Gus Dur Sebagai Presiden
Sosok Gus Dur yang cenderung vokal dan
cukup mumpuni dalam menganalisis kehidupan politik pada masa Orde Baru
telah membuat beliau dianggap sebagai ancaman politik. NU yang dipimpinnya
telah berubah menjadi organisasi Islam yang lebih intelek dengan massa yang
besar kala itu. Percobaan menggembosi efek karakter Gus Dur dalam tubuh NU
pernah dilakukan pemerintah rezim Orba, namun hasilnya nihil.
Penghormatan kalangan NU terhadap keluarga Hasyim Asy’ari yang tinggi, terlebih dengan kegeniusan seorang Gus Dur, dan beliau layak menerimanya.
Ketika masa reformasi berkibar, nama Abdurrahman Wahid menjadi cukup popular. Beliau menjadi salah satu dari sekian tokoh yang kritis dalam mencermati kebobrokan dan pengkhianatan rezim Orba.
Kepopulerannya berlanjut dengan hadirnya PKB, alhasil beliau naik tahta presiden menggantikan masa Habibie
yang singkat, dengan didampingi Megawati Soekarnoputri. Kebijakan beliau yang popular ketika
pemerintahannya adalah penghapusan UU deskriminasi terhadap etnis Cina Indonesia, dan pembubaran Departemen
Penerangan yang dianggap telah memasung kebebasan pers Indonesia.
Hal ini disambut baik, dan ini
membuktikan bahwa Gus Dur memiliki management situasi yang sangat baik.
Memang siapa saja yang duduk sebagai presiden kala itu harus membuat
perubahan bila tidak ingin dinilai mandul fungsi ketika negara sedang panas dengan api perubahan. Namun hal tersebut cukup berarti dan
dibutuhkan seorang yang cukup berani untuk memulainya. Gus Dur akhirnya diminta mundur MPR karena kondisi kesehatan beliau dan tuduhan korupsi yang tidak cukup jelas adanya, digantikan oleh Megawati.
Penentangan terhadap mundurnya Gus Dur sebagian besar didasarkan bahwa ada pihak tertentu yang ingin menghalangi pembaharuan yang dipiloti
Gus Dur. Mundurnya Gus Dur dari kursi presiden
tidak dengan senantiasa meleburkan popularitasnya.
Terbukti sosok nyentriknya yang cenderung lucu namun cerdas, telah membuatnya selalu diingat dan dihormati tidak hanya dari kalangan NU. Wataknya yang terlihat
selalu ingin mendapat perhatian tidak pernah menjadi kekurangan beliau
karena dasar bersikapnya yang lugas, mengedepankan kebebasan dan kejujuran dalam toleransi sangat
dibutuhkan bangsa ini secara nyata.
Gus Dur dan Pandangannya tentang Islam Modern
Berbeda selalu menjadi poin yang baik dalam menonjolkan diri ditambah
keuntungan menempatkan perilaku yang mudah sesuai keinginan. Mungkin hal
itulah rumus enteng untuk menjadi tenar secara mudah apabila kita siap dikatakan orang aneh. Dengan sedikit
peluang ada orang cerdas yang kagum akan pilihan hidup kita. Saya selalu
berpedoman bahwa watak dan sikap adalah pilihan hidup dan jati diri hanyalah pandangan orang lain tentang pilihan hidup kita. Akan tetapi pilihan bersikap Gus Dur terhadap perkembangan dunia Islam tidak sama sekali terlihat sebagai sikap pecundang
dungu yang siap dikatakan aneh.
Mulai dari sini saya tidak akan memandang Gus Dur sebagai seorang munafik, yang pandai memanipulasi
peluang demi kepentingan yang tidak terlalu jelas. Namun akan ada pujian
mulia untuk beliau karena saya yakin kehormatan dan kejayaan dien yang suci
ini ada pada pemikiran yang
berwawasan sangat jauh ke depan seperti pada pemikiran beliau. Dalam
hal ini tentu saja pandangannya tentang
penentangan Islam radikal. Artikel “Islam Benar lawan Islam Salah” yang diterbitkan Jurnal Wall Street tahun
2005 merupakan perwujudan pemikiran liberal Gus Dur yang sangat baik untuk
dimunculkan.
Gus Dur yang dikenal sebagai
negarawan berlatarkan Islam di Indonesia telah dengan lugas memunculkan ide tersebut. Bagaimanapun juga fanatisme agama yang keterlaluan tidak akan baik sama sekali bagi dunia dan bangsa ini. Apalagi apabila terdapat pihak yang dengan sangat mudah mengambil
keuntungan dari konflik berlatarkan agama (pihak Barat yang lebih dulu kaya
dan maju). Atau malah para terrorist yang mengaku Islam taat itu dikomandoi oleh pihak bukan Islam untuk politik pecah belah. Kita tidak tahu Masyarakat Islam jelas mengalami ketertindasan. Jelas lebih mudah menghajar muka orang lalu kabur dengan perasaan tidak bersalah. Namun mengalahkan musuh dengan jantan dan pulang dengan perasaan tidak bersalah yang sesungguhnya lebih memuaskan.
Kaum fundamentalis Islam di dunia dengan jelas telah mengatakan “kami ummat muslim sedunia telah mengalami ketidakadilan”. Cukup di situ saja fungsi
terorisme terhadap Barat. Jangan sampai merusak dan merugikan seperti di negara kita. Kini tiba saat untuk
bersaing secara jantan dengan mengedepankan pluralitas. Dan saya yakin Gus Dur pasti tahu hal ini.
Mungkin gagasan “Islam Benar dan Islam Salah” akan memicu perpecahan yang sangat menguntungkan pihak Barat. Namun apabila pemahaman telah didapatkan dengan baik oleh setiap muslim, maka hal itu akan menjadikan muslim Indonesia berkarakter yang
maju secara elegan dan tetap berpegang terhadap kejayaan dien yang suci ini.
Tentu saja hal ini akan jauh lebih baik daripada semua muslim menjadi terrorist brutal karena saat itu kita jelas salah. Saya kira hal ini cukup sederhana. Sangat sulit apabila kita terpecah namun alangkah lebih mudah apabila kita menjadi orang baik terlebih dahulu.
Gus Dur adalah salah satu tokoh yang menginspirasi kehidupan banyak orang
termasuk saya.
Bagaimanapun juga keberanian untuk berbeda adalah modal untuk berani menjadi yang terbaik. Dan
karakter unik yang tangguh akan melampaui keunggulan karakter umum yang paling sempurna sekalipun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar