Kamis, 07 Desember 2017

Rencana Studi











>>>Dear the scholarship hunters, this is my essay for LPDP registration. may this useful!!!

Bahasa Arab merupakan salah satu bahasa resmi yang diakui oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Jadi tidak ada alasan bagi saya untuk tidak melanjutkan studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) di jenjang magister. Selama studi pada strata 1, saya sangat tertarik dan minat dengan mata kuliah yang berkaitan dengan teori dan penerapan metode, strategi, media pembelajaran bahasa Arab berbasis multimedia seperti autoplay, windows share, quiz creator, i-spring, dan macro media flash. Oleh karena itu dalam studi strata 2 atau magister nanti, saya akan lebih berkonsentrasi dan memfokuskan diri dalam pengembangan dan penciptaan media pembelajaran berbasis multimedia yang menyenangkan dan mampu menarik perhatian peserta didik. Karena dari pengalaman berinteraksi dengan para guru bahasa arab baik saat penelitian, observasi, dan praktek mengajar, dapat disimpulkan bahwa tidak sedikit dari guru bahasa arab yang merasa kesulitan dalam menerapkan pembelajaran bahasa arab dengan memanfaatkan sarana multimedia atau teknologi sehingga pembelajaran terkesan monoton dan kurang menarik perhatian siswa terhadap materi yang diajarkan.

Dalam rencana perkuliahan program magister ini akan saya mulai pada bulan Februari tahun 2016 dengan bobot 50 SKS dalam masa 2 tahun di jurusan Pendidikan Bahasa Arab (PBA). Adapun untuk  rincian persemester adalah sebagai berikut:
Semester
Jumlah SKS
1 (satu)
8 SKS
2 (dua)
18 SKS
3 (tiga)
16 SKS
4 (empat)
8 SKS
Jumlah
50 SKS

Adapun mata kuliah yang akan ditempuh yaitu Mata Kuliah Landasan Keahlian (MKLK) berjumlah 8 SKS, Mata Kuliah Keahlian Utama (MKKU) Wajib berjumlah 26 SKS, Mata Kuliah Keahlian Utama (MKKU) Pilihan berjumlah 8 SKS, dan Tesis berjumlah 8 SKS, sehingga keseluruhan SKS yang ditempuh adalah 50 SKS.

Berdasarkan problematika yang dihadapi oleh pendidik bahasa Arab dan minat saya dalam multimedia, maka topik yang akan saya teliti dalam Tesis saya berkaitan erat dengan pengembangan media pembelajaran berbasis multimedia. Sudah seyogyanya para pendidik bahasa arab dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi melek teknologi, karena begitu pesatnya perkembangan berbagai aplikasi pembelajaran berbasis multimedia yang ditawarkan sehingga siapapun bisa memanfaatkannya. Adapun dalam fokus penelitian, saya akan meneliti dalam aspek maharah kalam yaitu kemampuan berbicara berbahasa arab. alasan saya mengambil aspek kalam atau speaking, karena berdasarkan pengalaman saya dalam praktek mengajar di beberapa sekolah dan wawancara dengan para guru, mayoritas  siswa kesulitan dalam berbicara menggunakan bahasa Arab baik dengan temannya apa lagi dengan gurunya. salah satu dari sekian penyebabnya adalah kurang menariknya media pembelajaran yang diterapkan oleh pendidik di dalam kelas. Oleh karena itu, penguasaan media pembelajaran mutlak dimiliki oleh setiap pendidik untuk meningkatkan perhatian siswa dalam menerima materi yang diajarkan. 

Adapun aktivitas diluar perkuliahan yang akan saya lakukan selama studi program magister adalah mengajar yang sekiranya tidak mengganggu jadwal perkuliahan. Aktivitas mengajar ini saya lakukan demi melatih, mengasah, dan mengimplementasikan berbagai teori metode, strategi, media pembelajaran yang telah saya kuasai, karena bagi saya profesionalitas dalam mengajar dan mendidik tidak akan dimiliki dan menginternal dalam diri seorang pendidik tanpa adanya jam terbang mengajar yang lama, evaluasi diri, dan inovasi dalam mengajar. 

Untuk menambah wawasan ilmu kependidikan khususnya dalam pengembangan pembelajaran bahasa arab dan pedagogik atau ilmu pengajaran, saya akan menyempatkan diri mengikuti berbagai seminar dan pelatihan khususnya terkait pembelajaran bahasa Arab. disamping itu melakukan survey-survey ke lembaga-lembaga pendidikan untuk mengetahui secara nyata perkembangan lembaga pendidikan sehingga pada akhirnya saya bisa merumuskan sebuah lembaga pendidikan yang kompetitif dan inovatif sesuai perkembangan zaman. Hasil survey dan observasi dari berbagai lembaga pendidikan tersebut akan saya buat menjadi sebuah buku yang bisa menjadi konsumsi publik khususnya untuk para pendidik di negeri indonesia tercinta ini.    

By: Muhammad Hasan

Rabu, 06 Desember 2017

Apa kurikulum bahasa Arab terbaik di Dunia?


Tulisan ini merupakan salah satu ulasan saya berkenaan dengan tugas matakuliah "Curriculum Development in Arabic Language Education" tentang analisis kurikulum bahasa Arab yang terbaik di dunia. Di akhir tulisan ini saya cantumkan juga link file pdf curriculum yang review jika ingin mendowload nya. Semoga bermanfaat dan bisa menjadi salah satu referensi.

After looking for, searching, and reading many arabic curriculum in website, I would like to deliver my poin of view about the best arabic curriculum that is suitable to conduct in learning Arabic as foreign or second language. I found that curriculum in Department of Near eastern and Cultures (NELC) of Indiana University Bloomington, US,  namely “ARABIC LANGUAGE FOUR YEAR CURRICULUM” is one the best arabic curriculum to be implemented for several reasonable features.

Firstly, this arabic curriculum contains Principles that will guide how the learning arabic will be conducted both at theoretical and practical levels, also in this principles explained that students will learn the classical components alongside the Modern Standard Arabic (MSA), and after finishing four years of learning MSA, the students will have attained some skills such Use of Arabic, Explicit Knowledge of Arabic, Knowledge of cultures where arabic is used, and Generic skills.

Secondly, for assesment, this Arabic curriculum emphasize on continuous or formative assessment (75%) compared to summative Assessment (only 25%). It means that the students will have appropriate mark if they join the learning and teaching process effectively for example doing participation, quizzes, and daily homework, alongside middle and final test.

Thirdly, in every year (year 1-4) explained about what learning outcomes will be achived by students in detail and very specifically, so the student can predict  dan prepare themselves before participating in learning arabic. For instance, in year 1 students will become familiar with the sounds, written form and grammar and begin to express themselves in writing, with simple role-play and dialogues, etc.

Fourthly,  this arabic curriculum consist of Topic Areas that will described general topis areas and related subtopics during the fours years of Arabic instruction in clear detail such as about People, Home Life, Life at University, Health and Fitness, Free Time, and so on, also the specific areas are aded but there are not exhaustive such as Journalism, Literature, Biographies of Famous People. Beside studying such kind of topics, students are required to seek information related to the topic in their life. So, students can observe not only about Arabic materials but also information and knowledge. By doing those  activities, students can learn by theirselves or together with others. It can improve their skill dan basic knowledge of Arabic.

Fifthly, for grammar Point, this Arabic Curriculum has specific books namely “al-Kitab I+II+II” that will guide the grammar learning. In every introduced grammar, each point is recycled and repeated in new sections so that will master effectively and deeply.

Sixthly, in this Arabic curriculum, for students have previous knowledge of Arabic must take a placement test given by the Departmen before they enroll in Arabic language classes (the test will have both and oral sections). It means that for students have basic skill of Arabic are no need to take course that they have studied.

Seventhly, this curriculum has programme namely “ARABIC LANGUAGE AL TRAINING” that requires the Arabic Languge Instructor to attend some trainings, workshops, scholarship of teaching and learning (SOTL), etc. By attending those kind of activities, the instructors’ capabilities can improve and develope efficiently. As a result of this, the arabic  learning and teaching process can run effectively and the targeted goal will be achieved.


Link: http://www.indiana.edu/~nelc/documents/arabic_curriculum.pdf    

Kontribusiku Bagi Indonesia



NB: Tulisan ini merupakan essay yang saya buat untuk pendaftaran LPDP periode 4 2015

Saya Muhammad Hasan, lulusan sarjana S1 Pendidikan Bahasa Arab tahun 2015. Saya termasuk  Fresh Graduate dari kampus yang tersohor dengan bahasa arab dan ilmu agamanya, yaitu UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Saya menempuh kuliah S1 selama 8 semester dengan IPK 3.88 dengan skripsi berbahasa Arab. Saya mendapatkan kesempatan PKLI di Thailand tepatnya di distrik Khokpho Provinsi Pattani selama hampir 1 bulan. Sewaktu kuliah saya aktif di berbagai bidang akademik dan organisasi misalnya Lembaga Kajian, Penelitian dan Pengembangan Mahasasiswa (LKP2M) dan organisasi Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) PBA sebagai sekretaris. Hal itulah yang turut pula mengantarkan proposal saya lolos Penelitian Kompetitif Mahasiswa (PKM) 2014 yang diselenggarakan oleh Fakultas.

Selama 3 tahun saya mengabdikan diri menjadi Musyrif yakni tutor sebaya, pembimbing, dan pembina mahasiswa baru semester pertama dan kedua di pusat Ma’had Al-Jamiah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. di Ma’had saya sering mengikuti pelatihan bimbingan dan pembinaan Mahasiswa dan  Workshop berbahasa Arab dan Inggris. Saya sering dipercaya menjadi kepanitiaan di berbagai acara ma’had seperti panitia ujian, gebyar bahasa, dan pekan kreatifitas mahasiswa Ma’had UIN Malang. Selain itu saya juga aktif mengajar secara privat semua mata pelajaran selain IPA dari tingkat SD, SMP, sampai kalangan Masyarakat umum di lembaga Bimbingan Belajar. 

Secara personal saya alumni penerima beasiswa Bidikmisi yang telah sangat membantu pribadi saya dalam mengembangkan keilmuan, menggali potensi diri serta tentunya meringankan beban orang tua dalam biaya kuliah. Ketika liburan semester 4 Saya  mengikuti program pengabdian masyarakat selama 1 bulan di daerah terpencil yang diselenggarakan oleh pihak kampus. Dari pengabdian tersebut saya bisa berinteraksi langsung dengan masyarakat, mengajar di berbagai sekolah yang sangat minim sarana-prasana serta bisa mengetahui lingkungan masyarakat pedalaman. Ada satu hal menarik yang akan selalu saya ingat yakni betapa sulitnya mendapatkan pendidikan yang layak di daerah terpencil.

Dari pengalaman berinteraksi dengan para guru bahasa arab, bisa disimpulkan bahwa tidak sedikit dari guru bahasa arab yang kesulitan dalam menerapkan pembelajaran bahasa arab yang menyenangkan. Salah satu penyebabnya adalah kesulitan dalam pemanfaatan teknologi pembelajaran berbasis aplikasi. Oleh karena itu saya berencana ketika studi magister ingin lebih konsentrasi dan fokus dalam pengembangan dan penciptaan strategi belajar dan Media pembelajaran berbasis aplikasi.

Menurut pandangan saya, Indonesia akan menjadi negara maju pada tahun 2045 bertepatan dengan 100 tahun kemerdekaan Bangsa indonesia seperti telah ramai diperbincangkan karena mayoritas penduduk bangsa ini berusia produktif dan memiliki sumber daya alam (SDA) yang melimpah. Namun itu semua tidak akan terwujud tanpa dibarengi dengan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang memiliki daya saing dengan negara-negara lain. Apa lagi gempuran warga asing yang bekerja di indonesia tidak dapat terelakkan lagi. Jika SDM kita masih stagnan, maka bisa dipastikan kita akan menjadi penonton di negeri sendiri. Hemat saya, untuk menanggulangi masalah tersebut salah satu cara paling jitu adalah dengan memperbaiki kualitas lembaga pendidikan kita. Apabila lembaga pendidikan kita dari tingkat bawah sampai atas sudah terstruktur rapi, memiliki visi, misi, tujuan, sarana-prasana, dan kualitas pendidik yang baik, maka tentu akan mencetak lulusan-lulusan yang memiliki daya saing, terampil dan integritas yang tinggi.


Oleh karena itu saya akan mengabdikan diri menjadi dosen dan peneliti sesuai dengan konsentrasi studi saya yaitu pendidikan bahasa arab, sehingga saya bisa berkontribusi langsung dalam mendidik insan-insan kebanggaan bangsa indonesia. Disamping menjadi dosen dan peneliti, saya akan memajukan desa dimana saya lahir dan dibesarkan. Saya tidak akan menjadi kacang yang lupa pada kulitnya. Sebagai wujud terima kasih, saya akan membangun Rumah Belajar dan Taman Baca. Impian ini sudah saya tanamkan sejak saya menuntut ilmu di pesantren, karena anak-anak usia sekolah di desa saya minim sekali yang mengenyam pendidikan. 

Mayoritas setelah lulus SMA/SMK langsung bekerja sebagai buruh pabrik. Apa lagi untuk perempuan, mayoritas menikah pada usia dini. Semua itu terjadi selain karena rendahnya pemahaman orang tua, juga karena rendahnya tingkat membaca anak-anak usia sekolah yang menyebabkan rendahnya pula tingkat pemahaman mereka akan masa depan mereka. Sehingga harapan saya dengan adanya rumah belajar dan taman baca akan menumbuhkan semangat belajar mereka untuk selalu optimis dalam menatap masa depan dan memberikan pemahaman pada para orang tua akan pentingnya pendidikan untuk anak-anak.

Minggu, 03 Desember 2017

Pendekatan Transformatif Generatif



Aplikasi Pembelajaran Bahasa Arab Melalui Pendekatan Transformatif Generatif
Chomsky mengatakan bahawa pemerolehan bahasa tidak perlu proses pembelajaran dan juga buka hasil dari setting lingkungan tidak boleh digeneralisir pada seluruh jenis bahasa. Selain itu, dalam teorinya chomsky lebih condong pada pemerolehan bahasa ibu dan kurang terlalu memperhatikan pemerolehan bahasa kedua dan seterusnya. Tentu saja, pembelajaran bahasa Arab sebagai bahasa asing jauh berbeda dengan pemerolehan bahasa Arab oleh masyarakat Arab sendiri. Meskipun Chomsky mengatakan bahwa bahasa itu universal, ia mengartikan bahwa di samping satu bahasa dan bahasa lain memiliki karakteristik yang berbeda, ada juga kesamaan dari sisi core grammar (kaidah dasar) atau istilah lainnya ‘unmarked rules’. Namun demikian, karakteristik yang dimiliki bahasa Arab, terutama pada ‘peripheral grammar’ (kaidah parameter), jauh melampaui tingkat universalnya. Sebagaimana telah dijelaskan bahwa sekalipun bahasa Arab dan bahasa Indonesia  memiliki  beberapa  kesamaan, keduanya juga punya banyak sekali perbedaan fundamental sehingga menjadikan bahasa Arab sebagai sebuah bahasa rumit dan unik.
Teori  ‘nature’,  yang  merupakan pengejawantahan  teori  generatif- transformative, lebih tepat jika diorientasikan pada pemerolehan bahasa ibu (bahasa Indonesia) atau bahasa lain yang serumpun dengan bahasa Indonesia. Alasannya, piranti pemerolehan bahasa (language acquisition device) yang dimiliki oleh seseorang dan bersifat kodrati (innate) jika dikaitkan dengan pemerolehan bahasa Arab sebagai bahasa kedua, maka dipastikan hanya akan relevan dalam batasan-batasan tertentu karena kuatnya perbedaan karakter antara kedua bahasa tersebut. Perlawanan teori generatif-transformatif atas  madzhab  behaviorisme  yang mengasumsikan  tidak  perlunya  proses pembelajaran bagi pemerolehan bahasa juga tidak berlaku dalam konteks pembelajaran bahasa Arab.
Jika pandangan ini benar-benar diterapkan, maka untuk bisa berkomunikasi bahasa Arab tidak perlu lagi sebuah proses pembelajaran yang meliputi perencanaan, pendekatan, metode, strategi dan media. Kondisi ini tampaknya belum pernah terjadi di Indonesia, meskipun terdapat beberapa lembaga pendidikan yang menyelenggarakan kegiatan aktif berbahasa Arab, namun itu pun tetap tidak bisa dilepaskan dari setting lingkungan dan proses pembelajaran. Pendek kata, teori ‘nature’, yang merupakan bagian dari gagasan besar teori generatif-transformatif, tidak relevan bagi pembelajaran bahasa Arab. Bagian  lain  dari  teori  generatif- transformatif, yaitu struktur dalam (deep structure) dan struktur luar (surface structure) bila diimplementasikan dalam pemerolehan bahasa Arab sebagai bahasa kedua, maka akan muncul permasalahan secara kolektif. Hal ini karena kemampuan intelektual (kompetensi) yang meliputi komponen fonologi, sintaksis dan semantik yang dimiliki oleh seseorang pada bahasa ibunya tidak serta merta bisa langsung diadopsi pada bahasa kedua secara general, terlebih bahasa Arab memiliki banyak karakteristik yang unik sebagaimana telah dijelaskan di atas.
Kelemahan dari teori Chomsky lain dalam konteks pembelajaran bahasa Arab adalah isu sentral tentang warisan bahasa. Jika ini benar maka dapat dipastikan akan tertutup peluang bagi seseorang untuk bisa menguasai bahasa Arab jika orang tuanya tidak bisa berbahasa Arab. Faktanya, banyak dijumpai mereka yang mahir bahasa Arab lahir dari keluarga sederhana bahkan sama sekali tidak bisa berbicara bahasa Arab atau hanya mengenalnya. Meskipun teori generatif-transformatif yang digagas oleh Chomsky lebih relevan dengan pemerolehan bahasa ibu, bukan pemerolehan bahasa Arab sebagai bahasa asing, namun teori tersebut juga telah memberikan kontribusi besar dan determinasi tinggi terhadap perkembangan ilmu pendidikan bahasa. Misalnya, dalam konteks metode pembelajaran bahasa Arab sebagai bahasa asing, muncul methode seperti :
a)      mubāsharah (direct methods), yaitu metode pembelajaran dengan cara langsung atau bahasa yang digunakan adalah bahasa asing sehingga meminimalisir bahasa ibu dalam bahasa pengajaran. Sedangkan untuk menjelaskan arti suatu kata atau kalimat menggunakan gambar atau peragaan. Misalnya untuk menjelaskan arti kata قَلَمٌ  seorang pengajar tak perlu menyebutkan arti secara langsung yaitu pena, tetapi boleh menggunakan benda pena itu sendiri atau dengan peragaan seperti orang sedang menulis dan sebagainya, sehingga murid faham maksud arti kata tersebut tanpa terjemahan langsung.
b)      metode sam’iyyah shafahiyah (audio-oral), yaitu  metode yang memprioritaskan kemahiran mendengar dan bertutur sebelum kemahiran membaca dan menulis. Dalam istilah lain metode ini dilakukan dengan mendengarkan bunyi dan menirukannya atau melafalkannya. Dalam metode ini juga ditekankan adanya drill dalam mempelajari suatu kata yang baharu. Misalnya ketika seorang murid mengetahui arti kata كتاب maka murid tersebut di stimulus untuk mengembangkan kata tersebut menjadi sebuah jumlah walaupun sederhana contoh menjadi كتاب المدرسة atau yang lebih kompleks أنظر كتابا في الفصل dan seterusnya. Metode ini selaras dengan aliran Transformatif generatif yang menekankan pada penggunaan bahasa secara nature dalam momen-momen yang sesuai.
Dalam pembelajaran bahasa Arab dengan menggunakan pendekatan Transformatif generatif akan memunculkan pembelajaran yang luas dalam hal membuat ayat baharu dengan kata baharu dipelajari dengan jumlah yang tak terbatas. Misalnya kata باب  kata ini bisa dikembangkan dengan kata lain secara luas dan tak terbatas menjadi باب البيت, باب الفصل, باب الحجرة, باب المكتبة مغلق, هذا الباب لونه أحمر dan seterusnya karena bahasa bisa diperluas sesuai dengan apa yang didengar dan diterapkan secara automatik melalui proses pemerolehan bahasa sejak lahir dan kerana bahasa bersifat universal. Sehingga guru boleh mengajarkan murid dengan dua metode diatas. 
Contoh Aplikasi Teori Transformatif-Generatif dalam Pembelajaran Nahwu dan Shorf
Teori gramatika transformasi generative (an-nahw at-tahwiliy at-taulidiy) mempunyai tiga sendi utama, yaitu:
Pertama, kaidah struktur ungkapan, yaitu kaidah yang menjelaskan bahwa kalimat ungkapan itu terstruktur dari ungkapan-ungkapan, sedangkan ungkapan-ungkapan itu terbentuk dari kata-kata.
Kedua, kaidah transformasi, yaitu sejumlah aturan yang harus diterapkan secara ketat. Sebagian kaidah itu bersifat keharusan (ijbariy/obligatori) dan sebagian lagi bersifat pemilihan (ikhtiyariy/optional).
Ketiga, kaaidah-kaidah morfologi bunyi, yaitkaidah yang menetapkan bentuk akhir suatu kata yang diucapkan atau ditulis.
Dari teori  di atas telah diketahui  teori Transformatif-Generatif dan beberapa penjabarannya. Dapat diterapkan dalam pembelajaran Bahasa Arab, dalam hal ini pada pembelajaran Nahwu dan Shorf. Dengan mengacu pada pola-pola transformasi kalimat yang dapat dikembangkang melalui:
1.      Penghilangan/pembuangan (al-hazf/delation) seperti:
كتب أحمد درسا جديدا← كتب أحمد درسا
1.      Penempatan (al-ihlal) seperti:
الله سميع عليم predikatnya ditempati kata lain, sehingga menjadi الله غفور رحيم
1.      Perluasan (al-ittisa) seperti perluasan dengan sifat atau idhafah:
الجامعة مبشهورة menjadi الجامعة الكبيرة مبشهورة
الباب مفتوح menjadi باب الفصل مفتوح
1.      Penyingkatan (al-iktishar/reduction) seperti:
رئس القرية جديد  menjadi رئس جديد
1.      Penambahan (az-ziyadah/additional) yakni penambahan unsure baru dalam kalimat dengan struktur athfi seperti:
الطالب نشيط menjadi الطالب والمدرس نشيطان
1.      Pengulangan urutan (i’adah at-tartib/permutation) misalnya dengan merubah jumlah ismiyyah menjadi jumlah fi’liyyah atau sebaliknya, seperti:
يحضر الطلاب menjadi الطلاب يحضرون .
Berdasarkan dari uraian tentang konsep dan asumsi-asumsi teori transformatif –generatif dan aplikasinya dalam pembelajaran, dapat dirumuskan prinsip-prinsip pembelajaran bahasa yang juga didasarkan pada teori Chomsky. Yaitu:
1.      Pembelajar tidak harus diberikan latihan (drill) secara intensif tetapi hanya dibimbing saja oleh gurunya
2.      Karena kemampuan belajar bahasa adalah sebuah proses kreatif, maka pembelajar harus diberi kesempatan yang luas untuk mengkreasi ujaran-ujaran dalam situasi komunikatif yang sebenarnya, bukan sekedar menirukan dan menghapal.
3.      Guru memberikan kaidah bahasa dan selanjutnya dikembangkan oleh pembelajar.
4.      Pemilihan materi pelajaran tidak ditekankan pada hasil analisis kontrastif, melainkan pada kebutuhan komunikasi dan penguasaan fungsi-fungsi bahasa.
5.      Kaidah nahwu dapat diberikan sepanjang hal ini diperlukan oleh pembelajar sebagai landasan untuk mengkreasi ujaran-ujaran sesuai dengan kebutuhan komunikasi.
6.      Guru harus yakin bahwa siswa mampu menginternalkan kaidah-kaidah yang memungkinkan siswa mampu menghasilkan kalimat.


Lika-liku Memburu Beasiswa LPDP




Pengalaman Mencari Beasiswa
(Kejutan yang Allah hadirkan pasti lebih indah)

Saya tak pernah membayangkan ketika dewasa bisa belajar samapi ke perguruan tinggi. Bagiku bisa sekolah sampai SMA saja sudah patut disyukuri. Pasalnya selain kondisi ekonomi keluarga yang serba kekurangan, budaya desa menghalangiku untuk kuliah. Saat itu stigma yang beredar di masyarakat mengatakan bahwa buat apa kuliah biayanya mahal, nanti di pertengahan studi gak bisa bayar akhirnya berhenti di tengah jalan. Memang belum ada satupun putra-putri desa yang melanjutkan belajar hingga jenjang perguruan tinggi, paling banter sampai SMA, itupun hanya segelintir orang saja, sehingga impianku bisa kuliah hanya sebatas mimpi yang sulit diwujudkan.

Terlahir dari sebuah keluarga yang sangat sederhana di sebuah desa di kabupaten Pasuruan, dari ayah berpendidikan hanya tamat SD dan ibu tak tamat SD, membuat saya hanya memiliki paradigma yang sempit dalam meraih sebuah impian. Semenjak kecil saya lebih banyak mendapatkan pendidikan agama dari pada pendidikan formal/umum. Sejak SD, saya hanya bercita-cita akan mondok di pondok Salaf (pondok tradisional yang mengajarkan pendidikan agama saja). Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, saya rajin menabung karena memang ekonomi keluarga saya sangat pas-pasan. Hampir semua keluarga besarku  dan masyarakat desa berpandangan bahwa pendidikan agama di pondok sangat penting, bisa baca dan hitung saja sudah cukup, tak perlu sekolah formal tinggi-tinggi. Namun cita-cita ku berubah dan berbalik menjadi 180 derajat ketika keluarga saya terkena masalah yang membutuhkan penyelesaian dari orang yang paham akan pengetahuan umum. Sejak saat itu saya tanamkan dalam diri saya, harus berpendidikan formal sampai jenjang setinggi-tingginya, tidak hanya ingin mondok saja tapi juga. Saya percaya bahwa terlahir dalam keluarga miskin dan sederhana adalah sebuah ketentuan Tuhan, tapi jika hidup dalam keadaan miskin, bodoh, bahkan menyusahkan orang lain adalah sebuah kemalasan. Semangat  tersebut selalu saya jaga dengan rajin menabung, sedekah, dan berdoa. Sejak lulus SD, untuk meringankan beban orangtua, saya berusaha untuk membayar pendaftaran masuk MTs, SMA, dan pesantren (pesantren Terpadu) dari tabungan saya.

Ketika masa SMA dan di pesantren (SMA sambil mondok) saya banyak mengikuti organisasi sekolah seperti ESSA (English Study Student Assosiation;  sebagai ketua) yaitu sebuah program di bawah OSIS yang bertugas dalam pengembangan bahasa Inggris di sekolah dan mengikuti ekstrakuriler Video Editing. Sedangkan di pesantren saya diamanahi menjadi ketua OMIM (Organisasi Murid Intra Madrasah) dan anggota petugas kebersihan pondok pesantren. Selama masa itu saya merasakan betul beban ekonomi yang dipikul orang tua, saya tak bisa membayangkan bagaimana susah payahnya orang mencari uang jika saya kuliah dikampus nanti. Oleh karena itu tidak ada pilihan bagi saya jika ingin kuliah selain harus dengan beasiswa. Saya berusaha keras belajar dan bertanya kepada orang-orang yang telah sukses, baik kepada guru, teman, dan kakak ulumni yang sudah mendapatkan beasiswa. Dari proses itu, saya bisa belajar banyak tentang cara mendapat beasiswa sekaligus paradigma hidup mereka. Saya juga sering mengikuti seminar motivasi dan leadership, baik yang diselenggarakan oleh sekolah ataupun pesantren.

Keinginan untuk terus belajar sangat menggelora, sehingga yang ada dipikiranku setelah lulus SMA adalah kuliah dengan beasiswa. masih segar dalam ingatan, saya meulis puluhan cita-citaku dibuku catatan dan saya mantap dalam hati seraya berniat akan berusaha mewujudkannya. Bagian dari upaya tersebut, saya sering konsultasi dengan kakak senior yang telah berhasil kuliah dengan beasiswa. Akhirnya beberapa tes beasiswa saya ikuti. Saya terpilih mengikuti tes beasiswa PBSB yakni beasiswa khusus diperuntukkan kepada siswa yang mondok dan santri pondok pesantren. Pengumuman pun bisa diakses, ketika saya cek, hasilnya ternyata saya tidak lolos. Saya berusaha mempertahankan semangat walaupun ada perasaan sedikit kecewa mengingat saya sudah mempersiapkan tes ini dengan aktif bertanya kepada para guru, kakak senior dan membeli buku-buku materi tes beasiswa. Ketika jadwal pendaftaran beasiswa bidikmisi telah dibuka, saya terpilih lagi dan diajukan oleh pihak sekolah untuk mendaftar beasiswa bidikmisi jalur undangan. Namun lagi-lagi saya harus menerima kegagalan. Saat itu saya sempat putus asa dan hampir saja menghilangkan mimpi kuliah dengan beasiswa.

Setelah sekian lama, saya merenungi kegagalan demi kegagalan, saya menyadari kalau ibu tak merestui kuliah kecuali jika kuliahnya di kampus yang ada di Malang. Sebelumnya saya mendaftar di UI, UIN Jakarta, UGM, UNY. Akhirnya saya minta nasehat ustadz saya, beliau ternyata juga mengamini saya kuliah dikota Malang. Semakin mantaplah niat saya mendaftar beasiswa. Kali ini saya mendaftar beasiswa bidikmisi jalur ujian tulis SNMPTN. Bagi saya ini adalah kesempatan terakhir mendaftar beasiswa. Sebelum saya berangkat ke Malang untuk tes, saya menyempatkan diri sowan ke ustadz Jazim untuk meminta berkah, beliau di pondok dikenal sebagai ustadz yang memiliki amalan atau wirid yang ampuh dalam mengatasi kesulitan. Saya diberikan bacaan wirid yang harus saya lakukan.

Saat pengumuman, saya berbicara pada diri sendiri untuk berserah diri dan harus menerima apa yang akan terjadi,  lolos atau tidak. Setelah saya masukkan nomor pendaftaran dan email, saya tatap layar monitor yang bertuliskan "selamat anda diterima beasiswa bidikmisi". Alhamdulillah tak henti-hentinya saya ucapkan rasa syukur. Orang tua adalah orang pertama yang saya kabari. Sebagai bentuk rasa syukur, bapak akan mengadakan selametan agar berkah dan sebagai bentuk tahaddus binni'mah. Segera saya mengurus administrasi yang diperlukan untuk registrasi di kampus. Saya diterima di kampus UIN Malang jurusan Pendidikan Bahasa Arab (PBA). 

Tak disangka setelah konfirmasi ke kampus untuk melengkapi persyaratan berkas-berkas dan sebelumnya saya tidak bisa registrasi online, pihak rektorat universitas menginformasikan kalau saya hanya diterima jalur mandiri tidak lagi dengan beasiswa bidikmisi karena ada seleksi internal kampus. Saat itu saya dibantu oleh kakak senior untuk mendatangi tempat registrasi berkas-berkas di rektorat. Saya tidak menyerah untuk menghubungi pihak rektorat, namun hasilnya nihil. Saya sangat terpukul dengan kegagalan yang ketiga kalinya ini, saya merasa itu adalah titik terendah dalam hidup. Saya bertanya-tanya kenapa tidak pemberitahuan jika ada seleksi internal kampus mengingat pihak kampus hanya menerima 100 orang dan jumlah yang dinyatakan tidak lolos atau masuk dengan jalur mandiri ada sekitar 65 orang. Saya shock, akhirnya kuputuskan untuk tidak kuliah mengingat biaya kuliah yang tak terjangkau untuk standar keluarga saya. Saat itu saya dalam keadaan bingung dan tak tentu arah. Orangtua menyarankan saya tetap dipondok sambil kuliah. Namun saya tetap berat hati jika orangtua harus membiayaiku lagi karena orangtua harus membiayai adik juga. Karena tidak ada pilihan lagi,  saya pun menuruti saran orangtua.

Beberapa hari kemudian saya berubah pikiran, saya mengajukan pendapat pada orangtua kalau saya ingin bekerja agar bisa membantu ekonomi keluarga, akan tetapi orangtua tak mengizinkan karena beliau ingin saya tetap mencari ilmu. Saya pun mengiyakan saran tersebut tanpa berani menyanggahnya. Saya tak berani membahtah keputusan orangtua karena saya belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, saya akan gagal jika tak dapat restu orang tua.

 Dalam masa-masa itu, saya sering merenung dan berdoa kepada Allah, memohon petunjuk. Beberapa kawan seangkatan dipondok melanjutkan belajar di pondok salaf, akupun tergerak untuk mengikuti jejak itu. Kuputuskan mondok di pondok Lirboyo kediri. Sebelum saya benar-benar mondok dan agar saya mengetahui situasi di pondok tersebut, saya mengikuti kegiatan pondok Ramadhan di Lirboyo dan sowan ke pengasuh. Ketika saya ditanya oleh pengasuh pondok Lirboyo saat itu KH.Idris Marzuqi apakah saya cuma pondok Ramadhan saja atau mondok terus, saya menjawab mondokterus.

Ketika memasuki hari ke-19 Ramadhan tepatnya hari jumat, bapak datang ke pondok bersama dengan kakak. Awalnya saya diberitahu oleh teman kamar jika tadi ada keluarga saya. Saya tak percaya dengan informasi itu, hingga aku benar-benar bertemu bapak dan kakakku di kantin pondok. Timbullah tanda tanya besar di kepalaku, apakah gerangan yang menyebabkan beliau kesini. Pikiran saya gak enak, saya kawatir jika terjadi apa-apa dengan keluarga di rumah. Saat itu waktu maghrib telah tiba sehingga ketika kutanya maksud kedatangannya, bapak tak lantas menjawab pertanyaanku. Beliau menunda jawaban itu setelah sholat berjamaah maghrib. Karena pelaksanaan sholat maghrib berjamaah masih lama, akhirnya kutanya lagi maksud kedatangan bapak. Bapak menyampaikan kalau ada telpon dari Malang yang mengatasnamakan UIN Malang, dijelaskan kalau saya diterima beasiswa. Mendengar berita itu, saya tak langsung mempercayai. Saya trauma dengan kegagalan dimasa silam. Saya kawatir ini ulah orang yang iseng. Saya mengecek nomor telp yang menghubungi bapak, saya lihat nomor teleponnya memang benar kode Malang dan bapak menuturkan kalau saya sendiri harus segera ke kampus untuk registrasi berkas-berkas.

Akhirnya dengan berat hati saya meninggalkan pondok Lirboyo lebih cepat. Ditengah perjalanan pulang, pikiranku tak tenang, apakah ini memang benar atau tidak, saya tidak mau percaya dulu sebelum benar-benar itu kenyataan. Ketika saya mendatangi kabag administrasi kampus, ternyata memang adanya informasi tersebut. Namun ada pertanyaan yang harus kusampaikan kepada pak Sutikno kabag umum administrasi, "apakah nantinya ada seleksi lagi" tanyaku. "lah wong ini mau saya kasih NIM (nomor induk mahasiswa)" jawab beliau. Saya merasa lega dan bersyukur luar biasa kepada Allah.

Memulai kuliah dengan perasaan was-was karena ada standar nilai akademik atau indeks prestasi yang harus dicapai yaitu 3.25 untuk non-eksak dan 3.00 untuk eksak. Saya aktif bertanya kepada kakak kelas dan siapapun tentang strategi belajar dan dapat IP yang bagus. Saya ikuti semua saran tersebut. Alhamdulillah Usaha dan doa tak pernah mengkhianati hasil, saya selalu mendapatkan IP diatas 3.8 tiap semester dan pernah dapat IP 4.00.  Ketika semester 1 saya belum berani mengikuti organisasi satupun karena kawatir mengganggu jadwal kuliah. Melihat banyak kawan yang prestasinya akademiknya tetap bagus walaupun aktif diberbagai organisasi membuatku tergerak untuk mencontohnya. Kalau mereka bisa, tentu kita bisa pula. Akhirnya kuputuskan mengikuti beberapa organisasi baik organisasi intra dan ekstra.

Setelah satu tahun berada di mahad, saya bingung akan tinggal dimana, antara kost, mondok, atau tetap di ma'had dengan menjadi Musyrif. Akhirnya setelah konsultasi dengan orangtua, dosen, dan kawan-kawan, saya tekadkan niat untuk mengabdi di ma'had hingga lulus kuliah. Bukan tanpa alasan saya berada dima'had selama 4 tahun tanpa pernah mencoba kehidupan diluar ma'had. Alasan pertama, saya bisa mempraktekkan ilmu yang saya dapatkan di kegiatan ma'had mengingat jurusan saya pendidikan. Kedua, saya bisa membimbing dan mengarahkan mahasiswa baru yang notabene masih polos. Ketiga, saya masih bisa belajar ilmu agama dari para pengasuh ma'had. Selain saya aktif di ma'had, saya juga mengajar privat atau menjadi tutor les di lembaga sandi privat. Saya juga aktif di organisasi HMJ PBA sebagai sekretaris, LKP2M sebagai anggota, dan INSANI (Ikatan Santri Alumni Al-Yasini) sebagai ketua serta PMII karena bagi saya ilmu organisasi juga sangat penting melatih mental dan skill dalam leadership. 

Disaat sibuk-sibuknya mengerjakan tugas skripsi, ada teman yang memberikan info beasiswa LPDP. Saya amati semua persyaratan yang harus dipenuhi. Jika persyaratan tersebut dilihat secara sekilas memang agak ribet dan complicated sekali, namun kalau diamati secara mendetail dan dilist, ternyata cuma beberapa persyaratan yang sangat jlimet berdasarkan pengalaman Scholarship hunters yaitu persyaratan TOEFL atau IELTS. Saya menyadari betul kalau kemampuan bahasa inggrisku sangat rendah sekali, nilai sertifikat PKPBI saja dapat nilai 415, sedangkan untuk mengikuti kursus tidak sempat karena harus menyelesaikan skripsi. Akhirnya saya download panduan asli beasiswa LPDP, kulihat secata detail persyaratannya. Ternyata untuk sertifikat bahasa tak harus TOEFL, boleh melampirkan TOAFL (Arabic) jika dari jurusan bahasa arab. Saya merasa agak lega, TOEFL bisa diabaikan.

Saya mencari informasi terkait tempat tes TOAFL yang diterima LPDP. Setelah mencari sekian lama, saya mendapatkan informasi tentang sosialisasi beasiswa LPDP dari para awardee LPDP. Akhirnya kuikuti acara tersebut. Teknis penyampaian beasiswa sangat memukau dan inspiratif sekali sehingga membuatku semakin semangat mendaftar LPDP. Dalam acara itu ada sesi per grup yaitu pengelompokkan peserta menjadi beberapa grup, masing grup terdiri dari 15 orang sehingga lebih meningkatkan efisiensi informasi tentang LPDP ditambah lagi saat sesi Tanya-jawab. Langsung saja saya melontarkan banyak pertanyaan yang selama ini mengganjal dalam hati. Kebetulan awardee yang menyampaikan adalah alumni LPDP dan satu jurusan pula dengan saya sehingga semua pertanyaanku bisa terjawab salah satunya terkait tes TOAFL. 

Alhasil semua persyaratan sudah lengkap dan menunggu pengumuman tes administrasi sekaligus jadwal tes subtansi jika lolos administrasi. Alhamdulillah saya dinyatakan lolos persyaratan administrasi dan dapat jadwal tes subtansi LPDP yaitu wawancara, Leaderless Group Discussion (LGD), dan Essay on the spot akan dilaksanakan pada bulan Agustus dan mengenai rincian peserta dan lain sebagainya akan diinfokan via email. Saya memilih tempat tes seleksi di jakarta karena saya berencana setelah prosesi wisuda yaitu tanggal 13 Agustus 2015 untuk mengajar di kota Lebak Banten.

Saya sempat deg-degan menunggu jadwal lengkap tes seleksi karena jadwal tes seleksi di jakarta 1 telah dilaksanakan pada 12-14 Agustus 2015 sedangkan saya memilih tempat seleksi dijakarta. Saya plototin layar ponsel, berharap nama saya tidak tertera, untunglah nama ku tercantum di jadwal jakarta 2 yang dilaksanakan pada 19-21 Agustus tepat di Sekolah Tinggi Administrasi Negara (STAN) Bintaro Tangerang. Awalnya saya merasa minder saat melihat para peserta seleksi karena melihat penampilan mereka yang begitu necis, percaya diri, cerah kulitnya (dibandingkan diri saya, maklum arek ndeso) yang sempat membuat nyaliku ciut. Namun saya mantapkan lagi dalam diri bahwa saya harus yakin bahwa ada doa orangtua yang selalu mendokan. Sambil menunggu giliran maju untuk tes, tak henti-hentinya bibirku komat kamit membaca sholawat dan doa-doa yang pernah saya pelajari, saya percaya bahwa tidak ada yang bisa merubah takdir kecuali Doa.

Ada pengalaman menarik ketika saya mengikuti tes LGD, saya satu grup dengan artis Syafa Tsaya Kamila atau terkenal dengan panggilan Tasya dan bisa berfoto bersama dengannya. Tak kalah mengejutkannya saat tes wawancara, bahasa yang digunakan adalah bahasa arab dan Indonesia dengan prosentase sekitar 70-30%. Saya tak menyangka jika saya akan diminta berbahasa arab karena saya belum mendengan informasi ini sebelumnya. Alhamdulillah walaupun tanpa persiapan praktek berbahasa arab, saya cukup lancar melahap pertanyaan yang diajukan oleh reviewer, bahkan saya diminta untuk praktek seakan-akan saya memaksa ibu saya agar saya diizinkan kuliah ke Luar Negeri karena memang kampus yang saya saat pendaftaran adalah kampus dalam negeri dan oleh penguji atau reviewer disarankan ke luar negeri dan setelah saya menjelaskan panjang lebar tentang alasanku ambil kampus Dalam Negeri yaitu karena orang tua khusunya Ibu tidak mengizinkan jika saya ambil kampus Luar negeri dan para penguji memaklumi dan menyetujui bahkan salah satu penguji menceritakan pengalamannya sama seperti yang saya alami.

Singkat cerita, saat pengumuman hasil seleksi, saya dinyatakan lolos wawancara. Saya sempat bingung, kok cuma menyatakan seperti itu. Ternyata jika lolos wawancara berarti dinyatakan telah resmi dinyatakan sebagai penerima beasiswa LPDP. Alhamdulillah, berkat doa orangtua, keluarga, para kiai, guru, dosen, dan teman-teman saya mendapatkan amanah untuk kuliah dengan beasiswa LPDP yang sumber dananya dari kementerian Keuangan Republik Indonesia.

Ternyata kejutan belum berhenti disitu, saat saya bingung ketika mendapatkan tawaran program pengayaan bahasa (PB) dari LPDP yaitu TOEFL untuk yang mengambil kampus Dalam negeri dan IELTS untuk luar negeri. Akhirnya entah kenapa saya tertarik untuk mengikuti program tersebut walaupun sebenarnya kampus tujuan saya tidak mensyaratkan sertifikat TOEFL. Tak disangka setelah beberapa hari saya join grup line PB, saya heran kenapa teman-teman grup sering ngomongin IELTS, kok gak bahas TOEFL, lalu saya menanyakan perihal itu. Ternyata grup itu memang untuk IELTS. Alhasil saya baru sadar jika saya mendapatkan PB IELTS dan dijelaskan surat pengantar PB bahwa bagi yang mendapatkan PB IELTS sedangkan saat pendaftaran mengambil kampus DN berarti direkomendasikan untuk mengambil kampus LN. 

Saya senang dan bingung karena sejak awal ibu tidak mengizinkan ke LN, akhirnya saya mencoba meyakinkan beliau dan disetujui dan saya memilih University of Malaya di Malaysia, Negara yang pernah ingin saya kunjungi untuk Praktek Kerja Lapangan Integratif (PKLI), namun saya dipindah ke Thailand, dan ternyata Allah mengabulkannya sebagai Negara tempat saya menempuh studi magister. Ada juga yang unik, walaupun studi S2 saya tidak jodoh dengan UIN Jakarta, ternyata saya tetap bisa belajar disana dalam program PB IELTS selama 3 bulan dan juga merasakan aura belajar bahasa inggris di ITB Bandung melalui program PB IELTS periode lanjutan.

Itulah sekelumit perjalanan hidup yang saya alami. Saya baru sadar bahwa setiap impian yang tak sampai di masa lalu akan menjadi kenyataan dimasa mendatang. Ternyata Allah subahnahu wa ta’ala hanya menundanya saja. Mulai sejak itu saya yakin bahwa memiliki mimpi itu wajib karena Allah pasti mengabulkannya diwaktu yang tepat sesuai dengan kebutuhan hamba-Nya.