Selasa, 06 Februari 2018

Cerita perjalanan menuju Kuala Lumpur (Studi S2)




Malam itu sungguh sebuah malam yang takkan pernah kulupakan dalam hidupku. Saya melihat usaha orang tua begadang demi kelancaran perjalanan salah satu buah hatinya menuntut ilmu ke negeri jiran. Ya, saat itu saya hendak bepergian cukup jauh dalam rangka melanjutkan studi master di Universitas no.1 di Malaysia yaitu University of Malaya.




Sebelum hari keberangkatan, segala persiapan sudah saya persiapkan dengan matang dan saya pastikan tidak ada dokumen perkuliahan yang tertinggal. Tak lupa ibu dan bapak senantiasa menanyakan hal-hal apa saja yang bisa beliau persiakan. Malam itu terasa sangat deg-degan bagi kami sekeluarga. Pasalnya, cuaca saat itu tak menentu dan cenderung mendung bahkan sering hujan. Saya amati berita di sosmed banyak terjadi banjir dimana-dimana termasuk daerah yang akan saya lewati menuju bandara Juanda. Ditambah lagi saya harus berangkat pukul 5 pagi karena waktu check in paling lambat pukul 7.15 WIB. Tidak hanya itu, sopir mobil yang akan mengemudi berdomisili di rumah mertuanya sedangkan mobil yang akan digunakan berada di rumah orang tuanya. Sehingga untuk mengantisipasi agak tak terlambat, bapak saya meminta dia tidur di rumah orang tuanya.

Malam sebelum keberangkatan, saya dan bapak tidur di ruang tamu. Namun mata saya tak bisa terpejam karena hati tak tenang. Diluar kulihat rintik hujan seakan menambah kekhawatiranku. Saya dan bapak berdiskusi terkait dengan segala hal yang bisa terjadi ditengah perjalanan. Saat itu sering terjadi kemacetan karena banjir. Saya melihat kabar di sosial media bahwa didaerah pasuruan terjadi banjir beberapa hari yang lalu dilanda banjir. Saya khawatir kejadian tersebut akan terulang.

Oleh karena itu, kami bersepakat untuk berangkat sebelum subuh dan menjemput sopir agar solat di rumah kami. Sehingga sebelum adzan subuh, kami sudah siap tinggal shalat subuh dan langsung berangkat. Sekitar pukul 2 dinihari saya merasakan kantuk yang luar biasa dan mengatakan ke bapak agar nanti dibangunin jika bapak ingin tidur agar ada yang berjaga. Menjelang subuh saya terbangun dan melihat jam 4.30 lantas saya bangunkan bapak dan berniat untuk menjemput sopir sesuai dengan rencana kami. Sebelumnya saya bangunkan ibu untuk bersiap-siap, lalu pergi ke rumah bibik dan kakak yang jaraknya sekitar 5-10 menit naik motor.

Bibik saya sebagai narahubung dengan sopir karena sang sopir keponakan suaminya mengatakan bahwa dia akan ke rumah setelah shalat subuh, namun khawatir dia lupa untuk tidur di rumah orang tuanya. Karena itu, kita langsung ke rumah orang tua si sopir. Dan benar ternyata kekhawatiran saya terjadi, si sopir tidak tidur dirumah orang tuanya, dia tidur dirumah mertuanya. Hati saya terasa berdebar dan berdecak kencang mengingat rumahnya cukup jauh dan jalanan becek akibat genangan sisa air hujan.

Dengan perasaan khawatir, kupacu motorku berboncengan dengan bapak dengan kencang. Saya tak menghiraukan jalanan yang becek dan licin. Dan braakkkkkkkk..... ban motor saya terpleset ke selokan depan masjid. Beruntung selokan tersebut agak sempit sehingga motor tak masuk ke dalam selokan dan kami bersyukur kami tak mengalami luka serius hanya luka lecet terjepit dan motor tidak mengalami kerusakan berarti. Namun kami kesulitan mengangkat motor yang terjepit karena licin, beruntung ada seorang pemuda yang melintas dan membantu kami mengangkat motor.




Kuteruskan perjalanan kami sambil ekstra hati-hati. Bapak mengingatkan agar pelan-pelan saja dan perbanyak doa. Astaghfirullah, saya tadi lupa membaca doa sebelum nge-gas motor. (bersambung)