Senin, 28 November 2016

Diskusi Politik




Dunia politik itu penuh misteri. Ya, setidaknya itu yang bisa saya simpuljan dari diskusi ringan dengan para senior di kampus yang saat ini sedang berkiprah di dunia perpolitikan ibu kota.

Kondisi perpolitikan saat ini memang sedang bergejolak seperti aksi damai lanjutan yang akan dilaksanakan 2 Desember nanti. Posisi pemerintah memang agak dilema. Mengambil repreaif akan kena, sebaliknya juga kena.
Kita yang awam akan politik tak selayaknya men-judge terhadap organisasi tertentu karena kita tak pernah tau apa yang sebenarnya terjadi didalamnya. Kita dan masyarakat umum hanya faham permukaannya saja.
Dunia.politik pasti tak terlepas dari kepentingan kelompok. Sepertinya jika kita mendengar kepentingan kelompok, bayangan kita mengarah pada kolusi dan nepotisme. Dikatakan tak selamanya hal tersebut mengarah atau berorientasi pada KKN. Selama kepentingan kelompok atau golongan tersebut juga demi kepentingan masyarakat luas maka sah-sah saja.
Dari sini saya belajar memahami politik dengan konteks yang terjadi saat ini. Padahal fokus studi saya pada bidang pendidikan. Agak gak nyambung ya. Saya anggap ini sebagai ilmu dan wawasan kenegaraan. (harapnya seperti itu)
Sepertinya memang berat kalau bahas politik. Ketika membahasnya saja agak bingung apalagi ketika menghadapinya. Saya tidak bisa membayangkan. Maka perjuangan para pendiri bamgsa ini begitu luar biasa dalam menyatukan ribuan pulau di negeri tercinta ini.
So, ungkapan "don't judge a book from the cover" itu memang benar. Melihat cover itu terlalu dini jika terburu-buru menyimpulkan. Ingat masih ada kata pengantar, bab-sub bab, isi, dan lain sebagainya.
Saya kira cukup pembahasan ini. Agak njlimet ya. Maafkan.
Mungkin teman-teman akan berpikir kenapa typo sangat sedikit dalam tulisan ini. Karena saya nulis di HP, dan di HP sudah otomatis dalam memilih kata yang benar ejaannya. Hehe.
#TantanganODOP
#TanpaEdit
#Batch3
#harussemangat
#intinyanulisdulu

RUTINITAS

Tantangan Odop minggu lalu tentang aktivitas sehari-hari. (maaf, terlambat, hehe). Sebenarnya tak ada yang istimewa tentang rutinitas yang saya lakukan. Apa lagi saat ini saya sudah berhenti mengajar karena tanggung mau mengajar, setelah ini mau lanjut studi. So, kesibukan saya hanya di rumah; membantu pekerjaan orang tua. Terkadang ke luar kota sekadar membeli beberapa buku dan bersilaturahim ke berbagai tempat.
*****
Ketika kokok ayam mulai bersahutan menyambut datangnya fajar, saya bangun tidur lalu bergegas mengambil wudhu' guna shalat subuh berjamaah di mushalla yang tak jauh dari rumah. Sebenarnya ingin sekali bangun lebih dini untuk shalat tahajud, witir dan sebagainya. Kuatur alarm ponsel berdering pukul 3:30, namun apalah daya diri ini seringkali bangun hanya untuk menekan alarm agar ia mau berhenti mengganggu tidur nyenyakku. Hehehe.
Setelah kembali dari mushalla, sekitar pukul 04:30, biasanya saya melanjutkan dzikir lalu membaca buku.
Pukul 06:00, kubuka pintu kandang ayam untuk memberi makan. Ada 11 ekor ayam yang kupelihara. Lalu membersihkan rumah dan merapikan apa yang perlu dirapikan misalnya menyapu, mencuci piring, mengelap kaca dan lain sebagainya. Itung-itung membantu pekerjaan ibu karena beliau harus pergi ke pasar setiap pagi untuk membeli kebutuhan dapur.
Sekitar pukul 08:00 hingga sore hari, saya membantu pekerjaan ayah sebagai pengrajin lemari. Ayah memiliki 2 karyawan yang bertugas membuat lemari sesuai pola yang dibuat ayah. Saya membantu beliau dalam membuat pola-pola pada kayu yang akan dibentuk menjadi sebuah lemari.  Pekerjaan ini saya handle sepenuhnya, ketika ayah keluar rumah untuk membeli kayu mentah yang prosesnya membutuhkan waktu yang lama.
Disela-sela pekerjaan ini, saya membuka blog untuk nyicil tulisan ODOP dan membuka grup-grup sosial media seperti WhatsApp, Telegram, facebook, Line, BBM, dan sebagainya. Ada salah satu grup telegram yang harus rutin saya cek karena di grup itu saya mendaftar dan diterima di grup "Mentor Bidik Mimpi" yang bertugas mentoring untuk mahasiswa S1 semester 7 yang hendak mengikuti seleksi Beasiswa S2 kelak setelah lulus.
Saat malam hari tiba, sehabis isya' biasanya ada keponakan masih sekolah SD yang datang ke rumah untuk minta dimentorin dan dibantu PR-nya. Dan seringkali selesainya pukul 9 lebih.
Usai itu saya melanjutkan tulisan di blog yang belum rampung. Namun Terkadang karena capek, pikiran buntu untuk melanjutkan tulisan mencari kata demi kata, kalimat demi yang akan saya tulis. Akhirnya ketika stuck dan ketiduran. Jikalau tidak tidur, saya menyimak pembahasan tulisan yang sedang dibedah.
Pada setiap malam jumat, saya sering berziarah ke berbagai pesarean (makam ulama). Dan pulang sekitar pukul 11 malam.
Pada hari jumat setelah menunaikan shalat jumat, saya mengantarkan ibu ke pondok untuk menyambangi adik perempuan yang mondok. Terkadang pula saya mampir ke rumah ustadz sekadar bersilaturahim.
Itulah keseharian saya. Rutinitas saya sering tak menentu, lebih banyak aktivitas-aktivitas insidentil. Terima kasih.
#TantanganODOP
#Batch3
#harussemangat-seringbolong

Kamis, 24 November 2016

Penyanyi Dadakan

Saya rasakan aktivitas menulis  tidak hanya membutuhkan konsistensi tinggi tetapi support dari orang lain juga mutlak diharapkan. Oleh karena itu, saya pribadi bersyukur berada dalam group Odop Batch 3 ini. Adanya group ini selalu memotivasi saya untuk senantiasa menulis, menulis, dan menulis.
Pada tulisan kali ini saya ingin menuliskan pengalaman unik yang pernah saya alami saat mengikuti program  Praktek Kerja Lapangan Integratif di Thailand dua tahun silam tepatnya Kamis, 15 Januari 2014. Cekidot.......

Hari itu tengah berlangsung  sesi pembagian hadiah bagi para pemenang berbagai jenis perlombaan yang telah digelar oleh panitia yang terdiri dari para guru dan Osis Muhammadiah School. Kami pun turut terlibat dalam memeriahkan rangkaian acara yang ditutup dengan pembacaan maulid barzanji tersebut. Saya, Faizal (mahasiswa  UIN Malang), Muslimin dan Firman (mahasiswa IAIN Padangsidimpuan) diminta untuk tampil diatas panggung untuk menampilkan sebuah nasyid (baca; lagu) asli indonesia. 

Memang mayoritas pelajar disini sangat suka menyanyikan lagu indonesia. Mereka mayoritas nge-fans dengan band Wali, Tegar, dan Papinka. Atas dasar itulah kami memilih lagu dari band-band tersebut. Kami menyanyikan 3 buah lagu yang berjudul tobat maksiat (wali band), aku yang dulu (Tegar), dan Insya Allah (maher Zain). walaupun persiapan yang sangat singkat tak menyurutkan semangat kami untuk menerima request tersebut. 

Hanya dengan modal nekat dan bismillah kami berani menerima permintaan itu walaupun diantara kami berempat tak satupun yang punya background penyanyi, namun ada satu yang memiliki kemampuan qiroah yang kami jadikan vokalis utama.

Diluar dugaan penampilan kami mengundang decak kagum dan tepuk tangan para siswa, para guru dan tamu undangan pun membuncah. Apalagi kami tampil all out dan sedikit kocak dengan beberapa gerakan yang membuat penonton terhibur. Penampilan kami dilaksanakan disela-sela pembagian hadiah yang sangat banyak yang memakan waktu sekitar 1,5 jam dikarenakan lomba yang diumumkan ada 22 jenis perlombaan.

Syukurlah penampilan yang kami hadirkan dapat menghibur para undangan. Kami dapat merasakan kebahagiaan dalam acara yang diadakan satu tahun sekali itu. Bagi kami momen itu merupakan momen yang sangat pas untuk mengenalkan diri sebelum aktivitas belajar-mengajar dimulai. Ya, itu adalah kegiatan yang pertama kali kami lakukan. Itulah sekelumit cerita dari Negeri Gajah Putih. Semoga dapat menambah wawasan.

Investasi Doa


Di dunia perbankan kata “Investasi” sudah tidak asing lagi di telinga kita. Istilah ini memiliki ruh penting dalam sendi-sendi dunia perbankan. Namun pernahkah terpikirkan bahwa doa merupakan investasi luar biasa yang tak terhitung digitnya.

         Doa merupakan suatu harapan, permohonan, atau bahasa akademiknya adalah proposal yang diajukan oleh seorang hamba kepada sang Maha Agung. Doa adalah bukti penghambaan makhluk kepada sang Khalik yang telah menciptakannya dengan sebaik-baik bentuk.

         Hasil investasi doa tidak hanya akan kita petik di negeri akhirat saja, bahkan kita bisa memetiknya di dunia yang tak pernah bisa kekal ini. Contoh sederhananya kita sering menjumpai betapa banyak orang berusaha dengan keras tanpa berdoa untuk mendapatkan sesuatu yang diidam-idamkannya, namun tak secuilpun diraih olehnya.

        Di lain sisi betapa banyak orang yang berusaha atau bekerja secara sederhana namun disertai spirit doa dalam setiap usahanya sehingga semua yang dihajatkan bisa tercapai. Itu merupakan pertanda bahwa manusia tak memiliki daya apapun dalam hidup ini, semua terjadi atas kehendak-Nya.

          Adagium mengatakan “berusaha tanpa berdoa itu sombong dan berdoa tanpa berusaha itu bohong”. Pernyataan tersebut merupakan pukulan telak bagi orang-orang yang enggan atau lalai untuk menengadahkan tangan kepada Sang Mahakuasa.

           Secara impilisit, apapun yang dikerjakan oleh seorang hamba, apakah itu bekerja, belajar, berkarya dan lain sebagainya tanpa berdoa, berarti ia telah menafikan eksistensi Tuhan sebagai pengatur kehidupan ini. Bukankah Allah rab al-izzati telah memerintahkan manusia untuk senantiasa berdoa kepada-Nya dan Dia siap mengabulkannya.

        Namun terkadang manusia merasa doa-doa yang selalu dipanjatkannya tak pernah diijabahi, sehingga membuat gundah gulana dan mengeluh. Percayalah bahwa Dia pasti mendengar setiap untaian doa yang kita panjatkan serta Dia maha mengetahui kapan doa itu diijabahi. 

            Oleh karena itu setiap doa yang dipanjatkan tidak selalu dikabulkan dengan segera, karena Dia maha mengetahui kapan waktu yang tepat untuk mengabulkannya sehingga manusia bisa mengambil manfaat besar dari apa-apa yang telah diidam-idamkannya. Kalau lah untaian doa kita tak terwujud didunia, percayalah kompensasi doa tersebut telah tercatat sebagai pahala yang akan kita terima secara tunai di akhirat kelak. Amin.

Selasa, 22 November 2016

Pendekar Sepanjang Zaman


Dibalik amarahmu 
Tersembunyi luapan kasih sayang 
Dibalik kata-katamu yang menghantam
Adalah demi kebahagiaan abadi

Untaian doamu mengalirkan aura menyejukkan
Tetesan keringatmu tak kan pernah tergantikan
Kegagahanmu bukan gaya semata
Keberanianmu membuka tabir kesengsaraan

Kaukah pendekar yang dirindukan itu?
Pendekar berpedang semangat
Pendekar berjurus kegigihan
Pendekar yang tak lekang oleh zaman
Pendekar sejati
Harapan keluarga

Senin, 21 November 2016

Buah dari Inkonsistensi

Arsitektur merupakan sebuah pekerjaan yang membutuhkan tingkat kreatifitas yang tinggi. Seorang arsitek dituntut untuk menciptakan bangunan yang tidak hanya kokoh dan indah, tapi juga unik dan inovatif. Oleh karena itu jalan menuju pekerjaan ini membutuhkan kerja keras dan kerja cerdas.

Masih segar dalam ingatan saya saat menjadi mahasiswa. Banyak kawan-kawan di jurusan arsitektur yang dianjurkan untuk tidak mengikuti organisasi apapun kecuali organisasi yang berkaitan dengan arsitektur. Alasannya selain tugas-tugas mahasiswa arsitektur sangat banyak  juga sebagian besar tugas tersebut adalah tugas individu sehingga mereka seringkali lembur untuk menyelesaikannya.
Baik, disini saya tidak akan panjang lebar tentang seluk beluk arsitektur.

Dalam tulisan ini, saya ingin menceritakan kisah tentang seorang arsitek dan pimpinannya.

Alkisah ada seorang arsitek hebat yang bekerja di sebuah perusahaan. Si arsitek tersebut telah menciptakan ratusan jenis rumah yang fonomenal. Hampir semua pemilik rumah mengacungi dua jempol atas hasil karyanya. Setiap tahun sang arsitek mendapatkan penghargaan sebagai arsitek top spesialis rumah.

Suatu saat sang arsitek merasa jenuh dengan pekerjaannya. Dia ingin mengundurkan diri dari profesi yang telah membesarkan namanya itu.

Dibuatlah surat pengunduran diri ditujukan kepada pimpinannya. Sang pimpinan tak menyetujui dan ingin mempertahankannya. Pimpinan merasa si arsitek masih dibutuhkan di perusahaannya karena karya-karya begitu memukau dan berbeda dengan para arsitek pada umumnya.

Setelah didesak oleh arsitek, sang pimpinan tak punya jawaban lain selain jawaban mengiyakan. Namun sebelum si arsitek berhenti dari profesi itu, dia diminta untuk merancang sebuah rumah untuk terakhir kalinya.

Akhirnya dibuatlah sebuah desain rumah yang begitu sederhana oleh si arsitek. Desain rumah tersebut sangat berbeda dengan desain-desain yang pernah dibuat sebelumnya. Tak biasanya  dia membuat jenis rumah yang sangat sederhana dan kecil.

Setelah beberapa bulan bangunan rumah pun selesai didirikan. Si arsitek melapor pada pimpinan. "saya sudah memenuhi persyaratannya". Tegas si arsitek. "Seandainya kau membuat rumah itu indah dan megah sebagaimana kau ciptakan sebelum-sebelumnya, tentu itu akan jadi kenangan yang indah. Aku memberikan rumah itu sebagai hadian pensiunmu.

Aku minta kau membuat rumah itu adalah sebagai hasil dari kerja keras dan jerih payahmu untuk perusahaan ini". Jawab sang pimpinan.

Dengan rasa sesal di dada, si arsitek hanya tertunduk lemas. yang ada dalam benaknya, kenapa dia tak membuat rumah yang megah sebagaimana yang selama ini dia lakukan.

Itu salah satu buah dari inkonsistensi dalam sebuah profesi. Konsistensi perlu diterapkan dalam hal apapun demi meraih hasil yang maksimal. Sebuah inkonsistensi hanya akan melahirkan sebuah penyesalan.

Jumat, 18 November 2016

Tentang Saya

Tantangan ODOP minggu ini adalah deskripsi diri.  Dan ketika berhadapan dengan tantangan ODOP, saya selalu membuatnya di hari terakhir, biar mepet. Ya, saya terlanjur suka dengan sistem sks, hehe. Kebiasaan anak kuliahan Strata 1. Kenapa saya bilang S1? Karena saya masih belum tahu banyak kebiasaan mahasiswa S2 berhadapan dengan tugas-tugas. Katanya sih tugasnya seabrek dan referensinya buanyak banget. Tapi saya masih belum percaya 100% kalo belum mengalaminya. Dan insya Allah sebentar lagi akan mengalaminya, Amin. Wah lumayan opening statement sudah dapat satu paragraf. Hehe
Ok, kembali ke Tantangan.

السلام عليكم أيها الإخوان والأخوات. اسمحوالي أن أعرف نفسي. اسمي محمد حسن أنا من باسروان جاوى الشرقية.
Itu sedikit cuplikan perkenalan yang biasa dipakai oleh mahasiswa bahasa Arab (itung-itung nunjukin identitas, hehe, udah agak lama gak nge-arab).
*****
Saya lahir dan besar di kabupaten Pasuruan. Salah satu kota di jawa timur yang penduduknya menggunakan bahasa Jawa atau Madura dalam kesehariannya. Dan saya termasuk yang bisa cakap-cakap dua-duanya.

Nama lengkap saya Muhammad Hasan (nama yang cukup singkat, dan paling banyak digunakan). Dari kecil akrab disapa Hasan, dan pernah mendapat panggilan cukup unik "kak Acan", saat merantau di Banten.

Saya merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Kakak saya telah menikah, dan saya insya Allah akan segera menyusul menggenapkan nisfu ad-din, amin, sedangkan adik masih duduk di bangku MTs.

Sejak kecil saya mendapatkan pendidikan agama lebih banyak. Oleh karena itu, walaupun ibu bapak tak pernah merasakan suka-duka di pesantren karena keterbatasan biaya, akan tetapi alhamdulillah anak-anaknya semua diboyong ke "penjara suci" (istilah pesantren ala anak santri).

Tampilan Fisik dan Karakter
Saya memiliki kulit yang putih dulu saat masih balita, sekarang sudah berubah menjadi sawo matang bahkan terlalu matang mungkin. Hidung saya mancung, nampaknya yang ini yang bisa saya andalkan, hehe. Tinggi badan 164 cm. Rambut hitam lurus. Dan  kata orang-orang penampakan wajah saya termasuk wajah pendiam alias tak banyak bicara. Ya, memang saya suka ngomong sedikit, saya lebih suka memperhatikan dan menjadi pendengar setia, paling seneng dengerin curhat teman. Namun kalau memang kondisinya menuntut saya untuk aktif ngomong, tentu saya tak segan-segan ambil bagian didalamnya. (agak opportunis ya)

Riwayat Pendidikan.
Studi S1 saya habiskan di UIN Malang dengan jurusan PBA (pend. Bahasa Arab), alhamdulillah lulus 4 tahun pas. Upsss maaf tak ada maksud menyindir yang pernah atau barangkali sedang merasakan semester 8 lebih. #maapkeun.

Setelah lulus S1, saya merantau ke Lebak Banten selama setahun untuk membantu kawan mengelola dan mengembangkan pesantren sambil bantu-bantu mengajar. Saat ini saya sedang dalam masa penantian untuk studi magister di Malaysia yang dijadwalkan berangkat Januari tahun depan (semoga disana bisa ketemu mas Zulham, mba' Dewi Dean dan sahabat-sahabat ODOP yang lain, asyik bisa kopdar).

Hobi
Tak seperti kebanyakan kaum adam, saya tak bisa bermain bola, kalau asal main dan nendang bola sih masih bisa. Tapi kalau urusan berita tentang bola, saya tahu banyak. Hampir setiap hari saya memperhatikan perkembangan sepak bola. Demikian juga berita tentang badminton. Apalagi kalau atlet bulu tangkis indonesia yang berlaga, kalau ngga' nonton serasa ada yang hilang. Saat ini hobi membaca coba saya tingkatkan, membaca buku bergenre apa saja.

Mungkin itu sekelumit tentang gambaran diri saya. Terima kasih, semoga ikatan ukhuwah di ODOP ini terus terjalin dan selalu mengalirkan nafas-nafas semangat menulis dan berkarya. Amin.

#TantanganOdop
#OneDayOnePost
#ODOPBatch3







Rabu, 16 November 2016

Kekerasan (Hukuman) dan Guru

Akhir-akhir ini marak terjadi kekerasan dan pelecehan yang dilakukan oleh guru terhadap muridnya. Sungguh miris dunia pendidikan di negeri ini.

Tadi siang diberitakan di televisi ada seorang guru sekolah dasar di Jember, Jawa Timur  memaksa 3 siswinya memakan kapur dan lem kertas sebagai hukuman gara-gara mereka berjalan-jalan didalam kelas saat guru menerangkan pelajaran. Kontan salah satu dari mereka ada yang muntah-muntah dan yang lain merasa mual-mual.  Tak hanya itu, siswi-siswi tersebut juga diancam akan diberikan hukuman yang lebih berat jika menceritakan kejadian tersebut. Namun akhirnya ulah guru tersebut terbongkar. (maaf, mungkin kata-katanya kurang berkenan dan terkesan menyudutkan si guru)

Terlepas dari kasus tersebut, kadang kita langsung menghujat si guru yang seharusnya mengajari murid-muridnya dengan penuh kasih sayang, senantiasa memaafkan kesalahan anak didik, dan sifat-sifat penuh kelembutan. Namun kenyataannya ada saja segelintir pendidik yang menghukum secara berlebihan hingga mencelakakan si murid. Alasannya demi mendisiplinkan. Tapi kenapa harus dengan kekerasan? (upsss, agak mendiskreditkan si pendidik lagi nih, maafkan!!!)

Ada juga pendidik yang melakukan pelecehan seksual terhadap muridnya. Guru yang katanya "digugu" dan "ditiru", kenapa berani berbuat sekeji itu? Kenapa mental guru tak ubahnya mental seorang yang tak berpendidikan? Dimanakah moral seorang guru? (lagi-lagi, memojokkan profesi guru, maapkeun)

Tapi sudah seyogyanya kita yang hidup di era kemajuan seperti saat ini harus lebih arif dalam menilai sebuah peristiwa. Jangan hanya memandang sesuatu dari satu sisi saja. Masih banyak sisi-sisi yang lain yang perlu ditelisik.

Bila beberapa paragraf sebelumnya mengulas hal-hal dari sudut pandang negatif alias su'udzon, maka coba kita gali dari perspektif yang baik atau dikenal dengan istilah husnudzon.

Pernahkah kita bertanya apakah kehidupan mayoritas pendidik itu sejahtera atau paling tidak berkecukupan? Apakah honor mereka perbulan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya? Tidakkah kita sering melihat bahwa gaji guru itu sangat kecil tapi tugasnya sangat besar?

Ya, pertanyaan-pertanyaan tersebut kadang kita abaikan. Padahal ini memiliki implikasi yang besar terhadap kualitas seorang guru.

Coba kita bayangkan, kita pakai bahasa blak-blakan saja, jika seorang guru gajinya rendah yakni kisaran 500 ribu setiap bulannya, sedangkan ia memiliki istri dan anak, maka bagaimanakah kondisi keluarga tersebut? Tentu itu sangat jauh dari kata cukup. Apa lagi kalau istrinya cerewet, selalu menuntut suaminya. Maka perselisihan tak bisa dihindarkan. Akibatnya emosi tersebut terbawa ke dalam kelas dan mudah tersulut dengan ulah-ulah siswa yang sebenarnya remeh dan wajar. Namun karena emosi itu sudah terbentuk sejak sebelum berangkat ke sekolah, maka ledakan emosi tak bisa dikontrol oleh sang pendidik.

Hal-hal seperti ini yang perlu kita renungkan pula. Kita harus memahami beratnya tugas guru dan kondisi ekonominya agar tak melulu menghujat secara membabi buta. Saya pribadi yakin Jika kesejahteraan menyelimuti kehidupan pendidik, maka insya Allah kasus-kasus diatas sulit terjadi. Semoga.

#maafkan jika ada yang tersinggung.

#OneDayOnePost
#ODOPBatch3
#Semangat

Selasa, 15 November 2016

Filosofi Air

Apapun yang terjadi saya harus tetap menulis. Karena saya percaya dengan menulis, jejak rekam pikiran saya bisa ditelusuri dan dikoreksi. Baik, kali ini saya akan menuangkan apa yang ada dalam pikiran yaitu tentang filosofi air.

Siapakah yang bisa hidup tanpa air? Air adalah sumber kehidupan di bumi ini. Planet ini bisa dihuni oleh berbagai makhluk hidup karena memiliki air. Disamping keberadaannya yang begitu besar manfaatnya, air memiliki filosofi makna yang patut direnungkan. Setidaknya ada lima pelajaran hidup yang dapat dipetik dari wujud air yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pertama, wujud air adalah cair. Ia bisa menetap di tempat apa saja, baik ukurannya besar atau kecil. Seperti berada di lautan atau di selokan. Artinya seseorang harus mampu hidup di lingkungan yang besar ataupun kecil, kaya atau miskin, lapang atau sempit dan seterusnya.

Kedua, air tak bisa berada di suatu wadah yang bolong alias bocor. Pengertian yang bisa diambil adalah seseorang harus keluar atau lari dari lingkungan yang penuh dengan kemaksiatan dan kezaliman karena lingkungan memiliki pengaruh kuat dalam membentuk kepribadian.

Ketiga, air selalu mengalir dari tempat yang tinggi. Sebagaimana air, dalam urusan dunia, seseorang seyogyanya melihat kondisi orang lain yang lebih rendah darinya sehingga rasa syukur tumbuh subur dalam dirinya.

Keempat, air akan rusak dan  menjadi sarang berkembang biaknya penyakit jika tak mengalir sebagaimana mestinya. Makna ini adalah dalam menjalani hidup ini kita harus bergerak menuju tempat yang telah menjadi tujuan kita. Tak stagnan. Bergerak untuk maju, mandiri, dan produktif.

Kelima, air akan memberikan manfaat atau bencana sesuai perlakuan yang ia terima. Sudah sepatnya dalam pergaulan sehari-hari kita harus menebarkan manfaat pada orang lain terutama kepada mereka yang telah berbuat baik pada kita. Pun terhadap orang yang berbuat buruk kepada kita, jangan balas keburukan mereka dengan keburukan, tapi balaslah dengan kebaikan. Namun jika  kebaikan-kebaikan kita sia-sia dimata mereka, maka berilah peringatan terhadap mereka secara bertahap sampai tahapan yang paling disebut bencana.

Demikianlah sudut pandang saya pribadi tentang air. Setiap orang pasti punya sudut pandang dan interpretasi yang berbeda-beda dalam memaknai sesuatu.

Jumat, 11 November 2016

Berkah Jum'ah

Pagi itu suasana pasar merjosari mulai cukup ramai dipadati para pengunjung yang hendak membeli berbagai keperluan khususnya keperluan sehari-hari. Lalu lalang kendaraan sudah mulai terlihat di jalanan depan pasar. Terlihat di pojok depan area pasar seperti biasanya Pak Nasir, seorang tukang becak memarkir becaknya sambil duduk-duduk diatas becaknya. Bapak tiga anak ini sedang menunggu calon penumpang yang ingin menggunakan jasanya.

***
Dari ujung jalan datang lelaki paruh baya berpakaian rapi terlihat tergesa-gesa sambil lari-lari kecil. Lelaki berkulit putih ini tampaknya terlambat berangkat kerja.

"Pak antarkan saya ke jalan Ahmad Yani no.12!, ban mobil saya bocor pak" pinta lelaki itu. Tanpa basa-basi pak nasir mengantarkan lelaki itu ke tujuan yang diminta.

Setelah sampai ditempat tujuan, ketika lelaki yang juga berdasi itu menyodorkan uang dua puluh ribu rupiah, lelaki itu kaget karena si tukang becak menolaknya. Lelaki itupun bertanya "kenapa bapak tak mau menerima upah ini?" tukang becak itu hanya tersenyum dengan pertanyaan itu.

Setelah didesak beberapa kali, tukang becak itupun menuturkan alasan ia menolak untuk terima upah dari penumpangnya. Ia menceritakan bahwa dirinya ingin sekali bersedekah di hari jumat, hari yang penuh berkah, hari yang sangat  dianjurkan untuk berinfaq atau bersedekah. Namun baginya buat makan saja susah apa lagi mau bersedekah. Cara satu-satunya agar ia bisa bersedekah pada hari jumat ialah tak meminta upah dari jasa becaknya artinya penumpang yang naik becaknya pada hari jumat tak perlu bayar alias gratis.

Lalu lelaki berdasi itu bertanya, "Tapi bagaimana dengan nasib istri dan anak-anak anda pak?". Sambil mengusap keringat yang mengucur di keningnya pak Nasir menceritakan bahwa keputusan untuk berbuat demikian sudah didiskusikan dengan sang istri dan anak-anaknya dan mereka menyetujui niat mulia itu. Untuk belanja atau keperluan pada hari jum'ah, ia sisihkan sebagian dari hasil narik becak pada hari-hari yang lain.

*****

Kebiasaan bersedekah dengan menggratiskan tumpangan becaknya itu sudah dilakukan sejak lama. Pak Nasir berharap amal itu bisa diterima oleh Yang Maha Kuasa. Mendengar ucapan itu, lelaki paruh baya itu tak kuasa menahan air mata. Ia kagum pada si tukang becak. Walaupun kondisi ekonominya serba kekurangan, ia masih sempat untuk bersedekah tiap minggu. Sementara dirinya yang dianugerahi rizqi yang cukup oleh Allah, masih selalu merasa kurang akan harta dan jarang sekali bersedekah.

Akhirnya lelaki yang berprofesi sebagai Kepala Bank swasta di kota Malang ini berniat ingin mengunjungi rumah si tukang becak. Di suatu pagi menjelang siang, lelaki itu mengunjungi rumah tukang becak itu. Kondisi rumah tersebut sangat sederhana dan sangat kecil namun lantunan ayat-ayat-ayat al-Qur'an senantiasa terdengar dari rumah itu setiap pagi, membuat aura positif terpancar dari bangunan mungil itu.

Setelah diketuknya pintu rumah, keluar seorang perempuan yang berusia sekitar 50 tahun lebih dengan memakai mukena. Sepertinya Perempuan itu usai melaksanakan shalat dhuha.

Setelah berbincang-bincang dengan istri tukang becak, lelaki itu semakin terenyuh hatinya melihat ketabahan dan kesalehan keluarga ini. Tanpa berpikir lama, Kepala Bank itu menyampaikan keinginannya untuk mengajak mereka berdua umroh bersamanya secara gratis. Semua biaya akan ditanggung oleh pak direktur.

Sontak si istri tukang becak itu tak kuasa menahan haru. Ia tak percaya dengan apa yang telah dialaminya. Ia bersujud syukur atas nikmat besar yang diterimanya. Keinginan untuk bertamu ke Baitullah datang melalui rizqi yang tak disangka-sangka.

NB: Tulisan ini terinspirasi dari kisah nyata.

#OneDayOnePost
#ODOPBatch3

Mengawal Mimpi

Semua berlari mengejar mimpi
Meski godaan datang bertubi-tubi
Meski tekanan mengoyak harga diri
Itu bukan alasan tuk berhenti

Merenung tak akan mengubah citra diri
Berpangku tangan tak akan memercikkan api
Api juang yang menyemangati
Setiap proses dalam berbakti

Sebuah aksi butuh langkah pasti
Langkah yang kan membuatmu tegak berdiri
Langkah yang mengokohkan kaki

Hentakkan ambisi berapi-api
Hilangkan malas yang tak bertepi
Buang khayalan yang menodai
Kawal setiap mempi yang tertancap dalam diri
Tuk kemenangan hakiki nan abadi

Rabu, 09 November 2016

Isu Global dan Momentum Hari Pahlawan

Beberapa hari yang lalu hampir seluruh media di dunia menyoroti dan menyiarkan pemberitaan tentang hasil pemilihan presiden amerika serikat. Stasiun televisi menghadirkan para pengamat politik untuk membahas sejumlah prediksi terkait dampak yang akan terjadi setelah warga amerika memilih presiden baru. Dan tak disangka, Donald Trump yang memiliki suara lebih banyak dibanding pesaingnya, Hillary Clinton.

Padahal mayoritas media massa dan netizen memprediksi bahwa Clinton yang akan terpilih menjadi the next presiden of america. Pasalnya janji-janji kampanye trump penuh kontroversi dan menuai banyak kecaman baik dari warga amerika sendiri dan masyarakat dunia. Presiden dari partai Republik ini disebut underdog dan termasuk presiden Amerika pertama yang tak memiliki pengalaman politik.

Terpilihnya Trump ini sangat mengejutkan sebagian warga amerika dan dunia. Oleh karena itu gelombang protes terus bergulir untuk menolak suami dari melania ini menjadi presiden amerika ke-45.

Banyak pengamat politik dunia mengkhawatirkan kondisi perpolitikan dunia ke depan dengan dilantiknya Trump termasuk negara kita, Indonesia. Dikhawatirkan hubungan bilateral antara Indonesia dan amerika serikat akan renggang dengan terpilihnya presiden yang disinyalir anti-islam ini. Ini karena Amerika adalah kiblat dunia baik segi politik ekonomi dan sebagainya.

Berangkat dari isu global tersebut  timbul pertanyaan kenapa kita sebagai bangsa yang besar nan kaya akan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang cukup memadai ini, ekonomi kita masih bergantung pada amerika? Dulu saat masa kerajaan baik kerajaan hindu atau islam, nasib nenek moyang kita tak bergantung pada bangsa lain. Justru bangsa-bangsa lain di dunia yang butuh indonesia akan rempah-rempah dan hasil alam lainnya. Lalu kenapa di zaman yang serba modern ini. ditambah bangsa ini sudah merdeka, tapi ekonomi kita masih terjajah?  

Melalui momentum hari pahlawan 10 November ini, kita sebagai pemuda-pemudi tentu sudah seharusnya membalas aksi heroik dan perjuangan para pendahulu bangsa dengan berkontribusi nyata dalam pembangunan dan kemajuan bangsa dengan segenap kapasitas kita sebagai warga Indonesia. Semoga.

#OneDayOnePost
#ODOPBatch3
#keepspirit


Senin, 07 November 2016

Sedih

Kulihat matanya tajam. Penuh kekesalan. Sepertinya pertentangan batin telah menggelayut di pikirannya. Matanya tak berkedip. Mulutnya menutup rapat serupa gerbang istana di mata pemberontak.

"Pasti ada yang tidak beres nih, apa yang merela lakukan di masjid ini" tukasku dalam hati. Siang itu sinar matahari terasa sangat terik. Keringat tak terasa mengalir di dahi. Segera kuhampiri Toni.

"woy...  ngelamun aja lho, Ton" tegurku sambil menepuk pundaknya dari belakang. "Ah kamu Rik ngangetin aja" ujarnya. Tak biasanya Toni duduk di teras masjid sambil memandangi sekelompok pemuda-pemudi yang saling berboncengan naik motor hendak berlalu.

"Apakah gerangan yang kau pikirkan, Ton" kucoba menenangkannya. Aku mengenal betul pribadi kawanku yang satu ini. Tak perlu diragukan lagi, apa yang menghinggap di benaknya pasti erat kaitannya dengan kebaikan umat.

Walaupun usianya masih muda, dia sangat rajin beribadah. Malam-malamnya senantiasa dilalui dengan qiyamul lail. Dia sosok pemuda yang memiliki hablum minallah dan hablum minannash yang seimbang.

"sedih ya, sob" ujarnya sambil mengelus-elus jenggotnya yang hanya beberapa helai saja. "Apa.... sedihhh? Sebentar lagi kan mau menikah? Masak sedih? Udah calonnya shalehah, primadona desa pula, gue juga mau kalo dijodohin sama dia" selorohku. "bukan sedih itu yang kumaksud sob, kalo urusan itu saya sudah mantap lahir batin, saya yakin dia adalah jodoh dunia akhiratku" jawabnya tenang. Saya hanya menggelengkan kepala mendengar ucapannya yang meneduhkan itu.

"Lalu apa?" tanyaku tak sabar.
"Sedih, melihat orang tak berinfaq usai masuk toilet masjid,
Di lain sisi kita tak pernah absen melihat orang mengulurkan lembaran rupiah di toilet umum usai buang hajat. Sedih, kini masjid menjadi tempat yang paling cocok melepaskan hajat pribadi disaat kantong kosong melompong. Sedih, tak semua masjid mendapat tunjangan setiap bulan dari pemerintah. Sedih ya, Masjid kalah dengan tempat wisata, taman kota. Tempat-tempat seperti itu yang sering mendapatkan anggaran dari pemerintah. maka tak heran jika banyak bermunculan para  pencari sumbangan keliling mengatasnamakan masjid.  Sungguh miris."jelasnya panjang.

Kutertegun mendengarkan paparannya yang menohok itu. memang pemuda yang murah senyum ini selalu blak-blakan mengungkapkan apa yang sedang terlintas dipikirannya.

"Coba kalau setiap orang sadar lalu mau mengisi kotak amal walau hanya dengan beberapa koin rupiah saja." sambungnya. Kulihat keningnya mengkerut. Pandangannya menerawang langit-langit masjid.

"Rombangan pemotor tadi gak ngisi ya, Ton?" tanyaku. Dia diam sejenak, tak menggubris pertanyaanku. Tampaknya dia enggan membicarakan tingkah mereka. "Padahal masjid kita ini berada di desa yang menjadi akses satu-satunya ke pantai Pesona, pantai terfavorit se-provinsi. Dan sering menjadi tempat persinggahan para traveler untuk shalat, buang hajat, mandi, atau sekadar melepas penat. Tapi kenapa perolehan infaq dimasjid ini tetap saja sama, tak ada kenaikan signifikan, tak ada perbedaan antara sebelum dan sesudah pantai itu terkenal seperti sekarang ini. Justru tagihan listrik terus membengkak setiap bulan. Kita harus cari cara supaya masjid kita ini tak lagi kekurangan dana" Saya manggut-manggut saja mendengarnya. 

Memang masjid di desa kami selalu ramai disinggahi para pelancong. paling tidak 100 orang mampir setiap harinya. Apa lagi saat musim liburan tiba, lahan parkir sampai tak dapat menampung jumlah kendaraan yang didominasi oleh motor dan mobil pribadi. Namun anehnya kondisi keuangan masjid tetap saja tak bertambah secara berarti.

Tetiba pengurus masjid menghampiri kita. "kalian sedang ngapain? Sepertinya serius sekali perbincangannya?" selidiknya.

Terjadilah diskusi yang cukup serius yang kami lakukan dengan pak Sholeh. Akhirnya beberapa langkah konkrit dihasilkan dari mufakat kami demi terwujudnya masjid yang lebih baik. Diantaranya penempelan stiker persuasif yang menarik untuk gerakan berinfaq usai memakai kamar mandi masjid.

Jumat, 04 November 2016

Pesona Tanjung Papuma

Tantangan ODOP minggu ini adalah mendeskripsikan sebuah tempat beserta gambarnya. Namun deskripsinya tanpa disertai gambar karena susahnya memasang foto diblog dengan menggunakan ponsel sedangkan laptop sudah wassalam. (sudah sering otak-atik tapi tetap nihil, mungkin saya yang gaptek, hehe).

Sekitar 3 tahun yang lalu saat masih menjadi mahasiswa aktif, saya dan teman pengurus asrama berkunjung ke kediaman temen-temen pengurus untuk bersilaturahim yang berada di jalur Malang-Banyuangi. Perjalanan kami ditempuh dengan touring alias motoran. Selain itu kami berkunjung ke berbagai objek wisata terdekat.

Salah satu tempat wisata yang sangat menarik untuk dideskripsikan yaitu Pantai Tanjung Papuma. Kata papuma berasal dari kata akronim pasir putih malikan. Sesuai dengan namanya pantai tanjung papuma adalah penjorokan daratan ke laut dengan pesona pasir putih.

Tanjung Papuma adalah salah satu kawasan wisata unggulan Kabupaten Jember yang terletak kurang-lebih 40 km sebelah selatan kota Jember. Tempat ini terletak di Desa Lojejer Kecamatan Wuluhan.

Menggunakan kendaraan pribadi, baik mobil maupun motor, perjalanan kesana memerlukan waktu antara 60 hingga 90 menit dari Kota
Jember, lima sampai enam jam dari Surabaya atau Malang, dan tujuh sampai delapan jam dari Denpasar Bali.

Pantai yang berlokasi di kabupaten jember ini menawarkan panorama yang sangat menawan. Sepanjang jalan menuju kawasan pantai, pengunjung akan disuguhi pemandangan persawahan yang hijau nan berhawa segar. Ketika hampir tiba dilokasi, jalanan berbukit akan kita lewati ditemani lambaian dedaunan pohon jati di kanan kiri jalan.

Pesona pantai yang menghadap langsung ke lepas pantai selatan jawa ini menawarkan sensasi liburan ala anak pantai. para pengunjung bisa mandi ditepi pantai yang sudah diberikan penanda batas aman. Selain itu permainan gokart, perkemahan, plus bakar-bakar ikan menjadi fasilitas yang paling diminati.

Kondisi hutannya juga masih asri dan terawat dengan baik. Aneka ragam binatang liar juga dapat dijumpai ditempat ini seperti monyet, biawak dan sebagainya.

Disisi barat terhampar batu-batu hitam, hijau dan putih beraneka ragam bentuk. Keunikan inilah yang membuat pantai Tanjung Papuma berbeda dengan pantai-pantai didaerah lain.

#OneDayOnePost
#25thDay
#Batch3
#NoDayWithoutWriting



Kamis, 03 November 2016

Untuk hari Jumat

Bagi umat islam Jumat merupakan hari yang paling istimewa dibandingkan hari-hari lainnya. Banyak hadist yang menjelaskan fadilah atau keutamaan hari yang juga disebut dengan sayyidul ayyam ini. Bahkan Allah azza wa jalla telah menjadikannya nama sebuah surah didalam firman-Nya yang suci. 

Orang-orang beriman berlomba-lomba untuk mendapatkan pahala sebanyak-banyaknya dihari tersebut dengan melaksanakan berbagai ibadah sesuai kadar kemampuan masing-masing. Tak hanya ibadah mahdhah saja yang ditingkatkan guna memuliakan hari jumat seperti wudhu' shalat, membaca Al-Quran,  dan sebagainya, namun ibadah ghairu mahdhah seperti dzikir, memperbanyak bershadaqah juga dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan akan datangnya hari mulia ini.

Berbicara cara menghormati datangnya sayyidul ayyam, masyarakat melakukannya dengan cara yang berbeda-beda sesuai tingkat kemampuannya. Di daerah saya ada beberapa orang yang mana bila datang jumat, mereka meliburkan diri untuk bekerja, seperti penjual nasi jagung dan pecel. Penjual ini tak membuka warungnya pada malam jumat. Jika pada hari-hari lainnya dia berjualan mulai sore hingga 9 malam. Hal senada juga dilakukan oleh penjual jamu. Dia tak menutup rapat-rapat kedai jamunya tatkala jumat datang. 

Ada pula pemilik bengkel kecil. Dia tak mengoperasikan peralatan bengkel pada hari jumat.

Barangkali kita bertanya-tanya kenapa mereka melakukan hal tersebut? Padahal jika mereka tetap bekerja, hasilnya cukup lumayan karena hari minggu juga libur, menurut kacamata orang yang kontra dengan sikap seperti itu.

Bila kita melihat prinsip para penjual tadi dengan kacamata husnudzon, tentu decak kagum yang akan keluar dari mulut. Kita pasti berprasangka bahwa mereka rela dan ikhlas tak meraup rupiah demi menghormati hari jumat dan agar bisa lebih leluasa beribadah kepada Allah. 

Sedikit sekali celah untuk mengatakan bahwa mereka ingin disanjung dan mendapat tempat dimata manusia. Mengapa demikian? karena mereka rakyat kecil. Bagi mereka, sanjungan dan pujian manusia bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan materi. Mereka lebih membutuhkan itu. Namun Sanjungan dan ridha Rab tetap diatas dari segala bentuk materi apapun. 

Ada lagi satu keteladanan yang patut ditiru dalam rangka menghormati hari jumat. Dan kisahnya akan dilanjutkan pada tulisan berikutnya. 

#OneDayOnePost
#24thDay
#Batch3
#NoDayWithoutWriting

Rabu, 02 November 2016

Malu

"Ingat nak sekolah itu penting, ibu masih kuat membiayai" nasihat Bu Siska pada Joni. "aku mau tetap sekolah asalkan dibelikan motor matic baru, aku malu Bu pake motor butut itu, titik"sergahnya. Dengan menahan nafas dalam, perempuan berkulit sawo matang itu mengiyakan permintaan anaknya.

Bukan tanpa alasan Bu siska mau membelikan matic. Hampir setiap hari si Joni mengeluh dan merengek pada ibunya agar dibelikan motor baru. Siswa yang baru duduk di kelas 1 SMA ini sudah tak sanggup menahan malu memakai motor tahun 90 an. Setiap hari dia diejek oleh teman-teman sekolahnya. Suara motornya jadi bahan ejekan terpedas saat motornya berjalan. Joni tak mampu mengelak ejekan itu. Maklum sekolahnya adalah SMA favorit. Mayoritas yang belajar dari kalangan menengah ke atas.

Kardi sang ayah yang bekerja sebagai pedagang sayur juga mengendarai motor yang tak kalah butut dengan motor Joni. Demi mewujudkan impian anaknya, dengan sangat terpaksa kedua motor butut tersebut dijadikan satu alias dijual. Namun hasil dari penjualan itu juga belum cukup. TV pun dilirik untuk menutupi kekurangan tersebut.

Akhirnya motor bisa dibeli dengan segenap jerih payah demi si siswa manja. Tak ayal banyak tetangga yang mencibir si Joni. Namun setiap kali Bu Siska mendengar ucapan tentang si Joni, ucapan bijaknya selalu membungkap mulut tetangganya.

Pak Kardi terpaksa harus mengayuh sepeda untuk berjualan sayuran ke pasar. Jarak belasan kilometer harus ditempuhnya setiap hari. Dan setiap rasa letih dan pegal melanda, ayah dua anak tersebut selalu berharap semoga kelak pengorbanannya tak berakhir sia-sia.

Di suatu siang yang terik, dengan nafas terengah-engah Joni menghampiri ibunya. "Ada apa Jon? Apa sebenarnya yang terjadi? Kamu tidak apa-apa nak?cepat cerita sama ibu". Tanya Bu Siska terheran-heran.

"Alhamdulillah Bu, barusan saya selamat dari Begal" jelas Joni singkat. Seketika itu ibunya langsung bersujud syukur dan menengadahkan tangan seraya mengucapkan rasa syukur. Ibu rumah tangga itu tak henti-hentinya mengucap ungkapan syukur.

Aksi begal memang kerap terjadi khususnya di jalan menuju ke sekolahnya. Bulan lalu ada siswa yang dibegal dan terkena bacokan dibahunya akibat melawan upaya perampasan motor miliknya. Untunglah siswa tersebut ditolong oleh pengendara lain yang sedang melintas.

Sejak saat itu Joni sadar bahwa hampir saja dia celaka dan kehilangan motor hasil keringat orang tuanya akibat tak menggubris saran ibunya agar jangan membawa matic ke sekolah. Akhirnya Joni mau memakai sepeda kayuh ayahnya. Dia ingin turut merasakan letihnya mengayuh sebuah sepeda seperti yang selama ini ayahnya lakukan untuknya. Joni heran pada dirinya kenapa dia harus malu hanya karena mengendarai sebuah motor tua.

#OneDayOnePost
#23thDay
#Batch3
#NoDayWithoutWriting





Selasa, 01 November 2016

Tulislah

Sampai minggu ke-4 ini, saya masih merasakan betapa susahnya memulai untuk menulis. Hanya sekadar mencari ide saja terkadang membutuhkan waktu 30 menit lebih. Dan terkadang pula sampai tertidur. Dari sini saya sadar bahwa keahlian menulis itu tak datang begitu saja. Perlu kerja keras dan konsistensi tinggi untuk tetap menulis dan menghasilkan karya.

Melihat semangat teman-teman di grup ODOP batch 3 yang senantiasa bersemangat untuk selalu aktif menulis
baik itu fiksi, artikel, puisi, atau bahkan curhatan, membuat saya semakin greget dan menyesal jika dalam sehari saja tak mampu menyelesaikan sebuah tulisan. Oleh sebab itu saya berusaha belajar dari tulisan teman-teman khususnya para senior dan CEO ODOP Bang Syaiha. 

Ketika saya merasa kesulitan untuk memulai menulis, karena merasa tak yakin, saya ingat pesan yang pernah disampaikan di grup bahwa menulislah dari hal-hal yang ringan. Berangkat dari statemen tersebut saya mencoba menerapkannya seperti pada tulisan ini. 

Maka sesungguhnya sayang sekali jika setelah lama berpikir mencari ide dan setelah mendapatkannya lalu diabaikan karena merasa jika ide tersebut tak berbobot dan sudah terlalu umum seperti yang sering saya lakukan. 

Apa yang ada dalam pikiran saya tuangkan dalam bentuk tulisan. "Tulis saja secara mengalir, jangan dihiraukan dulu, setelah selesai, cobalah baca ulang dan editlah" ini juga strategi dari para senior.

Tips yang tak kalah pentingnya adalah jika ingin hasil tulisanmu semakin berkualitas maka tidak hanya sering berlatih menulis saja tapi juga WAJIB AIN memperbanyak membaca. Ini adalah sebuah jalan yang harus dilewati untuk menjadi seorang penulis handal.


Tentu ada masih banyak lagi tips dan saran dari grup ODOP yang perlu bahkan harus dijadikan pedoman dalam sebuah kepenulisan. So, menulislah dengan hati dan jangan berharap apa-apa dari tulisan tersebut. Biarkan ia mengalir dan membuat sejarahnya. 


Minggu, 30 Oktober 2016

Perbedaan Kemampuan Individu


1. Pengertian Intelegensi
Secara Etimologis
Intelegensi berasal dari
bahasa
Inggris “Intelligence” yang
juga bersalal dari bahasa
Latin yaitu “Intellectus dan
Intelligentia”. Teori tentang
intelegensi pertama kali
dikemukakan oleh
Spearman dan Wynn Jones
Pol pada tahun 1951.
Spearman dan Wynn
mengemukakan adanya
konsep lama mengenai
suatu kekuatan (power)
yang dapat melengkapi akal
pikiran manusia tunggal
pengetahuan sejati.
Kekuatan tersebut dalam
bahasa Yunani disebut
dengan “Nous”, sedangkan
penggunaan kekuatannya
disebut “Noeseis”.
Ensiklopedia Indonesia,
Intelegensi adalah keahlian
memecahkan masalah dan
kemampuan untuk
beradaptasi pada, dan
belajar dari, pengalaman
hidup sehari-hari.
Dictionary of Psychology
Menurut JP Chaplin, 1975,
Intelegensi adalah:
1. Kemampuan
beradaptasi dan
memenuhi tuntunan
situasi (lingkungan) yang
kita hadapi dengan cepat
dan efektif.
2. Kemampuan
menggunakan konsep-
konsep abstrak secara
efektif.
3. Kemampuan
memahami hubungan
dan mempelajarinya
secara cepat.
Menurut beberapa Ahli
1.Alfred Binet
tokoh perintis
pengukuran intelegensi
mendefinisikan
intelegensi terdiri dari
tiga komponen, yaitu
a) Kemampuan
untuk mengarahkan
pikiran dan
tindakan
b) Kemampuan
untuk mengubah arah
tindakan
setelah
tindakan
tersebut
dilaksanakan
c) Kemampuan
untuk
mengkritik diri
sendiri atau
melakukan auto
criticism
2.David Wechsler
inteligensi adalah
kemampuan untuk
bertindak secara
terarah, berpikir secara
rasional, dan
menghadapi
lingkungannya secara
efektif. Secara garis
besar dapat
disimpulkan bahwa
inteligensi adalah suatu
kemampuan mental
yang melibatkan proses
berpikir secara
rasional. Oleh karena
itu, inteligensi tidak
dapat diamati secara
langsung, melainkan
harus disimpulkan dari
berbagai tindakan
nyata yang merupakan
manifestasi dari proses
berpikir rasional itu.
3.Waltres dan Gardnes
mendefinisikan
intelegensi sebagai
serangkaian
kemampuan-
kemampuan yang
memungkinkan individu
memecahkan masalah
atau produk sebagai
konsekuensi seksistensi
suatu budaya tertentu.
Secara garis besar dapat
disimpulkan bahwa
inteligensi adalah
a.Kemampuan untuk
berfikir secara
konvergen
(memusat) dan
divergen (menyebar)
b.Kemampuan
berfikir secara
abstrak
c. Kemampuan
berfikir dan
bertindak
secara terarah,
bertujuan, dan
rasional
d. Kemampuan untuk
menyatukan
pengalaman-
pengalaman
e. Kemampuan untuk
menggunakan apa
yang telah dipelajari
f. Kemampuan untuk
belajar dengan lebih
baik,
g. Kemampuan untuk
menyelesaikan tugas-
tugas yang sulit
dengan
memperhatikan
aspek psikologis dan
intelektual
h. Kemampuan untuk
menyesuaikan diri
dan merespon
terhadap situasi-
situasi baru
i. Kemampuan untuk
memahami masalah
dan
memecahkannya.
2. Faktor- faktor yang
Mempengaruhi
Perkembangan Intelegensi
1) Pembawaan ,
Pembawaan ditentukan
oleh sifat-sifat dan cirri
yang dibawah sejak lahir.
Batas kesangupan kita
yakni dapat tidaknya
memecahkan suatu soal,
pertama ditentukan oleh
pembawaan kita. Orang itu
ada yang pintar ada pula
yang bodoh. Sekalipun
menerima latihan dan
pelajaran yang sama,
perbedaan-perbedaan itu
masih tetap ada.
2) Kematangan , tiap organ
dalam tubuh manusia
mengalami pertumbuhan
dan perkembangan. Tiap
organ (fisik maupun non
fisik) dapat dikatakan telah
matang jika telah mencapai
kesangupan menjalangkan
fungsinya masing-masing.
Anak tidak dapat
memecahkan soal-soal
tertentu karena soal-soal
itu masih terlampau sukar
baginya. Organ-organ
tubuhnya dan fungsi-fungsi
jiwanya masih belum
matang untuk mengenai
soalitu dan kematangan
erat hubungannya dengan
umur.
3) Pembentukan,
pembentukan ialah segala
keadaan diluar diri
seseorang yang
mempengaruhi
perkembangan intelegensi.
Dapat kita bedakan
pembentukan sengaja
seperti yang dilakukan
disekolah-sekolah) dan
pembentukan tidak sengaja
(pengaruh alam sekitar)
4) Minat dan pembawaan
yang khas, Minat
mengarahkan perbuatan
kepada suatu tujuan dan
merupakan dorongan bagi
perbuatan itu. Dalam diri
manusia terdapat dorongan
– dorongan(motif-motif)
yang mendorong manusia
untuk berinteraksi dengan
dunia luar. Motif
menggunakan dan
menyelidiki dunia luar
( manipulate and exploring
motivasi ) dari manipulasi
dan eksplorasi yang
dilakukan terhadap dunia
luar itu, lama kelamaan
timbulah minat terhadap
sesuatu, apa yang mereka
minat seseorang
mendorongnya untuk
berbuat lebih giat dan lebih
baik
5) Kebebasan , kebebasan
berarti bahwa manusia itu
dapat memilih metode-
metode yang tertentu
dalam memecahkan
masalah-masalah.
Manusia mempunyai
kebebasan memilih metode
juga bebas dalam memilih
masalah sesuati dengan
kebutuhannya. Dengan
adanya kebebasan ini
berarti bahwa minat itu
tidak selamanya menjadi
syarat dalam pembentukan
intelegensi. (Dalyono,
2007.)
3. Ciri-Ciri Intelegensi
Ciri-ciri intelegensi yaitu :
1) Intelegensi
merupakan suatu
kemampuan mental
yang melibatkan
proses berfikir
secara rasional
(intelegensi dapat
diamati secara
langsung).
2) Intelegensi
tercermin dari
tindakan yang
terarah pada
penyesuaian diri
terhadap lingkungan
dan pemecahan
masalah yang timbul
daripadanya.
4. Ciri-Ciri Tingkah Laku
Intelegensi
Ciri – ciri tingkah laku
yang intelegen menurut
Effendi dan Praja (1993):
1) Purposeful
behavior, artinya
selalu terarah pada
tujuan atau
mempunyai
     tujuan yang
jelas.
2) Organized
behavior, artinya
tingkah laku yang
terkoordinasi,
senua tenaga dan
alat – alat yang
digunakan dalam
suatu pemecahan
masalah
terkoordinasi
dengan baik.
3) Physical well
toned behavior,
artinya memiliki
sikap jasmaniah
yang baik, penuh
tenaga,
ketangkasan, dan
kepatuhan.
4) Adaptable
behavior, artinya
tingkah laku yang
luas fleksibel, tidak
statis, dan kaku,
tetapi selalu siap
untuk mengadakan
penyesuaian/
perubahan
terhadap situasi
yang baru.
5) Success
oriented behavior,
artinya tingkah
laku yang didasari
rasa aman, tenang,
gairah, penuh
kepercayaan, akan
sukses/optimal.
6) Clearly
motivated behavior ,
artinya tingkah
laku yang
memenuhi
kebutuhannya dan
bermanfaat bagi
orang lain atau
masyarakat.
7) Rapid
behavior, artinya
tingkah laku yang
efisien, efektif dan
cepat atau
menggunakan
waktu yang
singkat.
8) Broad
behavior, artinya
tingkah laku yang
mempunyai latar
belakang dan
pandangan luas
yang meliputi sikap
dasar dan jiwa
yang terbuka.
5. Pengukuran Intelegensi
v Sejarah Pengukuran
Adapun sejarah
pengukuran inteligensi
yaitu pada abad XIV, di
negeri Cina, telah
berlangsung usaha
untuk mengukur
kompetensi para
pelamar jabatan
sebagai pegawai
negara. Untuk dapat
diterima sebagai
pegawai, para pelamar
harus mengikuti ujian
tertulis mengenai
pengetahuan Confucian
Classics dan mengenai
kemampuan menulis
puisi dan komposisi
karangan. Ujian ini
berlangsung sehari
semalam lamanya di
tingkat distrik. Kurang
dari 7% pelamar yang
biasanya lulus di
tingkat lulus ujian di
tingkat distrik tersebut
harus mengikuti ujian
berikutnya yang berupa
kemampuan menulis
sajak puisi dan prosa.
Dalam ujian kedua ini
hanya kurang dari 10%
dari sisa peserta yang
dapat lulus. Akhirnya
barulah ujian tingkat
akhir diadakan di
Peking dimana
diantara para peserta
terakhir ini dapat
diangkat menjadi
mandarin dan boleh
bekerja sebagai
pegawai negara.
Dengan demikian, dari
ketiga tahap ujian
tersebut, hanya 5
diantara 100.000
pelamar saja yang pada
akhirnya dapat
mencapai Status
mandarin (Djphie’s
Blog).
Tidaklah jelas jenis
pekerjaan kantor apa
saja yang dapat
dipegang oleh para
lulusan yang telah
berstatus mandarin itu.
Apabila status
mandarin itu
merupakan semacam
lisensi untuk bekerja di
mana saja pada jenis
pekerjaan apa saja,
tentulah mata ujian
yang berupa
pengetahuan sastra dan
kemampuan menulis
prosa tidak merupakan
prediktor prestasi yang
cukup baik.
Diferensiasi
kemampuan pada jenis
pekerjaan yang
berbeda tidaklah dapat
dilakukan dengan
hanya mengujikan satu
bidang kemampuan
saja. Apabila pekerjaan
yang dapat dimasuki
oleh para mandarin itu
memang pekerjaan
yang menuntut
pengetahuan luas
mengenai sastra dan
kemampuan
mengarang, maka
sebenarnya apa yang
dilakukan oleh para
penguasa di Cina waktu
itu dapat dikatakan
telah sesuai dengan
prinsip pengukuran
yang berkembang lebih
akhir dan masih
dipegang sampai
sekarang ini. Baru pada
awal abad XIX ujian
semacam itu mulai
dihilangkan sejalan
dengan pesatnya
kemajuan universitas-
universitas.

Jumat, 28 Oktober 2016

PR: Perlu atau Tidak?

Mengapa harus ada PR untuk siswa SD? Sedemikian pentingkah PR itu? Apa ya manfaat mengerjakan tugas PR bagi mereka? Pertanyaan-pertanyaan itu tiba-tiba muncul di benakku setelah selesai mendampingi saudara sepupu yang sedang duduk di bangku SD mengerjakan seabrek PR sekolahnya. Kuperhatikan baru kali ini dia sangat kelelahan. Setelah kutanyai, dia bilang ada banyak PR yang wajib selesai malam ini karena besok harus dikumpulkan. Intinya "SKS" harus dilewati oleh anak sekecil itu. "Kalau ukuran mahasiswa mah udah biasa" inget omongan temen saat masa-masa kuliah.

Dari situ saya mulai paham mengapa menteri pendidikan berwacana meniadakan "PR" bagi siswa. Saya pribadi sangat setuju dengan wacana ini. Mereka para siswa sudah sangat lelah belajar berjam-jam disekolah, belum lagi sebagian dari mereka ada yang mengikuti MADIN (Madrasah Diniyah), TPQ, membantu pekerjaan orang tua dan lain sebagainya. Maka bertambah sempurnalah kejenuhan yang harus mereka pikul ketika PR menuntutnya untuk diselesaikan.

Namun jika wacana ini benar-benar terjadi, peran orang tua dalam membantu dan mengontrol perkembangan anaknya akan berkurang secara signifikan. Mengingat para orang tua biasanya akan mendampingi dan mengajari putra-putrinya belajar jika membawa ada PR. Pendampingan dan pengajaran tersebut akan terlaksana jikalau orang tua mereka memiliki background pendidikan yang cukup setidaknya lulusan SMP. Namun jika tidak, apa lagi kondisi ekonomi yang pas-pasan, maka bisa ditebak apa yang akan dilakukan kebanyakan orang tua.

Terlepas dari pro-kontra tugas PR bagi Siswa, perlu diuji-cobakan lalu disosialisakan secara menyeluruh mengenai manfaat dan antisipasi celah-celah negatif dari sebuah program. Dan kita sebagai individu sudah sepatutnya berbuat semampu kita untuk mendukung program pemerintah.

#OneDayOnePost
#20thDay
#OdopBatch3
#NoDayWithoutWriting





Kamis, 27 Oktober 2016

Buku yang Paling Berkesan

Tantangan Odop minggu ini adalah menulis tentang buku yang paling berkesan. Saya pun teringat dengan buku yang berjudul "anak kecil yang mengubah dunia" karya M.Iqbal Dawami. Ada sebuah kisah inspiratif yang patut ditiru dalam buku ini.

Dikisahkan di sebuah sekolah seorang guru memberikan tugas kepada murid-muridnya. Salah satu murid bernama Trevor McKinney membuat sebuah rancangan percobaan. Dengan percobaan tersebut, dia berharap dapat mengubah dunia, sebab dunia dalam pandangannya sudah terlalu sakit.

Percobaan tersebut yaitu melakukan kebaikan kepada 3 orang disekitarnya, lalu ketiga orang tersebut meneruskan kebaikan yang mereka terima itu dengan melakukan kepada 3 orang lainnya dan begitu seterusnya. Trevor menamakan ide tersebut sebagai "Pay it Forwad".

Murid itu memilih 3 orang yang akan menjadi bahan eksperimen adalah mamanya sendiri, seorang pemuda gembel yang selalu dilihatnya di pinggir jalan, dan seorang teman sekelas yang selalu diganggu oleh sekelompok anak nakal.

Ketika ketiga orang tersebut mendapatkan kebaikan dan mengucapkan terima kasih, Trevor berpesan Pay it forward. Dan ketiga orang tersebut pun meneruskan kebaikan kepada orang lain seraya berpesan "Pay it forwatd".

Singkat cerita rangkaian ide kebaikan tersebut sampai pada seorang wartawan TV. Sang wartawan pun tergerak untuk menelusuri dari mana istilah itu bermula. Dan akhirnya terkuaklah bahwa sang penggagas ide cemerlang itu berasal dari seorang bocah kecil, dan sang wartawan pun mengundangnya dalam sebuah acara televisi sehingga semakin tersebar luaslah aksi "Pay it forward" ke seluruh dunia.

Anak sekecil itu sudah bisa menebar kebaikan dengan idenya yang begitu brilian. Lalu apa yang sudah kita berikan untuk dunia ini? Kenapa kita masih ragu menebarkan kebaikan disekeliling kita? Kenapa kita masih berpikir balasan atas kebaikan yang telah kita berikan?

Itulah alasan mengapa kuanggap buku tersebut paling berkesan. Selain itu masih banyak kisah inspiratif lain yang dikisahkan dalam buku yang mendapat predikat "best seller" itu. Semoga kita bisa mengambil hikmah dan menerapkannya dalam keseharian kita. Amin.

#OneDayOnePost
#19thDay
#OdopBatch3
#NoDayWithoutWriting



Rabu, 26 Oktober 2016

Penuhi Hak Mereka

Jika kau ingin nasibmu bak raja, perlakukan orang tuamu seperti raja. Tentu kita sepakat  dengan pernyataan ini. Tak ada yang perlu diperdebatkan.

Sekadar pengingat, seorang ibu telah mengandung kita selama 9 bulan, melahirkan dengan penuh kepayahan dan rasa sakit, bahkan seandainya maut menjemputnya, gelar syahidah berhak disandangnya. Sedangkan ayah tak kenal lelah bermandikan keringat demi mendapatkan penghidupan yang layak untuk anak-anaknya.

Semua perjuangan telah dilakukan oleh orang tua tanpa pamrih. Maka tak pantaskah mereka mendapatkan kemuliaan dan perhatian dari putra-putrinya? Tak pantaskah SEANDAINYA mereka menuntut sedikit sesuatu dari jerih payah anaknya? Namun kenyataannya mereka hanya berharap kehidupan anak-anaknya lebih baik dari mereka, tak lebih. Kasih mereka tak berujung, tak sama dengan anak-anaknya. Seperti pepatah mengatakan kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah.

Dikisahkan bahwa ada seorang shalih yang mengatakan bahwa seluruh hartanya adalah juga milik orang tuanya. Beliau mengatakan pada orang tuanya jika orang tuanya memiliki hak yang sama pada seluruh  hartanya. Orang tuanya bebas menggunakan seluruh hartanya tanpa ada batasan. Sehingga segala bisnisnya semakin maju.

Tidak pernah terdengar ada seseorang yang hidupnya mapan sedangkan nasih orang tuanya ditelantarkan. Kalaupun ada, hal itu tak akan lama. Doa dan ridha mereka turut menentukan pula nasib kita kelak di akhirat. Sebaliknya seseorang tak akan hidup susah jika senantiasa memperhatikan kondisi orang tuanya. Lalu kenapa masih ada saja orang yang tega berbuat acuh tak acuh terhadap orang tuanya?

#OneDayOnePost
#Batch3
#18thDay
#NoDayWithoutWriring

Selasa, 25 Oktober 2016

Mengukir Asa


Tangan yang dahulu tak bisa menggapai

Gejolak hati yang semakin menjadi

Rayuan nafsu yang berapi-api

Jiwa yang selalu dihiasi kebimbangan semu

Buaian mimpi yang selalu beradu

Deburan pertentangan yang selalu bergemuruh

Kini satu-persatu mulai terlepas

Bagai rantai usang yang terkelupas

Merangkak ke hulu
kesuksesan yang menghempas

Semangat membara pun mengakar ke sekujur tubuh

Mendarah daging menyatu dalam kalbu

Mencipta asa dalam juang

Bak prajurit perang menabuh genderang

Senin, 24 Oktober 2016

Kekuatan Cita-cita

Jika burung terbang dengan sayapnya maka manusia terbang dengan cita-citanya. Kalimat ini selalu diingat oleh Sikun, anak seorang buruh tani yang masih duduk di bangku SMP. Walaupun kondisi ekonomi orang tuanya sangat dirasa jauh dari kata cukup, Sikun tetap yakin bahwa ia bisa menggapai cita-citanya. Ia memiliki prinsip bahwa terlahir dalam keadaan miskin adalah sebuah takdir dan hidup dalam lingkaran kemiskinan adalah sebuah kemalasan.

Setiap hari ia harus menempuh jalan kaki sejauh 5 km untuk sampai sekolahnya. Ia bangun dan berangkat pagi-pagi agar tiba di sekolah tepat waktu. Tak ada kendaraan umum yang melintas didesanya. Namun seandainya ada, Sikun tak akan menggunakannya mengingat ia tak pernah membawa uang jajan ke sekah. Perjalanan ke sekolah yang begitu jauh membuat Sikun melepas sepatunya alias berjalan tanpa alas kaki agar sepatutnya tidak cepat rusak.

Selepas pulang sekolah, ia habiskan waktunya dengan  belajar. Ia belajar tak kurang dari 5 jam setiap hari, 2 jam di siang hari dan 3 jam di malam hari. Orang tuanya tak mengizinkan sikun untuk membantu pekerjaannya dengan alasan agar sikun bisa fokus belajar dengan baik. Bahkan Ibu nya selalu menemaninya belajar meskipun beliau tak dapat membantunya. Ibunya selalu menyuguhkan teh hangat bercampur jahe setiap sikun belajar khususnya di malam hari. Perhatian yang besar inilah yang membuat sikun semakin semangat belajar. Ia tak ingin mengecewakan harapan orang tuanya. Semangat belajarnya seakan tak pernah surut.

Alhasil, setiap pembagian rapor, Sikun selalu mendapat ranking pertama sehingga ia mendapat keringanan tidak membayar tagihan SPP. Bahkan disaat wisuda SMP ia dinyatakan sebagai peraih nilai UN terbaik tingkat provinsi. Atas prestasinya itu, pemerintah setempat memberikan beasiswa penuh untuk menjamin keberlangsungan pendidikan bagi Sikun.

Sabtu, 22 Oktober 2016

Gus Dur; Sang Guru Bangsa Sepanjang Masa (3)

Gus Dur Sebagai Presiden
Sosok Gus Dur yang cenderung vokal dan
cukup mumpuni dalam menganalisis kehidupan politik pada masa Orde Baru
telah membuat beliau dianggap sebagai ancaman politik. NU yang dipimpinnya
telah berubah menjadi organisasi Islam yang lebih intelek dengan massa yang
besar kala itu. Percobaan menggembosi efek karakter Gus Dur dalam tubuh NU
pernah dilakukan pemerintah rezim Orba, namun hasilnya nihil.
Penghormatan kalangan NU terhadap keluarga Hasyim Asy’ari yang tinggi, terlebih dengan kegeniusan seorang Gus Dur, dan beliau layak menerimanya.

Ketika masa reformasi berkibar, nama Abdurrahman Wahid menjadi cukup popular. Beliau menjadi salah satu dari sekian tokoh yang kritis dalam mencermati kebobrokan dan pengkhianatan rezim Orba.
Kepopulerannya berlanjut dengan hadirnya PKB, alhasil beliau naik tahta presiden menggantikan masa Habibie
yang singkat, dengan didampingi Megawati Soekarnoputri. Kebijakan beliau yang popular ketika
pemerintahannya adalah penghapusan UU deskriminasi terhadap etnis Cina Indonesia, dan pembubaran Departemen
Penerangan yang dianggap telah memasung kebebasan pers Indonesia.

Hal ini disambut baik, dan ini
membuktikan bahwa Gus Dur memiliki management situasi yang sangat baik.
Memang siapa saja yang duduk sebagai presiden kala itu harus membuat
perubahan bila tidak ingin dinilai mandul fungsi ketika negara sedang panas dengan api perubahan. Namun hal tersebut cukup berarti dan
dibutuhkan seorang yang cukup berani untuk memulainya. Gus Dur akhirnya diminta mundur MPR karena kondisi kesehatan beliau dan tuduhan korupsi yang tidak cukup jelas adanya, digantikan oleh Megawati.
Penentangan terhadap mundurnya Gus Dur sebagian besar didasarkan bahwa ada pihak tertentu yang ingin menghalangi pembaharuan yang dipiloti
Gus Dur. Mundurnya Gus Dur dari kursi presiden
tidak dengan senantiasa meleburkan popularitasnya.

Terbukti sosok nyentriknya yang cenderung lucu namun cerdas, telah membuatnya selalu diingat dan dihormati tidak hanya dari kalangan NU. Wataknya yang terlihat
selalu ingin mendapat perhatian tidak pernah menjadi kekurangan beliau
karena dasar bersikapnya yang lugas, mengedepankan kebebasan dan kejujuran dalam toleransi sangat
dibutuhkan bangsa ini secara nyata.

Gus Dur dan Pandangannya tentang Islam Modern

Berbeda selalu menjadi poin yang baik dalam menonjolkan diri ditambah
keuntungan menempatkan perilaku yang mudah sesuai keinginan. Mungkin hal
itulah rumus enteng untuk menjadi tenar secara mudah apabila kita siap dikatakan orang aneh. Dengan sedikit
peluang ada orang cerdas yang kagum akan pilihan hidup kita. Saya selalu
berpedoman bahwa watak dan sikap adalah pilihan hidup dan jati diri hanyalah pandangan orang lain tentang pilihan hidup kita. Akan tetapi pilihan bersikap Gus Dur terhadap perkembangan dunia Islam tidak sama sekali terlihat sebagai sikap pecundang
dungu yang siap dikatakan aneh.

Mulai dari sini saya tidak akan memandang Gus Dur sebagai seorang munafik, yang pandai memanipulasi
peluang demi kepentingan yang tidak terlalu jelas. Namun akan ada pujian
mulia untuk beliau karena saya yakin kehormatan dan kejayaan dien yang suci
ini ada pada pemikiran yang
berwawasan sangat jauh ke depan seperti pada pemikiran beliau. Dalam
hal ini tentu saja pandangannya tentang
penentangan Islam radikal. Artikel “Islam Benar lawan Islam Salah” yang diterbitkan Jurnal Wall Street tahun
2005 merupakan perwujudan pemikiran liberal Gus Dur yang sangat baik untuk
dimunculkan.

Gus Dur yang dikenal sebagai
negarawan berlatarkan Islam di Indonesia telah dengan lugas memunculkan ide tersebut. Bagaimanapun juga fanatisme agama yang keterlaluan tidak akan baik sama sekali bagi dunia dan bangsa ini. Apalagi apabila terdapat pihak yang dengan sangat mudah mengambil
keuntungan dari konflik berlatarkan agama (pihak Barat yang lebih dulu kaya
dan maju). Atau malah para terrorist yang mengaku Islam taat itu dikomandoi oleh pihak bukan Islam untuk politik pecah belah. Kita tidak tahu Masyarakat Islam jelas mengalami ketertindasan. Jelas lebih mudah menghajar muka orang lalu kabur dengan perasaan tidak bersalah. Namun mengalahkan musuh dengan jantan dan pulang dengan perasaan tidak bersalah yang sesungguhnya lebih memuaskan.

Kaum fundamentalis Islam di dunia dengan jelas telah mengatakan “kami ummat muslim sedunia telah mengalami ketidakadilan”. Cukup di situ saja fungsi
terorisme terhadap Barat. Jangan sampai merusak dan merugikan seperti di negara kita. Kini tiba saat untuk
bersaing secara jantan dengan mengedepankan pluralitas. Dan saya yakin Gus Dur pasti tahu hal ini.
Mungkin gagasan “Islam Benar dan Islam Salah” akan memicu perpecahan yang sangat menguntungkan pihak Barat. Namun apabila pemahaman telah didapatkan dengan baik oleh setiap muslim, maka hal itu akan menjadikan muslim Indonesia berkarakter yang
maju secara elegan dan tetap berpegang terhadap kejayaan dien yang suci ini.
Tentu saja hal ini akan jauh lebih baik daripada semua muslim menjadi terrorist brutal karena saat itu kita jelas salah. Saya kira hal ini cukup sederhana. Sangat sulit apabila kita terpecah namun alangkah lebih mudah apabila kita menjadi orang baik terlebih dahulu.
Gus Dur adalah salah satu tokoh yang menginspirasi kehidupan banyak orang
termasuk saya.

Bagaimanapun juga keberanian untuk berbeda adalah modal untuk berani menjadi yang terbaik. Dan
karakter unik yang tangguh akan melampaui keunggulan karakter umum yang paling sempurna sekalipun.

Jumat, 21 Oktober 2016

Gus Dur; Sang Guru Bangsa Sepanjang Masa (2)

Berpenampilan Sahaja Dan Sederhana
Penampilan GusDur yang bersahaja, bersahabat, dan berbicara santai apa adanya, telah banyak memberikan
inspirasi bagi berbagai pihak. Dalam setiap pertemuan formal ataupun informal, Gus Dur selalu menyempatkan diri menyelipkan selingan kata-kata humor, sehingga bisa mencairkan suasana yang kaku menjadi rileks.

Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Surjono Hadi Sutjahjo, mengatakan, perjuangan Gus Dur dalam
mewujudkan keadilan dalam berbangsa dan bernegara harus dilanjutkan. Ia
mengatakan, selama hidup Gus Dur telah mengajarkan bangsa Indonesia mengenai banyak hal terkait mulai
hubungan agama (Islam) dengan negara, toleransi antar umat beragama hingga
persamaan hak sebagai warga negara.

Selain itu, Gus Dur juga mengajarkan pentingnya menghargai perbedaan
pendapat, menghilangkan diskriminasi berdasarkan ras dan agama serta mewujudkan kemandirian bangsa dalam arti luas. "Gus Dur telah memberikan
banyak pelajaran kepada bangsa ini.

Teladan yang telah ditunjukkannya harus dapat dilanjutkan oleh bangsa
ini," imbuh anggota tim ahli evaluasi program 100 hari SBY-Boediono. Surjono
yang juga ketua program studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan
Lingkungan (PSL) Pascasarjana IPB
menambahkan, Gus Dur juga telah memberikan teladan kepada bangsa ini berupa kesederahaan. Mesti menjadi
pemimpin besar dan pernah menjabat presiden, namun Gus Dur selalu menunjukkan kesederhanaan. Selain itu,
Gus Dur juga memiliki tipe pemimpin bekarakter. Tak ayal saat memimpin bangsa ini, mesti tengah dilanda situasi krisis multi dimensi, namun Gus Dur selalu mengedepankan kemandirian dalam mewujudkan pembangunan.
"Teladan dan perjuangan yang pernah dilakukan Gus Dur semasa hidup harus
dilanjutkan untuk mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran Indonesia secara berlelanjutan,"
ujarnya.

Terlepas dari berbagai kekurangan dan
keterbatasannya secara fisik, Gus Dur telah melakukan yang terbaik bagi bangsa dan negara Indonesia yang patut
diapresiasi. "Kita harus menjadi bangsa yang tahu cara berterima kasih kepada
jasa pemimpin. Kita tidak boleh menghilangkan atau melupakan sejarah, karena bangsa yang besar adalah
bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Gus Dur pernah berkata“Hal yang
tersulit bagi seseorang adalah meyakini apa yang telah diketahuinya”.

Seperti pemberitaan berbagai media massa, di penghujung tahun 2009 lalu,
bangsa Indonesia telah kehilangan mantan Presiden Republik Indonesia periode 1999-2001, KH. Abdurrahman Wahid, lebih akrab dipanggil GusDur, seorang tokoh nasionalis yang humanis dan humoris. Dari pemaparan media massa cetak maupun elektronika, dapat disimak bagaimana kiprah GusDur
sebagai bapak bangsa, saat memimpin negara ataupun ketika membesarkan
organisasi keumatan. Ada beberapa teladan utama, menurut opini pribadi,
yang terkesan tampak secara personal, dari kisah biografi GusDur sebagai panutan bangsa.

1. Hargai dan Hormati Setiap Perbedaan Ketika jaman pra reformasi, kebebasan berekspresi dalam kemajemukan adat, tradisi, ras, etnis, agama, agak terkekang pelaksanaannya, maka pada era GusDur
semua itu difasilitasi dengan mudah. Beliau selalu mengingatkan pentingnya
saling menghargai dan menghormati suasana perbedaan pruralisme
(kemajemukan) yang terdapat dalam lingkungan pergaulan bangsa. Sebagaimana spirit semboyan bangsa Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap dalam satu kesatuan bangsa.

2. Jangan Menyerah Pada Keadaan dan Keterbatasan
Teladan semangat GusDur, turut berpartisipasi aktif dalam kancah dunia
politik sampai mengantarkannya
menjadi kepala negara, ditengah keterbatasan fisik yang dialaminya,
merupakan rekor spesial dalam sejarah bangsa. Berarti, segala sesuatunya mungkin saja terjadi, bukan karena faktor kebetulan. Semuanya membutuhkan semangat, kerja keras, pantang mundur, untuk tidak menyerah pada keadaan dan tidak menyalahkan keterbatasan.

3. Katakan Sesuatu dengan Santai Penuh Humor Penampilan GusDur yang bersahaja, bersahabat, dan berbicara santai apa adanya, telah banyak memberikan inspirasi bagi berbagai pihak. Dalam setiap pertemuan formal ataupun informal, GusDur selalu menyempatkan diri menyelipkan selingan kata-kata humor, sehingga bisa mencairkan suasana yang kaku menjadi rileks. Segala ucapan dan limpahan rasa belasungkawa terdalam telah diwujudkan oleh segenap komponen bangsa. Semoga beliau mendapatkan tempat yang layak, sesuai amal budi baiknya kepada bangsa dan negara tercinta.

Setelah berpulangnya Gus Dur, akankah ada tokoh nasionalis yang bisa menjadi suri teladan spesial bagi perjalanan anak bangsa?. Usulan berbagai tokoh partai politik untuk menobatkan Gus Dur sebagai pahlawan nasional, patut ditindaklanjuti dengan
pertimbangan sikap arif dan bijaksana. Apalagi tanggal 02 Januari ini, pas momentumnya peringatan Hari Legiun Veteran Republik Indonesia. Karena jasa-jasa perjuangan para pejuang veteran tanah air ataupun tokoh nasionalis yang telah berjuang mempertahankan kehormatan bangsa perlu dihargai dan diteladani bersama. Unik bahkan ajaib, namun selalu relevan dengan kata kreatif apabila kita berbicara mengenai karakter Gus Dur. Cara pandang dan sosok beliau yang belum ada duanya di Indonesia, mungkin telah menjadikannya sebagai
manusia paling heboh. Entah beliau memilih menjadi berbeda atau tidak nyaman menjadi biasa, yang pasti beliau telah banyak memberi inspirasi bagi pemikiran yang lebih kreatif untuk kemajuan bangsa.

Gus Dur yang dibesarkan dalam keluarga intelektual religius Islam (NU) telah banyak mengenyam pengalaman dari studi keIslamannya. Beliau pernah bergaul dengan tokoh-tokoh Muhammadiyah Yogyakarta ketika masih bersekolah di Krapyak, menamatkan kuliah di Universitas Al Azhar Mesir, kemudian ke Universitas Baghdad Iraq, dan terakhir di Universitas McGill Kanada untuk pengkajian Islam. Pengalaman organisasi dalam tubuh NU, pergaulannya yang sangat luas dan kemampuannya untuk dapat berpikir unik dan cenderung efektif telah menempatkan beliau sebagai tokoh yang dihormati.

Kompensasi Sebuah Prestasi

Tahukah kamu dibalik prestasimu menyisakan orang-orang yang terenggut impiannya? Mungkin kita masih bertanya-tanya apa maksud pernyataan tersebut. Saya pun sempat bingung saat pertama kali mendengar itu. Saya masih ingat pernyataan itu disampaikan oleh Tutor materi IELTS saat mengikuti program pengayaan bahasa (PB) di ITB Bandung Mei lalu. Pernyataan itu dikutip dari sebuah kisah nyata penuh inspirasi. Saya lupa nama Tutor tersebut. Kurang lebih awal mula kisahnya seperti yang akan dipaparkan berikut ini.

Dulu ada mahasiswa ITB yang berasal dari Sragen Jawa Tengah namanya Zaky. Dia tak percaya bisa kuliah di kampus yang telah menelorkan banyak ahli dibidang teknologi ini. Selama berkuliah, dia tercatat sebagai mahasiswa yang memiliki nilai akademis yang sangat bagus. Saat semester 1 dia memperoleh IPK sempurna 4.00. Dia juga sempat mendapat beasiswa study Oregon State University dari pemerintah Amerika Serikat selama 2 bulan pada tahun 2008.

Selain brilian di bidang akademis, dia sering menjuarai berbagai kompetisi tingkat  nasional dan aktif diberbagai organisasi kemahasiswaan ITB.

Pencapaian-pencapaian prestasi tersebut membuat kawan-kawan kuliahnya kagum dan heran akan cara belajarnya. Mengingat selain aktif dalam kegiatan akademik, dia juga tercatat sebagai mahasiswa yang aktif di berbagai organisasi.

Sebenarnya dia juga heran kenapa bisa seperti itu karena gaya belajarnya tak jauh berbeda dengan yang lain. Namun ada sedikit perbedaan dalam aspek cara pandang terhadap orang lain  yaitu dia selalu menganggap atau menyangka kawan-kawannya selalu belajar tiap hari, rajin diskusi, dan aktif organisasi. Sehingga setiap hari dia belajar dan selalu mengevaluasi setiap matakuliah yang telah dipejarinya meski tidak ada tugas. Segala bentuk diskusi dan seminar akademik diikutinya. Sehingga tak heran prestasi akademiknya membuat kawan-kawannya menggelengkan kepala.

Namun akhirnya dia tahu bahwa kebanyakan kawan-kawannya tak melakukan jadwal belajar yang padat seperti yang dia sangkakan.

Menjelang kelulusan kampus banyak kawan-kawannya yang menanyakan apa rencananya setelah lulus. Ada kawannya yang nyeletuk, "Dibalik prestasi-prestasi yang telah kau raih menyisakan orang-orang yang terenggut impiannya. Ketika kau berhasil menjadi mahasiswa ITB berarti kau telah mengalahkan banyak orang yang ingin menjadi mahasiswa sepertimu. Ketika kau menjuarai berbagai kompetisi berarti kau telah mengalahkan banyak peserta lain. Pernahkah kau memikirkan perasaan mereka yang gagal meraih impiannya karena kamu yang meraih impian itu. Apa kontribusimu sebagai kompensasi rasa kekecewaan dari ribuan orang yang telah kau kalahkan?".

Dari pertanyaan itu dia tergugah hatinya untuk menciptakan banyak  lapangan pekerjaan untuk orang lain bukan malah mencari pekerjaan. Dia mendirikan serusahaan E-Commerce Indonesia
berbasis marketplace C2C yang berfokus pada
pemberdayaan Usaha Kecil Menengah (UKM).

Semoga kita pun bisa tergugah untuk senantiasa istiqamah menebarkan kebaikan dan manfaat kepada orang lain, tak peduli sekecil apapun itu. Dan itu dimulai dari lingkungan sekitar kita.

#OneDayOnePost
#15thDay
#Batch3
#KeepFighting

Kamis, 20 Oktober 2016

Profesionalisme

"Sial, lagi-lagi aku ditolak" gumam Sikun. Dia sudah berulang kali masuk-keluar kantor untuk melamar sebuah pekerjaan namun selalu gagal. Padahal dia yakin akan diterima diperusahaan itu.

Setelah merenung berjam-jam apakah gerangan yang telah membuatnya ditolak mentah-mentah, sikun ingat jika yang mengujinya adalah Paimo, kawan saat SMP. "seharusnya saya diterima, dia kan kawanku".

Akhirnya Sikun ingat jika kawannya itu sering dia bully. Pernah suatu ketika Sikun mendorongnya ke kubangan COMBERAN yang berada tak jauh dari area sekolah. Sikun kesal, pacarnya menaruh hati pada Paimo. Akibat ulahnya itu, Sikun harus menerima hukuman dijemur dibawah terik MATAHARI saat jam istirahat.

Dia bertekad mendatangi kawannya itu. "Sampai kapanpun aku gak bakalan diterima ditempat itu kecuali aku minta maaf pada Paimo" pikirnya.  Untaian kata-kata manis sudah dirangkainya untuk meluluhkan hati kawannya. Tak lupa dia membawa buah-buahan agar permintaan maafnya berjalan mulus.

Bagai api jauh dari panggang, ungkapan maafnya dibalas dengan kata-kata kasar oleh kawannya. "akhirnya kau sadar, pecundang, kenapa kau ditolak kerja disini, pernahkah kau berpikir gimana rasanya dibully" jelas paimo dengan muka penuh kebencian. "aku masih inget, kau pernah mendorongku ke comberan, sejak kejadian itu aku dijuluki manusia comberan, sekarang saatnya kau yang akan menyandang gelar itu, bodoh". Sikun diam seribu bahasa. Dia bingung harus berkata apa. Keringat dingin bercucuran membasahi pelipisnya.

"kamu tahu ayahku ketua asosiasi pengusaha dinegeri ini, aku akan pastikan kamu gak bakalan diterima diperusahaan manapun". Sambung paimo. Sikun bingung bukan kepalang mendengar kata-kata itu. Dia seolah digigit seribu KALAJENGKING disekujur tubuhnya. Dengan suara terbatah-batah sikun menanggapi "ba...ba... Baiklah kawan, kau berhak tak memaafkanku, aku pantas menerima ini, semoga bisnismu semakin maju, saya permisi".

Sikun pun langsung pulang ke rumahnya. Dia GALAU tingkat dewa. Dia tak habis pikir kawannya akan tega berbuat seperti itu. "tok...tok...tok... Assalamualaikum" suara itu membuyarkan lamunannya. Sikun tahu betul suara itu. Setelah pintu dibuka, Paimo berdiri dihadapannya. Kawannya itu langsung menjabat tangannya seraya mengucapkan "selamat kawan kau diterima di perusahaan kami". Sikun semakin bingung dengan ucapan kawan yang telah merendahkan harga dirinya itu. Akhirnya Sikun bisa mengerti  setelah dijelaskan panjang lebar bahwa itu adalah bagian dari tes perekrutan pegawai baru. Sikun sadar bila kawannya itu tak menaruh dendamnya padanya.

#OneDayOnePost
#TantanganOdop
#14thDay
#Batch

Rabu, 19 Oktober 2016

Gus Dur; Sang Guru Bangsa Sepanjang Masa (1)

Masih tergambar jelas dalam ingatan. Kita isak tangis dan gema takbir jutaan orang sebagai tanda penghormatan turut mengiringi kepulangan bapak pluralisme sejati ke haribaan sang pencipta.
Peristiwa tersebut terjadi 7 tahun silam tepatnya pada tanggal 30 Desember 2009. Mantan Presiden Republik Indonesia periode 1999-2001
tersebut tak lagi hadir di tengah-tengah kita, namun jasa-jasa- dan pemikirannya
selalu dikenang sepanjang zaman.

Kontroversial dan unik, namun selalu relevan dengan kata kreatif apabila kita
berbicara mengenai karakter seorang Gus Dur. Cara pandang dan sosok beliau
yang belum ada duanya di Indonesia, mungkin telah menjadikannya sebagai
manusia paling heboh. Entah beliau memilih menjadi berbeda atau tidak nyaman menjadi biasa, yang pasti
beliau telah banyak memberi inspirasi bagi pemikiran yang lebih kreatif untuk
kemajuan bangsa.

Gus Dur yang dibesarkan dalam keluarga intelektual religius Islam (NU) telah
banyak mengenyam pengalaman dari studi keIslamannya. Beliau pernah
bergaul dengan tokoh-tokoh
Muhammadiyah Yogyakarta ketika masih bersekolah di Krapyak, menamatkan
kuliah di Universitas Al Azhar Mesir, kemudian ke Universitas Baghdad Iraq,
dan terakhir di Universitas McGill Kanada untuk pengkajian Islam. Pengalaman organisasi dalam tubuh NU, pergaulannya yang sangat luas dan kemampuannya untuk dapat berpikir unik dan cenderung efektif telah
menempatkan beliau sebagai tokoh yang dihormati.

Mendiskusikan sosok seorang Gus Dur memang tak ada habisnya untuk
dikenang dan diteladani sepak terjangnya. K.H. Abdurrahman Wahid, nama lengkapnya adalah seorang
tokoh nasionalis yang humanis dan humoris. Puluhan gelar telah
disandangnya, baik dari dalam negeri atau mancanegara. Kiprahnya dalam kancah perpolitikan membawa perubahan yang sangat berarti dalam
kemajuan bangsa ini.
Bertepatan dengan momentum 7 Tahun
wafatnya seseorang yang memiliki julukan ad-Dakhil atau sang penakluk ini, banyak memori yang perlu dikenang dan diteladani oleh kita sebagai penerus tonggak perjuangan bangsa tercinta ini.

Ada beberapa suri teladan utama dari seorang gus dur yang patut kita teladani dan aplikasikan dalam mengarungi kehidupan ini, yakni: Menghargai setiap perbedaan Ketika jaman pra reformasi, kebebasan berekspresi dalam kemajemukan adat, tradisi, ras, etnis, agama, agak terkekang pelaksanaannya, maka pada era GusDur semua itu difasilitasi dengan mudah.

Beliau selalu mengingatkan pentingnya saling menghargai dan menghormati suasana perbedaan pruralisme (kemajemukan) yang terdapat dalam lingkungan pergaulan bangsa Sebagaimana spirit semboyan bangsa Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap dalam satu kesatuan bangsa.

Tidak ada kata menyerah pada keadaan Teladan semangat GusDur, turut berpartisipasi aktif dalam kancah dunia politik sampai mengantarkannya menjadi kepala negara, ditengah keterbatasan fisik yang dialaminya, merupakan rekor spesial dalam sejarah bangsa. Berarti, segala sesuatunya mungkin saja terjadi, bukan karena faktor kebetulan. Semuanya
membutuhkan semangat, kerja keras, pantang mundur, untuk tidak menyerah pada keadaan dan tidak menyalahkan keterbatasan.

Hidup dan Menyeberang

Kehidupan dunia bagaikan orang yang menyeberangi suatu jalan yang dipenuhi lalu lalang kendaraan. Agar berhasil selamat sampai tujuan, perlu menoleh ke kanan dan kiri, tak hanya melulu ke arah depan.

Memperhatikan area sekitar mutlak dilakukan, Namun jauh lebih penting juga memandangi area terjauh apakah kondisi jalanan lengang sehingga siap dilewati ataukah sedang ramai dengan lalu lalang kendaraan sehingga perlu ekstra hati-hati saat menyebranginya. Waktu yang dibutuhkan untuk menyeberang hanya sebentar saja.

Maka celakalah Jika pandangan matahari  hanya menfokuskan pada jarak beberapa meter saja karena akan rawan tertabrak kendaraan. Pun sebaliknya, jika hanya memperhatikan area terjauh saja, maka akan mudah sekali terperosok atau tersandung.

Demikian juga dalam menjalani hidup. Perlu kewaspadaan tingkat tinggi dan tanggung jawab besar dalam menjalani hidup. Karena jika tidak, maka bisikan iblis siap menghantam keimanan.

Jika hanya fokus pada area terdekat saja, artinya sibuk dengan urusan duniawi saja, mengabaikan hal-hal terjauh yaitu perkara akhirat, maka hanya akan mencicipi kebahagiaan dunia yang sementara dan akan merasakan pedihnya adzab neraka yang kekal selamanya.

Namun jika hanya menyibukkan diri dengan urusan ukhrawi saja, melupakan tanggung jawab didunia, maka nasib keluarga dan orang-orang yang ditanggungnya akan terlantar, hingga akhirnya akan mengantarkannya pula pada kehinaan.

Pun kita hidup didunia ini hanya sebentar saja bak saat kita menyeberangi suatu jalan. Kita tak akan berlama-lama dalam menyeberang, karena tujuan kita bukan disitu.

#OneDayOnePost
#13thDay
#Batch3
#Analogi