#TanpaEdit
#Batch3
#harussemangat
#intinyanulisdulu
Tantangan ODOP minggu ini adalah deskripsi diri. Dan ketika berhadapan dengan tantangan ODOP, saya selalu membuatnya di hari terakhir, biar mepet. Ya, saya terlanjur suka dengan sistem sks, hehe. Kebiasaan anak kuliahan Strata 1. Kenapa saya bilang S1? Karena saya masih belum tahu banyak kebiasaan mahasiswa S2 berhadapan dengan tugas-tugas. Katanya sih tugasnya seabrek dan referensinya buanyak banget. Tapi saya masih belum percaya 100% kalo belum mengalaminya. Dan insya Allah sebentar lagi akan mengalaminya, Amin. Wah lumayan opening statement sudah dapat satu paragraf. Hehe
Ok, kembali ke Tantangan.
السلام عليكم أيها الإخوان والأخوات. اسمحوالي أن أعرف نفسي. اسمي محمد حسن أنا من باسروان جاوى الشرقية.
Itu sedikit cuplikan perkenalan yang biasa dipakai oleh mahasiswa bahasa Arab (itung-itung nunjukin identitas, hehe, udah agak lama gak nge-arab).
*****
Saya lahir dan besar di kabupaten Pasuruan. Salah satu kota di jawa timur yang penduduknya menggunakan bahasa Jawa atau Madura dalam kesehariannya. Dan saya termasuk yang bisa cakap-cakap dua-duanya.
Nama lengkap saya Muhammad Hasan (nama yang cukup singkat, dan paling banyak digunakan). Dari kecil akrab disapa Hasan, dan pernah mendapat panggilan cukup unik "kak Acan", saat merantau di Banten.
Saya merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Kakak saya telah menikah, dan saya insya Allah akan segera menyusul menggenapkan nisfu ad-din, amin, sedangkan adik masih duduk di bangku MTs.
Sejak kecil saya mendapatkan pendidikan agama lebih banyak. Oleh karena itu, walaupun ibu bapak tak pernah merasakan suka-duka di pesantren karena keterbatasan biaya, akan tetapi alhamdulillah anak-anaknya semua diboyong ke "penjara suci" (istilah pesantren ala anak santri).
Tampilan Fisik dan Karakter
Saya memiliki kulit yang putih dulu saat masih balita, sekarang sudah berubah menjadi sawo matang bahkan terlalu matang mungkin. Hidung saya mancung, nampaknya yang ini yang bisa saya andalkan, hehe. Tinggi badan 164 cm. Rambut hitam lurus. Dan kata orang-orang penampakan wajah saya termasuk wajah pendiam alias tak banyak bicara. Ya, memang saya suka ngomong sedikit, saya lebih suka memperhatikan dan menjadi pendengar setia, paling seneng dengerin curhat teman. Namun kalau memang kondisinya menuntut saya untuk aktif ngomong, tentu saya tak segan-segan ambil bagian didalamnya. (agak opportunis ya)
Riwayat Pendidikan.
Studi S1 saya habiskan di UIN Malang dengan jurusan PBA (pend. Bahasa Arab), alhamdulillah lulus 4 tahun pas. Upsss maaf tak ada maksud menyindir yang pernah atau barangkali sedang merasakan semester 8 lebih. #maapkeun.
Setelah lulus S1, saya merantau ke Lebak Banten selama setahun untuk membantu kawan mengelola dan mengembangkan pesantren sambil bantu-bantu mengajar. Saat ini saya sedang dalam masa penantian untuk studi magister di Malaysia yang dijadwalkan berangkat Januari tahun depan (semoga disana bisa ketemu mas Zulham, mba' Dewi Dean dan sahabat-sahabat ODOP yang lain, asyik bisa kopdar).
Hobi
Tak seperti kebanyakan kaum adam, saya tak bisa bermain bola, kalau asal main dan nendang bola sih masih bisa. Tapi kalau urusan berita tentang bola, saya tahu banyak. Hampir setiap hari saya memperhatikan perkembangan sepak bola. Demikian juga berita tentang badminton. Apalagi kalau atlet bulu tangkis indonesia yang berlaga, kalau ngga' nonton serasa ada yang hilang. Saat ini hobi membaca coba saya tingkatkan, membaca buku bergenre apa saja.
Mungkin itu sekelumit tentang gambaran diri saya. Terima kasih, semoga ikatan ukhuwah di ODOP ini terus terjalin dan selalu mengalirkan nafas-nafas semangat menulis dan berkarya. Amin.
#TantanganOdop
#OneDayOnePost
#ODOPBatch3
Akhir-akhir ini marak terjadi kekerasan dan pelecehan yang dilakukan oleh guru terhadap muridnya. Sungguh miris dunia pendidikan di negeri ini.
Tadi siang diberitakan di televisi ada seorang guru sekolah dasar di Jember, Jawa Timur memaksa 3 siswinya memakan kapur dan lem kertas sebagai hukuman gara-gara mereka berjalan-jalan didalam kelas saat guru menerangkan pelajaran. Kontan salah satu dari mereka ada yang muntah-muntah dan yang lain merasa mual-mual. Tak hanya itu, siswi-siswi tersebut juga diancam akan diberikan hukuman yang lebih berat jika menceritakan kejadian tersebut. Namun akhirnya ulah guru tersebut terbongkar. (maaf, mungkin kata-katanya kurang berkenan dan terkesan menyudutkan si guru)
Terlepas dari kasus tersebut, kadang kita langsung menghujat si guru yang seharusnya mengajari murid-muridnya dengan penuh kasih sayang, senantiasa memaafkan kesalahan anak didik, dan sifat-sifat penuh kelembutan. Namun kenyataannya ada saja segelintir pendidik yang menghukum secara berlebihan hingga mencelakakan si murid. Alasannya demi mendisiplinkan. Tapi kenapa harus dengan kekerasan? (upsss, agak mendiskreditkan si pendidik lagi nih, maafkan!!!)
Ada juga pendidik yang melakukan pelecehan seksual terhadap muridnya. Guru yang katanya "digugu" dan "ditiru", kenapa berani berbuat sekeji itu? Kenapa mental guru tak ubahnya mental seorang yang tak berpendidikan? Dimanakah moral seorang guru? (lagi-lagi, memojokkan profesi guru, maapkeun)
Tapi sudah seyogyanya kita yang hidup di era kemajuan seperti saat ini harus lebih arif dalam menilai sebuah peristiwa. Jangan hanya memandang sesuatu dari satu sisi saja. Masih banyak sisi-sisi yang lain yang perlu ditelisik.
Bila beberapa paragraf sebelumnya mengulas hal-hal dari sudut pandang negatif alias su'udzon, maka coba kita gali dari perspektif yang baik atau dikenal dengan istilah husnudzon.
Pernahkah kita bertanya apakah kehidupan mayoritas pendidik itu sejahtera atau paling tidak berkecukupan? Apakah honor mereka perbulan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya? Tidakkah kita sering melihat bahwa gaji guru itu sangat kecil tapi tugasnya sangat besar?
Ya, pertanyaan-pertanyaan tersebut kadang kita abaikan. Padahal ini memiliki implikasi yang besar terhadap kualitas seorang guru.
Coba kita bayangkan, kita pakai bahasa blak-blakan saja, jika seorang guru gajinya rendah yakni kisaran 500 ribu setiap bulannya, sedangkan ia memiliki istri dan anak, maka bagaimanakah kondisi keluarga tersebut? Tentu itu sangat jauh dari kata cukup. Apa lagi kalau istrinya cerewet, selalu menuntut suaminya. Maka perselisihan tak bisa dihindarkan. Akibatnya emosi tersebut terbawa ke dalam kelas dan mudah tersulut dengan ulah-ulah siswa yang sebenarnya remeh dan wajar. Namun karena emosi itu sudah terbentuk sejak sebelum berangkat ke sekolah, maka ledakan emosi tak bisa dikontrol oleh sang pendidik.
Hal-hal seperti ini yang perlu kita renungkan pula. Kita harus memahami beratnya tugas guru dan kondisi ekonominya agar tak melulu menghujat secara membabi buta. Saya pribadi yakin Jika kesejahteraan menyelimuti kehidupan pendidik, maka insya Allah kasus-kasus diatas sulit terjadi. Semoga.
#maafkan jika ada yang tersinggung.
#OneDayOnePost
#ODOPBatch3
#Semangat
Apapun yang terjadi saya harus tetap menulis. Karena saya percaya dengan menulis, jejak rekam pikiran saya bisa ditelusuri dan dikoreksi. Baik, kali ini saya akan menuangkan apa yang ada dalam pikiran yaitu tentang filosofi air.
Siapakah yang bisa hidup tanpa air? Air adalah sumber kehidupan di bumi ini. Planet ini bisa dihuni oleh berbagai makhluk hidup karena memiliki air. Disamping keberadaannya yang begitu besar manfaatnya, air memiliki filosofi makna yang patut direnungkan. Setidaknya ada lima pelajaran hidup yang dapat dipetik dari wujud air yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pertama, wujud air adalah cair. Ia bisa menetap di tempat apa saja, baik ukurannya besar atau kecil. Seperti berada di lautan atau di selokan. Artinya seseorang harus mampu hidup di lingkungan yang besar ataupun kecil, kaya atau miskin, lapang atau sempit dan seterusnya.
Kedua, air tak bisa berada di suatu wadah yang bolong alias bocor. Pengertian yang bisa diambil adalah seseorang harus keluar atau lari dari lingkungan yang penuh dengan kemaksiatan dan kezaliman karena lingkungan memiliki pengaruh kuat dalam membentuk kepribadian.
Ketiga, air selalu mengalir dari tempat yang tinggi. Sebagaimana air, dalam urusan dunia, seseorang seyogyanya melihat kondisi orang lain yang lebih rendah darinya sehingga rasa syukur tumbuh subur dalam dirinya.
Keempat, air akan rusak dan menjadi sarang berkembang biaknya penyakit jika tak mengalir sebagaimana mestinya. Makna ini adalah dalam menjalani hidup ini kita harus bergerak menuju tempat yang telah menjadi tujuan kita. Tak stagnan. Bergerak untuk maju, mandiri, dan produktif.
Kelima, air akan memberikan manfaat atau bencana sesuai perlakuan yang ia terima. Sudah sepatnya dalam pergaulan sehari-hari kita harus menebarkan manfaat pada orang lain terutama kepada mereka yang telah berbuat baik pada kita. Pun terhadap orang yang berbuat buruk kepada kita, jangan balas keburukan mereka dengan keburukan, tapi balaslah dengan kebaikan. Namun jika kebaikan-kebaikan kita sia-sia dimata mereka, maka berilah peringatan terhadap mereka secara bertahap sampai tahapan yang paling disebut bencana.
Demikianlah sudut pandang saya pribadi tentang air. Setiap orang pasti punya sudut pandang dan interpretasi yang berbeda-beda dalam memaknai sesuatu.
Pagi itu suasana pasar merjosari mulai cukup ramai dipadati para pengunjung yang hendak membeli berbagai keperluan khususnya keperluan sehari-hari. Lalu lalang kendaraan sudah mulai terlihat di jalanan depan pasar. Terlihat di pojok depan area pasar seperti biasanya Pak Nasir, seorang tukang becak memarkir becaknya sambil duduk-duduk diatas becaknya. Bapak tiga anak ini sedang menunggu calon penumpang yang ingin menggunakan jasanya.
***
Dari ujung jalan datang lelaki paruh baya berpakaian rapi terlihat tergesa-gesa sambil lari-lari kecil. Lelaki berkulit putih ini tampaknya terlambat berangkat kerja.
"Pak antarkan saya ke jalan Ahmad Yani no.12!, ban mobil saya bocor pak" pinta lelaki itu. Tanpa basa-basi pak nasir mengantarkan lelaki itu ke tujuan yang diminta.
Setelah sampai ditempat tujuan, ketika lelaki yang juga berdasi itu menyodorkan uang dua puluh ribu rupiah, lelaki itu kaget karena si tukang becak menolaknya. Lelaki itupun bertanya "kenapa bapak tak mau menerima upah ini?" tukang becak itu hanya tersenyum dengan pertanyaan itu.
Setelah didesak beberapa kali, tukang becak itupun menuturkan alasan ia menolak untuk terima upah dari penumpangnya. Ia menceritakan bahwa dirinya ingin sekali bersedekah di hari jumat, hari yang penuh berkah, hari yang sangat dianjurkan untuk berinfaq atau bersedekah. Namun baginya buat makan saja susah apa lagi mau bersedekah. Cara satu-satunya agar ia bisa bersedekah pada hari jumat ialah tak meminta upah dari jasa becaknya artinya penumpang yang naik becaknya pada hari jumat tak perlu bayar alias gratis.
Lalu lelaki berdasi itu bertanya, "Tapi bagaimana dengan nasib istri dan anak-anak anda pak?". Sambil mengusap keringat yang mengucur di keningnya pak Nasir menceritakan bahwa keputusan untuk berbuat demikian sudah didiskusikan dengan sang istri dan anak-anaknya dan mereka menyetujui niat mulia itu. Untuk belanja atau keperluan pada hari jum'ah, ia sisihkan sebagian dari hasil narik becak pada hari-hari yang lain.
*****
Kebiasaan bersedekah dengan menggratiskan tumpangan becaknya itu sudah dilakukan sejak lama. Pak Nasir berharap amal itu bisa diterima oleh Yang Maha Kuasa. Mendengar ucapan itu, lelaki paruh baya itu tak kuasa menahan air mata. Ia kagum pada si tukang becak. Walaupun kondisi ekonominya serba kekurangan, ia masih sempat untuk bersedekah tiap minggu. Sementara dirinya yang dianugerahi rizqi yang cukup oleh Allah, masih selalu merasa kurang akan harta dan jarang sekali bersedekah.
Akhirnya lelaki yang berprofesi sebagai Kepala Bank swasta di kota Malang ini berniat ingin mengunjungi rumah si tukang becak. Di suatu pagi menjelang siang, lelaki itu mengunjungi rumah tukang becak itu. Kondisi rumah tersebut sangat sederhana dan sangat kecil namun lantunan ayat-ayat-ayat al-Qur'an senantiasa terdengar dari rumah itu setiap pagi, membuat aura positif terpancar dari bangunan mungil itu.
Setelah diketuknya pintu rumah, keluar seorang perempuan yang berusia sekitar 50 tahun lebih dengan memakai mukena. Sepertinya Perempuan itu usai melaksanakan shalat dhuha.
Setelah berbincang-bincang dengan istri tukang becak, lelaki itu semakin terenyuh hatinya melihat ketabahan dan kesalehan keluarga ini. Tanpa berpikir lama, Kepala Bank itu menyampaikan keinginannya untuk mengajak mereka berdua umroh bersamanya secara gratis. Semua biaya akan ditanggung oleh pak direktur.
Sontak si istri tukang becak itu tak kuasa menahan haru. Ia tak percaya dengan apa yang telah dialaminya. Ia bersujud syukur atas nikmat besar yang diterimanya. Keinginan untuk bertamu ke Baitullah datang melalui rizqi yang tak disangka-sangka.
NB: Tulisan ini terinspirasi dari kisah nyata.
#OneDayOnePost
#ODOPBatch3
Semua berlari mengejar mimpi
Meski godaan datang bertubi-tubi
Meski tekanan mengoyak harga diri
Itu bukan alasan tuk berhenti
Merenung tak akan mengubah citra diri
Berpangku tangan tak akan memercikkan api
Api juang yang menyemangati
Setiap proses dalam berbakti
Sebuah aksi butuh langkah pasti
Langkah yang kan membuatmu tegak berdiri
Langkah yang mengokohkan kaki
Hentakkan ambisi berapi-api
Hilangkan malas yang tak bertepi
Buang khayalan yang menodai
Kawal setiap mempi yang tertancap dalam diri
Tuk kemenangan hakiki nan abadi
Beberapa hari yang lalu hampir seluruh media di dunia menyoroti dan menyiarkan pemberitaan tentang hasil pemilihan presiden amerika serikat. Stasiun televisi menghadirkan para pengamat politik untuk membahas sejumlah prediksi terkait dampak yang akan terjadi setelah warga amerika memilih presiden baru. Dan tak disangka, Donald Trump yang memiliki suara lebih banyak dibanding pesaingnya, Hillary Clinton.
Padahal mayoritas media massa dan netizen memprediksi bahwa Clinton yang akan terpilih menjadi the next presiden of america. Pasalnya janji-janji kampanye trump penuh kontroversi dan menuai banyak kecaman baik dari warga amerika sendiri dan masyarakat dunia. Presiden dari partai Republik ini disebut underdog dan termasuk presiden Amerika pertama yang tak memiliki pengalaman politik.
Terpilihnya Trump ini sangat mengejutkan sebagian warga amerika dan dunia. Oleh karena itu gelombang protes terus bergulir untuk menolak suami dari melania ini menjadi presiden amerika ke-45.
Banyak pengamat politik dunia mengkhawatirkan kondisi perpolitikan dunia ke depan dengan dilantiknya Trump termasuk negara kita, Indonesia. Dikhawatirkan hubungan bilateral antara Indonesia dan amerika serikat akan renggang dengan terpilihnya presiden yang disinyalir anti-islam ini. Ini karena Amerika adalah kiblat dunia baik segi politik ekonomi dan sebagainya.
Berangkat dari isu global tersebut timbul pertanyaan kenapa kita sebagai bangsa yang besar nan kaya akan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang cukup memadai ini, ekonomi kita masih bergantung pada amerika? Dulu saat masa kerajaan baik kerajaan hindu atau islam, nasib nenek moyang kita tak bergantung pada bangsa lain. Justru bangsa-bangsa lain di dunia yang butuh indonesia akan rempah-rempah dan hasil alam lainnya. Lalu kenapa di zaman yang serba modern ini. ditambah bangsa ini sudah merdeka, tapi ekonomi kita masih terjajah?
Melalui momentum hari pahlawan 10 November ini, kita sebagai pemuda-pemudi tentu sudah seharusnya membalas aksi heroik dan perjuangan para pendahulu bangsa dengan berkontribusi nyata dalam pembangunan dan kemajuan bangsa dengan segenap kapasitas kita sebagai warga Indonesia. Semoga.
#OneDayOnePost
#ODOPBatch3
#keepspirit
Kulihat matanya tajam. Penuh kekesalan. Sepertinya pertentangan batin telah menggelayut di pikirannya. Matanya tak berkedip. Mulutnya menutup rapat serupa gerbang istana di mata pemberontak.
"Pasti ada yang tidak beres nih, apa yang merela lakukan di masjid ini" tukasku dalam hati. Siang itu sinar matahari terasa sangat terik. Keringat tak terasa mengalir di dahi. Segera kuhampiri Toni.
"woy... ngelamun aja lho, Ton" tegurku sambil menepuk pundaknya dari belakang. "Ah kamu Rik ngangetin aja" ujarnya. Tak biasanya Toni duduk di teras masjid sambil memandangi sekelompok pemuda-pemudi yang saling berboncengan naik motor hendak berlalu.
"Apakah gerangan yang kau pikirkan, Ton" kucoba menenangkannya. Aku mengenal betul pribadi kawanku yang satu ini. Tak perlu diragukan lagi, apa yang menghinggap di benaknya pasti erat kaitannya dengan kebaikan umat.
Walaupun usianya masih muda, dia sangat rajin beribadah. Malam-malamnya senantiasa dilalui dengan qiyamul lail. Dia sosok pemuda yang memiliki hablum minallah dan hablum minannash yang seimbang.
"sedih ya, sob" ujarnya sambil mengelus-elus jenggotnya yang hanya beberapa helai saja. "Apa.... sedihhh? Sebentar lagi kan mau menikah? Masak sedih? Udah calonnya shalehah, primadona desa pula, gue juga mau kalo dijodohin sama dia" selorohku. "bukan sedih itu yang kumaksud sob, kalo urusan itu saya sudah mantap lahir batin, saya yakin dia adalah jodoh dunia akhiratku" jawabnya tenang. Saya hanya menggelengkan kepala mendengar ucapannya yang meneduhkan itu.
"Lalu apa?" tanyaku tak sabar.
"Sedih, melihat orang tak berinfaq usai masuk toilet masjid,
Di lain sisi kita tak pernah absen melihat orang mengulurkan lembaran rupiah di toilet umum usai buang hajat. Sedih, kini masjid menjadi tempat yang paling cocok melepaskan hajat pribadi disaat kantong kosong melompong. Sedih, tak semua masjid mendapat tunjangan setiap bulan dari pemerintah. Sedih ya, Masjid kalah dengan tempat wisata, taman kota. Tempat-tempat seperti itu yang sering mendapatkan anggaran dari pemerintah. maka tak heran jika banyak bermunculan para pencari sumbangan keliling mengatasnamakan masjid. Sungguh miris."jelasnya panjang.
Kutertegun mendengarkan paparannya yang menohok itu. memang pemuda yang murah senyum ini selalu blak-blakan mengungkapkan apa yang sedang terlintas dipikirannya.
"Coba kalau setiap orang sadar lalu mau mengisi kotak amal walau hanya dengan beberapa koin rupiah saja." sambungnya. Kulihat keningnya mengkerut. Pandangannya menerawang langit-langit masjid.
"Rombangan pemotor tadi gak ngisi ya, Ton?" tanyaku. Dia diam sejenak, tak menggubris pertanyaanku. Tampaknya dia enggan membicarakan tingkah mereka. "Padahal masjid kita ini berada di desa yang menjadi akses satu-satunya ke pantai Pesona, pantai terfavorit se-provinsi. Dan sering menjadi tempat persinggahan para traveler untuk shalat, buang hajat, mandi, atau sekadar melepas penat. Tapi kenapa perolehan infaq dimasjid ini tetap saja sama, tak ada kenaikan signifikan, tak ada perbedaan antara sebelum dan sesudah pantai itu terkenal seperti sekarang ini. Justru tagihan listrik terus membengkak setiap bulan. Kita harus cari cara supaya masjid kita ini tak lagi kekurangan dana" Saya manggut-manggut saja mendengarnya.
Memang masjid di desa kami selalu ramai disinggahi para pelancong. paling tidak 100 orang mampir setiap harinya. Apa lagi saat musim liburan tiba, lahan parkir sampai tak dapat menampung jumlah kendaraan yang didominasi oleh motor dan mobil pribadi. Namun anehnya kondisi keuangan masjid tetap saja tak bertambah secara berarti.
Tetiba pengurus masjid menghampiri kita. "kalian sedang ngapain? Sepertinya serius sekali perbincangannya?" selidiknya.
Terjadilah diskusi yang cukup serius yang kami lakukan dengan pak Sholeh. Akhirnya beberapa langkah konkrit dihasilkan dari mufakat kami demi terwujudnya masjid yang lebih baik. Diantaranya penempelan stiker persuasif yang menarik untuk gerakan berinfaq usai memakai kamar mandi masjid.