Minggu, 30 Oktober 2016
Perbedaan Kemampuan Individu
1. Pengertian Intelegensi
Secara Etimologis
Intelegensi berasal dari
bahasa
Inggris “Intelligence” yang
juga bersalal dari bahasa
Latin yaitu “Intellectus dan
Intelligentia”. Teori tentang
intelegensi pertama kali
dikemukakan oleh
Spearman dan Wynn Jones
Pol pada tahun 1951.
Spearman dan Wynn
mengemukakan adanya
konsep lama mengenai
suatu kekuatan (power)
yang dapat melengkapi akal
pikiran manusia tunggal
pengetahuan sejati.
Kekuatan tersebut dalam
bahasa Yunani disebut
dengan “Nous”, sedangkan
penggunaan kekuatannya
disebut “Noeseis”.
Ensiklopedia Indonesia,
Intelegensi adalah keahlian
memecahkan masalah dan
kemampuan untuk
beradaptasi pada, dan
belajar dari, pengalaman
hidup sehari-hari.
Dictionary of Psychology
Menurut JP Chaplin, 1975,
Intelegensi adalah:
1. Kemampuan
beradaptasi dan
memenuhi tuntunan
situasi (lingkungan) yang
kita hadapi dengan cepat
dan efektif.
2. Kemampuan
menggunakan konsep-
konsep abstrak secara
efektif.
3. Kemampuan
memahami hubungan
dan mempelajarinya
secara cepat.
Menurut beberapa Ahli
1.Alfred Binet
tokoh perintis
pengukuran intelegensi
mendefinisikan
intelegensi terdiri dari
tiga komponen, yaitu
a) Kemampuan
untuk mengarahkan
pikiran dan
tindakan
b) Kemampuan
untuk mengubah arah
tindakan
setelah
tindakan
tersebut
dilaksanakan
c) Kemampuan
untuk
mengkritik diri
sendiri atau
melakukan auto
criticism
2.David Wechsler
inteligensi adalah
kemampuan untuk
bertindak secara
terarah, berpikir secara
rasional, dan
menghadapi
lingkungannya secara
efektif. Secara garis
besar dapat
disimpulkan bahwa
inteligensi adalah suatu
kemampuan mental
yang melibatkan proses
berpikir secara
rasional. Oleh karena
itu, inteligensi tidak
dapat diamati secara
langsung, melainkan
harus disimpulkan dari
berbagai tindakan
nyata yang merupakan
manifestasi dari proses
berpikir rasional itu.
3.Waltres dan Gardnes
mendefinisikan
intelegensi sebagai
serangkaian
kemampuan-
kemampuan yang
memungkinkan individu
memecahkan masalah
atau produk sebagai
konsekuensi seksistensi
suatu budaya tertentu.
Secara garis besar dapat
disimpulkan bahwa
inteligensi adalah
a.Kemampuan untuk
berfikir secara
konvergen
(memusat) dan
divergen (menyebar)
b.Kemampuan
berfikir secara
abstrak
c. Kemampuan
berfikir dan
bertindak
secara terarah,
bertujuan, dan
rasional
d. Kemampuan untuk
menyatukan
pengalaman-
pengalaman
e. Kemampuan untuk
menggunakan apa
yang telah dipelajari
f. Kemampuan untuk
belajar dengan lebih
baik,
g. Kemampuan untuk
menyelesaikan tugas-
tugas yang sulit
dengan
memperhatikan
aspek psikologis dan
intelektual
h. Kemampuan untuk
menyesuaikan diri
dan merespon
terhadap situasi-
situasi baru
i. Kemampuan untuk
memahami masalah
dan
memecahkannya.
2. Faktor- faktor yang
Mempengaruhi
Perkembangan Intelegensi
1) Pembawaan ,
Pembawaan ditentukan
oleh sifat-sifat dan cirri
yang dibawah sejak lahir.
Batas kesangupan kita
yakni dapat tidaknya
memecahkan suatu soal,
pertama ditentukan oleh
pembawaan kita. Orang itu
ada yang pintar ada pula
yang bodoh. Sekalipun
menerima latihan dan
pelajaran yang sama,
perbedaan-perbedaan itu
masih tetap ada.
2) Kematangan , tiap organ
dalam tubuh manusia
mengalami pertumbuhan
dan perkembangan. Tiap
organ (fisik maupun non
fisik) dapat dikatakan telah
matang jika telah mencapai
kesangupan menjalangkan
fungsinya masing-masing.
Anak tidak dapat
memecahkan soal-soal
tertentu karena soal-soal
itu masih terlampau sukar
baginya. Organ-organ
tubuhnya dan fungsi-fungsi
jiwanya masih belum
matang untuk mengenai
soalitu dan kematangan
erat hubungannya dengan
umur.
3) Pembentukan,
pembentukan ialah segala
keadaan diluar diri
seseorang yang
mempengaruhi
perkembangan intelegensi.
Dapat kita bedakan
pembentukan sengaja
seperti yang dilakukan
disekolah-sekolah) dan
pembentukan tidak sengaja
(pengaruh alam sekitar)
4) Minat dan pembawaan
yang khas, Minat
mengarahkan perbuatan
kepada suatu tujuan dan
merupakan dorongan bagi
perbuatan itu. Dalam diri
manusia terdapat dorongan
– dorongan(motif-motif)
yang mendorong manusia
untuk berinteraksi dengan
dunia luar. Motif
menggunakan dan
menyelidiki dunia luar
( manipulate and exploring
motivasi ) dari manipulasi
dan eksplorasi yang
dilakukan terhadap dunia
luar itu, lama kelamaan
timbulah minat terhadap
sesuatu, apa yang mereka
minat seseorang
mendorongnya untuk
berbuat lebih giat dan lebih
baik
5) Kebebasan , kebebasan
berarti bahwa manusia itu
dapat memilih metode-
metode yang tertentu
dalam memecahkan
masalah-masalah.
Manusia mempunyai
kebebasan memilih metode
juga bebas dalam memilih
masalah sesuati dengan
kebutuhannya. Dengan
adanya kebebasan ini
berarti bahwa minat itu
tidak selamanya menjadi
syarat dalam pembentukan
intelegensi. (Dalyono,
2007.)
3. Ciri-Ciri Intelegensi
Ciri-ciri intelegensi yaitu :
1) Intelegensi
merupakan suatu
kemampuan mental
yang melibatkan
proses berfikir
secara rasional
(intelegensi dapat
diamati secara
langsung).
2) Intelegensi
tercermin dari
tindakan yang
terarah pada
penyesuaian diri
terhadap lingkungan
dan pemecahan
masalah yang timbul
daripadanya.
4. Ciri-Ciri Tingkah Laku
Intelegensi
Ciri – ciri tingkah laku
yang intelegen menurut
Effendi dan Praja (1993):
1) Purposeful
behavior, artinya
selalu terarah pada
tujuan atau
mempunyai
tujuan yang
jelas.
2) Organized
behavior, artinya
tingkah laku yang
terkoordinasi,
senua tenaga dan
alat – alat yang
digunakan dalam
suatu pemecahan
masalah
terkoordinasi
dengan baik.
3) Physical well
toned behavior,
artinya memiliki
sikap jasmaniah
yang baik, penuh
tenaga,
ketangkasan, dan
kepatuhan.
4) Adaptable
behavior, artinya
tingkah laku yang
luas fleksibel, tidak
statis, dan kaku,
tetapi selalu siap
untuk mengadakan
penyesuaian/
perubahan
terhadap situasi
yang baru.
5) Success
oriented behavior,
artinya tingkah
laku yang didasari
rasa aman, tenang,
gairah, penuh
kepercayaan, akan
sukses/optimal.
6) Clearly
motivated behavior ,
artinya tingkah
laku yang
memenuhi
kebutuhannya dan
bermanfaat bagi
orang lain atau
masyarakat.
7) Rapid
behavior, artinya
tingkah laku yang
efisien, efektif dan
cepat atau
menggunakan
waktu yang
singkat.
8) Broad
behavior, artinya
tingkah laku yang
mempunyai latar
belakang dan
pandangan luas
yang meliputi sikap
dasar dan jiwa
yang terbuka.
5. Pengukuran Intelegensi
v Sejarah Pengukuran
Adapun sejarah
pengukuran inteligensi
yaitu pada abad XIV, di
negeri Cina, telah
berlangsung usaha
untuk mengukur
kompetensi para
pelamar jabatan
sebagai pegawai
negara. Untuk dapat
diterima sebagai
pegawai, para pelamar
harus mengikuti ujian
tertulis mengenai
pengetahuan Confucian
Classics dan mengenai
kemampuan menulis
puisi dan komposisi
karangan. Ujian ini
berlangsung sehari
semalam lamanya di
tingkat distrik. Kurang
dari 7% pelamar yang
biasanya lulus di
tingkat lulus ujian di
tingkat distrik tersebut
harus mengikuti ujian
berikutnya yang berupa
kemampuan menulis
sajak puisi dan prosa.
Dalam ujian kedua ini
hanya kurang dari 10%
dari sisa peserta yang
dapat lulus. Akhirnya
barulah ujian tingkat
akhir diadakan di
Peking dimana
diantara para peserta
terakhir ini dapat
diangkat menjadi
mandarin dan boleh
bekerja sebagai
pegawai negara.
Dengan demikian, dari
ketiga tahap ujian
tersebut, hanya 5
diantara 100.000
pelamar saja yang pada
akhirnya dapat
mencapai Status
mandarin (Djphie’s
Blog).
Tidaklah jelas jenis
pekerjaan kantor apa
saja yang dapat
dipegang oleh para
lulusan yang telah
berstatus mandarin itu.
Apabila status
mandarin itu
merupakan semacam
lisensi untuk bekerja di
mana saja pada jenis
pekerjaan apa saja,
tentulah mata ujian
yang berupa
pengetahuan sastra dan
kemampuan menulis
prosa tidak merupakan
prediktor prestasi yang
cukup baik.
Diferensiasi
kemampuan pada jenis
pekerjaan yang
berbeda tidaklah dapat
dilakukan dengan
hanya mengujikan satu
bidang kemampuan
saja. Apabila pekerjaan
yang dapat dimasuki
oleh para mandarin itu
memang pekerjaan
yang menuntut
pengetahuan luas
mengenai sastra dan
kemampuan
mengarang, maka
sebenarnya apa yang
dilakukan oleh para
penguasa di Cina waktu
itu dapat dikatakan
telah sesuai dengan
prinsip pengukuran
yang berkembang lebih
akhir dan masih
dipegang sampai
sekarang ini. Baru pada
awal abad XIX ujian
semacam itu mulai
dihilangkan sejalan
dengan pesatnya
kemajuan universitas-
universitas.
Jumat, 28 Oktober 2016
PR: Perlu atau Tidak?
Mengapa harus ada PR untuk siswa SD? Sedemikian pentingkah PR itu? Apa ya manfaat mengerjakan tugas PR bagi mereka? Pertanyaan-pertanyaan itu tiba-tiba muncul di benakku setelah selesai mendampingi saudara sepupu yang sedang duduk di bangku SD mengerjakan seabrek PR sekolahnya. Kuperhatikan baru kali ini dia sangat kelelahan. Setelah kutanyai, dia bilang ada banyak PR yang wajib selesai malam ini karena besok harus dikumpulkan. Intinya "SKS" harus dilewati oleh anak sekecil itu. "Kalau ukuran mahasiswa mah udah biasa" inget omongan temen saat masa-masa kuliah.
Dari situ saya mulai paham mengapa menteri pendidikan berwacana meniadakan "PR" bagi siswa. Saya pribadi sangat setuju dengan wacana ini. Mereka para siswa sudah sangat lelah belajar berjam-jam disekolah, belum lagi sebagian dari mereka ada yang mengikuti MADIN (Madrasah Diniyah), TPQ, membantu pekerjaan orang tua dan lain sebagainya. Maka bertambah sempurnalah kejenuhan yang harus mereka pikul ketika PR menuntutnya untuk diselesaikan.
Namun jika wacana ini benar-benar terjadi, peran orang tua dalam membantu dan mengontrol perkembangan anaknya akan berkurang secara signifikan. Mengingat para orang tua biasanya akan mendampingi dan mengajari putra-putrinya belajar jika membawa ada PR. Pendampingan dan pengajaran tersebut akan terlaksana jikalau orang tua mereka memiliki background pendidikan yang cukup setidaknya lulusan SMP. Namun jika tidak, apa lagi kondisi ekonomi yang pas-pasan, maka bisa ditebak apa yang akan dilakukan kebanyakan orang tua.
Terlepas dari pro-kontra tugas PR bagi Siswa, perlu diuji-cobakan lalu disosialisakan secara menyeluruh mengenai manfaat dan antisipasi celah-celah negatif dari sebuah program. Dan kita sebagai individu sudah sepatutnya berbuat semampu kita untuk mendukung program pemerintah.
#OneDayOnePost
#20thDay
#OdopBatch3
#NoDayWithoutWriting
Namun jika wacana ini benar-benar terjadi, peran orang tua dalam membantu dan mengontrol perkembangan anaknya akan berkurang secara signifikan. Mengingat para orang tua biasanya akan mendampingi dan mengajari putra-putrinya belajar jika membawa ada PR. Pendampingan dan pengajaran tersebut akan terlaksana jikalau orang tua mereka memiliki background pendidikan yang cukup setidaknya lulusan SMP. Namun jika tidak, apa lagi kondisi ekonomi yang pas-pasan, maka bisa ditebak apa yang akan dilakukan kebanyakan orang tua.
Terlepas dari pro-kontra tugas PR bagi Siswa, perlu diuji-cobakan lalu disosialisakan secara menyeluruh mengenai manfaat dan antisipasi celah-celah negatif dari sebuah program. Dan kita sebagai individu sudah sepatutnya berbuat semampu kita untuk mendukung program pemerintah.
#OneDayOnePost
#20thDay
#OdopBatch3
#NoDayWithoutWriting
Kamis, 27 Oktober 2016
Buku yang Paling Berkesan
Tantangan Odop minggu ini adalah menulis tentang buku yang paling berkesan. Saya pun teringat dengan buku yang berjudul "anak kecil yang mengubah dunia" karya M.Iqbal Dawami. Ada sebuah kisah inspiratif yang patut ditiru dalam buku ini.
Dikisahkan di sebuah sekolah seorang guru memberikan tugas kepada murid-muridnya. Salah satu murid bernama Trevor McKinney membuat sebuah rancangan percobaan. Dengan percobaan tersebut, dia berharap dapat mengubah dunia, sebab dunia dalam pandangannya sudah terlalu sakit.
Percobaan tersebut yaitu melakukan kebaikan kepada 3 orang disekitarnya, lalu ketiga orang tersebut meneruskan kebaikan yang mereka terima itu dengan melakukan kepada 3 orang lainnya dan begitu seterusnya. Trevor menamakan ide tersebut sebagai "Pay it Forwad".
Murid itu memilih 3 orang yang akan menjadi bahan eksperimen adalah mamanya sendiri, seorang pemuda gembel yang selalu dilihatnya di pinggir jalan, dan seorang teman sekelas yang selalu diganggu oleh sekelompok anak nakal.
Ketika ketiga orang tersebut mendapatkan kebaikan dan mengucapkan terima kasih, Trevor berpesan Pay it forward. Dan ketiga orang tersebut pun meneruskan kebaikan kepada orang lain seraya berpesan "Pay it forwatd".
Singkat cerita rangkaian ide kebaikan tersebut sampai pada seorang wartawan TV. Sang wartawan pun tergerak untuk menelusuri dari mana istilah itu bermula. Dan akhirnya terkuaklah bahwa sang penggagas ide cemerlang itu berasal dari seorang bocah kecil, dan sang wartawan pun mengundangnya dalam sebuah acara televisi sehingga semakin tersebar luaslah aksi "Pay it forward" ke seluruh dunia.
Anak sekecil itu sudah bisa menebar kebaikan dengan idenya yang begitu brilian. Lalu apa yang sudah kita berikan untuk dunia ini? Kenapa kita masih ragu menebarkan kebaikan disekeliling kita? Kenapa kita masih berpikir balasan atas kebaikan yang telah kita berikan?
Itulah alasan mengapa kuanggap buku tersebut paling berkesan. Selain itu masih banyak kisah inspiratif lain yang dikisahkan dalam buku yang mendapat predikat "best seller" itu. Semoga kita bisa mengambil hikmah dan menerapkannya dalam keseharian kita. Amin.
#OneDayOnePost
#19thDay
#OdopBatch3
#NoDayWithoutWriting
Dikisahkan di sebuah sekolah seorang guru memberikan tugas kepada murid-muridnya. Salah satu murid bernama Trevor McKinney membuat sebuah rancangan percobaan. Dengan percobaan tersebut, dia berharap dapat mengubah dunia, sebab dunia dalam pandangannya sudah terlalu sakit.
Percobaan tersebut yaitu melakukan kebaikan kepada 3 orang disekitarnya, lalu ketiga orang tersebut meneruskan kebaikan yang mereka terima itu dengan melakukan kepada 3 orang lainnya dan begitu seterusnya. Trevor menamakan ide tersebut sebagai "Pay it Forwad".
Murid itu memilih 3 orang yang akan menjadi bahan eksperimen adalah mamanya sendiri, seorang pemuda gembel yang selalu dilihatnya di pinggir jalan, dan seorang teman sekelas yang selalu diganggu oleh sekelompok anak nakal.
Ketika ketiga orang tersebut mendapatkan kebaikan dan mengucapkan terima kasih, Trevor berpesan Pay it forward. Dan ketiga orang tersebut pun meneruskan kebaikan kepada orang lain seraya berpesan "Pay it forwatd".
Singkat cerita rangkaian ide kebaikan tersebut sampai pada seorang wartawan TV. Sang wartawan pun tergerak untuk menelusuri dari mana istilah itu bermula. Dan akhirnya terkuaklah bahwa sang penggagas ide cemerlang itu berasal dari seorang bocah kecil, dan sang wartawan pun mengundangnya dalam sebuah acara televisi sehingga semakin tersebar luaslah aksi "Pay it forward" ke seluruh dunia.
Anak sekecil itu sudah bisa menebar kebaikan dengan idenya yang begitu brilian. Lalu apa yang sudah kita berikan untuk dunia ini? Kenapa kita masih ragu menebarkan kebaikan disekeliling kita? Kenapa kita masih berpikir balasan atas kebaikan yang telah kita berikan?
Itulah alasan mengapa kuanggap buku tersebut paling berkesan. Selain itu masih banyak kisah inspiratif lain yang dikisahkan dalam buku yang mendapat predikat "best seller" itu. Semoga kita bisa mengambil hikmah dan menerapkannya dalam keseharian kita. Amin.
#OneDayOnePost
#19thDay
#OdopBatch3
#NoDayWithoutWriting
Rabu, 26 Oktober 2016
Penuhi Hak Mereka
Jika kau ingin nasibmu bak raja, perlakukan orang tuamu seperti raja. Tentu kita sepakat dengan pernyataan ini. Tak ada yang perlu diperdebatkan.
Sekadar pengingat, seorang ibu telah mengandung kita selama 9 bulan, melahirkan dengan penuh kepayahan dan rasa sakit, bahkan seandainya maut menjemputnya, gelar syahidah berhak disandangnya. Sedangkan ayah tak kenal lelah bermandikan keringat demi mendapatkan penghidupan yang layak untuk anak-anaknya.
Semua perjuangan telah dilakukan oleh orang tua tanpa pamrih. Maka tak pantaskah mereka mendapatkan kemuliaan dan perhatian dari putra-putrinya? Tak pantaskah SEANDAINYA mereka menuntut sedikit sesuatu dari jerih payah anaknya? Namun kenyataannya mereka hanya berharap kehidupan anak-anaknya lebih baik dari mereka, tak lebih. Kasih mereka tak berujung, tak sama dengan anak-anaknya. Seperti pepatah mengatakan kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah.
Dikisahkan bahwa ada seorang shalih yang mengatakan bahwa seluruh hartanya adalah juga milik orang tuanya. Beliau mengatakan pada orang tuanya jika orang tuanya memiliki hak yang sama pada seluruh hartanya. Orang tuanya bebas menggunakan seluruh hartanya tanpa ada batasan. Sehingga segala bisnisnya semakin maju.
Tidak pernah terdengar ada seseorang yang hidupnya mapan sedangkan nasih orang tuanya ditelantarkan. Kalaupun ada, hal itu tak akan lama. Doa dan ridha mereka turut menentukan pula nasib kita kelak di akhirat. Sebaliknya seseorang tak akan hidup susah jika senantiasa memperhatikan kondisi orang tuanya. Lalu kenapa masih ada saja orang yang tega berbuat acuh tak acuh terhadap orang tuanya?
#OneDayOnePost
#Batch3
#18thDay
#NoDayWithoutWriring
Sekadar pengingat, seorang ibu telah mengandung kita selama 9 bulan, melahirkan dengan penuh kepayahan dan rasa sakit, bahkan seandainya maut menjemputnya, gelar syahidah berhak disandangnya. Sedangkan ayah tak kenal lelah bermandikan keringat demi mendapatkan penghidupan yang layak untuk anak-anaknya.
Semua perjuangan telah dilakukan oleh orang tua tanpa pamrih. Maka tak pantaskah mereka mendapatkan kemuliaan dan perhatian dari putra-putrinya? Tak pantaskah SEANDAINYA mereka menuntut sedikit sesuatu dari jerih payah anaknya? Namun kenyataannya mereka hanya berharap kehidupan anak-anaknya lebih baik dari mereka, tak lebih. Kasih mereka tak berujung, tak sama dengan anak-anaknya. Seperti pepatah mengatakan kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah.
Dikisahkan bahwa ada seorang shalih yang mengatakan bahwa seluruh hartanya adalah juga milik orang tuanya. Beliau mengatakan pada orang tuanya jika orang tuanya memiliki hak yang sama pada seluruh hartanya. Orang tuanya bebas menggunakan seluruh hartanya tanpa ada batasan. Sehingga segala bisnisnya semakin maju.
Tidak pernah terdengar ada seseorang yang hidupnya mapan sedangkan nasih orang tuanya ditelantarkan. Kalaupun ada, hal itu tak akan lama. Doa dan ridha mereka turut menentukan pula nasib kita kelak di akhirat. Sebaliknya seseorang tak akan hidup susah jika senantiasa memperhatikan kondisi orang tuanya. Lalu kenapa masih ada saja orang yang tega berbuat acuh tak acuh terhadap orang tuanya?
#OneDayOnePost
#Batch3
#18thDay
#NoDayWithoutWriring
Selasa, 25 Oktober 2016
Mengukir Asa
Tangan yang dahulu tak bisa menggapai
Gejolak hati yang semakin menjadi
Rayuan nafsu yang berapi-api
Jiwa yang selalu dihiasi kebimbangan semu
Buaian mimpi yang selalu beradu
Deburan pertentangan yang selalu bergemuruh
Kini satu-persatu mulai terlepas
Bagai rantai usang yang terkelupas
Merangkak ke hulu
kesuksesan yang menghempas
Semangat membara pun mengakar ke sekujur tubuh
Mendarah daging menyatu dalam kalbu
Mencipta asa dalam juang
Bak prajurit perang menabuh genderang
Senin, 24 Oktober 2016
Kekuatan Cita-cita
Jika burung terbang dengan sayapnya maka manusia terbang dengan cita-citanya. Kalimat ini selalu diingat oleh Sikun, anak seorang buruh tani yang masih duduk di bangku SMP. Walaupun kondisi ekonomi orang tuanya sangat dirasa jauh dari kata cukup, Sikun tetap yakin bahwa ia bisa menggapai cita-citanya. Ia memiliki prinsip bahwa terlahir dalam keadaan miskin adalah sebuah takdir dan hidup dalam lingkaran kemiskinan adalah sebuah kemalasan.
Setiap hari ia harus menempuh jalan kaki sejauh 5 km untuk sampai sekolahnya. Ia bangun dan berangkat pagi-pagi agar tiba di sekolah tepat waktu. Tak ada kendaraan umum yang melintas didesanya. Namun seandainya ada, Sikun tak akan menggunakannya mengingat ia tak pernah membawa uang jajan ke sekah. Perjalanan ke sekolah yang begitu jauh membuat Sikun melepas sepatunya alias berjalan tanpa alas kaki agar sepatutnya tidak cepat rusak.
Selepas pulang sekolah, ia habiskan waktunya dengan belajar. Ia belajar tak kurang dari 5 jam setiap hari, 2 jam di siang hari dan 3 jam di malam hari. Orang tuanya tak mengizinkan sikun untuk membantu pekerjaannya dengan alasan agar sikun bisa fokus belajar dengan baik. Bahkan Ibu nya selalu menemaninya belajar meskipun beliau tak dapat membantunya. Ibunya selalu menyuguhkan teh hangat bercampur jahe setiap sikun belajar khususnya di malam hari. Perhatian yang besar inilah yang membuat sikun semakin semangat belajar. Ia tak ingin mengecewakan harapan orang tuanya. Semangat belajarnya seakan tak pernah surut.
Alhasil, setiap pembagian rapor, Sikun selalu mendapat ranking pertama sehingga ia mendapat keringanan tidak membayar tagihan SPP. Bahkan disaat wisuda SMP ia dinyatakan sebagai peraih nilai UN terbaik tingkat provinsi. Atas prestasinya itu, pemerintah setempat memberikan beasiswa penuh untuk menjamin keberlangsungan pendidikan bagi Sikun.
Setiap hari ia harus menempuh jalan kaki sejauh 5 km untuk sampai sekolahnya. Ia bangun dan berangkat pagi-pagi agar tiba di sekolah tepat waktu. Tak ada kendaraan umum yang melintas didesanya. Namun seandainya ada, Sikun tak akan menggunakannya mengingat ia tak pernah membawa uang jajan ke sekah. Perjalanan ke sekolah yang begitu jauh membuat Sikun melepas sepatunya alias berjalan tanpa alas kaki agar sepatutnya tidak cepat rusak.
Selepas pulang sekolah, ia habiskan waktunya dengan belajar. Ia belajar tak kurang dari 5 jam setiap hari, 2 jam di siang hari dan 3 jam di malam hari. Orang tuanya tak mengizinkan sikun untuk membantu pekerjaannya dengan alasan agar sikun bisa fokus belajar dengan baik. Bahkan Ibu nya selalu menemaninya belajar meskipun beliau tak dapat membantunya. Ibunya selalu menyuguhkan teh hangat bercampur jahe setiap sikun belajar khususnya di malam hari. Perhatian yang besar inilah yang membuat sikun semakin semangat belajar. Ia tak ingin mengecewakan harapan orang tuanya. Semangat belajarnya seakan tak pernah surut.
Alhasil, setiap pembagian rapor, Sikun selalu mendapat ranking pertama sehingga ia mendapat keringanan tidak membayar tagihan SPP. Bahkan disaat wisuda SMP ia dinyatakan sebagai peraih nilai UN terbaik tingkat provinsi. Atas prestasinya itu, pemerintah setempat memberikan beasiswa penuh untuk menjamin keberlangsungan pendidikan bagi Sikun.
Sabtu, 22 Oktober 2016
Gus Dur; Sang Guru Bangsa Sepanjang Masa (3)
Gus Dur Sebagai Presiden
Sosok Gus Dur yang cenderung vokal dan
cukup mumpuni dalam menganalisis kehidupan politik pada masa Orde Baru
telah membuat beliau dianggap sebagai ancaman politik. NU yang dipimpinnya
telah berubah menjadi organisasi Islam yang lebih intelek dengan massa yang
besar kala itu. Percobaan menggembosi efek karakter Gus Dur dalam tubuh NU
pernah dilakukan pemerintah rezim Orba, namun hasilnya nihil.
Penghormatan kalangan NU terhadap keluarga Hasyim Asy’ari yang tinggi, terlebih dengan kegeniusan seorang Gus Dur, dan beliau layak menerimanya.
Ketika masa reformasi berkibar, nama Abdurrahman Wahid menjadi cukup popular. Beliau menjadi salah satu dari sekian tokoh yang kritis dalam mencermati kebobrokan dan pengkhianatan rezim Orba.
Kepopulerannya berlanjut dengan hadirnya PKB, alhasil beliau naik tahta presiden menggantikan masa Habibie
yang singkat, dengan didampingi Megawati Soekarnoputri. Kebijakan beliau yang popular ketika
pemerintahannya adalah penghapusan UU deskriminasi terhadap etnis Cina Indonesia, dan pembubaran Departemen
Penerangan yang dianggap telah memasung kebebasan pers Indonesia.
Hal ini disambut baik, dan ini
membuktikan bahwa Gus Dur memiliki management situasi yang sangat baik.
Memang siapa saja yang duduk sebagai presiden kala itu harus membuat
perubahan bila tidak ingin dinilai mandul fungsi ketika negara sedang panas dengan api perubahan. Namun hal tersebut cukup berarti dan
dibutuhkan seorang yang cukup berani untuk memulainya. Gus Dur akhirnya diminta mundur MPR karena kondisi kesehatan beliau dan tuduhan korupsi yang tidak cukup jelas adanya, digantikan oleh Megawati.
Penentangan terhadap mundurnya Gus Dur sebagian besar didasarkan bahwa ada pihak tertentu yang ingin menghalangi pembaharuan yang dipiloti
Gus Dur. Mundurnya Gus Dur dari kursi presiden
tidak dengan senantiasa meleburkan popularitasnya.
Terbukti sosok nyentriknya yang cenderung lucu namun cerdas, telah membuatnya selalu diingat dan dihormati tidak hanya dari kalangan NU. Wataknya yang terlihat
selalu ingin mendapat perhatian tidak pernah menjadi kekurangan beliau
karena dasar bersikapnya yang lugas, mengedepankan kebebasan dan kejujuran dalam toleransi sangat
dibutuhkan bangsa ini secara nyata.
Gus Dur dan Pandangannya tentang Islam Modern
Berbeda selalu menjadi poin yang baik dalam menonjolkan diri ditambah
keuntungan menempatkan perilaku yang mudah sesuai keinginan. Mungkin hal
itulah rumus enteng untuk menjadi tenar secara mudah apabila kita siap dikatakan orang aneh. Dengan sedikit
peluang ada orang cerdas yang kagum akan pilihan hidup kita. Saya selalu
berpedoman bahwa watak dan sikap adalah pilihan hidup dan jati diri hanyalah pandangan orang lain tentang pilihan hidup kita. Akan tetapi pilihan bersikap Gus Dur terhadap perkembangan dunia Islam tidak sama sekali terlihat sebagai sikap pecundang
dungu yang siap dikatakan aneh.
Mulai dari sini saya tidak akan memandang Gus Dur sebagai seorang munafik, yang pandai memanipulasi
peluang demi kepentingan yang tidak terlalu jelas. Namun akan ada pujian
mulia untuk beliau karena saya yakin kehormatan dan kejayaan dien yang suci
ini ada pada pemikiran yang
berwawasan sangat jauh ke depan seperti pada pemikiran beliau. Dalam
hal ini tentu saja pandangannya tentang
penentangan Islam radikal. Artikel “Islam Benar lawan Islam Salah” yang diterbitkan Jurnal Wall Street tahun
2005 merupakan perwujudan pemikiran liberal Gus Dur yang sangat baik untuk
dimunculkan.
Gus Dur yang dikenal sebagai
negarawan berlatarkan Islam di Indonesia telah dengan lugas memunculkan ide tersebut. Bagaimanapun juga fanatisme agama yang keterlaluan tidak akan baik sama sekali bagi dunia dan bangsa ini. Apalagi apabila terdapat pihak yang dengan sangat mudah mengambil
keuntungan dari konflik berlatarkan agama (pihak Barat yang lebih dulu kaya
dan maju). Atau malah para terrorist yang mengaku Islam taat itu dikomandoi oleh pihak bukan Islam untuk politik pecah belah. Kita tidak tahu Masyarakat Islam jelas mengalami ketertindasan. Jelas lebih mudah menghajar muka orang lalu kabur dengan perasaan tidak bersalah. Namun mengalahkan musuh dengan jantan dan pulang dengan perasaan tidak bersalah yang sesungguhnya lebih memuaskan.
Kaum fundamentalis Islam di dunia dengan jelas telah mengatakan “kami ummat muslim sedunia telah mengalami ketidakadilan”. Cukup di situ saja fungsi
terorisme terhadap Barat. Jangan sampai merusak dan merugikan seperti di negara kita. Kini tiba saat untuk
bersaing secara jantan dengan mengedepankan pluralitas. Dan saya yakin Gus Dur pasti tahu hal ini.
Mungkin gagasan “Islam Benar dan Islam Salah” akan memicu perpecahan yang sangat menguntungkan pihak Barat. Namun apabila pemahaman telah didapatkan dengan baik oleh setiap muslim, maka hal itu akan menjadikan muslim Indonesia berkarakter yang
maju secara elegan dan tetap berpegang terhadap kejayaan dien yang suci ini.
Tentu saja hal ini akan jauh lebih baik daripada semua muslim menjadi terrorist brutal karena saat itu kita jelas salah. Saya kira hal ini cukup sederhana. Sangat sulit apabila kita terpecah namun alangkah lebih mudah apabila kita menjadi orang baik terlebih dahulu.
Gus Dur adalah salah satu tokoh yang menginspirasi kehidupan banyak orang
termasuk saya.
Bagaimanapun juga keberanian untuk berbeda adalah modal untuk berani menjadi yang terbaik. Dan
karakter unik yang tangguh akan melampaui keunggulan karakter umum yang paling sempurna sekalipun.
Sosok Gus Dur yang cenderung vokal dan
cukup mumpuni dalam menganalisis kehidupan politik pada masa Orde Baru
telah membuat beliau dianggap sebagai ancaman politik. NU yang dipimpinnya
telah berubah menjadi organisasi Islam yang lebih intelek dengan massa yang
besar kala itu. Percobaan menggembosi efek karakter Gus Dur dalam tubuh NU
pernah dilakukan pemerintah rezim Orba, namun hasilnya nihil.
Penghormatan kalangan NU terhadap keluarga Hasyim Asy’ari yang tinggi, terlebih dengan kegeniusan seorang Gus Dur, dan beliau layak menerimanya.
Ketika masa reformasi berkibar, nama Abdurrahman Wahid menjadi cukup popular. Beliau menjadi salah satu dari sekian tokoh yang kritis dalam mencermati kebobrokan dan pengkhianatan rezim Orba.
Kepopulerannya berlanjut dengan hadirnya PKB, alhasil beliau naik tahta presiden menggantikan masa Habibie
yang singkat, dengan didampingi Megawati Soekarnoputri. Kebijakan beliau yang popular ketika
pemerintahannya adalah penghapusan UU deskriminasi terhadap etnis Cina Indonesia, dan pembubaran Departemen
Penerangan yang dianggap telah memasung kebebasan pers Indonesia.
Hal ini disambut baik, dan ini
membuktikan bahwa Gus Dur memiliki management situasi yang sangat baik.
Memang siapa saja yang duduk sebagai presiden kala itu harus membuat
perubahan bila tidak ingin dinilai mandul fungsi ketika negara sedang panas dengan api perubahan. Namun hal tersebut cukup berarti dan
dibutuhkan seorang yang cukup berani untuk memulainya. Gus Dur akhirnya diminta mundur MPR karena kondisi kesehatan beliau dan tuduhan korupsi yang tidak cukup jelas adanya, digantikan oleh Megawati.
Penentangan terhadap mundurnya Gus Dur sebagian besar didasarkan bahwa ada pihak tertentu yang ingin menghalangi pembaharuan yang dipiloti
Gus Dur. Mundurnya Gus Dur dari kursi presiden
tidak dengan senantiasa meleburkan popularitasnya.
Terbukti sosok nyentriknya yang cenderung lucu namun cerdas, telah membuatnya selalu diingat dan dihormati tidak hanya dari kalangan NU. Wataknya yang terlihat
selalu ingin mendapat perhatian tidak pernah menjadi kekurangan beliau
karena dasar bersikapnya yang lugas, mengedepankan kebebasan dan kejujuran dalam toleransi sangat
dibutuhkan bangsa ini secara nyata.
Gus Dur dan Pandangannya tentang Islam Modern
Berbeda selalu menjadi poin yang baik dalam menonjolkan diri ditambah
keuntungan menempatkan perilaku yang mudah sesuai keinginan. Mungkin hal
itulah rumus enteng untuk menjadi tenar secara mudah apabila kita siap dikatakan orang aneh. Dengan sedikit
peluang ada orang cerdas yang kagum akan pilihan hidup kita. Saya selalu
berpedoman bahwa watak dan sikap adalah pilihan hidup dan jati diri hanyalah pandangan orang lain tentang pilihan hidup kita. Akan tetapi pilihan bersikap Gus Dur terhadap perkembangan dunia Islam tidak sama sekali terlihat sebagai sikap pecundang
dungu yang siap dikatakan aneh.
Mulai dari sini saya tidak akan memandang Gus Dur sebagai seorang munafik, yang pandai memanipulasi
peluang demi kepentingan yang tidak terlalu jelas. Namun akan ada pujian
mulia untuk beliau karena saya yakin kehormatan dan kejayaan dien yang suci
ini ada pada pemikiran yang
berwawasan sangat jauh ke depan seperti pada pemikiran beliau. Dalam
hal ini tentu saja pandangannya tentang
penentangan Islam radikal. Artikel “Islam Benar lawan Islam Salah” yang diterbitkan Jurnal Wall Street tahun
2005 merupakan perwujudan pemikiran liberal Gus Dur yang sangat baik untuk
dimunculkan.
Gus Dur yang dikenal sebagai
negarawan berlatarkan Islam di Indonesia telah dengan lugas memunculkan ide tersebut. Bagaimanapun juga fanatisme agama yang keterlaluan tidak akan baik sama sekali bagi dunia dan bangsa ini. Apalagi apabila terdapat pihak yang dengan sangat mudah mengambil
keuntungan dari konflik berlatarkan agama (pihak Barat yang lebih dulu kaya
dan maju). Atau malah para terrorist yang mengaku Islam taat itu dikomandoi oleh pihak bukan Islam untuk politik pecah belah. Kita tidak tahu Masyarakat Islam jelas mengalami ketertindasan. Jelas lebih mudah menghajar muka orang lalu kabur dengan perasaan tidak bersalah. Namun mengalahkan musuh dengan jantan dan pulang dengan perasaan tidak bersalah yang sesungguhnya lebih memuaskan.
Kaum fundamentalis Islam di dunia dengan jelas telah mengatakan “kami ummat muslim sedunia telah mengalami ketidakadilan”. Cukup di situ saja fungsi
terorisme terhadap Barat. Jangan sampai merusak dan merugikan seperti di negara kita. Kini tiba saat untuk
bersaing secara jantan dengan mengedepankan pluralitas. Dan saya yakin Gus Dur pasti tahu hal ini.
Mungkin gagasan “Islam Benar dan Islam Salah” akan memicu perpecahan yang sangat menguntungkan pihak Barat. Namun apabila pemahaman telah didapatkan dengan baik oleh setiap muslim, maka hal itu akan menjadikan muslim Indonesia berkarakter yang
maju secara elegan dan tetap berpegang terhadap kejayaan dien yang suci ini.
Tentu saja hal ini akan jauh lebih baik daripada semua muslim menjadi terrorist brutal karena saat itu kita jelas salah. Saya kira hal ini cukup sederhana. Sangat sulit apabila kita terpecah namun alangkah lebih mudah apabila kita menjadi orang baik terlebih dahulu.
Gus Dur adalah salah satu tokoh yang menginspirasi kehidupan banyak orang
termasuk saya.
Bagaimanapun juga keberanian untuk berbeda adalah modal untuk berani menjadi yang terbaik. Dan
karakter unik yang tangguh akan melampaui keunggulan karakter umum yang paling sempurna sekalipun.
Jumat, 21 Oktober 2016
Gus Dur; Sang Guru Bangsa Sepanjang Masa (2)
Berpenampilan Sahaja Dan Sederhana
Penampilan GusDur yang bersahaja, bersahabat, dan berbicara santai apa adanya, telah banyak memberikan
inspirasi bagi berbagai pihak. Dalam setiap pertemuan formal ataupun informal, Gus Dur selalu menyempatkan diri menyelipkan selingan kata-kata humor, sehingga bisa mencairkan suasana yang kaku menjadi rileks.
Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Surjono Hadi Sutjahjo, mengatakan, perjuangan Gus Dur dalam
mewujudkan keadilan dalam berbangsa dan bernegara harus dilanjutkan. Ia
mengatakan, selama hidup Gus Dur telah mengajarkan bangsa Indonesia mengenai banyak hal terkait mulai
hubungan agama (Islam) dengan negara, toleransi antar umat beragama hingga
persamaan hak sebagai warga negara.
Selain itu, Gus Dur juga mengajarkan pentingnya menghargai perbedaan
pendapat, menghilangkan diskriminasi berdasarkan ras dan agama serta mewujudkan kemandirian bangsa dalam arti luas. "Gus Dur telah memberikan
banyak pelajaran kepada bangsa ini.
Teladan yang telah ditunjukkannya harus dapat dilanjutkan oleh bangsa
ini," imbuh anggota tim ahli evaluasi program 100 hari SBY-Boediono. Surjono
yang juga ketua program studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan
Lingkungan (PSL) Pascasarjana IPB
menambahkan, Gus Dur juga telah memberikan teladan kepada bangsa ini berupa kesederahaan. Mesti menjadi
pemimpin besar dan pernah menjabat presiden, namun Gus Dur selalu menunjukkan kesederhanaan. Selain itu,
Gus Dur juga memiliki tipe pemimpin bekarakter. Tak ayal saat memimpin bangsa ini, mesti tengah dilanda situasi krisis multi dimensi, namun Gus Dur selalu mengedepankan kemandirian dalam mewujudkan pembangunan.
"Teladan dan perjuangan yang pernah dilakukan Gus Dur semasa hidup harus
dilanjutkan untuk mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran Indonesia secara berlelanjutan,"
ujarnya.
Terlepas dari berbagai kekurangan dan
keterbatasannya secara fisik, Gus Dur telah melakukan yang terbaik bagi bangsa dan negara Indonesia yang patut
diapresiasi. "Kita harus menjadi bangsa yang tahu cara berterima kasih kepada
jasa pemimpin. Kita tidak boleh menghilangkan atau melupakan sejarah, karena bangsa yang besar adalah
bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Gus Dur pernah berkata“Hal yang
tersulit bagi seseorang adalah meyakini apa yang telah diketahuinya”.
Seperti pemberitaan berbagai media massa, di penghujung tahun 2009 lalu,
bangsa Indonesia telah kehilangan mantan Presiden Republik Indonesia periode 1999-2001, KH. Abdurrahman Wahid, lebih akrab dipanggil GusDur, seorang tokoh nasionalis yang humanis dan humoris. Dari pemaparan media massa cetak maupun elektronika, dapat disimak bagaimana kiprah GusDur
sebagai bapak bangsa, saat memimpin negara ataupun ketika membesarkan
organisasi keumatan. Ada beberapa teladan utama, menurut opini pribadi,
yang terkesan tampak secara personal, dari kisah biografi GusDur sebagai panutan bangsa.
1. Hargai dan Hormati Setiap Perbedaan Ketika jaman pra reformasi, kebebasan berekspresi dalam kemajemukan adat, tradisi, ras, etnis, agama, agak terkekang pelaksanaannya, maka pada era GusDur
semua itu difasilitasi dengan mudah. Beliau selalu mengingatkan pentingnya
saling menghargai dan menghormati suasana perbedaan pruralisme
(kemajemukan) yang terdapat dalam lingkungan pergaulan bangsa. Sebagaimana spirit semboyan bangsa Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap dalam satu kesatuan bangsa.
2. Jangan Menyerah Pada Keadaan dan Keterbatasan
Teladan semangat GusDur, turut berpartisipasi aktif dalam kancah dunia
politik sampai mengantarkannya
menjadi kepala negara, ditengah keterbatasan fisik yang dialaminya,
merupakan rekor spesial dalam sejarah bangsa. Berarti, segala sesuatunya mungkin saja terjadi, bukan karena faktor kebetulan. Semuanya membutuhkan semangat, kerja keras, pantang mundur, untuk tidak menyerah pada keadaan dan tidak menyalahkan keterbatasan.
3. Katakan Sesuatu dengan Santai Penuh Humor Penampilan GusDur yang bersahaja, bersahabat, dan berbicara santai apa adanya, telah banyak memberikan inspirasi bagi berbagai pihak. Dalam setiap pertemuan formal ataupun informal, GusDur selalu menyempatkan diri menyelipkan selingan kata-kata humor, sehingga bisa mencairkan suasana yang kaku menjadi rileks. Segala ucapan dan limpahan rasa belasungkawa terdalam telah diwujudkan oleh segenap komponen bangsa. Semoga beliau mendapatkan tempat yang layak, sesuai amal budi baiknya kepada bangsa dan negara tercinta.
Setelah berpulangnya Gus Dur, akankah ada tokoh nasionalis yang bisa menjadi suri teladan spesial bagi perjalanan anak bangsa?. Usulan berbagai tokoh partai politik untuk menobatkan Gus Dur sebagai pahlawan nasional, patut ditindaklanjuti dengan
pertimbangan sikap arif dan bijaksana. Apalagi tanggal 02 Januari ini, pas momentumnya peringatan Hari Legiun Veteran Republik Indonesia. Karena jasa-jasa perjuangan para pejuang veteran tanah air ataupun tokoh nasionalis yang telah berjuang mempertahankan kehormatan bangsa perlu dihargai dan diteladani bersama. Unik bahkan ajaib, namun selalu relevan dengan kata kreatif apabila kita berbicara mengenai karakter Gus Dur. Cara pandang dan sosok beliau yang belum ada duanya di Indonesia, mungkin telah menjadikannya sebagai
manusia paling heboh. Entah beliau memilih menjadi berbeda atau tidak nyaman menjadi biasa, yang pasti beliau telah banyak memberi inspirasi bagi pemikiran yang lebih kreatif untuk kemajuan bangsa.
Gus Dur yang dibesarkan dalam keluarga intelektual religius Islam (NU) telah banyak mengenyam pengalaman dari studi keIslamannya. Beliau pernah bergaul dengan tokoh-tokoh Muhammadiyah Yogyakarta ketika masih bersekolah di Krapyak, menamatkan kuliah di Universitas Al Azhar Mesir, kemudian ke Universitas Baghdad Iraq, dan terakhir di Universitas McGill Kanada untuk pengkajian Islam. Pengalaman organisasi dalam tubuh NU, pergaulannya yang sangat luas dan kemampuannya untuk dapat berpikir unik dan cenderung efektif telah menempatkan beliau sebagai tokoh yang dihormati.
Penampilan GusDur yang bersahaja, bersahabat, dan berbicara santai apa adanya, telah banyak memberikan
inspirasi bagi berbagai pihak. Dalam setiap pertemuan formal ataupun informal, Gus Dur selalu menyempatkan diri menyelipkan selingan kata-kata humor, sehingga bisa mencairkan suasana yang kaku menjadi rileks.
Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Surjono Hadi Sutjahjo, mengatakan, perjuangan Gus Dur dalam
mewujudkan keadilan dalam berbangsa dan bernegara harus dilanjutkan. Ia
mengatakan, selama hidup Gus Dur telah mengajarkan bangsa Indonesia mengenai banyak hal terkait mulai
hubungan agama (Islam) dengan negara, toleransi antar umat beragama hingga
persamaan hak sebagai warga negara.
Selain itu, Gus Dur juga mengajarkan pentingnya menghargai perbedaan
pendapat, menghilangkan diskriminasi berdasarkan ras dan agama serta mewujudkan kemandirian bangsa dalam arti luas. "Gus Dur telah memberikan
banyak pelajaran kepada bangsa ini.
Teladan yang telah ditunjukkannya harus dapat dilanjutkan oleh bangsa
ini," imbuh anggota tim ahli evaluasi program 100 hari SBY-Boediono. Surjono
yang juga ketua program studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan
Lingkungan (PSL) Pascasarjana IPB
menambahkan, Gus Dur juga telah memberikan teladan kepada bangsa ini berupa kesederahaan. Mesti menjadi
pemimpin besar dan pernah menjabat presiden, namun Gus Dur selalu menunjukkan kesederhanaan. Selain itu,
Gus Dur juga memiliki tipe pemimpin bekarakter. Tak ayal saat memimpin bangsa ini, mesti tengah dilanda situasi krisis multi dimensi, namun Gus Dur selalu mengedepankan kemandirian dalam mewujudkan pembangunan.
"Teladan dan perjuangan yang pernah dilakukan Gus Dur semasa hidup harus
dilanjutkan untuk mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran Indonesia secara berlelanjutan,"
ujarnya.
Terlepas dari berbagai kekurangan dan
keterbatasannya secara fisik, Gus Dur telah melakukan yang terbaik bagi bangsa dan negara Indonesia yang patut
diapresiasi. "Kita harus menjadi bangsa yang tahu cara berterima kasih kepada
jasa pemimpin. Kita tidak boleh menghilangkan atau melupakan sejarah, karena bangsa yang besar adalah
bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Gus Dur pernah berkata“Hal yang
tersulit bagi seseorang adalah meyakini apa yang telah diketahuinya”.
Seperti pemberitaan berbagai media massa, di penghujung tahun 2009 lalu,
bangsa Indonesia telah kehilangan mantan Presiden Republik Indonesia periode 1999-2001, KH. Abdurrahman Wahid, lebih akrab dipanggil GusDur, seorang tokoh nasionalis yang humanis dan humoris. Dari pemaparan media massa cetak maupun elektronika, dapat disimak bagaimana kiprah GusDur
sebagai bapak bangsa, saat memimpin negara ataupun ketika membesarkan
organisasi keumatan. Ada beberapa teladan utama, menurut opini pribadi,
yang terkesan tampak secara personal, dari kisah biografi GusDur sebagai panutan bangsa.
1. Hargai dan Hormati Setiap Perbedaan Ketika jaman pra reformasi, kebebasan berekspresi dalam kemajemukan adat, tradisi, ras, etnis, agama, agak terkekang pelaksanaannya, maka pada era GusDur
semua itu difasilitasi dengan mudah. Beliau selalu mengingatkan pentingnya
saling menghargai dan menghormati suasana perbedaan pruralisme
(kemajemukan) yang terdapat dalam lingkungan pergaulan bangsa. Sebagaimana spirit semboyan bangsa Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap dalam satu kesatuan bangsa.
2. Jangan Menyerah Pada Keadaan dan Keterbatasan
Teladan semangat GusDur, turut berpartisipasi aktif dalam kancah dunia
politik sampai mengantarkannya
menjadi kepala negara, ditengah keterbatasan fisik yang dialaminya,
merupakan rekor spesial dalam sejarah bangsa. Berarti, segala sesuatunya mungkin saja terjadi, bukan karena faktor kebetulan. Semuanya membutuhkan semangat, kerja keras, pantang mundur, untuk tidak menyerah pada keadaan dan tidak menyalahkan keterbatasan.
3. Katakan Sesuatu dengan Santai Penuh Humor Penampilan GusDur yang bersahaja, bersahabat, dan berbicara santai apa adanya, telah banyak memberikan inspirasi bagi berbagai pihak. Dalam setiap pertemuan formal ataupun informal, GusDur selalu menyempatkan diri menyelipkan selingan kata-kata humor, sehingga bisa mencairkan suasana yang kaku menjadi rileks. Segala ucapan dan limpahan rasa belasungkawa terdalam telah diwujudkan oleh segenap komponen bangsa. Semoga beliau mendapatkan tempat yang layak, sesuai amal budi baiknya kepada bangsa dan negara tercinta.
Setelah berpulangnya Gus Dur, akankah ada tokoh nasionalis yang bisa menjadi suri teladan spesial bagi perjalanan anak bangsa?. Usulan berbagai tokoh partai politik untuk menobatkan Gus Dur sebagai pahlawan nasional, patut ditindaklanjuti dengan
pertimbangan sikap arif dan bijaksana. Apalagi tanggal 02 Januari ini, pas momentumnya peringatan Hari Legiun Veteran Republik Indonesia. Karena jasa-jasa perjuangan para pejuang veteran tanah air ataupun tokoh nasionalis yang telah berjuang mempertahankan kehormatan bangsa perlu dihargai dan diteladani bersama. Unik bahkan ajaib, namun selalu relevan dengan kata kreatif apabila kita berbicara mengenai karakter Gus Dur. Cara pandang dan sosok beliau yang belum ada duanya di Indonesia, mungkin telah menjadikannya sebagai
manusia paling heboh. Entah beliau memilih menjadi berbeda atau tidak nyaman menjadi biasa, yang pasti beliau telah banyak memberi inspirasi bagi pemikiran yang lebih kreatif untuk kemajuan bangsa.
Gus Dur yang dibesarkan dalam keluarga intelektual religius Islam (NU) telah banyak mengenyam pengalaman dari studi keIslamannya. Beliau pernah bergaul dengan tokoh-tokoh Muhammadiyah Yogyakarta ketika masih bersekolah di Krapyak, menamatkan kuliah di Universitas Al Azhar Mesir, kemudian ke Universitas Baghdad Iraq, dan terakhir di Universitas McGill Kanada untuk pengkajian Islam. Pengalaman organisasi dalam tubuh NU, pergaulannya yang sangat luas dan kemampuannya untuk dapat berpikir unik dan cenderung efektif telah menempatkan beliau sebagai tokoh yang dihormati.
Kompensasi Sebuah Prestasi
Tahukah kamu dibalik prestasimu menyisakan orang-orang yang terenggut impiannya? Mungkin kita masih bertanya-tanya apa maksud pernyataan tersebut. Saya pun sempat bingung saat pertama kali mendengar itu. Saya masih ingat pernyataan itu disampaikan oleh Tutor materi IELTS saat mengikuti program pengayaan bahasa (PB) di ITB Bandung Mei lalu. Pernyataan itu dikutip dari sebuah kisah nyata penuh inspirasi. Saya lupa nama Tutor tersebut. Kurang lebih awal mula kisahnya seperti yang akan dipaparkan berikut ini.
Dulu ada mahasiswa ITB yang berasal dari Sragen Jawa Tengah namanya Zaky. Dia tak percaya bisa kuliah di kampus yang telah menelorkan banyak ahli dibidang teknologi ini. Selama berkuliah, dia tercatat sebagai mahasiswa yang memiliki nilai akademis yang sangat bagus. Saat semester 1 dia memperoleh IPK sempurna 4.00. Dia juga sempat mendapat beasiswa study Oregon State University dari pemerintah Amerika Serikat selama 2 bulan pada tahun 2008.
Selain brilian di bidang akademis, dia sering menjuarai berbagai kompetisi tingkat nasional dan aktif diberbagai organisasi kemahasiswaan ITB.
Pencapaian-pencapaian prestasi tersebut membuat kawan-kawan kuliahnya kagum dan heran akan cara belajarnya. Mengingat selain aktif dalam kegiatan akademik, dia juga tercatat sebagai mahasiswa yang aktif di berbagai organisasi.
Sebenarnya dia juga heran kenapa bisa seperti itu karena gaya belajarnya tak jauh berbeda dengan yang lain. Namun ada sedikit perbedaan dalam aspek cara pandang terhadap orang lain yaitu dia selalu menganggap atau menyangka kawan-kawannya selalu belajar tiap hari, rajin diskusi, dan aktif organisasi. Sehingga setiap hari dia belajar dan selalu mengevaluasi setiap matakuliah yang telah dipejarinya meski tidak ada tugas. Segala bentuk diskusi dan seminar akademik diikutinya. Sehingga tak heran prestasi akademiknya membuat kawan-kawannya menggelengkan kepala.
Namun akhirnya dia tahu bahwa kebanyakan kawan-kawannya tak melakukan jadwal belajar yang padat seperti yang dia sangkakan.
Menjelang kelulusan kampus banyak kawan-kawannya yang menanyakan apa rencananya setelah lulus. Ada kawannya yang nyeletuk, "Dibalik prestasi-prestasi yang telah kau raih menyisakan orang-orang yang terenggut impiannya. Ketika kau berhasil menjadi mahasiswa ITB berarti kau telah mengalahkan banyak orang yang ingin menjadi mahasiswa sepertimu. Ketika kau menjuarai berbagai kompetisi berarti kau telah mengalahkan banyak peserta lain. Pernahkah kau memikirkan perasaan mereka yang gagal meraih impiannya karena kamu yang meraih impian itu. Apa kontribusimu sebagai kompensasi rasa kekecewaan dari ribuan orang yang telah kau kalahkan?".
Dari pertanyaan itu dia tergugah hatinya untuk menciptakan banyak lapangan pekerjaan untuk orang lain bukan malah mencari pekerjaan. Dia mendirikan serusahaan E-Commerce Indonesia
berbasis marketplace C2C yang berfokus pada
pemberdayaan Usaha Kecil Menengah (UKM).
Semoga kita pun bisa tergugah untuk senantiasa istiqamah menebarkan kebaikan dan manfaat kepada orang lain, tak peduli sekecil apapun itu. Dan itu dimulai dari lingkungan sekitar kita.
#OneDayOnePost
#15thDay
#Batch3
#KeepFighting
Dulu ada mahasiswa ITB yang berasal dari Sragen Jawa Tengah namanya Zaky. Dia tak percaya bisa kuliah di kampus yang telah menelorkan banyak ahli dibidang teknologi ini. Selama berkuliah, dia tercatat sebagai mahasiswa yang memiliki nilai akademis yang sangat bagus. Saat semester 1 dia memperoleh IPK sempurna 4.00. Dia juga sempat mendapat beasiswa study Oregon State University dari pemerintah Amerika Serikat selama 2 bulan pada tahun 2008.
Selain brilian di bidang akademis, dia sering menjuarai berbagai kompetisi tingkat nasional dan aktif diberbagai organisasi kemahasiswaan ITB.
Pencapaian-pencapaian prestasi tersebut membuat kawan-kawan kuliahnya kagum dan heran akan cara belajarnya. Mengingat selain aktif dalam kegiatan akademik, dia juga tercatat sebagai mahasiswa yang aktif di berbagai organisasi.
Sebenarnya dia juga heran kenapa bisa seperti itu karena gaya belajarnya tak jauh berbeda dengan yang lain. Namun ada sedikit perbedaan dalam aspek cara pandang terhadap orang lain yaitu dia selalu menganggap atau menyangka kawan-kawannya selalu belajar tiap hari, rajin diskusi, dan aktif organisasi. Sehingga setiap hari dia belajar dan selalu mengevaluasi setiap matakuliah yang telah dipejarinya meski tidak ada tugas. Segala bentuk diskusi dan seminar akademik diikutinya. Sehingga tak heran prestasi akademiknya membuat kawan-kawannya menggelengkan kepala.
Namun akhirnya dia tahu bahwa kebanyakan kawan-kawannya tak melakukan jadwal belajar yang padat seperti yang dia sangkakan.
Menjelang kelulusan kampus banyak kawan-kawannya yang menanyakan apa rencananya setelah lulus. Ada kawannya yang nyeletuk, "Dibalik prestasi-prestasi yang telah kau raih menyisakan orang-orang yang terenggut impiannya. Ketika kau berhasil menjadi mahasiswa ITB berarti kau telah mengalahkan banyak orang yang ingin menjadi mahasiswa sepertimu. Ketika kau menjuarai berbagai kompetisi berarti kau telah mengalahkan banyak peserta lain. Pernahkah kau memikirkan perasaan mereka yang gagal meraih impiannya karena kamu yang meraih impian itu. Apa kontribusimu sebagai kompensasi rasa kekecewaan dari ribuan orang yang telah kau kalahkan?".
Dari pertanyaan itu dia tergugah hatinya untuk menciptakan banyak lapangan pekerjaan untuk orang lain bukan malah mencari pekerjaan. Dia mendirikan serusahaan E-Commerce Indonesia
berbasis marketplace C2C yang berfokus pada
pemberdayaan Usaha Kecil Menengah (UKM).
Semoga kita pun bisa tergugah untuk senantiasa istiqamah menebarkan kebaikan dan manfaat kepada orang lain, tak peduli sekecil apapun itu. Dan itu dimulai dari lingkungan sekitar kita.
#OneDayOnePost
#15thDay
#Batch3
#KeepFighting
Kamis, 20 Oktober 2016
Profesionalisme
"Sial, lagi-lagi aku ditolak" gumam Sikun. Dia sudah berulang kali masuk-keluar kantor untuk melamar sebuah pekerjaan namun selalu gagal. Padahal dia yakin akan diterima diperusahaan itu.
Setelah merenung berjam-jam apakah gerangan yang telah membuatnya ditolak mentah-mentah, sikun ingat jika yang mengujinya adalah Paimo, kawan saat SMP. "seharusnya saya diterima, dia kan kawanku".
Akhirnya Sikun ingat jika kawannya itu sering dia bully. Pernah suatu ketika Sikun mendorongnya ke kubangan COMBERAN yang berada tak jauh dari area sekolah. Sikun kesal, pacarnya menaruh hati pada Paimo. Akibat ulahnya itu, Sikun harus menerima hukuman dijemur dibawah terik MATAHARI saat jam istirahat.
Dia bertekad mendatangi kawannya itu. "Sampai kapanpun aku gak bakalan diterima ditempat itu kecuali aku minta maaf pada Paimo" pikirnya. Untaian kata-kata manis sudah dirangkainya untuk meluluhkan hati kawannya. Tak lupa dia membawa buah-buahan agar permintaan maafnya berjalan mulus.
Bagai api jauh dari panggang, ungkapan maafnya dibalas dengan kata-kata kasar oleh kawannya. "akhirnya kau sadar, pecundang, kenapa kau ditolak kerja disini, pernahkah kau berpikir gimana rasanya dibully" jelas paimo dengan muka penuh kebencian. "aku masih inget, kau pernah mendorongku ke comberan, sejak kejadian itu aku dijuluki manusia comberan, sekarang saatnya kau yang akan menyandang gelar itu, bodoh". Sikun diam seribu bahasa. Dia bingung harus berkata apa. Keringat dingin bercucuran membasahi pelipisnya.
"kamu tahu ayahku ketua asosiasi pengusaha dinegeri ini, aku akan pastikan kamu gak bakalan diterima diperusahaan manapun". Sambung paimo. Sikun bingung bukan kepalang mendengar kata-kata itu. Dia seolah digigit seribu KALAJENGKING disekujur tubuhnya. Dengan suara terbatah-batah sikun menanggapi "ba...ba... Baiklah kawan, kau berhak tak memaafkanku, aku pantas menerima ini, semoga bisnismu semakin maju, saya permisi".
Sikun pun langsung pulang ke rumahnya. Dia GALAU tingkat dewa. Dia tak habis pikir kawannya akan tega berbuat seperti itu. "tok...tok...tok... Assalamualaikum" suara itu membuyarkan lamunannya. Sikun tahu betul suara itu. Setelah pintu dibuka, Paimo berdiri dihadapannya. Kawannya itu langsung menjabat tangannya seraya mengucapkan "selamat kawan kau diterima di perusahaan kami". Sikun semakin bingung dengan ucapan kawan yang telah merendahkan harga dirinya itu. Akhirnya Sikun bisa mengerti setelah dijelaskan panjang lebar bahwa itu adalah bagian dari tes perekrutan pegawai baru. Sikun sadar bila kawannya itu tak menaruh dendamnya padanya.
#OneDayOnePost
#TantanganOdop
#14thDay
#Batch
Setelah merenung berjam-jam apakah gerangan yang telah membuatnya ditolak mentah-mentah, sikun ingat jika yang mengujinya adalah Paimo, kawan saat SMP. "seharusnya saya diterima, dia kan kawanku".
Akhirnya Sikun ingat jika kawannya itu sering dia bully. Pernah suatu ketika Sikun mendorongnya ke kubangan COMBERAN yang berada tak jauh dari area sekolah. Sikun kesal, pacarnya menaruh hati pada Paimo. Akibat ulahnya itu, Sikun harus menerima hukuman dijemur dibawah terik MATAHARI saat jam istirahat.
Dia bertekad mendatangi kawannya itu. "Sampai kapanpun aku gak bakalan diterima ditempat itu kecuali aku minta maaf pada Paimo" pikirnya. Untaian kata-kata manis sudah dirangkainya untuk meluluhkan hati kawannya. Tak lupa dia membawa buah-buahan agar permintaan maafnya berjalan mulus.
Bagai api jauh dari panggang, ungkapan maafnya dibalas dengan kata-kata kasar oleh kawannya. "akhirnya kau sadar, pecundang, kenapa kau ditolak kerja disini, pernahkah kau berpikir gimana rasanya dibully" jelas paimo dengan muka penuh kebencian. "aku masih inget, kau pernah mendorongku ke comberan, sejak kejadian itu aku dijuluki manusia comberan, sekarang saatnya kau yang akan menyandang gelar itu, bodoh". Sikun diam seribu bahasa. Dia bingung harus berkata apa. Keringat dingin bercucuran membasahi pelipisnya.
"kamu tahu ayahku ketua asosiasi pengusaha dinegeri ini, aku akan pastikan kamu gak bakalan diterima diperusahaan manapun". Sambung paimo. Sikun bingung bukan kepalang mendengar kata-kata itu. Dia seolah digigit seribu KALAJENGKING disekujur tubuhnya. Dengan suara terbatah-batah sikun menanggapi "ba...ba... Baiklah kawan, kau berhak tak memaafkanku, aku pantas menerima ini, semoga bisnismu semakin maju, saya permisi".
Sikun pun langsung pulang ke rumahnya. Dia GALAU tingkat dewa. Dia tak habis pikir kawannya akan tega berbuat seperti itu. "tok...tok...tok... Assalamualaikum" suara itu membuyarkan lamunannya. Sikun tahu betul suara itu. Setelah pintu dibuka, Paimo berdiri dihadapannya. Kawannya itu langsung menjabat tangannya seraya mengucapkan "selamat kawan kau diterima di perusahaan kami". Sikun semakin bingung dengan ucapan kawan yang telah merendahkan harga dirinya itu. Akhirnya Sikun bisa mengerti setelah dijelaskan panjang lebar bahwa itu adalah bagian dari tes perekrutan pegawai baru. Sikun sadar bila kawannya itu tak menaruh dendamnya padanya.
#OneDayOnePost
#TantanganOdop
#14thDay
#Batch
Rabu, 19 Oktober 2016
Gus Dur; Sang Guru Bangsa Sepanjang Masa (1)
Masih tergambar jelas dalam ingatan. Kita isak tangis dan gema takbir jutaan orang sebagai tanda penghormatan turut mengiringi kepulangan bapak pluralisme sejati ke haribaan sang pencipta.
Peristiwa tersebut terjadi 7 tahun silam tepatnya pada tanggal 30 Desember 2009. Mantan Presiden Republik Indonesia periode 1999-2001
tersebut tak lagi hadir di tengah-tengah kita, namun jasa-jasa- dan pemikirannya
selalu dikenang sepanjang zaman.
Kontroversial dan unik, namun selalu relevan dengan kata kreatif apabila kita
berbicara mengenai karakter seorang Gus Dur. Cara pandang dan sosok beliau
yang belum ada duanya di Indonesia, mungkin telah menjadikannya sebagai
manusia paling heboh. Entah beliau memilih menjadi berbeda atau tidak nyaman menjadi biasa, yang pasti
beliau telah banyak memberi inspirasi bagi pemikiran yang lebih kreatif untuk
kemajuan bangsa.
Gus Dur yang dibesarkan dalam keluarga intelektual religius Islam (NU) telah
banyak mengenyam pengalaman dari studi keIslamannya. Beliau pernah
bergaul dengan tokoh-tokoh
Muhammadiyah Yogyakarta ketika masih bersekolah di Krapyak, menamatkan
kuliah di Universitas Al Azhar Mesir, kemudian ke Universitas Baghdad Iraq,
dan terakhir di Universitas McGill Kanada untuk pengkajian Islam. Pengalaman organisasi dalam tubuh NU, pergaulannya yang sangat luas dan kemampuannya untuk dapat berpikir unik dan cenderung efektif telah
menempatkan beliau sebagai tokoh yang dihormati.
Mendiskusikan sosok seorang Gus Dur memang tak ada habisnya untuk
dikenang dan diteladani sepak terjangnya. K.H. Abdurrahman Wahid, nama lengkapnya adalah seorang
tokoh nasionalis yang humanis dan humoris. Puluhan gelar telah
disandangnya, baik dari dalam negeri atau mancanegara. Kiprahnya dalam kancah perpolitikan membawa perubahan yang sangat berarti dalam
kemajuan bangsa ini.
Bertepatan dengan momentum 7 Tahun
wafatnya seseorang yang memiliki julukan ad-Dakhil atau sang penakluk ini, banyak memori yang perlu dikenang dan diteladani oleh kita sebagai penerus tonggak perjuangan bangsa tercinta ini.
Ada beberapa suri teladan utama dari seorang gus dur yang patut kita teladani dan aplikasikan dalam mengarungi kehidupan ini, yakni: Menghargai setiap perbedaan Ketika jaman pra reformasi, kebebasan berekspresi dalam kemajemukan adat, tradisi, ras, etnis, agama, agak terkekang pelaksanaannya, maka pada era GusDur semua itu difasilitasi dengan mudah.
Beliau selalu mengingatkan pentingnya saling menghargai dan menghormati suasana perbedaan pruralisme (kemajemukan) yang terdapat dalam lingkungan pergaulan bangsa Sebagaimana spirit semboyan bangsa Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap dalam satu kesatuan bangsa.
Tidak ada kata menyerah pada keadaan Teladan semangat GusDur, turut berpartisipasi aktif dalam kancah dunia politik sampai mengantarkannya menjadi kepala negara, ditengah keterbatasan fisik yang dialaminya, merupakan rekor spesial dalam sejarah bangsa. Berarti, segala sesuatunya mungkin saja terjadi, bukan karena faktor kebetulan. Semuanya
membutuhkan semangat, kerja keras, pantang mundur, untuk tidak menyerah pada keadaan dan tidak menyalahkan keterbatasan.
Peristiwa tersebut terjadi 7 tahun silam tepatnya pada tanggal 30 Desember 2009. Mantan Presiden Republik Indonesia periode 1999-2001
tersebut tak lagi hadir di tengah-tengah kita, namun jasa-jasa- dan pemikirannya
selalu dikenang sepanjang zaman.
Kontroversial dan unik, namun selalu relevan dengan kata kreatif apabila kita
berbicara mengenai karakter seorang Gus Dur. Cara pandang dan sosok beliau
yang belum ada duanya di Indonesia, mungkin telah menjadikannya sebagai
manusia paling heboh. Entah beliau memilih menjadi berbeda atau tidak nyaman menjadi biasa, yang pasti
beliau telah banyak memberi inspirasi bagi pemikiran yang lebih kreatif untuk
kemajuan bangsa.
Gus Dur yang dibesarkan dalam keluarga intelektual religius Islam (NU) telah
banyak mengenyam pengalaman dari studi keIslamannya. Beliau pernah
bergaul dengan tokoh-tokoh
Muhammadiyah Yogyakarta ketika masih bersekolah di Krapyak, menamatkan
kuliah di Universitas Al Azhar Mesir, kemudian ke Universitas Baghdad Iraq,
dan terakhir di Universitas McGill Kanada untuk pengkajian Islam. Pengalaman organisasi dalam tubuh NU, pergaulannya yang sangat luas dan kemampuannya untuk dapat berpikir unik dan cenderung efektif telah
menempatkan beliau sebagai tokoh yang dihormati.
Mendiskusikan sosok seorang Gus Dur memang tak ada habisnya untuk
dikenang dan diteladani sepak terjangnya. K.H. Abdurrahman Wahid, nama lengkapnya adalah seorang
tokoh nasionalis yang humanis dan humoris. Puluhan gelar telah
disandangnya, baik dari dalam negeri atau mancanegara. Kiprahnya dalam kancah perpolitikan membawa perubahan yang sangat berarti dalam
kemajuan bangsa ini.
Bertepatan dengan momentum 7 Tahun
wafatnya seseorang yang memiliki julukan ad-Dakhil atau sang penakluk ini, banyak memori yang perlu dikenang dan diteladani oleh kita sebagai penerus tonggak perjuangan bangsa tercinta ini.
Ada beberapa suri teladan utama dari seorang gus dur yang patut kita teladani dan aplikasikan dalam mengarungi kehidupan ini, yakni: Menghargai setiap perbedaan Ketika jaman pra reformasi, kebebasan berekspresi dalam kemajemukan adat, tradisi, ras, etnis, agama, agak terkekang pelaksanaannya, maka pada era GusDur semua itu difasilitasi dengan mudah.
Beliau selalu mengingatkan pentingnya saling menghargai dan menghormati suasana perbedaan pruralisme (kemajemukan) yang terdapat dalam lingkungan pergaulan bangsa Sebagaimana spirit semboyan bangsa Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap dalam satu kesatuan bangsa.
Tidak ada kata menyerah pada keadaan Teladan semangat GusDur, turut berpartisipasi aktif dalam kancah dunia politik sampai mengantarkannya menjadi kepala negara, ditengah keterbatasan fisik yang dialaminya, merupakan rekor spesial dalam sejarah bangsa. Berarti, segala sesuatunya mungkin saja terjadi, bukan karena faktor kebetulan. Semuanya
membutuhkan semangat, kerja keras, pantang mundur, untuk tidak menyerah pada keadaan dan tidak menyalahkan keterbatasan.
Hidup dan Menyeberang
Kehidupan dunia bagaikan orang yang menyeberangi suatu jalan yang dipenuhi lalu lalang kendaraan. Agar berhasil selamat sampai tujuan, perlu menoleh ke kanan dan kiri, tak hanya melulu ke arah depan.
Memperhatikan area sekitar mutlak dilakukan, Namun jauh lebih penting juga memandangi area terjauh apakah kondisi jalanan lengang sehingga siap dilewati ataukah sedang ramai dengan lalu lalang kendaraan sehingga perlu ekstra hati-hati saat menyebranginya. Waktu yang dibutuhkan untuk menyeberang hanya sebentar saja.
Maka celakalah Jika pandangan matahari hanya menfokuskan pada jarak beberapa meter saja karena akan rawan tertabrak kendaraan. Pun sebaliknya, jika hanya memperhatikan area terjauh saja, maka akan mudah sekali terperosok atau tersandung.
Demikian juga dalam menjalani hidup. Perlu kewaspadaan tingkat tinggi dan tanggung jawab besar dalam menjalani hidup. Karena jika tidak, maka bisikan iblis siap menghantam keimanan.
Jika hanya fokus pada area terdekat saja, artinya sibuk dengan urusan duniawi saja, mengabaikan hal-hal terjauh yaitu perkara akhirat, maka hanya akan mencicipi kebahagiaan dunia yang sementara dan akan merasakan pedihnya adzab neraka yang kekal selamanya.
Namun jika hanya menyibukkan diri dengan urusan ukhrawi saja, melupakan tanggung jawab didunia, maka nasib keluarga dan orang-orang yang ditanggungnya akan terlantar, hingga akhirnya akan mengantarkannya pula pada kehinaan.
Pun kita hidup didunia ini hanya sebentar saja bak saat kita menyeberangi suatu jalan. Kita tak akan berlama-lama dalam menyeberang, karena tujuan kita bukan disitu.
#OneDayOnePost
#13thDay
#Batch3
#Analogi
Memperhatikan area sekitar mutlak dilakukan, Namun jauh lebih penting juga memandangi area terjauh apakah kondisi jalanan lengang sehingga siap dilewati ataukah sedang ramai dengan lalu lalang kendaraan sehingga perlu ekstra hati-hati saat menyebranginya. Waktu yang dibutuhkan untuk menyeberang hanya sebentar saja.
Maka celakalah Jika pandangan matahari hanya menfokuskan pada jarak beberapa meter saja karena akan rawan tertabrak kendaraan. Pun sebaliknya, jika hanya memperhatikan area terjauh saja, maka akan mudah sekali terperosok atau tersandung.
Demikian juga dalam menjalani hidup. Perlu kewaspadaan tingkat tinggi dan tanggung jawab besar dalam menjalani hidup. Karena jika tidak, maka bisikan iblis siap menghantam keimanan.
Jika hanya fokus pada area terdekat saja, artinya sibuk dengan urusan duniawi saja, mengabaikan hal-hal terjauh yaitu perkara akhirat, maka hanya akan mencicipi kebahagiaan dunia yang sementara dan akan merasakan pedihnya adzab neraka yang kekal selamanya.
Namun jika hanya menyibukkan diri dengan urusan ukhrawi saja, melupakan tanggung jawab didunia, maka nasib keluarga dan orang-orang yang ditanggungnya akan terlantar, hingga akhirnya akan mengantarkannya pula pada kehinaan.
Pun kita hidup didunia ini hanya sebentar saja bak saat kita menyeberangi suatu jalan. Kita tak akan berlama-lama dalam menyeberang, karena tujuan kita bukan disitu.
#OneDayOnePost
#13thDay
#Batch3
#Analogi
Selasa, 18 Oktober 2016
Sindiran dari-Nya
Ada sebuah kisah nyata dari pengajian rutinan yang saya hadiri tadi, yang hikmahnya patut direnungi bersama. Diceritakan bahwa beberapa hari yang lalu sang penceramah yang merupakan kiai sekaligus pimpinan sebuah pondok pesantren bertemu dengan seorang Kapolsek. Beliau menyampaikan sebuah kejadian nyata yang baru saja dialaminya pada kiai tersebut. Sekitar 40 hari yang lalu, ada tetangganya yang meninggal dunia, dia seorang perempuan. Saat jenazahnya hendak dikebumikan, tiba-tiba ada keponakannya yang masih kecil mengalami kesurupan. Syahdan, anak kecil itu berteriak seraya berbicara persis seperti suara si jenazah "Tolong aku, aku ingin kembali lagi ke dunia, tolong aku, aku ingin kembali ke dunia". Sontak semua pengiring jenazah menjadi terperanjat dan keheranan.
Pada hari ketiga dari kematian perempuan tersebut saat para warga sekitar berkumpul untuk mendoakan almarhumah atau dikenal dengan tahlilan, keponakannya yang kecil kembali mengalami kesurupan dan berteriak seperti suara almarhumah "Tolong aku, keluarkan aku, aku di neraka, tolong aki". Teriakan itu menggegerkan seisi kampung dan membuat para warga saling bertanya-tanya satu sama lain.
Para warga sekitar yang sudah mengenal betul almarhumah bercerita jika Kehidupan almarhumah terkenal glamour, perempuan nakal, dan melanggar syariat agama alias bermaksiat sudah menjadi kesehariannya.
Kejadian ini seakan menohok kita yang masih hidup, yang seringkali lupa dari pada mengingat Yang Maha Kuasa, sering bermaksiat dari pada bertobat, sering lalai dari pada menunaikan kewajiban, sering berbuat hal-hal yang tak berguna dari pada beristighfar.
Kita yang hidup di zaman modern dan serba teknologi ini seakan sudah tak mempan lagi diperingatkan oleh Allah dengan ayat-ayat Al-Qur'an, Hadits nabi, nasehat ulama, sehingga Dia tampakkan kejadian ini agar kita sadar akan belas kasih dan ancaman-Nya.
Wallahu a'lam bisshowab.
#OneDayOnePost
#mingguke-3
#Batch3
Pada hari ketiga dari kematian perempuan tersebut saat para warga sekitar berkumpul untuk mendoakan almarhumah atau dikenal dengan tahlilan, keponakannya yang kecil kembali mengalami kesurupan dan berteriak seperti suara almarhumah "Tolong aku, keluarkan aku, aku di neraka, tolong aki". Teriakan itu menggegerkan seisi kampung dan membuat para warga saling bertanya-tanya satu sama lain.
Para warga sekitar yang sudah mengenal betul almarhumah bercerita jika Kehidupan almarhumah terkenal glamour, perempuan nakal, dan melanggar syariat agama alias bermaksiat sudah menjadi kesehariannya.
Kejadian ini seakan menohok kita yang masih hidup, yang seringkali lupa dari pada mengingat Yang Maha Kuasa, sering bermaksiat dari pada bertobat, sering lalai dari pada menunaikan kewajiban, sering berbuat hal-hal yang tak berguna dari pada beristighfar.
Kita yang hidup di zaman modern dan serba teknologi ini seakan sudah tak mempan lagi diperingatkan oleh Allah dengan ayat-ayat Al-Qur'an, Hadits nabi, nasehat ulama, sehingga Dia tampakkan kejadian ini agar kita sadar akan belas kasih dan ancaman-Nya.
Wallahu a'lam bisshowab.
#OneDayOnePost
#mingguke-3
#Batch3
Senin, 17 Oktober 2016
Melawan Malas
Malas.....
Siapapun enggan menerima akibat yang ditimbulkannya
Tapi mudah tergoda olehnya
Ia ibarat kasur empuk bagi orang-orang yang ngantuk
Laksana angin semilir bagi orang yang berkeringat
Sering aku berusaha melepas diri darinya
Namun sering pula kuterjebak dalam rayuan dustanya
Rayuan yang mampu menghilangkan akal sehat
Dan membunuh kreatifitas hebat
Semakin sering tak waspada dengannya
Semakin terhanyut olehnya tanpa ampun
Musuhilah ia bak kau memusuhi Iblis
Tebaslah ia dengan ambisi yang menggelora dalam jiwa
Hunuslah ia dengan api semangatmu
Ingat!
Berkawan dengannya
Kegagalan siap membayangi
Siapapun enggan menerima akibat yang ditimbulkannya
Tapi mudah tergoda olehnya
Ia ibarat kasur empuk bagi orang-orang yang ngantuk
Laksana angin semilir bagi orang yang berkeringat
Sering aku berusaha melepas diri darinya
Namun sering pula kuterjebak dalam rayuan dustanya
Rayuan yang mampu menghilangkan akal sehat
Dan membunuh kreatifitas hebat
Semakin sering tak waspada dengannya
Semakin terhanyut olehnya tanpa ampun
Musuhilah ia bak kau memusuhi Iblis
Tebaslah ia dengan ambisi yang menggelora dalam jiwa
Hunuslah ia dengan api semangatmu
Ingat!
Berkawan dengannya
Kegagalan siap membayangi
Sabtu, 15 Oktober 2016
Maqamat dan Ahwal
A. PENGERTIAN MAQAMAT
Maqamat adalah jama' dari
maqam, yang berarti tempat atau kedudukan (station). Dalam Sufi terminology : The Mystical Language Of Islam, maqam diterjemahkan sebagai kedudukan spiritual. Karena sebuah maqam
diperoleh melalui daya dan upaya (mujahadah) dan ketulusan dalam
menempuh perjalanan spiritual. Maqam juga dapat diartikan sebagai tahapan adap (etika) seorang hamba dalam wushul kepada-Nya dengan macam upaya,
diwujudkan dengan suatu tujuan pencarian dan ukuran tugas. Suatu maqam tidak lain adalah merupakan kualitas kejiwaan yang
bersifat tetap. Inilah yang membedakan dengan keadaan spiritual (hal) yang bersifat sementara.
Seseorang tidak dapat
beranjak dari suatu maqam ke maqam yang lain sebelum ia memenuhi semua
persyaratan yang ada pada maqam tersebut.
Sebagaimana yang telah
digambarkan oleh Al-Qusyairi yang dikutip
oleh Hasyim Muhammad bahwa seorang yang belum qona'ah tidak bisa mencapai
tawakkal .Dan siapa yang tidak tawakkal tidak bisa mencapai taslim. Dan barang
siapa yang belum taubat tidak bisa sampai pada inabat .Dan barang siapa tidak wara' tidak akan bisa mencapai tingkat zhuhud,
begitu seterusnya 3.Tahapan – tahapan spiritual ini saling berkaitan sepertihalnya
tangga, dimana mustahil bagi kita untuk mencapai anak tangga yang ada diatas
tanpa harus melalui anak tangga yang ada dibawahnya. Dengan demikian kualitas – kualitas tingkatan tersebut akan senantiasa melekat, semakin tinggi kedudukan yang
dicapainya akan semakin sempurna dan utuh kualitas diri seseorang.
Adapun tentang berapa jumlah tangga atau maqamat yang harus ditempuh
oleh seorang sufi untuk sampai menuju Tuhan, dikalangan sufi tidak sama
pendapatnya. Menurut Muhammad Al-Kalabazy dalam kitabnya Al-Ta'aruf Li Al-Tasawwuf yang di kutib oleh Abuddin Nata mengatakan bahwa maqamat itu jumlahnya
ada sepuluh yaitu Al-Taubah, Al-Zuhud, Al-Sabr, Al-Faqr, Al-Tadlu', Al-Taqwa, Al-
Tawakkal, Al-Ridla, Al-Mahabbah, dan Al-
Ma'rifah. 4. Sementara Abu Nasr Al-Sarraj Al-Tusi didalam kitab Al-Luma'
menyebutkan bahwa maqamat itu jumlahnya hanya tujuh, yaitu Al-Taubah, Al-Wara', Al-Zuhud, Al-Faqr, Al-Tawakkal, dan Al-Ridla. Lainhalnya dengan pendapat
Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya' Ulum Al-Din yang dikutip oleh Abuddin
Nata mengatakan bahwa maqamat itu ada delapan, yaitu Al-Taubah, Al-Sabr, Al-
Zuhud, Al-Tawakkal, Al-Mahabbah, Al-Ma'rifah, dan Al-Ridla. Namun dari perbedaan pendapat
diatas ada maqamat yang mereka sepakati yaitu : Al-Taubah, Al-Zuhud, Al-Wara', Al-Faqr, Al-Shabr, Al-Tawakkal, dan Al-Ridla.
Sedangkan Al-Tawaddlu', Al-Mahabbah dan Al-Ma'rifah oleh mereka tidak disepakati
sebagai maqamat.
1. Taubah
Sebagai awal dari perjalanan yang harus dilakukan oleh seorang Sufi ialah maqam taubah yang berasal dari bahasa Arab yaitu taba – yatubu – taubatan yang
artinya kembali. Sedang taubat yang dimaksud oleh kalangan Sufi adalah
memohon ampun atas segala dosa dan kesalahan disertai janji yang sungguh-
sungguh tidak akan mengulangi dosa tersebut yang disertai melakukan amal kebajikan. Menurut Harun Nasution yang dikutip oleh Abuddin Nata mengetakan taubah yang dimaksud oleh seorang Sufi adalah taubah yang sebenarnya, taubah yang tidak membawa dosa lagi.
ﻭَﺗُﻮْ ﺑﻮﺍ ﺍﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪِ ﺟَﻤِﻴْﻌًﺎ ﺍﻳُّﻪَ ﺍﻟﻤُﺆْﻣِﻨُﻮْﻥَ ﻟَﻌَﻠَّﻜُﻢْ ﺗُﻔْﻠِﺤُﻮْﻥَ
(ﺍﻟﻨﻮﺭ : 31)
Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang – orang yang beriman
supaya kamu beruntung (QS. An-Nur, 24:31)
2. Wara'
Secara harfiyah Al-Wara' artinya saleh, menjauhkan diri dari perbuatan dosa.
Dalam tradisi Sufi yang dimaksud dengan wara' adalah meninggalkan sesuatu yang belum jelas hukumnya (subahat), hal ini
berlaku pada segala hal atau aktifitas manusia baik yang berupa benda maupun
perilaku seperti makanan, minuman, pakaian, pembicaraan, perjalanan, duduk, berdiri, bersantai, bekerja dan lain-lain.
ﻓَﻤَﻦِ ﺍﺗَّﻘَﻲ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺸُّﺒَﻬَﺎﺕِ ﻓَﻘَﺪِ ﺍﺳْﺘَﺒْﺮَﺃَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺤَﺮَﺍﻡِ ( ﺭﻭﺍﻩ
ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ)
Barang siapa yang dirinya terbebas dari syubahat, maka seseungguhnya ia telah
terbebas dari yang haram. (HR. Bukhari)
3. Zuhud
Secara harfiyah Al-Zuhud berarti tidak ingin pada sesuatu yang bersifat
keduniawian8. Dalam pandangan kaum Sufi,
dunia dan segala isinya adalah sumber segala kemaksiatan dan kemungkaran yang dapat menjauhkan diri dari tuhan. Karena hasrat, keinginan dan nafsu seseorang sangat berpotensi untuk menjadikan.kemewahan dan kenikmatan duniawi
sebagai tujuan hidupnya, sehingga memalingkannya dari tuhan. Menurut Al-
Junaidi yang dikutip oleh Hasyim Muhammad mengatakan bahwa, zuhud
adalah kosongnya tangan dari pemilikan dan kosongnya hati dari pencarian.
ﻓَﻤَﺎ ﻣَﺘَﺎﻉُ ﺍﻟﺤَﻴَﻮﺓِ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻓِﻲ ﺍﻷﺧِﺮَﺓِ ﺇﻻّ ﻗَﻠِﻴْﻞ (ﺍﻟﺘﻮﺑﺔ :
38)
Padahal kenikmatan hidup didunia ini (dibandingkan kehidupan) akhirat hanyalah
sedikit (QS. Al-Taubah, 9:38)
4. Faqr
Secara harfiah faqr biasanya diartikan sebagai orang yang berhajat, butuh ataupun
orang miskin. Sedang menurut pandangan
Sufi faqr adalah tidak meminta lebih dari apa yang telah ada pada diri kita. Tidak meminta rezeki kecuali hanya untuk dapat
menjalankan kewajiban – kewajiban. Tidak meminta sesungguhpun tak ada pada diri kita, kalau diberi diterima. Tidak meminta
tetapi tidak menolak.
5. Sabar
Secara harfiah biasanya sabar berarti tabah hati. Menurut Zun Al-Nun Al-Mishry yang dikutip oleh Abuddin Nata, sabar
artinya menjauhkan diri dari hal-hal yang bertentangan dengan kehendak Allah, tetapi tenang ketika mendapat cobaan, dan
menampakkan sikap cukup walaupun sebenarnya berada dalam kefakiran dalam bidang ekonomi.
Nafsu (nafs) memiliki kecendrungan untuk memaksakan hasrat-hasratnya dalam upaya memuaskan diri. Sedangkan akal (aql) berperan sebagai kekuatan pengendali dan penasehat yang senantiasa memberikan pertimbangan kepada nafsu tentang
tindakan-tindakan positif yang harus dilakukan dan tindakan negatif yang harus
ditinggalkan Agar manusia senantiasa menempatkan
akal sebagai dorongan yang mendominasi kehendak dan perilakunya, maka diperlukan kesabaran (shabr). Dengan kata
lain, kesabaran adalah kendaraan bagi orang-orang yang menghendaki kebaikan.
ﻓَﺎﺻْﺒِﺮْ ﻛَﻤَﺎ ﺻَﺒَﺮَ ﺍُﻭﻟﻮ ﺍﻟﻌَﺰْﻡِ ﻣﻦ ﺍﻟﺮُّﺳُﻞِ ﻭﻻ ﺗَﺴْﺘَﻌْﺠِﻞْ ﻟَّﻬُﻢْ
(ﺍﻻﺣﻘﺎﻑ : 35)
Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul dan jangan kamu meminta
disegerakan (azab) bagi mereka (QS. Al-
Ahqaf, 46 :35)
6. Tawakkal
Secara harfiah tawakkal berarti menyerahkan diri. Menurut Sahal bin
Abdullah bahwa awalnya tawakkal Adalah apabila seorang hamba dihadapan Allah seperti bangkai dihadapan orang yang
memandikannya, ia mengikuti semaunya
yang memandikan, tidak dapat bergerak
dan bertindak. Hamdun Al-Qashshar mengatakan bahwa tawakkal adalah
berpegang teguh pada Allah.
ﻭَﻋَﻠﻲ ﺍﻟﻠﻪَ ﻓَﻠْﻴَﺘَﻮَﻛَّﻞِ ﺍﻟﻤُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ ( ﺍﻟﻤﺎﺋﺪﺓ : 11)
Dan bertawakwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang
mukmin bertawakkal (QS. A-Maidah, 5:11)
7. Ridla
Secara harfiah ridla artinya rela, suka, senang. Ridla juga merupakan buah dari
tawakkal, dimana jika seorang sufi telah
benar – benar melaksanakan tawakkal maka dengan sendirinya ia akan sampai
pada maqam ridla. Dzunnun Al-Mishri berpendapat bahwa ridla adalah menerima tawakkal dengan kerelaan hati. Adapun
tanda-tandanya adalah mempercayakan hasil pekerjaannya sebelum dating
ketentuan, tidak resah sesudah terjadi ketentuan dan cinta yang membara ketika tertimpa malapetaka.
B. PENGERTIAN AHWAL
Ahwal adalah jama' dari hal yang berarti keadaan atau situasi kejiwaan (state). Secara terminology ahwal berarti keadaan spiritual yang menguasai hati. Hal
masuk dalam hati sebagai anugerah yang diberikan oleh Allah. Hal datang dan pergi dari diri seseorang tanpa usaha ataupun
perjalanan tertentu. Karena hal datang dan pergi secara tiba-tiba dan tidak disengaja,
maka Al-Qusyairi mengatakan bahwa pada
dasarnya maqamat adalah upaya (makasib)
sedangkan hal adalah karunia.(mawahib)yang diberikan Allah sehingga
hal datang tidak ditentukan oleh waktu tertentu.
Menurut Harun Nasution hal
merupakan keadaan mental, seperti perasaan senang, perasaan sedih, perasaan
takut dan sebagainya. hal yang biasa disebut sebagai hal adalah takut (al-khauf),
rendah hati (al-tawadlu'), patuh (al-taqwa), ikhlas (al-ikhlas), rasa berteman (al-uns), gembira hati (al-wajd), berterima kasih (al-
syukr). Selain melaksanakan berbagai kegiatan dan usaha sebagaimana disebutkan diatas, seorang sufi juga harus melakukan serangkaian kegiatan mental
yang berat. Kegiatan mental tersebut seperti riyadah (latihan mental dengan
melaksanakan dzikir dan tafakkur yang sebanyak- banyakknya serta melatih diri bersifat yang terdapat dalam maqam), mujahadah. (berusaha sungguh-
sungguh dalam melaksanakan perintah
Allah), khalwat (Menyepi atau bersemedi), uzlah (mengasingkan diri dari keduniaan), muraqabah ( mendekatkan diri kepada
Allah), dan suluk (menjalankan hidup
sebagai sufi dengan cara dzikir dan dzikir)
Wassalam
Maqamat adalah jama' dari
maqam, yang berarti tempat atau kedudukan (station). Dalam Sufi terminology : The Mystical Language Of Islam, maqam diterjemahkan sebagai kedudukan spiritual. Karena sebuah maqam
diperoleh melalui daya dan upaya (mujahadah) dan ketulusan dalam
menempuh perjalanan spiritual. Maqam juga dapat diartikan sebagai tahapan adap (etika) seorang hamba dalam wushul kepada-Nya dengan macam upaya,
diwujudkan dengan suatu tujuan pencarian dan ukuran tugas. Suatu maqam tidak lain adalah merupakan kualitas kejiwaan yang
bersifat tetap. Inilah yang membedakan dengan keadaan spiritual (hal) yang bersifat sementara.
Seseorang tidak dapat
beranjak dari suatu maqam ke maqam yang lain sebelum ia memenuhi semua
persyaratan yang ada pada maqam tersebut.
Sebagaimana yang telah
digambarkan oleh Al-Qusyairi yang dikutip
oleh Hasyim Muhammad bahwa seorang yang belum qona'ah tidak bisa mencapai
tawakkal .Dan siapa yang tidak tawakkal tidak bisa mencapai taslim. Dan barang
siapa yang belum taubat tidak bisa sampai pada inabat .Dan barang siapa tidak wara' tidak akan bisa mencapai tingkat zhuhud,
begitu seterusnya 3.Tahapan – tahapan spiritual ini saling berkaitan sepertihalnya
tangga, dimana mustahil bagi kita untuk mencapai anak tangga yang ada diatas
tanpa harus melalui anak tangga yang ada dibawahnya. Dengan demikian kualitas – kualitas tingkatan tersebut akan senantiasa melekat, semakin tinggi kedudukan yang
dicapainya akan semakin sempurna dan utuh kualitas diri seseorang.
Adapun tentang berapa jumlah tangga atau maqamat yang harus ditempuh
oleh seorang sufi untuk sampai menuju Tuhan, dikalangan sufi tidak sama
pendapatnya. Menurut Muhammad Al-Kalabazy dalam kitabnya Al-Ta'aruf Li Al-Tasawwuf yang di kutib oleh Abuddin Nata mengatakan bahwa maqamat itu jumlahnya
ada sepuluh yaitu Al-Taubah, Al-Zuhud, Al-Sabr, Al-Faqr, Al-Tadlu', Al-Taqwa, Al-
Tawakkal, Al-Ridla, Al-Mahabbah, dan Al-
Ma'rifah. 4. Sementara Abu Nasr Al-Sarraj Al-Tusi didalam kitab Al-Luma'
menyebutkan bahwa maqamat itu jumlahnya hanya tujuh, yaitu Al-Taubah, Al-Wara', Al-Zuhud, Al-Faqr, Al-Tawakkal, dan Al-Ridla. Lainhalnya dengan pendapat
Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya' Ulum Al-Din yang dikutip oleh Abuddin
Nata mengatakan bahwa maqamat itu ada delapan, yaitu Al-Taubah, Al-Sabr, Al-
Zuhud, Al-Tawakkal, Al-Mahabbah, Al-Ma'rifah, dan Al-Ridla. Namun dari perbedaan pendapat
diatas ada maqamat yang mereka sepakati yaitu : Al-Taubah, Al-Zuhud, Al-Wara', Al-Faqr, Al-Shabr, Al-Tawakkal, dan Al-Ridla.
Sedangkan Al-Tawaddlu', Al-Mahabbah dan Al-Ma'rifah oleh mereka tidak disepakati
sebagai maqamat.
1. Taubah
Sebagai awal dari perjalanan yang harus dilakukan oleh seorang Sufi ialah maqam taubah yang berasal dari bahasa Arab yaitu taba – yatubu – taubatan yang
artinya kembali. Sedang taubat yang dimaksud oleh kalangan Sufi adalah
memohon ampun atas segala dosa dan kesalahan disertai janji yang sungguh-
sungguh tidak akan mengulangi dosa tersebut yang disertai melakukan amal kebajikan. Menurut Harun Nasution yang dikutip oleh Abuddin Nata mengetakan taubah yang dimaksud oleh seorang Sufi adalah taubah yang sebenarnya, taubah yang tidak membawa dosa lagi.
ﻭَﺗُﻮْ ﺑﻮﺍ ﺍﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪِ ﺟَﻤِﻴْﻌًﺎ ﺍﻳُّﻪَ ﺍﻟﻤُﺆْﻣِﻨُﻮْﻥَ ﻟَﻌَﻠَّﻜُﻢْ ﺗُﻔْﻠِﺤُﻮْﻥَ
(ﺍﻟﻨﻮﺭ : 31)
Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang – orang yang beriman
supaya kamu beruntung (QS. An-Nur, 24:31)
2. Wara'
Secara harfiyah Al-Wara' artinya saleh, menjauhkan diri dari perbuatan dosa.
Dalam tradisi Sufi yang dimaksud dengan wara' adalah meninggalkan sesuatu yang belum jelas hukumnya (subahat), hal ini
berlaku pada segala hal atau aktifitas manusia baik yang berupa benda maupun
perilaku seperti makanan, minuman, pakaian, pembicaraan, perjalanan, duduk, berdiri, bersantai, bekerja dan lain-lain.
ﻓَﻤَﻦِ ﺍﺗَّﻘَﻲ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺸُّﺒَﻬَﺎﺕِ ﻓَﻘَﺪِ ﺍﺳْﺘَﺒْﺮَﺃَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺤَﺮَﺍﻡِ ( ﺭﻭﺍﻩ
ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ)
Barang siapa yang dirinya terbebas dari syubahat, maka seseungguhnya ia telah
terbebas dari yang haram. (HR. Bukhari)
3. Zuhud
Secara harfiyah Al-Zuhud berarti tidak ingin pada sesuatu yang bersifat
keduniawian8. Dalam pandangan kaum Sufi,
dunia dan segala isinya adalah sumber segala kemaksiatan dan kemungkaran yang dapat menjauhkan diri dari tuhan. Karena hasrat, keinginan dan nafsu seseorang sangat berpotensi untuk menjadikan.kemewahan dan kenikmatan duniawi
sebagai tujuan hidupnya, sehingga memalingkannya dari tuhan. Menurut Al-
Junaidi yang dikutip oleh Hasyim Muhammad mengatakan bahwa, zuhud
adalah kosongnya tangan dari pemilikan dan kosongnya hati dari pencarian.
ﻓَﻤَﺎ ﻣَﺘَﺎﻉُ ﺍﻟﺤَﻴَﻮﺓِ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻓِﻲ ﺍﻷﺧِﺮَﺓِ ﺇﻻّ ﻗَﻠِﻴْﻞ (ﺍﻟﺘﻮﺑﺔ :
38)
Padahal kenikmatan hidup didunia ini (dibandingkan kehidupan) akhirat hanyalah
sedikit (QS. Al-Taubah, 9:38)
4. Faqr
Secara harfiah faqr biasanya diartikan sebagai orang yang berhajat, butuh ataupun
orang miskin. Sedang menurut pandangan
Sufi faqr adalah tidak meminta lebih dari apa yang telah ada pada diri kita. Tidak meminta rezeki kecuali hanya untuk dapat
menjalankan kewajiban – kewajiban. Tidak meminta sesungguhpun tak ada pada diri kita, kalau diberi diterima. Tidak meminta
tetapi tidak menolak.
5. Sabar
Secara harfiah biasanya sabar berarti tabah hati. Menurut Zun Al-Nun Al-Mishry yang dikutip oleh Abuddin Nata, sabar
artinya menjauhkan diri dari hal-hal yang bertentangan dengan kehendak Allah, tetapi tenang ketika mendapat cobaan, dan
menampakkan sikap cukup walaupun sebenarnya berada dalam kefakiran dalam bidang ekonomi.
Nafsu (nafs) memiliki kecendrungan untuk memaksakan hasrat-hasratnya dalam upaya memuaskan diri. Sedangkan akal (aql) berperan sebagai kekuatan pengendali dan penasehat yang senantiasa memberikan pertimbangan kepada nafsu tentang
tindakan-tindakan positif yang harus dilakukan dan tindakan negatif yang harus
ditinggalkan Agar manusia senantiasa menempatkan
akal sebagai dorongan yang mendominasi kehendak dan perilakunya, maka diperlukan kesabaran (shabr). Dengan kata
lain, kesabaran adalah kendaraan bagi orang-orang yang menghendaki kebaikan.
ﻓَﺎﺻْﺒِﺮْ ﻛَﻤَﺎ ﺻَﺒَﺮَ ﺍُﻭﻟﻮ ﺍﻟﻌَﺰْﻡِ ﻣﻦ ﺍﻟﺮُّﺳُﻞِ ﻭﻻ ﺗَﺴْﺘَﻌْﺠِﻞْ ﻟَّﻬُﻢْ
(ﺍﻻﺣﻘﺎﻑ : 35)
Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul dan jangan kamu meminta
disegerakan (azab) bagi mereka (QS. Al-
Ahqaf, 46 :35)
6. Tawakkal
Secara harfiah tawakkal berarti menyerahkan diri. Menurut Sahal bin
Abdullah bahwa awalnya tawakkal Adalah apabila seorang hamba dihadapan Allah seperti bangkai dihadapan orang yang
memandikannya, ia mengikuti semaunya
yang memandikan, tidak dapat bergerak
dan bertindak. Hamdun Al-Qashshar mengatakan bahwa tawakkal adalah
berpegang teguh pada Allah.
ﻭَﻋَﻠﻲ ﺍﻟﻠﻪَ ﻓَﻠْﻴَﺘَﻮَﻛَّﻞِ ﺍﻟﻤُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ ( ﺍﻟﻤﺎﺋﺪﺓ : 11)
Dan bertawakwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang
mukmin bertawakkal (QS. A-Maidah, 5:11)
7. Ridla
Secara harfiah ridla artinya rela, suka, senang. Ridla juga merupakan buah dari
tawakkal, dimana jika seorang sufi telah
benar – benar melaksanakan tawakkal maka dengan sendirinya ia akan sampai
pada maqam ridla. Dzunnun Al-Mishri berpendapat bahwa ridla adalah menerima tawakkal dengan kerelaan hati. Adapun
tanda-tandanya adalah mempercayakan hasil pekerjaannya sebelum dating
ketentuan, tidak resah sesudah terjadi ketentuan dan cinta yang membara ketika tertimpa malapetaka.
B. PENGERTIAN AHWAL
Ahwal adalah jama' dari hal yang berarti keadaan atau situasi kejiwaan (state). Secara terminology ahwal berarti keadaan spiritual yang menguasai hati. Hal
masuk dalam hati sebagai anugerah yang diberikan oleh Allah. Hal datang dan pergi dari diri seseorang tanpa usaha ataupun
perjalanan tertentu. Karena hal datang dan pergi secara tiba-tiba dan tidak disengaja,
maka Al-Qusyairi mengatakan bahwa pada
dasarnya maqamat adalah upaya (makasib)
sedangkan hal adalah karunia.(mawahib)yang diberikan Allah sehingga
hal datang tidak ditentukan oleh waktu tertentu.
Menurut Harun Nasution hal
merupakan keadaan mental, seperti perasaan senang, perasaan sedih, perasaan
takut dan sebagainya. hal yang biasa disebut sebagai hal adalah takut (al-khauf),
rendah hati (al-tawadlu'), patuh (al-taqwa), ikhlas (al-ikhlas), rasa berteman (al-uns), gembira hati (al-wajd), berterima kasih (al-
syukr). Selain melaksanakan berbagai kegiatan dan usaha sebagaimana disebutkan diatas, seorang sufi juga harus melakukan serangkaian kegiatan mental
yang berat. Kegiatan mental tersebut seperti riyadah (latihan mental dengan
melaksanakan dzikir dan tafakkur yang sebanyak- banyakknya serta melatih diri bersifat yang terdapat dalam maqam), mujahadah. (berusaha sungguh-
sungguh dalam melaksanakan perintah
Allah), khalwat (Menyepi atau bersemedi), uzlah (mengasingkan diri dari keduniaan), muraqabah ( mendekatkan diri kepada
Allah), dan suluk (menjalankan hidup
sebagai sufi dengan cara dzikir dan dzikir)
Wassalam
Kamis, 13 Oktober 2016
Menyoal Aksi Pungli
Sudah lama bangsa ini terlepas dari belenggu penjajahan yang telah menyengsarakan jutaan rakyat tak berdosa. Namun setelah ratusan tahun merdeka, bumi pertiwi masih belum juga merasakan kesejahteraan yang paripurna. kita semua sepakat bahwa itu semua diakibatkan dari praktek Korupsi, kolusi, dan Nepotisme (KKN) yang tumbuh subur hampir di semua lini pemerintahan. Peran pejabat publik yang diharapkan bisa memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat justru terkadang turut pula menjadi aktor dibalik praktek suap-menyuap. Baru-baru ini publik dihebohkan dengan pemberitaan operasi tangkap tangan yang dilakukan oleh Pihak kepolisian yang turut pula ditinjau langsung oleh presiden Republik Indonesia Joko Widodo dan Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian di kementerian perhubungan Jakarta. Operasi tersebut berhasil mengkap basah dua oknum yang melakukan pungutan liar (pungli) terhadap masyarakat dengan barang bukti puluhan juta rupiah.
Sebenarnya apa itu pungli? seperti dikutip dari wikipedia Pungutan liar atau pungli adalah pengenaan
biaya di tempat yang tidak seharusnya biaya
dikenakan atau dipungut. Kebanyakan pungli
dipungut oleh pejabat atau aparat, walaupun pungli termasuk ilegal dan digolongkan sebagai KKN, tetapi kenyataannya hal ini
jamak terjadi di Indonesia. Menurut hasil studi
dari Pusat Studi Asia Pasifik Universitas Gadjah Mada bekerja sama dengan United
State Agency for International Development
( USAID) pada tahun 2004, biaya pungli yang
dikeluarkan oleh para pengusaha di sektor
industri manufaktur berorientasi ekspor saja,
pertahunnya bisa mencapai 3 triliun rupiah.
Praktek pungli ini dianulir sulit diberantas mengingat lemahnya pengawasan dari aparat terkait. Seperti dilansir dari ANTARA News Jakarta, Wakil Ketua Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK) Laode M. Syarif
menyatakan praktik pungutan liar (pungli) masih
banyak terjadi pada kementerian dan lembaga
lainnya karena pengawasan internal yang lemah
sehingga terkesan ada pembiraan pungli di
kementerian dan lembaga.
Saya pribadi pernah terkena pungli saat mengajukan surat keterangan catatan Kepolisian(SKCK). Saya menyadari ada praktek pungli ketika saya diminta harus membayar lagi sejumlah uang tanpa diberi kwitansi sebagaimana pada umumnya, padahal diawal saya sudah menyerahkan uang sesuai yang tertera dipapan informasi. Ada maksud ingin menanyakan terkait penarikan tersebut namun apalah daya saya cuma bisa bergumam "mau lapor nanti malah tambah runyam permasalahannya, walaupun besaran nominalnya tak seberapa tapi praktek curang ini tak bisa dibiarkan begitu saja, tapi apalah daya".
Terlepas dari adanya praktek ilegal tersebut, kita tetap harus berterima kasih, mengapresiasi, dan mendukung kinerja pemerintah dalam memberantas aksi-aksi pungutan liar yang sangat meresahkan masyarakat. Pemerintah telah berupaya membuat kebijakan dan sistem terbaru yang dapat menutup celah-celah terjadinya praktek korupsi termasuk pungli, misalnya mekanisme pembayaran secara online dan pemasangan kamera CCTV. Semoga dengan terus diperbaruinya sistem pelayanan publik membuat masyarakat menjadi aman dan roda perekonomian bisa berjalan sesuai harapan. Amin.
#OneDayOnePost
#9thDay
Sebenarnya apa itu pungli? seperti dikutip dari wikipedia Pungutan liar atau pungli adalah pengenaan
biaya di tempat yang tidak seharusnya biaya
dikenakan atau dipungut. Kebanyakan pungli
dipungut oleh pejabat atau aparat, walaupun pungli termasuk ilegal dan digolongkan sebagai KKN, tetapi kenyataannya hal ini
jamak terjadi di Indonesia. Menurut hasil studi
dari Pusat Studi Asia Pasifik Universitas Gadjah Mada bekerja sama dengan United
State Agency for International Development
( USAID) pada tahun 2004, biaya pungli yang
dikeluarkan oleh para pengusaha di sektor
industri manufaktur berorientasi ekspor saja,
pertahunnya bisa mencapai 3 triliun rupiah.
Praktek pungli ini dianulir sulit diberantas mengingat lemahnya pengawasan dari aparat terkait. Seperti dilansir dari ANTARA News Jakarta, Wakil Ketua Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK) Laode M. Syarif
menyatakan praktik pungutan liar (pungli) masih
banyak terjadi pada kementerian dan lembaga
lainnya karena pengawasan internal yang lemah
sehingga terkesan ada pembiraan pungli di
kementerian dan lembaga.
Saya pribadi pernah terkena pungli saat mengajukan surat keterangan catatan Kepolisian(SKCK). Saya menyadari ada praktek pungli ketika saya diminta harus membayar lagi sejumlah uang tanpa diberi kwitansi sebagaimana pada umumnya, padahal diawal saya sudah menyerahkan uang sesuai yang tertera dipapan informasi. Ada maksud ingin menanyakan terkait penarikan tersebut namun apalah daya saya cuma bisa bergumam "mau lapor nanti malah tambah runyam permasalahannya, walaupun besaran nominalnya tak seberapa tapi praktek curang ini tak bisa dibiarkan begitu saja, tapi apalah daya".
Terlepas dari adanya praktek ilegal tersebut, kita tetap harus berterima kasih, mengapresiasi, dan mendukung kinerja pemerintah dalam memberantas aksi-aksi pungutan liar yang sangat meresahkan masyarakat. Pemerintah telah berupaya membuat kebijakan dan sistem terbaru yang dapat menutup celah-celah terjadinya praktek korupsi termasuk pungli, misalnya mekanisme pembayaran secara online dan pemasangan kamera CCTV. Semoga dengan terus diperbaruinya sistem pelayanan publik membuat masyarakat menjadi aman dan roda perekonomian bisa berjalan sesuai harapan. Amin.
#OneDayOnePost
#9thDay
Rabu, 12 Oktober 2016
Menyikapi Fenomena "Dimas Kanjeng"
Akhir-akhir ini marak pemberitaan tentang terbongkarnya kasus pembunuhan berencana dan penggandaan uang oleh pimpinan pedepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Fenomena ini viral diberbagai media baik media cetak atau elektronik. Hampir semua stasiun televisi lokal dan nasional memberitakan kasus yang begitu menggemparkan masyarakat luas ini. Yang membuat berita ini begitu heboh dan berbeda dengan kasus penggandaan uang yang lain adalah begitu banyaknya pengikut atau orang yang tertipu dengan praktek perdukunan uang yang telah dinyatakan sesat oleh Majelis Ulama Indonesia itu, ada puluhan ribu orang dari hampir seluruh pelosok negeri yang telah tertipu menyetorkan sejumlah uang yang nominalnya beragam dari mulai jutaan sampai ratusan milyar rupiah dengan dalih uang itu akan menjadi berlipat ganda hingga puluhan kali lipat. Bahkan ada ratusan orang yang rela menetap bertahun-tahun dipadepokan ini untuk mengikuti berbagai ritual demi uang atau harta bendanya bisa berlipat ganda.
Sisi lain yang begitu mencengangkan lagi adalah pengikut Dimas Kanjeng ini tidak hanya berasal dari kalangan awam saja, tetapi pejabat, tokoh masyarakat, dan kaum intelektual pun turut terhipnotis untuk berikrar janji setia menjadi pengikut padepokan yang terletak di kabupaten Probolinggo ini.
Walaupun kasus ini hampir setiap hari memenuhi pemberitaan dilayar kaca sejak beberapa minggu yang lalu, saya baru mendengar jika ada tetangga yang tertipu dengan padepokan dimas kanjeng ini. Dia telah menyetorkan uang hampir 30 juta rupiah, mungkin angka tersebut tidak begitu besar untuk warga kota, tetapi untuk ukuran masyarakat pedesaan di kabupaten Pasuruan yang mayoritas warganya sebagai tukang kayu dan petani, angka itu cukup fantastis.
Saya hampir tidak percaya mendangar hal tersebut, mengingat daerah saya terkenal dengan masyarakatnya yang religius, serta banyak sekolah dan pesantren bertebaran dimana-mana. Juga pengajian rutin untuk mendalami ilmu agama telah banyak menghiasi masjid dan mushola, ditambah lagi dengan tradisi-tradisi keagamaan lainnya.
Timbul pertanyaan besar dikepala saya, mengapa masih ada saja bahkan banyak orang yang masih percaya dengan hal-hal berbau klenik yang bisa menjurus pada kemusyrikan?, wal iyadzu billah. Namun, diluar itu semua, harus ada pelajaran yang bisa diambil dari ulasan kasus penggadaan atau pengadaan uang ala Dimas Kanjeng Taat Pribadi ini yakni setidaknya ada yang berubah dari diri kita, berubah menjadi pribadi yang senantiasa mengoreksi diri sendiri bukan selalu bahas sana bahas sini bahkan terkadang menyalahkan orang lain, seperti diutarakan oleh KH. Abdullah Gymnastiar atau biasa disapa Aa Gym di acara Hitam Putih.
#OneDayOnePost
#8th Day
Sisi lain yang begitu mencengangkan lagi adalah pengikut Dimas Kanjeng ini tidak hanya berasal dari kalangan awam saja, tetapi pejabat, tokoh masyarakat, dan kaum intelektual pun turut terhipnotis untuk berikrar janji setia menjadi pengikut padepokan yang terletak di kabupaten Probolinggo ini.
Walaupun kasus ini hampir setiap hari memenuhi pemberitaan dilayar kaca sejak beberapa minggu yang lalu, saya baru mendengar jika ada tetangga yang tertipu dengan padepokan dimas kanjeng ini. Dia telah menyetorkan uang hampir 30 juta rupiah, mungkin angka tersebut tidak begitu besar untuk warga kota, tetapi untuk ukuran masyarakat pedesaan di kabupaten Pasuruan yang mayoritas warganya sebagai tukang kayu dan petani, angka itu cukup fantastis.
Saya hampir tidak percaya mendangar hal tersebut, mengingat daerah saya terkenal dengan masyarakatnya yang religius, serta banyak sekolah dan pesantren bertebaran dimana-mana. Juga pengajian rutin untuk mendalami ilmu agama telah banyak menghiasi masjid dan mushola, ditambah lagi dengan tradisi-tradisi keagamaan lainnya.
Timbul pertanyaan besar dikepala saya, mengapa masih ada saja bahkan banyak orang yang masih percaya dengan hal-hal berbau klenik yang bisa menjurus pada kemusyrikan?, wal iyadzu billah. Namun, diluar itu semua, harus ada pelajaran yang bisa diambil dari ulasan kasus penggadaan atau pengadaan uang ala Dimas Kanjeng Taat Pribadi ini yakni setidaknya ada yang berubah dari diri kita, berubah menjadi pribadi yang senantiasa mengoreksi diri sendiri bukan selalu bahas sana bahas sini bahkan terkadang menyalahkan orang lain, seperti diutarakan oleh KH. Abdullah Gymnastiar atau biasa disapa Aa Gym di acara Hitam Putih.
#OneDayOnePost
#8th Day
Selasa, 11 Oktober 2016
Belajar dari "Menunggu"
Menunggu adalah pekerjaan yang paling membosankan. Siapapun akan enggan menunggu jika memang itu bukan sebuah keharusan. Hampir semua orang menghindari pekerjaan atau aktifitas yang didalamnya ada kata menunggu. Bahkan "menunggu" seakan telah menjadi momok bagi sebagian masyarakat modern apalagi bagi kalangan super sibuk yang menuntut semuanya harus serba cepat. Barangkali dengan munculnya teknologi yang semakin canggih diharapkan bisa meminimalisir pekerjaan ini. Misalnya dalam hal menabung, beberapa dekade silam kita harus menunggu untuk menyetorkan uang untuk ditabung yang pastinya harus menunggu antrean, namun sekarang cukup dengan menyetor di ATM sama halnya dengan menarik uang tunai tanpa harus mengantre terlalu lama.
Namun kalau mau berpikir secara mendalam, menunggu mengandung empat pelajaran yang bisa dipetik. Pertama, menunggu mengajarkan kita arti sebuah kesabaran. Dengan menunggu sesuatu dengan baik, secara otomatis telah bersabar untuk tidak melakukan hal-hal yang dapat merugikan diri sendiri atau orang lain. Misalnya ketika mengantre, jika kita tak sabar menunggu dalam antrean, bisa jadi kita akan mendorong orang lain atau meminta bantuan pada calo atau melakukan pekerjaan tak terpuji lainnya. Kedua, menunggu melatih kita agar disiplin waktu. Misalnya ketika berbuka puasa, kita selalu disiplin tepat waktu untuk berbuka, kita sangat dilarang berbuka sebelum adzan benar-benar dikumandangkan. Ketiga, Menunggu dapat membuat seseorang menjadi kreatif jika mau merenunginya. Misalnya saat menunggu pemateri seminar yang terlambat datang dan kita menjadi organizernya, dengan terjadinya hal-hal tak terduga seperti itu tentu kita dituntut harus sekreatif mungkin untuk membuat para peserta nyaman menunggu pemateri misalnya memberikan ice breaking. Keempat, menunggu dapat mengajarkan kita untuk selalu optimis atau berbaik sangka. Misalnya ketika menunggu teman yang datang terlambat dan tak bisa dihubungi, padahal kita telah menunggu lama dan bahkan telah mengorbankan pekerjaan lain demi peetemuan itu. Jika kita tak mau berprasangka baik dan tak mau menunggunya lalu pergi, padahal dia tetap datang tapi terlambat tentu kita tak akan bertemu dan bahkan ada rasa saling kecewa dan curiga.
Itulah sedikit pelajaran yang bisa diambil dari "menunggu", apalagi yang ditunggu tersebut sesuatu atau orang yang baik. Marilah bijak menyikapi pekerjaan yang menuntut kita harus menunggu. Jangan sampai kita tak mampu mengendalikan diri gara-gara tak sabar menunggu. Bukankah seekor ulat yang akan menjadi kupu-kupu yang indah harus sabar menunggu didalam kepompong sebelum datang waktu diperbolehkan merusak kulit kepompong untuk bisa terbang menebar pesona keelokan sayapnya. Orang pernah berkata "Lebih baik kita yang menunggu sesuatu yang baik dari pada sesuatu yang baik yang menunggu kita.
#OneDayOnePost
Hari ke-7
Namun kalau mau berpikir secara mendalam, menunggu mengandung empat pelajaran yang bisa dipetik. Pertama, menunggu mengajarkan kita arti sebuah kesabaran. Dengan menunggu sesuatu dengan baik, secara otomatis telah bersabar untuk tidak melakukan hal-hal yang dapat merugikan diri sendiri atau orang lain. Misalnya ketika mengantre, jika kita tak sabar menunggu dalam antrean, bisa jadi kita akan mendorong orang lain atau meminta bantuan pada calo atau melakukan pekerjaan tak terpuji lainnya. Kedua, menunggu melatih kita agar disiplin waktu. Misalnya ketika berbuka puasa, kita selalu disiplin tepat waktu untuk berbuka, kita sangat dilarang berbuka sebelum adzan benar-benar dikumandangkan. Ketiga, Menunggu dapat membuat seseorang menjadi kreatif jika mau merenunginya. Misalnya saat menunggu pemateri seminar yang terlambat datang dan kita menjadi organizernya, dengan terjadinya hal-hal tak terduga seperti itu tentu kita dituntut harus sekreatif mungkin untuk membuat para peserta nyaman menunggu pemateri misalnya memberikan ice breaking. Keempat, menunggu dapat mengajarkan kita untuk selalu optimis atau berbaik sangka. Misalnya ketika menunggu teman yang datang terlambat dan tak bisa dihubungi, padahal kita telah menunggu lama dan bahkan telah mengorbankan pekerjaan lain demi peetemuan itu. Jika kita tak mau berprasangka baik dan tak mau menunggunya lalu pergi, padahal dia tetap datang tapi terlambat tentu kita tak akan bertemu dan bahkan ada rasa saling kecewa dan curiga.
Itulah sedikit pelajaran yang bisa diambil dari "menunggu", apalagi yang ditunggu tersebut sesuatu atau orang yang baik. Marilah bijak menyikapi pekerjaan yang menuntut kita harus menunggu. Jangan sampai kita tak mampu mengendalikan diri gara-gara tak sabar menunggu. Bukankah seekor ulat yang akan menjadi kupu-kupu yang indah harus sabar menunggu didalam kepompong sebelum datang waktu diperbolehkan merusak kulit kepompong untuk bisa terbang menebar pesona keelokan sayapnya. Orang pernah berkata "Lebih baik kita yang menunggu sesuatu yang baik dari pada sesuatu yang baik yang menunggu kita.
#OneDayOnePost
Hari ke-7
Senin, 10 Oktober 2016
Pentingnya Memahami Media
Dewasa ini peran media memiliki peranan yang sangat penting. Media bisa membentuk persepsi masyarakat terhadap suatu peristiwa atau tokoh. Bahkan baik atau buruknya citra seseorang dimata masyarakat bisa ditentukan oleh media. Ada adagium "jika kau ingin citra dirimu baik dimata masyarakat, maka bersahabatlah dengan media, jangan sekali-kali bersebarangan dengannya".
Perkembangan media saat ini telah merambah ke berbagai kalangan. Kalau dulu hanya masyarakat kota saja yang bisa berlangganan koran dan mengakses internet, tapi sekarang siapapun dan dimanapun anda berada, anda bisa mengakses media dengan ponsel pintar yang harganya terjangkau. Pernah ada peristiwa percekcokan yang berujung perkelahian antar tukang becak. Penyebabnya adalah fanatisme terhadap seorang calon politik yang dibelanya. Mereka berdua saling lempar argumen untuk mendukung calon pilihannya dan mencela calon lainnya.
Saat media masih sangat terbatas dan tak terjangkau oleh kebanyakan orang, tak pernah terjadi peristiwa semacam itu. Memang media tidak bisa disalahkan sepenuhnya karena sejatinya ia menyebarkan berita sesuai dengan visi dan misinya. Atas dasar itu, menyikapi berita dengan bijak adalah mutlak dilakukan.
Lalu siapakah yang harus bertanggung jawab dengan peristiwa ini? Apakah peran pemerintah perlu dipertanyakan sebagai pembuat kebijakan publik sekaligus pengawas berjalannya kebijakan? Mari kembali pada diri sendiri, apa yang sudah kita perbuat terhadap keluarga, orang sekitar, atau masyarakat luas, untuk membentengi diri dari pengaruh media yang menyebarkan isu-isu negatif. Pemahaman-pemahaman yang cerdas akan media perlu disampaikan, tak perlu penyampaian yang formal, apalagi untuk masyarakat pedesaan, penyampaian dengan kongkow-kongkow sambil ngopi atau ngeteh bareng bisa jadi cara yang mudah untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Jumat, 07 Oktober 2016
KENANGAN PALING MENGESANKAN
Masih segar dalam ingatan pada tahun 2014 silam ketika masih menjadi mahasiswa aktif strata satu, saya mengikuti seleksi program PKLI (Praktek Kerja Lapangan Integratif) yaitu praktek mengajar di sekolah yang diselenggarakan oleh FITK (Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan) UIN Malang. Program ini diperuntukkan untuk mahasiswa semester 6 dan akan ditempatkan di Luar negeri yaikni Malaysia dan Thailand.
Tidak semua mahasiswa bisa mengikuti program ini mengingat kuota yang terbatas hanya menampung 50 orang sehingga seleksi akademik mutlak dilalui. Ada beberapa aspek yang harus dimiliki oleh peserta untuk bisa diterima dalam program yang baru memasuki periode kedua ini yaitu kemampuan bahasa inggris atau Arab dan good personality.
Pada awalnya peserta diberikan pilihan untuk memilih negara tujuan. Saat itu saya sangat berhasrat bisa berfoto digedung Petronas atau Twin Tower Kuala Lumpur Malaysia sehingga saya memantapkan pilihan di negara serumpun melayu itu. Untuk mewujudkan impian tersebut, segala upaya kulakukan diantaranya meminta restu orang tua, melakukan istikharah, dan berkonsultasi dengan beberapa dosen. Namun Tuhan berkehendak lain, ketika kucari namaku di daftar peserta yang lolos seleksi di web fakultas kulihat namaku tertera di kolom Thailand. Tak henti-hentinya aku melafadzkan syukur kepada yang maha kuasa, sontak kutelpon orang tua yang turut pula menunggu kabar bahagia ini. Namun timbul pertanyaan dibenakku, kenapa aku ditempatkan di Thailand. Beberapa kawan juga diputuskan dinegara yang bukan pilihannya. Apa alasan pihak fakultas memutuskan secara sepihak perihal penempatan ini.
Setelah mengkonfirmasi ke fakultas, penanggung jawab PKLI mengatakan bahwa pengelompokan perihal negara didasarkan pada permintaan lembaga di negara tujuan. Oleh karena itu, semua peserta dari jurusanku yaitu (Pendidikan Bahasa Arab) dialihkan ke lembaga-lembaga di Thailand karena dibutuhkan tenaga pengajar bahasa Arab. Sedangkan lembaga di Malaysia mengutamakan mahasiswa yang memiliki skill bahasa Inggris yang mumpuni. Walaupun harus menelan sedikit kekecewaan, saya paksa diriku untuk menerima keputusan ini. Saya tanamkan dan yakinkan diri kalau ini pasti adalah yang terbaik.
Persiapan demi persiapan yang berkaitan dengan materi program telah kuikuti sebagai pembekalan sebelum berangkat ke Thailand. Alhasil aku mengetahui kalau penempatanku di negeri gajah putih ini memang sangat cocok dengan kondisiku saat itu. Menurut penanggung jawab program, dijelaskan bahwa bagi mahasiswa yang bertugas di Malaysia, mulai tahun tersebut semua biaya hidup, akomodasi dan transportasi pulang-pergi ditanggung oleh mahasiswa dan waktu pelaksanaannya hanya 2 minggu. Sedangkan di Thailand hanya merogoh kocek untuk transportasi saja, mengenai akomodasi dan biaya hidup ditanggung oleh lembaga tempat tugas dan masa tugas nya 3 minggu. Sungguh berbeda dan lebih menguntungkan ditempatkan di negeri yang menggunakan mata uang Bath ini. Perbedaan ini dikarenakan sistem yang berbeda di kedua negara tersebut.
Ternyata kejutan tidak hanya datang dari perbedaan finansial yang mencolok. Menurut penuturan kawan-kawan yang di Malaysia, mereka tak mendapatkan fasilitas seperti kami peroleh dari lembaga sekolah diantaranya diajak mengunjungi tempat bersejarah dan obyek wisata, sagu hati atau uang saku, konsumsi, dan dilibatkan dalam kegiatan belajar mengajar serta perlombaan-perlombaan di sekolah.
Dari peristiwa itu, saya sadar kalau ternyata rencana Allah lebih indah dari pada rencana kita. Walaupun 2 tahun lalu keinginanku menginjakkan kaki di negeri upin ipin tak terwujud ternyata sang Khalik hanya menundanya saja. Saya mendapatkan kesempatan melanjutkan studi magister di Kuala lumpur dengan beasiswa full LPDP dan Insya Allah akan berangkat Januari tahun depan. Subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaha illah.
Tidak semua mahasiswa bisa mengikuti program ini mengingat kuota yang terbatas hanya menampung 50 orang sehingga seleksi akademik mutlak dilalui. Ada beberapa aspek yang harus dimiliki oleh peserta untuk bisa diterima dalam program yang baru memasuki periode kedua ini yaitu kemampuan bahasa inggris atau Arab dan good personality.
Pada awalnya peserta diberikan pilihan untuk memilih negara tujuan. Saat itu saya sangat berhasrat bisa berfoto digedung Petronas atau Twin Tower Kuala Lumpur Malaysia sehingga saya memantapkan pilihan di negara serumpun melayu itu. Untuk mewujudkan impian tersebut, segala upaya kulakukan diantaranya meminta restu orang tua, melakukan istikharah, dan berkonsultasi dengan beberapa dosen. Namun Tuhan berkehendak lain, ketika kucari namaku di daftar peserta yang lolos seleksi di web fakultas kulihat namaku tertera di kolom Thailand. Tak henti-hentinya aku melafadzkan syukur kepada yang maha kuasa, sontak kutelpon orang tua yang turut pula menunggu kabar bahagia ini. Namun timbul pertanyaan dibenakku, kenapa aku ditempatkan di Thailand. Beberapa kawan juga diputuskan dinegara yang bukan pilihannya. Apa alasan pihak fakultas memutuskan secara sepihak perihal penempatan ini.
Setelah mengkonfirmasi ke fakultas, penanggung jawab PKLI mengatakan bahwa pengelompokan perihal negara didasarkan pada permintaan lembaga di negara tujuan. Oleh karena itu, semua peserta dari jurusanku yaitu (Pendidikan Bahasa Arab) dialihkan ke lembaga-lembaga di Thailand karena dibutuhkan tenaga pengajar bahasa Arab. Sedangkan lembaga di Malaysia mengutamakan mahasiswa yang memiliki skill bahasa Inggris yang mumpuni. Walaupun harus menelan sedikit kekecewaan, saya paksa diriku untuk menerima keputusan ini. Saya tanamkan dan yakinkan diri kalau ini pasti adalah yang terbaik.
Persiapan demi persiapan yang berkaitan dengan materi program telah kuikuti sebagai pembekalan sebelum berangkat ke Thailand. Alhasil aku mengetahui kalau penempatanku di negeri gajah putih ini memang sangat cocok dengan kondisiku saat itu. Menurut penanggung jawab program, dijelaskan bahwa bagi mahasiswa yang bertugas di Malaysia, mulai tahun tersebut semua biaya hidup, akomodasi dan transportasi pulang-pergi ditanggung oleh mahasiswa dan waktu pelaksanaannya hanya 2 minggu. Sedangkan di Thailand hanya merogoh kocek untuk transportasi saja, mengenai akomodasi dan biaya hidup ditanggung oleh lembaga tempat tugas dan masa tugas nya 3 minggu. Sungguh berbeda dan lebih menguntungkan ditempatkan di negeri yang menggunakan mata uang Bath ini. Perbedaan ini dikarenakan sistem yang berbeda di kedua negara tersebut.
Ternyata kejutan tidak hanya datang dari perbedaan finansial yang mencolok. Menurut penuturan kawan-kawan yang di Malaysia, mereka tak mendapatkan fasilitas seperti kami peroleh dari lembaga sekolah diantaranya diajak mengunjungi tempat bersejarah dan obyek wisata, sagu hati atau uang saku, konsumsi, dan dilibatkan dalam kegiatan belajar mengajar serta perlombaan-perlombaan di sekolah.
Dari peristiwa itu, saya sadar kalau ternyata rencana Allah lebih indah dari pada rencana kita. Walaupun 2 tahun lalu keinginanku menginjakkan kaki di negeri upin ipin tak terwujud ternyata sang Khalik hanya menundanya saja. Saya mendapatkan kesempatan melanjutkan studi magister di Kuala lumpur dengan beasiswa full LPDP dan Insya Allah akan berangkat Januari tahun depan. Subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaha illah.
Kamis, 06 Oktober 2016
CITA-CITA BESAR; PELECUT SEMANGAT ATAUKAH SEBALIKNYA?
Pernahkan terpikirkan kenapa ketika kecil kita berani bercita-cita besar namun ketika telah dewasa semangat itu surut walaupun hanya mengambil langkah kecil yang nyata untuk mewujudkan cita-cita yang telah lama diidam-idamkannya tersebut. Kenapa dengan adanya perkembangan dan pertumbuhan yang dialaminya baik secara psikologis dan biologis, justru semakin membuatnya mencari alasan untuk menjauhi cita-cita. Contoh sederhana, ketika masih duduk di bangku SD cita-citanya ingin menjadi astronot, masuk suasana SMP bergeser menjadi Pilot, masa-masa SMA membujuknya menjadi pegawai negeri, dan dunia kuliah membawanya menjadi karyawan. Sebenarnya apa yang terjadi pada manusia modern.
Kita sering membaca literatur sejarah bahwa orang-orang dahulu telah menanamkan semangat untuk mengukir sejarah peradaban dunia sejak masih anak-anak dan impian itu telah mengantarkannya menuju sebuah pengalaman hidup yang luar bisa dan menginspirasi orang banyak. Salah satu faktor keberhasilan mereka adalah rela meninggalkan kampung halamannya demi mencapai misi hidupnya. Tak ada alasan bagi mereka untuk mundur walaupun banyak aral melintang dan jalan terjal menghadang. Keterbatasan modal bahkan fisik tak menyurutkan semangat mereka justru dengan semakin ditempa terus-menerus dengan berbagai problema semakin memompa semangatnya.
Ketika menelusuri jejak era milenium dengan melimpahnya kemajuan di segala bidang yang kita rasakan selama ini justru terkadang membuat kita semakin terpuruk dalam hal mengambil sikap. Hanya sebagian kecil yang bisa keluar dari zona nyaman dengan segala kemewahan yang ditawarkannya.
Pendidikan yang dianggap sebagai salah satu solusi topcer tak lantas serta merta membuat manusia masa kini mau berpikir visioner namun malah materialistis dan hedonis yang lebih dominan dalam kamus pribadinya. Peran Pendidikan masih dianggap belum mampu mencetak insan-insan berkualitas secara maksimal. Apa yang salah dengan pendidikan? Apa karena kesejahteraan para guru yang diabaikan oleh pemerintah sehingga para pahlawan tanda jasa tersebut harus mencari pekerjaan sambilan untuk menutupi kebutuhan hidupnya? Ataukah karena kurikulum pendidikan yang sering diotak-atik dan dirombak seiring dengan pergantian menteri disetiap periode atau di setiap reshuffle kabinet? ditambah lagi kurangnya perhatian orang tua dalam memonitoring perkembangan putra-putrinya dalam hal akademik dan akhlaknya. Mereka para orang tua mungkin terlalu sibuk mencari kebutuhan finansial penunjang keberlanjutan pendidikan sehingga tak jarang banyak kaum remaja yang merasa kekurangan rasa kasih sayang. Pada akhirnya mereka mudah tergerak melakukan tindakan kenakalan remaja yang marak terjadi dewasa ini. ditambah lagi peran media yang lebih banyak kontra dengan tujuan pendidikan. Media dipandang lebih berorientasi pada hiburan dan profit dari pada edukasi.
Tak perlu saling menyalahkan siapapun, saling lempar kesalahan, saling berapologi, dan lain sebagainya. Tugas menanamkan cita-cita besar pada tunas bangsa adalah tugas bersama. Bersinergi antar elemen terkait merupakan solusi yang perlu dititikberatkan dengan merealisasikannya bukan hanya wacana saja yang digulirkan. Generasi muda tak ubahnya gambaran masa depan suatu bangsa. Jika sebagian besar kaula mudanya hanya terkungkung dalam zona hedonisme dan apatisme, maka nasib bangsa ini sudah bisa diteropong akan menjadi apa dan akan dibawa kemana.
Rabu, 05 Oktober 2016
DAHSYATNYA PENGARUH TEMAN
Pertemanan adalah sebuah keniscayaan. Kita tidak bisa hidup tanpa berinteraksi dengan yang lain alias menjalin pertemanan atau persahabatan. Namun seringkali seseorang terjerumus dalam lembah dosa akibat teman. Seseorang bisa sukses atau gagal meraih cita-cita salah satu faktornya selektif dalam memilih teman. Selektif disini bukan berarti hanya berteman dengan orang-orang tertentu saja akan tetapi berkawan dengan siapapun namun tetap menjaga prinsip hidup "boleh mengikuti arus akan tetapi jangan terbawa arus". Itulah sebabnya mengapa dikatakan kalau teman yang buruk tingkah lakunya itu lebih berbahaya dari seekor ular yang berbisa. Teman yang buruk tentu senantiasa mengajak pada hal-hal yang buruk pula dan ajakan tersebut sulit untuk ditolak karena selain sebagian masyarakat kita yang menganut budaya permisif yang tinggi, juga karena rasa kesetiakawanan. Ketika seseorang telah berada dalam suatu ikatan pertemanan, maka terasa berat untuk menolak ajakan dari teman karena akan dijuluki tidak setia kawan.
Banyak orang tua yang selalu mewanti-wanti putra-putrinya agar jangan salah pilih dalam memilih seorang teman. Bahkan teman bisa dijadikan cara untuk menilai tabiat seseorang. Jadi ketika ingin mengetahui watak atau perangai seseorang, maka cukup dengan mencari tahu dengan siapa orang tersebut berkawan atau bergaul.
Salah satu masa yang sangat menentukan kepribadian seseorang kedepannya adalah masa remaja. Ketika seseorang telah memasuki masa remaja, maka ajakan teman lebih diperhatikan dan dihiraukan dari pada ajakan guru atau orang tua. Seringkali kita melihat anak yang kabur dari rumahnya karena si anak merasa dipaksa menuruti kehendak orang tuanya, padahal hanyalah kebaikan yang diharapkan dari seorang tua untuk anaknya. Mereka tak ingin anaknya terbawa arus perubahan zaman.
Oleh sebab itu, prinsip mencari teman yang baik harus ditanamkan sejak dini dan itu tanggung jawab orang tua sebagai madrasah pertama dan orang-orang disekelilingnya sebelum memasuku usia sekolah.
Banyak orang tua yang selalu mewanti-wanti putra-putrinya agar jangan salah pilih dalam memilih seorang teman. Bahkan teman bisa dijadikan cara untuk menilai tabiat seseorang. Jadi ketika ingin mengetahui watak atau perangai seseorang, maka cukup dengan mencari tahu dengan siapa orang tersebut berkawan atau bergaul.
Salah satu masa yang sangat menentukan kepribadian seseorang kedepannya adalah masa remaja. Ketika seseorang telah memasuki masa remaja, maka ajakan teman lebih diperhatikan dan dihiraukan dari pada ajakan guru atau orang tua. Seringkali kita melihat anak yang kabur dari rumahnya karena si anak merasa dipaksa menuruti kehendak orang tuanya, padahal hanyalah kebaikan yang diharapkan dari seorang tua untuk anaknya. Mereka tak ingin anaknya terbawa arus perubahan zaman.
Oleh sebab itu, prinsip mencari teman yang baik harus ditanamkan sejak dini dan itu tanggung jawab orang tua sebagai madrasah pertama dan orang-orang disekelilingnya sebelum memasuku usia sekolah.
Selasa, 04 Oktober 2016
COBA-COBA TERNYATA BERHASIL
Di era post-modern ini keberadaan teknologi dalam setiap aktivitas manusia seakan telah menjadi sebuah keharusan. Hampir semua lini kehidupan telah tersentuh oleh teknologi guna meningkatkan efisiensi dan efektivitas suatu pekerjaan. Salah satu dari teknologi yang hampir semua orang memilikinya adalah Hand Phone. Apa lagi alat komunikasi ini telah mengalami perubahan paling cepat dibanding teknologi lainnya sejak ditemukan pertama kali oleh Alexander Graham Bell pada tahun 1876.
Saat ini telepon genggam yang paling digandrungi oleh masyarakat adalah yang memiliki sistem Android atau istilahnya disebut ponsel Android. Salah satu fitur yang paling menonjol dari ponsel jenis ini adalah memiliki aplikasi yang dapat dengan mudah didownload di google play store. Namun ada satu hal yang sangat ditakuti oleh pengguna ponsel Android yakni terjadinya sistem yang error.
Berbicara tentang pengalaman Android yang error, saya pernah mendapati alat ponsel yang tiba-tiba restart sendiri terus-menerus tanpa bisa dikendalikan. Kejadian itu terjadi sehari sebelum program ODOP (One Day One Post) dimulai tepat pada hari Sabtu 1/10/16. Saat itu saya panik dan bingung harus melakukan tindakan apa untuk meredam Ponsel yang tak terkontrol. Akhirnya langsung saya lepas baterai ponsel tersebut. Saya panik bukan karena harus menservisnya, tapi karena ponsel tersebut adalah satu-satunya alat yang tersisa yang bisa digunakan untuk membuat tugas harian ODOP, setelah 3 hari sebelumnya laptop saya rusak dan saat ini masih berada ditangan tukang service.
Masih segar dalam ingatan kalau saya pernah mengalami laptop dan HP yang rusak dalam waktu yang hampir bersamaan sekitar 5 bulan yang lalu dan sekarang pengalaman itu terulang kembali. Hal itulah yang mendasari saya harus mencari solusi agar tugas ODOP bisa terselesaikan. Tak ingin putus asa, saya pun mengingat hal-hal yang saya lakukan dengan ponsel tersebut. Saya menyadari kalau ada unsur kecorobohan yang telah saya lakukan ketika meng-charge ponsel yakni saya lupa mencabutnya setelah di-charge sekitar 3 jam lebih, mengingat biasanya baterai ponsel terisi penuh setelah di-charge 1,5 jam. Saya pikir penyebab ponsel mengalami error dikarenakan baterai yang dicharge terlalu lama.
Oleh karena itu sebelum ponsel diserahkan ke tukang service sebagai solusi final, saya mencoba menjemur baterai ponsel dibawah sinar matahari kurang lebih 1 jam, teknisnya dijemur secara bolak-balik masing-masing 30 menit (seperti menjemur kerupuk saja ya). Setelah itu saya taruh di tempat yang sejuk agar baterai menjadi dingin sebelum dipasang pada ponsel. Tak disangka cara ini membuahkan hasil, ponsel saya kembali berfungsi seperti semula dan bisa digunakan dengan baik tanpa harus menginap di tempat service. Anda percaya? Itu hak anda untuk percaya atau tidak. Saya hanya ingin berbagi pengalaman saja. That's it. Semoga bermanfaat.
Senin, 03 Oktober 2016
Simple Tapi Penuh Makna
Dewasa ini mengunggah foto selfie dengan membawa kertas yang bertuliskan kalimat motivasi, pesan, dan lain sebagainya sedang booming di kalangan muda-mudi yang sedang mengunjungi spot-spot bagus seperti tepi pantai, puncak gunung, gedung tertinggi, museum dan area-area unik lainnya. Saya pun sering dapat kiriman foto seperti itu dari kawan-kawan yang sedang traveling. Kali ini saya dapat capture foto kertas yang dibuat oleh kawan yang sedang mengikuti seminar bertema kesehatan di Seoul Korea Selatan. Dia memiliki nama Risa Ramadhiani, seorang dokter di bidang kardiovaskular dan dalam waktu dekat ini akan melanjutkan studi doktoralnya di negeri matahari terbit, Jepang. Di event internasional tersebut dia meraih penghargaan medali perak.
Di sela-sela kesibukannya mengikuti seminar, dia mengunjungi salah satu bangunan bersejarah "Gyeongbokgung Palace" di kota Seoul dan mengcapture selembar kertas di depan bangunan tersebut yang bertuliskan "Dear Hasan, Jangan lupa bahagia, dari seoul south korea".
Sungguh suatu kehormatan tersendiri nama saya ditulis di negara yang terkenal dengan sebutan negeri ginseng dan macan asia itu walaupun hanya ditulis oleh teman saya sendiri.
Ada hal menarik yang membuat saya terpukau dengan pesan itu, selain karena dia menulisnya didepan bangunan bersejarah, juga karena bagi saya kata-kata itu mengandung arti yang dalam dan penuh makna yang sangat menarik untuk digali. Kata itu adalah bahagia, kata ini memiliki arti yang begitu luas. Bahagia bisa diartikan dengan perasaan senang dengan keadaan yang dihadapi. Siapapun bisa bahagia karena memang bahagia tak mengenal latar belakang seseorang. Namun sebagian orang berasumsi bahwa kebahagiaan hanya dirasakan oleh mereka yang ber-uang. Persepsi ini perlu diluruskan agar semua orang bisa merasakan kebahagiaan terhadap apa saja yang dimiliki, dirasakan, dan dihadapi. Jika dipahami secara mendalam, bahagia merupakan akumulasi dari berbagai sifat positif seperti bersyukur, sabar, ikhlas, qana'ah, semangat, dan lain sebagainya.
Mengapa pesan singkat "Jangan Lupa Bahagia" ini begitu luar biasa walaupun sangat sederhana karena justru dengan kesederhanaannya tersebut mudah diingat dan dapat tersimpan lama di alam bawah sadar yang pada akhirnya akan memotivasi diri. Terkadang atau bahkan sering kita lupa untuk bahagia atas nikmat yang telah kita terima yang jumlah tak terhitung seperti.udara segar yang kita hirup tanpa alat bantu kesehatan, selamat dalam perjalanan, tidur yang nyenyak, merasakan lezatnya makanan, dan masih banyak lagi nikmat-nikmat lainnya. Maka sudah jelaslah alasan mengapa Allah mengingatkan kita agar merenungkan setiap nikmat. Allah menyampaikannya secara berulang-ulang sebanyak 31 kali dengan firmannya yang suci dalam Al-Qur'an yang artinya "Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan".
Salah satu solusi terbaik untuk mensyukuri nikmat tersebut adalah dengan bahagia dalam menjalani kehidupan ini. Dengan bahagia, segala rutinitas dan kepenatan terasa ringan karena dihadapinya dengan penuh semangat dan senyuman sebagai implementasi dari rasa bahagia yang tertanam dalam diri. Maka sungguh mengasyikkan jikalau kita senantiasa menanamkan prinsip dalam diri dengan "Bahagialah maka kamu akan sukses, karena bukan kesuksesan yang mengantarkan kita pada kebahagiaan".
Langganan:
Postingan (Atom)
