak pernah mendapati hati ini bertaut dengan
dengan seorang gadis manapun kecuali saat aku mulai sibuk meyiapkan penelitian
tesis ini. Dan aku merasakan keyakinan yang sangat kuat bahwa dia lah bidadari
dunia akhiratku yang telah Allah janjikan. Pun aku juga merasakan perjuangan
yang luar biasa untuk menjadikan dia sebagai kekasih halalku. Segala macam
perasaan dari kegalauan, kebimbangan, kecemasan, kekhawatiran, keyakinan,
harapan, optimisme, selalu mencoba berprasangka baik pada Allah, bercampur aduk
dalam diri ini. Aku baru mengerti seperti inilah proses yang harus kujalani
dalam menjemput jodohku. Mungkin ini akibat ulah dari ucapanku sendiri terkait
jodoh. Dan hingga tulisan ini di post, aku sedang menunggu momentum, yang
sempat tertunda, untuk silaturahim ke rumah orang tuanya. Hehehe, mohon doanya
guys.
Melalui
tulisan yang singkat ini, apalagi dalam momentum sayyidul ayyam, aku ingin
mengingatkan diri ini dan siapapun yang
membaca tulisan bahwa berhati-hatilah dengan setiap ucapan, candaan, harapan yang kita sampaikan pada orang lain. Tak menutup
kemungkinan justru ucapan itulah yang diamini oleh Malaikat. Wallahu a’lam.
