Rabu, 12 Oktober 2016

Menyikapi Fenomena "Dimas Kanjeng"

Akhir-akhir ini marak pemberitaan tentang terbongkarnya kasus pembunuhan berencana dan penggandaan uang oleh pimpinan pedepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Fenomena ini viral diberbagai media baik media cetak atau elektronik. Hampir semua stasiun televisi lokal dan nasional memberitakan kasus yang begitu menggemparkan masyarakat luas ini. Yang membuat berita ini begitu heboh dan berbeda dengan kasus penggandaan uang yang lain adalah begitu banyaknya pengikut atau orang yang tertipu dengan praktek perdukunan uang yang telah dinyatakan sesat oleh Majelis Ulama Indonesia itu, ada puluhan ribu orang dari hampir seluruh pelosok negeri yang telah tertipu menyetorkan sejumlah uang yang nominalnya beragam dari mulai jutaan sampai ratusan milyar rupiah dengan dalih uang itu akan menjadi berlipat ganda hingga puluhan kali lipat. Bahkan ada ratusan orang yang rela menetap bertahun-tahun dipadepokan ini untuk mengikuti berbagai ritual demi uang atau harta bendanya bisa berlipat ganda.

Sisi lain yang begitu mencengangkan lagi adalah pengikut Dimas Kanjeng ini tidak hanya berasal dari kalangan awam saja, tetapi pejabat, tokoh masyarakat, dan kaum intelektual pun turut terhipnotis untuk berikrar janji setia menjadi pengikut padepokan yang terletak di kabupaten Probolinggo ini.

Walaupun kasus ini  hampir setiap hari memenuhi pemberitaan dilayar kaca sejak beberapa minggu yang lalu, saya baru mendengar jika ada tetangga yang tertipu dengan padepokan dimas kanjeng ini. Dia telah menyetorkan uang hampir 30 juta rupiah, mungkin angka tersebut tidak begitu besar untuk warga kota, tetapi  untuk ukuran masyarakat pedesaan di kabupaten Pasuruan yang mayoritas warganya sebagai tukang kayu dan petani, angka itu cukup fantastis.

Saya hampir tidak percaya mendangar hal tersebut, mengingat daerah saya terkenal dengan masyarakatnya yang religius, serta banyak sekolah dan pesantren bertebaran dimana-mana. Juga pengajian rutin untuk mendalami ilmu agama telah banyak menghiasi masjid dan mushola, ditambah lagi dengan tradisi-tradisi keagamaan lainnya.

Timbul pertanyaan besar dikepala saya, mengapa masih ada saja bahkan banyak orang yang masih percaya dengan hal-hal berbau klenik yang bisa menjurus pada kemusyrikan?, wal iyadzu billah. Namun, diluar itu semua, harus ada pelajaran yang bisa diambil dari ulasan kasus penggadaan atau pengadaan uang ala Dimas Kanjeng Taat Pribadi ini yakni setidaknya ada yang berubah dari diri kita, berubah menjadi pribadi yang senantiasa mengoreksi diri sendiri bukan selalu bahas sana bahas sini bahkan terkadang menyalahkan orang lain, seperti diutarakan oleh KH. Abdullah Gymnastiar atau biasa disapa Aa Gym di acara Hitam Putih.

#OneDayOnePost
#8th Day

Tidak ada komentar:

Posting Komentar