Senin, 28 November 2016

Diskusi Politik




Dunia politik itu penuh misteri. Ya, setidaknya itu yang bisa saya simpuljan dari diskusi ringan dengan para senior di kampus yang saat ini sedang berkiprah di dunia perpolitikan ibu kota.

Kondisi perpolitikan saat ini memang sedang bergejolak seperti aksi damai lanjutan yang akan dilaksanakan 2 Desember nanti. Posisi pemerintah memang agak dilema. Mengambil repreaif akan kena, sebaliknya juga kena.
Kita yang awam akan politik tak selayaknya men-judge terhadap organisasi tertentu karena kita tak pernah tau apa yang sebenarnya terjadi didalamnya. Kita dan masyarakat umum hanya faham permukaannya saja.
Dunia.politik pasti tak terlepas dari kepentingan kelompok. Sepertinya jika kita mendengar kepentingan kelompok, bayangan kita mengarah pada kolusi dan nepotisme. Dikatakan tak selamanya hal tersebut mengarah atau berorientasi pada KKN. Selama kepentingan kelompok atau golongan tersebut juga demi kepentingan masyarakat luas maka sah-sah saja.
Dari sini saya belajar memahami politik dengan konteks yang terjadi saat ini. Padahal fokus studi saya pada bidang pendidikan. Agak gak nyambung ya. Saya anggap ini sebagai ilmu dan wawasan kenegaraan. (harapnya seperti itu)
Sepertinya memang berat kalau bahas politik. Ketika membahasnya saja agak bingung apalagi ketika menghadapinya. Saya tidak bisa membayangkan. Maka perjuangan para pendiri bamgsa ini begitu luar biasa dalam menyatukan ribuan pulau di negeri tercinta ini.
So, ungkapan "don't judge a book from the cover" itu memang benar. Melihat cover itu terlalu dini jika terburu-buru menyimpulkan. Ingat masih ada kata pengantar, bab-sub bab, isi, dan lain sebagainya.
Saya kira cukup pembahasan ini. Agak njlimet ya. Maafkan.
Mungkin teman-teman akan berpikir kenapa typo sangat sedikit dalam tulisan ini. Karena saya nulis di HP, dan di HP sudah otomatis dalam memilih kata yang benar ejaannya. Hehe.
#TantanganODOP
#TanpaEdit
#Batch3
#harussemangat
#intinyanulisdulu

RUTINITAS

Tantangan Odop minggu lalu tentang aktivitas sehari-hari. (maaf, terlambat, hehe). Sebenarnya tak ada yang istimewa tentang rutinitas yang saya lakukan. Apa lagi saat ini saya sudah berhenti mengajar karena tanggung mau mengajar, setelah ini mau lanjut studi. So, kesibukan saya hanya di rumah; membantu pekerjaan orang tua. Terkadang ke luar kota sekadar membeli beberapa buku dan bersilaturahim ke berbagai tempat.
*****
Ketika kokok ayam mulai bersahutan menyambut datangnya fajar, saya bangun tidur lalu bergegas mengambil wudhu' guna shalat subuh berjamaah di mushalla yang tak jauh dari rumah. Sebenarnya ingin sekali bangun lebih dini untuk shalat tahajud, witir dan sebagainya. Kuatur alarm ponsel berdering pukul 3:30, namun apalah daya diri ini seringkali bangun hanya untuk menekan alarm agar ia mau berhenti mengganggu tidur nyenyakku. Hehehe.
Setelah kembali dari mushalla, sekitar pukul 04:30, biasanya saya melanjutkan dzikir lalu membaca buku.
Pukul 06:00, kubuka pintu kandang ayam untuk memberi makan. Ada 11 ekor ayam yang kupelihara. Lalu membersihkan rumah dan merapikan apa yang perlu dirapikan misalnya menyapu, mencuci piring, mengelap kaca dan lain sebagainya. Itung-itung membantu pekerjaan ibu karena beliau harus pergi ke pasar setiap pagi untuk membeli kebutuhan dapur.
Sekitar pukul 08:00 hingga sore hari, saya membantu pekerjaan ayah sebagai pengrajin lemari. Ayah memiliki 2 karyawan yang bertugas membuat lemari sesuai pola yang dibuat ayah. Saya membantu beliau dalam membuat pola-pola pada kayu yang akan dibentuk menjadi sebuah lemari.  Pekerjaan ini saya handle sepenuhnya, ketika ayah keluar rumah untuk membeli kayu mentah yang prosesnya membutuhkan waktu yang lama.
Disela-sela pekerjaan ini, saya membuka blog untuk nyicil tulisan ODOP dan membuka grup-grup sosial media seperti WhatsApp, Telegram, facebook, Line, BBM, dan sebagainya. Ada salah satu grup telegram yang harus rutin saya cek karena di grup itu saya mendaftar dan diterima di grup "Mentor Bidik Mimpi" yang bertugas mentoring untuk mahasiswa S1 semester 7 yang hendak mengikuti seleksi Beasiswa S2 kelak setelah lulus.
Saat malam hari tiba, sehabis isya' biasanya ada keponakan masih sekolah SD yang datang ke rumah untuk minta dimentorin dan dibantu PR-nya. Dan seringkali selesainya pukul 9 lebih.
Usai itu saya melanjutkan tulisan di blog yang belum rampung. Namun Terkadang karena capek, pikiran buntu untuk melanjutkan tulisan mencari kata demi kata, kalimat demi yang akan saya tulis. Akhirnya ketika stuck dan ketiduran. Jikalau tidak tidur, saya menyimak pembahasan tulisan yang sedang dibedah.
Pada setiap malam jumat, saya sering berziarah ke berbagai pesarean (makam ulama). Dan pulang sekitar pukul 11 malam.
Pada hari jumat setelah menunaikan shalat jumat, saya mengantarkan ibu ke pondok untuk menyambangi adik perempuan yang mondok. Terkadang pula saya mampir ke rumah ustadz sekadar bersilaturahim.
Itulah keseharian saya. Rutinitas saya sering tak menentu, lebih banyak aktivitas-aktivitas insidentil. Terima kasih.
#TantanganODOP
#Batch3
#harussemangat-seringbolong

Kamis, 24 November 2016

Penyanyi Dadakan

Saya rasakan aktivitas menulis  tidak hanya membutuhkan konsistensi tinggi tetapi support dari orang lain juga mutlak diharapkan. Oleh karena itu, saya pribadi bersyukur berada dalam group Odop Batch 3 ini. Adanya group ini selalu memotivasi saya untuk senantiasa menulis, menulis, dan menulis.
Pada tulisan kali ini saya ingin menuliskan pengalaman unik yang pernah saya alami saat mengikuti program  Praktek Kerja Lapangan Integratif di Thailand dua tahun silam tepatnya Kamis, 15 Januari 2014. Cekidot.......

Hari itu tengah berlangsung  sesi pembagian hadiah bagi para pemenang berbagai jenis perlombaan yang telah digelar oleh panitia yang terdiri dari para guru dan Osis Muhammadiah School. Kami pun turut terlibat dalam memeriahkan rangkaian acara yang ditutup dengan pembacaan maulid barzanji tersebut. Saya, Faizal (mahasiswa  UIN Malang), Muslimin dan Firman (mahasiswa IAIN Padangsidimpuan) diminta untuk tampil diatas panggung untuk menampilkan sebuah nasyid (baca; lagu) asli indonesia. 

Memang mayoritas pelajar disini sangat suka menyanyikan lagu indonesia. Mereka mayoritas nge-fans dengan band Wali, Tegar, dan Papinka. Atas dasar itulah kami memilih lagu dari band-band tersebut. Kami menyanyikan 3 buah lagu yang berjudul tobat maksiat (wali band), aku yang dulu (Tegar), dan Insya Allah (maher Zain). walaupun persiapan yang sangat singkat tak menyurutkan semangat kami untuk menerima request tersebut. 

Hanya dengan modal nekat dan bismillah kami berani menerima permintaan itu walaupun diantara kami berempat tak satupun yang punya background penyanyi, namun ada satu yang memiliki kemampuan qiroah yang kami jadikan vokalis utama.

Diluar dugaan penampilan kami mengundang decak kagum dan tepuk tangan para siswa, para guru dan tamu undangan pun membuncah. Apalagi kami tampil all out dan sedikit kocak dengan beberapa gerakan yang membuat penonton terhibur. Penampilan kami dilaksanakan disela-sela pembagian hadiah yang sangat banyak yang memakan waktu sekitar 1,5 jam dikarenakan lomba yang diumumkan ada 22 jenis perlombaan.

Syukurlah penampilan yang kami hadirkan dapat menghibur para undangan. Kami dapat merasakan kebahagiaan dalam acara yang diadakan satu tahun sekali itu. Bagi kami momen itu merupakan momen yang sangat pas untuk mengenalkan diri sebelum aktivitas belajar-mengajar dimulai. Ya, itu adalah kegiatan yang pertama kali kami lakukan. Itulah sekelumit cerita dari Negeri Gajah Putih. Semoga dapat menambah wawasan.

Investasi Doa


Di dunia perbankan kata “Investasi” sudah tidak asing lagi di telinga kita. Istilah ini memiliki ruh penting dalam sendi-sendi dunia perbankan. Namun pernahkah terpikirkan bahwa doa merupakan investasi luar biasa yang tak terhitung digitnya.

         Doa merupakan suatu harapan, permohonan, atau bahasa akademiknya adalah proposal yang diajukan oleh seorang hamba kepada sang Maha Agung. Doa adalah bukti penghambaan makhluk kepada sang Khalik yang telah menciptakannya dengan sebaik-baik bentuk.

         Hasil investasi doa tidak hanya akan kita petik di negeri akhirat saja, bahkan kita bisa memetiknya di dunia yang tak pernah bisa kekal ini. Contoh sederhananya kita sering menjumpai betapa banyak orang berusaha dengan keras tanpa berdoa untuk mendapatkan sesuatu yang diidam-idamkannya, namun tak secuilpun diraih olehnya.

        Di lain sisi betapa banyak orang yang berusaha atau bekerja secara sederhana namun disertai spirit doa dalam setiap usahanya sehingga semua yang dihajatkan bisa tercapai. Itu merupakan pertanda bahwa manusia tak memiliki daya apapun dalam hidup ini, semua terjadi atas kehendak-Nya.

          Adagium mengatakan “berusaha tanpa berdoa itu sombong dan berdoa tanpa berusaha itu bohong”. Pernyataan tersebut merupakan pukulan telak bagi orang-orang yang enggan atau lalai untuk menengadahkan tangan kepada Sang Mahakuasa.

           Secara impilisit, apapun yang dikerjakan oleh seorang hamba, apakah itu bekerja, belajar, berkarya dan lain sebagainya tanpa berdoa, berarti ia telah menafikan eksistensi Tuhan sebagai pengatur kehidupan ini. Bukankah Allah rab al-izzati telah memerintahkan manusia untuk senantiasa berdoa kepada-Nya dan Dia siap mengabulkannya.

        Namun terkadang manusia merasa doa-doa yang selalu dipanjatkannya tak pernah diijabahi, sehingga membuat gundah gulana dan mengeluh. Percayalah bahwa Dia pasti mendengar setiap untaian doa yang kita panjatkan serta Dia maha mengetahui kapan doa itu diijabahi. 

            Oleh karena itu setiap doa yang dipanjatkan tidak selalu dikabulkan dengan segera, karena Dia maha mengetahui kapan waktu yang tepat untuk mengabulkannya sehingga manusia bisa mengambil manfaat besar dari apa-apa yang telah diidam-idamkannya. Kalau lah untaian doa kita tak terwujud didunia, percayalah kompensasi doa tersebut telah tercatat sebagai pahala yang akan kita terima secara tunai di akhirat kelak. Amin.

Selasa, 22 November 2016

Pendekar Sepanjang Zaman


Dibalik amarahmu 
Tersembunyi luapan kasih sayang 
Dibalik kata-katamu yang menghantam
Adalah demi kebahagiaan abadi

Untaian doamu mengalirkan aura menyejukkan
Tetesan keringatmu tak kan pernah tergantikan
Kegagahanmu bukan gaya semata
Keberanianmu membuka tabir kesengsaraan

Kaukah pendekar yang dirindukan itu?
Pendekar berpedang semangat
Pendekar berjurus kegigihan
Pendekar yang tak lekang oleh zaman
Pendekar sejati
Harapan keluarga

Senin, 21 November 2016

Buah dari Inkonsistensi

Arsitektur merupakan sebuah pekerjaan yang membutuhkan tingkat kreatifitas yang tinggi. Seorang arsitek dituntut untuk menciptakan bangunan yang tidak hanya kokoh dan indah, tapi juga unik dan inovatif. Oleh karena itu jalan menuju pekerjaan ini membutuhkan kerja keras dan kerja cerdas.

Masih segar dalam ingatan saya saat menjadi mahasiswa. Banyak kawan-kawan di jurusan arsitektur yang dianjurkan untuk tidak mengikuti organisasi apapun kecuali organisasi yang berkaitan dengan arsitektur. Alasannya selain tugas-tugas mahasiswa arsitektur sangat banyak  juga sebagian besar tugas tersebut adalah tugas individu sehingga mereka seringkali lembur untuk menyelesaikannya.
Baik, disini saya tidak akan panjang lebar tentang seluk beluk arsitektur.

Dalam tulisan ini, saya ingin menceritakan kisah tentang seorang arsitek dan pimpinannya.

Alkisah ada seorang arsitek hebat yang bekerja di sebuah perusahaan. Si arsitek tersebut telah menciptakan ratusan jenis rumah yang fonomenal. Hampir semua pemilik rumah mengacungi dua jempol atas hasil karyanya. Setiap tahun sang arsitek mendapatkan penghargaan sebagai arsitek top spesialis rumah.

Suatu saat sang arsitek merasa jenuh dengan pekerjaannya. Dia ingin mengundurkan diri dari profesi yang telah membesarkan namanya itu.

Dibuatlah surat pengunduran diri ditujukan kepada pimpinannya. Sang pimpinan tak menyetujui dan ingin mempertahankannya. Pimpinan merasa si arsitek masih dibutuhkan di perusahaannya karena karya-karya begitu memukau dan berbeda dengan para arsitek pada umumnya.

Setelah didesak oleh arsitek, sang pimpinan tak punya jawaban lain selain jawaban mengiyakan. Namun sebelum si arsitek berhenti dari profesi itu, dia diminta untuk merancang sebuah rumah untuk terakhir kalinya.

Akhirnya dibuatlah sebuah desain rumah yang begitu sederhana oleh si arsitek. Desain rumah tersebut sangat berbeda dengan desain-desain yang pernah dibuat sebelumnya. Tak biasanya  dia membuat jenis rumah yang sangat sederhana dan kecil.

Setelah beberapa bulan bangunan rumah pun selesai didirikan. Si arsitek melapor pada pimpinan. "saya sudah memenuhi persyaratannya". Tegas si arsitek. "Seandainya kau membuat rumah itu indah dan megah sebagaimana kau ciptakan sebelum-sebelumnya, tentu itu akan jadi kenangan yang indah. Aku memberikan rumah itu sebagai hadian pensiunmu.

Aku minta kau membuat rumah itu adalah sebagai hasil dari kerja keras dan jerih payahmu untuk perusahaan ini". Jawab sang pimpinan.

Dengan rasa sesal di dada, si arsitek hanya tertunduk lemas. yang ada dalam benaknya, kenapa dia tak membuat rumah yang megah sebagaimana yang selama ini dia lakukan.

Itu salah satu buah dari inkonsistensi dalam sebuah profesi. Konsistensi perlu diterapkan dalam hal apapun demi meraih hasil yang maksimal. Sebuah inkonsistensi hanya akan melahirkan sebuah penyesalan.

Jumat, 18 November 2016

Tentang Saya

Tantangan ODOP minggu ini adalah deskripsi diri.  Dan ketika berhadapan dengan tantangan ODOP, saya selalu membuatnya di hari terakhir, biar mepet. Ya, saya terlanjur suka dengan sistem sks, hehe. Kebiasaan anak kuliahan Strata 1. Kenapa saya bilang S1? Karena saya masih belum tahu banyak kebiasaan mahasiswa S2 berhadapan dengan tugas-tugas. Katanya sih tugasnya seabrek dan referensinya buanyak banget. Tapi saya masih belum percaya 100% kalo belum mengalaminya. Dan insya Allah sebentar lagi akan mengalaminya, Amin. Wah lumayan opening statement sudah dapat satu paragraf. Hehe
Ok, kembali ke Tantangan.

السلام عليكم أيها الإخوان والأخوات. اسمحوالي أن أعرف نفسي. اسمي محمد حسن أنا من باسروان جاوى الشرقية.
Itu sedikit cuplikan perkenalan yang biasa dipakai oleh mahasiswa bahasa Arab (itung-itung nunjukin identitas, hehe, udah agak lama gak nge-arab).
*****
Saya lahir dan besar di kabupaten Pasuruan. Salah satu kota di jawa timur yang penduduknya menggunakan bahasa Jawa atau Madura dalam kesehariannya. Dan saya termasuk yang bisa cakap-cakap dua-duanya.

Nama lengkap saya Muhammad Hasan (nama yang cukup singkat, dan paling banyak digunakan). Dari kecil akrab disapa Hasan, dan pernah mendapat panggilan cukup unik "kak Acan", saat merantau di Banten.

Saya merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Kakak saya telah menikah, dan saya insya Allah akan segera menyusul menggenapkan nisfu ad-din, amin, sedangkan adik masih duduk di bangku MTs.

Sejak kecil saya mendapatkan pendidikan agama lebih banyak. Oleh karena itu, walaupun ibu bapak tak pernah merasakan suka-duka di pesantren karena keterbatasan biaya, akan tetapi alhamdulillah anak-anaknya semua diboyong ke "penjara suci" (istilah pesantren ala anak santri).

Tampilan Fisik dan Karakter
Saya memiliki kulit yang putih dulu saat masih balita, sekarang sudah berubah menjadi sawo matang bahkan terlalu matang mungkin. Hidung saya mancung, nampaknya yang ini yang bisa saya andalkan, hehe. Tinggi badan 164 cm. Rambut hitam lurus. Dan  kata orang-orang penampakan wajah saya termasuk wajah pendiam alias tak banyak bicara. Ya, memang saya suka ngomong sedikit, saya lebih suka memperhatikan dan menjadi pendengar setia, paling seneng dengerin curhat teman. Namun kalau memang kondisinya menuntut saya untuk aktif ngomong, tentu saya tak segan-segan ambil bagian didalamnya. (agak opportunis ya)

Riwayat Pendidikan.
Studi S1 saya habiskan di UIN Malang dengan jurusan PBA (pend. Bahasa Arab), alhamdulillah lulus 4 tahun pas. Upsss maaf tak ada maksud menyindir yang pernah atau barangkali sedang merasakan semester 8 lebih. #maapkeun.

Setelah lulus S1, saya merantau ke Lebak Banten selama setahun untuk membantu kawan mengelola dan mengembangkan pesantren sambil bantu-bantu mengajar. Saat ini saya sedang dalam masa penantian untuk studi magister di Malaysia yang dijadwalkan berangkat Januari tahun depan (semoga disana bisa ketemu mas Zulham, mba' Dewi Dean dan sahabat-sahabat ODOP yang lain, asyik bisa kopdar).

Hobi
Tak seperti kebanyakan kaum adam, saya tak bisa bermain bola, kalau asal main dan nendang bola sih masih bisa. Tapi kalau urusan berita tentang bola, saya tahu banyak. Hampir setiap hari saya memperhatikan perkembangan sepak bola. Demikian juga berita tentang badminton. Apalagi kalau atlet bulu tangkis indonesia yang berlaga, kalau ngga' nonton serasa ada yang hilang. Saat ini hobi membaca coba saya tingkatkan, membaca buku bergenre apa saja.

Mungkin itu sekelumit tentang gambaran diri saya. Terima kasih, semoga ikatan ukhuwah di ODOP ini terus terjalin dan selalu mengalirkan nafas-nafas semangat menulis dan berkarya. Amin.

#TantanganOdop
#OneDayOnePost
#ODOPBatch3







Rabu, 16 November 2016

Kekerasan (Hukuman) dan Guru

Akhir-akhir ini marak terjadi kekerasan dan pelecehan yang dilakukan oleh guru terhadap muridnya. Sungguh miris dunia pendidikan di negeri ini.

Tadi siang diberitakan di televisi ada seorang guru sekolah dasar di Jember, Jawa Timur  memaksa 3 siswinya memakan kapur dan lem kertas sebagai hukuman gara-gara mereka berjalan-jalan didalam kelas saat guru menerangkan pelajaran. Kontan salah satu dari mereka ada yang muntah-muntah dan yang lain merasa mual-mual.  Tak hanya itu, siswi-siswi tersebut juga diancam akan diberikan hukuman yang lebih berat jika menceritakan kejadian tersebut. Namun akhirnya ulah guru tersebut terbongkar. (maaf, mungkin kata-katanya kurang berkenan dan terkesan menyudutkan si guru)

Terlepas dari kasus tersebut, kadang kita langsung menghujat si guru yang seharusnya mengajari murid-muridnya dengan penuh kasih sayang, senantiasa memaafkan kesalahan anak didik, dan sifat-sifat penuh kelembutan. Namun kenyataannya ada saja segelintir pendidik yang menghukum secara berlebihan hingga mencelakakan si murid. Alasannya demi mendisiplinkan. Tapi kenapa harus dengan kekerasan? (upsss, agak mendiskreditkan si pendidik lagi nih, maafkan!!!)

Ada juga pendidik yang melakukan pelecehan seksual terhadap muridnya. Guru yang katanya "digugu" dan "ditiru", kenapa berani berbuat sekeji itu? Kenapa mental guru tak ubahnya mental seorang yang tak berpendidikan? Dimanakah moral seorang guru? (lagi-lagi, memojokkan profesi guru, maapkeun)

Tapi sudah seyogyanya kita yang hidup di era kemajuan seperti saat ini harus lebih arif dalam menilai sebuah peristiwa. Jangan hanya memandang sesuatu dari satu sisi saja. Masih banyak sisi-sisi yang lain yang perlu ditelisik.

Bila beberapa paragraf sebelumnya mengulas hal-hal dari sudut pandang negatif alias su'udzon, maka coba kita gali dari perspektif yang baik atau dikenal dengan istilah husnudzon.

Pernahkah kita bertanya apakah kehidupan mayoritas pendidik itu sejahtera atau paling tidak berkecukupan? Apakah honor mereka perbulan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya? Tidakkah kita sering melihat bahwa gaji guru itu sangat kecil tapi tugasnya sangat besar?

Ya, pertanyaan-pertanyaan tersebut kadang kita abaikan. Padahal ini memiliki implikasi yang besar terhadap kualitas seorang guru.

Coba kita bayangkan, kita pakai bahasa blak-blakan saja, jika seorang guru gajinya rendah yakni kisaran 500 ribu setiap bulannya, sedangkan ia memiliki istri dan anak, maka bagaimanakah kondisi keluarga tersebut? Tentu itu sangat jauh dari kata cukup. Apa lagi kalau istrinya cerewet, selalu menuntut suaminya. Maka perselisihan tak bisa dihindarkan. Akibatnya emosi tersebut terbawa ke dalam kelas dan mudah tersulut dengan ulah-ulah siswa yang sebenarnya remeh dan wajar. Namun karena emosi itu sudah terbentuk sejak sebelum berangkat ke sekolah, maka ledakan emosi tak bisa dikontrol oleh sang pendidik.

Hal-hal seperti ini yang perlu kita renungkan pula. Kita harus memahami beratnya tugas guru dan kondisi ekonominya agar tak melulu menghujat secara membabi buta. Saya pribadi yakin Jika kesejahteraan menyelimuti kehidupan pendidik, maka insya Allah kasus-kasus diatas sulit terjadi. Semoga.

#maafkan jika ada yang tersinggung.

#OneDayOnePost
#ODOPBatch3
#Semangat

Selasa, 15 November 2016

Filosofi Air

Apapun yang terjadi saya harus tetap menulis. Karena saya percaya dengan menulis, jejak rekam pikiran saya bisa ditelusuri dan dikoreksi. Baik, kali ini saya akan menuangkan apa yang ada dalam pikiran yaitu tentang filosofi air.

Siapakah yang bisa hidup tanpa air? Air adalah sumber kehidupan di bumi ini. Planet ini bisa dihuni oleh berbagai makhluk hidup karena memiliki air. Disamping keberadaannya yang begitu besar manfaatnya, air memiliki filosofi makna yang patut direnungkan. Setidaknya ada lima pelajaran hidup yang dapat dipetik dari wujud air yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pertama, wujud air adalah cair. Ia bisa menetap di tempat apa saja, baik ukurannya besar atau kecil. Seperti berada di lautan atau di selokan. Artinya seseorang harus mampu hidup di lingkungan yang besar ataupun kecil, kaya atau miskin, lapang atau sempit dan seterusnya.

Kedua, air tak bisa berada di suatu wadah yang bolong alias bocor. Pengertian yang bisa diambil adalah seseorang harus keluar atau lari dari lingkungan yang penuh dengan kemaksiatan dan kezaliman karena lingkungan memiliki pengaruh kuat dalam membentuk kepribadian.

Ketiga, air selalu mengalir dari tempat yang tinggi. Sebagaimana air, dalam urusan dunia, seseorang seyogyanya melihat kondisi orang lain yang lebih rendah darinya sehingga rasa syukur tumbuh subur dalam dirinya.

Keempat, air akan rusak dan  menjadi sarang berkembang biaknya penyakit jika tak mengalir sebagaimana mestinya. Makna ini adalah dalam menjalani hidup ini kita harus bergerak menuju tempat yang telah menjadi tujuan kita. Tak stagnan. Bergerak untuk maju, mandiri, dan produktif.

Kelima, air akan memberikan manfaat atau bencana sesuai perlakuan yang ia terima. Sudah sepatnya dalam pergaulan sehari-hari kita harus menebarkan manfaat pada orang lain terutama kepada mereka yang telah berbuat baik pada kita. Pun terhadap orang yang berbuat buruk kepada kita, jangan balas keburukan mereka dengan keburukan, tapi balaslah dengan kebaikan. Namun jika  kebaikan-kebaikan kita sia-sia dimata mereka, maka berilah peringatan terhadap mereka secara bertahap sampai tahapan yang paling disebut bencana.

Demikianlah sudut pandang saya pribadi tentang air. Setiap orang pasti punya sudut pandang dan interpretasi yang berbeda-beda dalam memaknai sesuatu.

Jumat, 11 November 2016

Berkah Jum'ah

Pagi itu suasana pasar merjosari mulai cukup ramai dipadati para pengunjung yang hendak membeli berbagai keperluan khususnya keperluan sehari-hari. Lalu lalang kendaraan sudah mulai terlihat di jalanan depan pasar. Terlihat di pojok depan area pasar seperti biasanya Pak Nasir, seorang tukang becak memarkir becaknya sambil duduk-duduk diatas becaknya. Bapak tiga anak ini sedang menunggu calon penumpang yang ingin menggunakan jasanya.

***
Dari ujung jalan datang lelaki paruh baya berpakaian rapi terlihat tergesa-gesa sambil lari-lari kecil. Lelaki berkulit putih ini tampaknya terlambat berangkat kerja.

"Pak antarkan saya ke jalan Ahmad Yani no.12!, ban mobil saya bocor pak" pinta lelaki itu. Tanpa basa-basi pak nasir mengantarkan lelaki itu ke tujuan yang diminta.

Setelah sampai ditempat tujuan, ketika lelaki yang juga berdasi itu menyodorkan uang dua puluh ribu rupiah, lelaki itu kaget karena si tukang becak menolaknya. Lelaki itupun bertanya "kenapa bapak tak mau menerima upah ini?" tukang becak itu hanya tersenyum dengan pertanyaan itu.

Setelah didesak beberapa kali, tukang becak itupun menuturkan alasan ia menolak untuk terima upah dari penumpangnya. Ia menceritakan bahwa dirinya ingin sekali bersedekah di hari jumat, hari yang penuh berkah, hari yang sangat  dianjurkan untuk berinfaq atau bersedekah. Namun baginya buat makan saja susah apa lagi mau bersedekah. Cara satu-satunya agar ia bisa bersedekah pada hari jumat ialah tak meminta upah dari jasa becaknya artinya penumpang yang naik becaknya pada hari jumat tak perlu bayar alias gratis.

Lalu lelaki berdasi itu bertanya, "Tapi bagaimana dengan nasib istri dan anak-anak anda pak?". Sambil mengusap keringat yang mengucur di keningnya pak Nasir menceritakan bahwa keputusan untuk berbuat demikian sudah didiskusikan dengan sang istri dan anak-anaknya dan mereka menyetujui niat mulia itu. Untuk belanja atau keperluan pada hari jum'ah, ia sisihkan sebagian dari hasil narik becak pada hari-hari yang lain.

*****

Kebiasaan bersedekah dengan menggratiskan tumpangan becaknya itu sudah dilakukan sejak lama. Pak Nasir berharap amal itu bisa diterima oleh Yang Maha Kuasa. Mendengar ucapan itu, lelaki paruh baya itu tak kuasa menahan air mata. Ia kagum pada si tukang becak. Walaupun kondisi ekonominya serba kekurangan, ia masih sempat untuk bersedekah tiap minggu. Sementara dirinya yang dianugerahi rizqi yang cukup oleh Allah, masih selalu merasa kurang akan harta dan jarang sekali bersedekah.

Akhirnya lelaki yang berprofesi sebagai Kepala Bank swasta di kota Malang ini berniat ingin mengunjungi rumah si tukang becak. Di suatu pagi menjelang siang, lelaki itu mengunjungi rumah tukang becak itu. Kondisi rumah tersebut sangat sederhana dan sangat kecil namun lantunan ayat-ayat-ayat al-Qur'an senantiasa terdengar dari rumah itu setiap pagi, membuat aura positif terpancar dari bangunan mungil itu.

Setelah diketuknya pintu rumah, keluar seorang perempuan yang berusia sekitar 50 tahun lebih dengan memakai mukena. Sepertinya Perempuan itu usai melaksanakan shalat dhuha.

Setelah berbincang-bincang dengan istri tukang becak, lelaki itu semakin terenyuh hatinya melihat ketabahan dan kesalehan keluarga ini. Tanpa berpikir lama, Kepala Bank itu menyampaikan keinginannya untuk mengajak mereka berdua umroh bersamanya secara gratis. Semua biaya akan ditanggung oleh pak direktur.

Sontak si istri tukang becak itu tak kuasa menahan haru. Ia tak percaya dengan apa yang telah dialaminya. Ia bersujud syukur atas nikmat besar yang diterimanya. Keinginan untuk bertamu ke Baitullah datang melalui rizqi yang tak disangka-sangka.

NB: Tulisan ini terinspirasi dari kisah nyata.

#OneDayOnePost
#ODOPBatch3

Mengawal Mimpi

Semua berlari mengejar mimpi
Meski godaan datang bertubi-tubi
Meski tekanan mengoyak harga diri
Itu bukan alasan tuk berhenti

Merenung tak akan mengubah citra diri
Berpangku tangan tak akan memercikkan api
Api juang yang menyemangati
Setiap proses dalam berbakti

Sebuah aksi butuh langkah pasti
Langkah yang kan membuatmu tegak berdiri
Langkah yang mengokohkan kaki

Hentakkan ambisi berapi-api
Hilangkan malas yang tak bertepi
Buang khayalan yang menodai
Kawal setiap mempi yang tertancap dalam diri
Tuk kemenangan hakiki nan abadi

Rabu, 09 November 2016

Isu Global dan Momentum Hari Pahlawan

Beberapa hari yang lalu hampir seluruh media di dunia menyoroti dan menyiarkan pemberitaan tentang hasil pemilihan presiden amerika serikat. Stasiun televisi menghadirkan para pengamat politik untuk membahas sejumlah prediksi terkait dampak yang akan terjadi setelah warga amerika memilih presiden baru. Dan tak disangka, Donald Trump yang memiliki suara lebih banyak dibanding pesaingnya, Hillary Clinton.

Padahal mayoritas media massa dan netizen memprediksi bahwa Clinton yang akan terpilih menjadi the next presiden of america. Pasalnya janji-janji kampanye trump penuh kontroversi dan menuai banyak kecaman baik dari warga amerika sendiri dan masyarakat dunia. Presiden dari partai Republik ini disebut underdog dan termasuk presiden Amerika pertama yang tak memiliki pengalaman politik.

Terpilihnya Trump ini sangat mengejutkan sebagian warga amerika dan dunia. Oleh karena itu gelombang protes terus bergulir untuk menolak suami dari melania ini menjadi presiden amerika ke-45.

Banyak pengamat politik dunia mengkhawatirkan kondisi perpolitikan dunia ke depan dengan dilantiknya Trump termasuk negara kita, Indonesia. Dikhawatirkan hubungan bilateral antara Indonesia dan amerika serikat akan renggang dengan terpilihnya presiden yang disinyalir anti-islam ini. Ini karena Amerika adalah kiblat dunia baik segi politik ekonomi dan sebagainya.

Berangkat dari isu global tersebut  timbul pertanyaan kenapa kita sebagai bangsa yang besar nan kaya akan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang cukup memadai ini, ekonomi kita masih bergantung pada amerika? Dulu saat masa kerajaan baik kerajaan hindu atau islam, nasib nenek moyang kita tak bergantung pada bangsa lain. Justru bangsa-bangsa lain di dunia yang butuh indonesia akan rempah-rempah dan hasil alam lainnya. Lalu kenapa di zaman yang serba modern ini. ditambah bangsa ini sudah merdeka, tapi ekonomi kita masih terjajah?  

Melalui momentum hari pahlawan 10 November ini, kita sebagai pemuda-pemudi tentu sudah seharusnya membalas aksi heroik dan perjuangan para pendahulu bangsa dengan berkontribusi nyata dalam pembangunan dan kemajuan bangsa dengan segenap kapasitas kita sebagai warga Indonesia. Semoga.

#OneDayOnePost
#ODOPBatch3
#keepspirit


Senin, 07 November 2016

Sedih

Kulihat matanya tajam. Penuh kekesalan. Sepertinya pertentangan batin telah menggelayut di pikirannya. Matanya tak berkedip. Mulutnya menutup rapat serupa gerbang istana di mata pemberontak.

"Pasti ada yang tidak beres nih, apa yang merela lakukan di masjid ini" tukasku dalam hati. Siang itu sinar matahari terasa sangat terik. Keringat tak terasa mengalir di dahi. Segera kuhampiri Toni.

"woy...  ngelamun aja lho, Ton" tegurku sambil menepuk pundaknya dari belakang. "Ah kamu Rik ngangetin aja" ujarnya. Tak biasanya Toni duduk di teras masjid sambil memandangi sekelompok pemuda-pemudi yang saling berboncengan naik motor hendak berlalu.

"Apakah gerangan yang kau pikirkan, Ton" kucoba menenangkannya. Aku mengenal betul pribadi kawanku yang satu ini. Tak perlu diragukan lagi, apa yang menghinggap di benaknya pasti erat kaitannya dengan kebaikan umat.

Walaupun usianya masih muda, dia sangat rajin beribadah. Malam-malamnya senantiasa dilalui dengan qiyamul lail. Dia sosok pemuda yang memiliki hablum minallah dan hablum minannash yang seimbang.

"sedih ya, sob" ujarnya sambil mengelus-elus jenggotnya yang hanya beberapa helai saja. "Apa.... sedihhh? Sebentar lagi kan mau menikah? Masak sedih? Udah calonnya shalehah, primadona desa pula, gue juga mau kalo dijodohin sama dia" selorohku. "bukan sedih itu yang kumaksud sob, kalo urusan itu saya sudah mantap lahir batin, saya yakin dia adalah jodoh dunia akhiratku" jawabnya tenang. Saya hanya menggelengkan kepala mendengar ucapannya yang meneduhkan itu.

"Lalu apa?" tanyaku tak sabar.
"Sedih, melihat orang tak berinfaq usai masuk toilet masjid,
Di lain sisi kita tak pernah absen melihat orang mengulurkan lembaran rupiah di toilet umum usai buang hajat. Sedih, kini masjid menjadi tempat yang paling cocok melepaskan hajat pribadi disaat kantong kosong melompong. Sedih, tak semua masjid mendapat tunjangan setiap bulan dari pemerintah. Sedih ya, Masjid kalah dengan tempat wisata, taman kota. Tempat-tempat seperti itu yang sering mendapatkan anggaran dari pemerintah. maka tak heran jika banyak bermunculan para  pencari sumbangan keliling mengatasnamakan masjid.  Sungguh miris."jelasnya panjang.

Kutertegun mendengarkan paparannya yang menohok itu. memang pemuda yang murah senyum ini selalu blak-blakan mengungkapkan apa yang sedang terlintas dipikirannya.

"Coba kalau setiap orang sadar lalu mau mengisi kotak amal walau hanya dengan beberapa koin rupiah saja." sambungnya. Kulihat keningnya mengkerut. Pandangannya menerawang langit-langit masjid.

"Rombangan pemotor tadi gak ngisi ya, Ton?" tanyaku. Dia diam sejenak, tak menggubris pertanyaanku. Tampaknya dia enggan membicarakan tingkah mereka. "Padahal masjid kita ini berada di desa yang menjadi akses satu-satunya ke pantai Pesona, pantai terfavorit se-provinsi. Dan sering menjadi tempat persinggahan para traveler untuk shalat, buang hajat, mandi, atau sekadar melepas penat. Tapi kenapa perolehan infaq dimasjid ini tetap saja sama, tak ada kenaikan signifikan, tak ada perbedaan antara sebelum dan sesudah pantai itu terkenal seperti sekarang ini. Justru tagihan listrik terus membengkak setiap bulan. Kita harus cari cara supaya masjid kita ini tak lagi kekurangan dana" Saya manggut-manggut saja mendengarnya. 

Memang masjid di desa kami selalu ramai disinggahi para pelancong. paling tidak 100 orang mampir setiap harinya. Apa lagi saat musim liburan tiba, lahan parkir sampai tak dapat menampung jumlah kendaraan yang didominasi oleh motor dan mobil pribadi. Namun anehnya kondisi keuangan masjid tetap saja tak bertambah secara berarti.

Tetiba pengurus masjid menghampiri kita. "kalian sedang ngapain? Sepertinya serius sekali perbincangannya?" selidiknya.

Terjadilah diskusi yang cukup serius yang kami lakukan dengan pak Sholeh. Akhirnya beberapa langkah konkrit dihasilkan dari mufakat kami demi terwujudnya masjid yang lebih baik. Diantaranya penempelan stiker persuasif yang menarik untuk gerakan berinfaq usai memakai kamar mandi masjid.

Jumat, 04 November 2016

Pesona Tanjung Papuma

Tantangan ODOP minggu ini adalah mendeskripsikan sebuah tempat beserta gambarnya. Namun deskripsinya tanpa disertai gambar karena susahnya memasang foto diblog dengan menggunakan ponsel sedangkan laptop sudah wassalam. (sudah sering otak-atik tapi tetap nihil, mungkin saya yang gaptek, hehe).

Sekitar 3 tahun yang lalu saat masih menjadi mahasiswa aktif, saya dan teman pengurus asrama berkunjung ke kediaman temen-temen pengurus untuk bersilaturahim yang berada di jalur Malang-Banyuangi. Perjalanan kami ditempuh dengan touring alias motoran. Selain itu kami berkunjung ke berbagai objek wisata terdekat.

Salah satu tempat wisata yang sangat menarik untuk dideskripsikan yaitu Pantai Tanjung Papuma. Kata papuma berasal dari kata akronim pasir putih malikan. Sesuai dengan namanya pantai tanjung papuma adalah penjorokan daratan ke laut dengan pesona pasir putih.

Tanjung Papuma adalah salah satu kawasan wisata unggulan Kabupaten Jember yang terletak kurang-lebih 40 km sebelah selatan kota Jember. Tempat ini terletak di Desa Lojejer Kecamatan Wuluhan.

Menggunakan kendaraan pribadi, baik mobil maupun motor, perjalanan kesana memerlukan waktu antara 60 hingga 90 menit dari Kota
Jember, lima sampai enam jam dari Surabaya atau Malang, dan tujuh sampai delapan jam dari Denpasar Bali.

Pantai yang berlokasi di kabupaten jember ini menawarkan panorama yang sangat menawan. Sepanjang jalan menuju kawasan pantai, pengunjung akan disuguhi pemandangan persawahan yang hijau nan berhawa segar. Ketika hampir tiba dilokasi, jalanan berbukit akan kita lewati ditemani lambaian dedaunan pohon jati di kanan kiri jalan.

Pesona pantai yang menghadap langsung ke lepas pantai selatan jawa ini menawarkan sensasi liburan ala anak pantai. para pengunjung bisa mandi ditepi pantai yang sudah diberikan penanda batas aman. Selain itu permainan gokart, perkemahan, plus bakar-bakar ikan menjadi fasilitas yang paling diminati.

Kondisi hutannya juga masih asri dan terawat dengan baik. Aneka ragam binatang liar juga dapat dijumpai ditempat ini seperti monyet, biawak dan sebagainya.

Disisi barat terhampar batu-batu hitam, hijau dan putih beraneka ragam bentuk. Keunikan inilah yang membuat pantai Tanjung Papuma berbeda dengan pantai-pantai didaerah lain.

#OneDayOnePost
#25thDay
#Batch3
#NoDayWithoutWriting



Kamis, 03 November 2016

Untuk hari Jumat

Bagi umat islam Jumat merupakan hari yang paling istimewa dibandingkan hari-hari lainnya. Banyak hadist yang menjelaskan fadilah atau keutamaan hari yang juga disebut dengan sayyidul ayyam ini. Bahkan Allah azza wa jalla telah menjadikannya nama sebuah surah didalam firman-Nya yang suci. 

Orang-orang beriman berlomba-lomba untuk mendapatkan pahala sebanyak-banyaknya dihari tersebut dengan melaksanakan berbagai ibadah sesuai kadar kemampuan masing-masing. Tak hanya ibadah mahdhah saja yang ditingkatkan guna memuliakan hari jumat seperti wudhu' shalat, membaca Al-Quran,  dan sebagainya, namun ibadah ghairu mahdhah seperti dzikir, memperbanyak bershadaqah juga dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan akan datangnya hari mulia ini.

Berbicara cara menghormati datangnya sayyidul ayyam, masyarakat melakukannya dengan cara yang berbeda-beda sesuai tingkat kemampuannya. Di daerah saya ada beberapa orang yang mana bila datang jumat, mereka meliburkan diri untuk bekerja, seperti penjual nasi jagung dan pecel. Penjual ini tak membuka warungnya pada malam jumat. Jika pada hari-hari lainnya dia berjualan mulai sore hingga 9 malam. Hal senada juga dilakukan oleh penjual jamu. Dia tak menutup rapat-rapat kedai jamunya tatkala jumat datang. 

Ada pula pemilik bengkel kecil. Dia tak mengoperasikan peralatan bengkel pada hari jumat.

Barangkali kita bertanya-tanya kenapa mereka melakukan hal tersebut? Padahal jika mereka tetap bekerja, hasilnya cukup lumayan karena hari minggu juga libur, menurut kacamata orang yang kontra dengan sikap seperti itu.

Bila kita melihat prinsip para penjual tadi dengan kacamata husnudzon, tentu decak kagum yang akan keluar dari mulut. Kita pasti berprasangka bahwa mereka rela dan ikhlas tak meraup rupiah demi menghormati hari jumat dan agar bisa lebih leluasa beribadah kepada Allah. 

Sedikit sekali celah untuk mengatakan bahwa mereka ingin disanjung dan mendapat tempat dimata manusia. Mengapa demikian? karena mereka rakyat kecil. Bagi mereka, sanjungan dan pujian manusia bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan materi. Mereka lebih membutuhkan itu. Namun Sanjungan dan ridha Rab tetap diatas dari segala bentuk materi apapun. 

Ada lagi satu keteladanan yang patut ditiru dalam rangka menghormati hari jumat. Dan kisahnya akan dilanjutkan pada tulisan berikutnya. 

#OneDayOnePost
#24thDay
#Batch3
#NoDayWithoutWriting

Rabu, 02 November 2016

Malu

"Ingat nak sekolah itu penting, ibu masih kuat membiayai" nasihat Bu Siska pada Joni. "aku mau tetap sekolah asalkan dibelikan motor matic baru, aku malu Bu pake motor butut itu, titik"sergahnya. Dengan menahan nafas dalam, perempuan berkulit sawo matang itu mengiyakan permintaan anaknya.

Bukan tanpa alasan Bu siska mau membelikan matic. Hampir setiap hari si Joni mengeluh dan merengek pada ibunya agar dibelikan motor baru. Siswa yang baru duduk di kelas 1 SMA ini sudah tak sanggup menahan malu memakai motor tahun 90 an. Setiap hari dia diejek oleh teman-teman sekolahnya. Suara motornya jadi bahan ejekan terpedas saat motornya berjalan. Joni tak mampu mengelak ejekan itu. Maklum sekolahnya adalah SMA favorit. Mayoritas yang belajar dari kalangan menengah ke atas.

Kardi sang ayah yang bekerja sebagai pedagang sayur juga mengendarai motor yang tak kalah butut dengan motor Joni. Demi mewujudkan impian anaknya, dengan sangat terpaksa kedua motor butut tersebut dijadikan satu alias dijual. Namun hasil dari penjualan itu juga belum cukup. TV pun dilirik untuk menutupi kekurangan tersebut.

Akhirnya motor bisa dibeli dengan segenap jerih payah demi si siswa manja. Tak ayal banyak tetangga yang mencibir si Joni. Namun setiap kali Bu Siska mendengar ucapan tentang si Joni, ucapan bijaknya selalu membungkap mulut tetangganya.

Pak Kardi terpaksa harus mengayuh sepeda untuk berjualan sayuran ke pasar. Jarak belasan kilometer harus ditempuhnya setiap hari. Dan setiap rasa letih dan pegal melanda, ayah dua anak tersebut selalu berharap semoga kelak pengorbanannya tak berakhir sia-sia.

Di suatu siang yang terik, dengan nafas terengah-engah Joni menghampiri ibunya. "Ada apa Jon? Apa sebenarnya yang terjadi? Kamu tidak apa-apa nak?cepat cerita sama ibu". Tanya Bu Siska terheran-heran.

"Alhamdulillah Bu, barusan saya selamat dari Begal" jelas Joni singkat. Seketika itu ibunya langsung bersujud syukur dan menengadahkan tangan seraya mengucapkan rasa syukur. Ibu rumah tangga itu tak henti-hentinya mengucap ungkapan syukur.

Aksi begal memang kerap terjadi khususnya di jalan menuju ke sekolahnya. Bulan lalu ada siswa yang dibegal dan terkena bacokan dibahunya akibat melawan upaya perampasan motor miliknya. Untunglah siswa tersebut ditolong oleh pengendara lain yang sedang melintas.

Sejak saat itu Joni sadar bahwa hampir saja dia celaka dan kehilangan motor hasil keringat orang tuanya akibat tak menggubris saran ibunya agar jangan membawa matic ke sekolah. Akhirnya Joni mau memakai sepeda kayuh ayahnya. Dia ingin turut merasakan letihnya mengayuh sebuah sepeda seperti yang selama ini ayahnya lakukan untuknya. Joni heran pada dirinya kenapa dia harus malu hanya karena mengendarai sebuah motor tua.

#OneDayOnePost
#23thDay
#Batch3
#NoDayWithoutWriting





Selasa, 01 November 2016

Tulislah

Sampai minggu ke-4 ini, saya masih merasakan betapa susahnya memulai untuk menulis. Hanya sekadar mencari ide saja terkadang membutuhkan waktu 30 menit lebih. Dan terkadang pula sampai tertidur. Dari sini saya sadar bahwa keahlian menulis itu tak datang begitu saja. Perlu kerja keras dan konsistensi tinggi untuk tetap menulis dan menghasilkan karya.

Melihat semangat teman-teman di grup ODOP batch 3 yang senantiasa bersemangat untuk selalu aktif menulis
baik itu fiksi, artikel, puisi, atau bahkan curhatan, membuat saya semakin greget dan menyesal jika dalam sehari saja tak mampu menyelesaikan sebuah tulisan. Oleh sebab itu saya berusaha belajar dari tulisan teman-teman khususnya para senior dan CEO ODOP Bang Syaiha. 

Ketika saya merasa kesulitan untuk memulai menulis, karena merasa tak yakin, saya ingat pesan yang pernah disampaikan di grup bahwa menulislah dari hal-hal yang ringan. Berangkat dari statemen tersebut saya mencoba menerapkannya seperti pada tulisan ini. 

Maka sesungguhnya sayang sekali jika setelah lama berpikir mencari ide dan setelah mendapatkannya lalu diabaikan karena merasa jika ide tersebut tak berbobot dan sudah terlalu umum seperti yang sering saya lakukan. 

Apa yang ada dalam pikiran saya tuangkan dalam bentuk tulisan. "Tulis saja secara mengalir, jangan dihiraukan dulu, setelah selesai, cobalah baca ulang dan editlah" ini juga strategi dari para senior.

Tips yang tak kalah pentingnya adalah jika ingin hasil tulisanmu semakin berkualitas maka tidak hanya sering berlatih menulis saja tapi juga WAJIB AIN memperbanyak membaca. Ini adalah sebuah jalan yang harus dilewati untuk menjadi seorang penulis handal.


Tentu ada masih banyak lagi tips dan saran dari grup ODOP yang perlu bahkan harus dijadikan pedoman dalam sebuah kepenulisan. So, menulislah dengan hati dan jangan berharap apa-apa dari tulisan tersebut. Biarkan ia mengalir dan membuat sejarahnya.