
Malam itu sungguh sebuah malam yang takkan pernah kulupakan dalam
hidupku. Saya melihat usaha orang tua begadang demi kelancaran perjalanan salah
satu buah hatinya menuntut ilmu ke negeri jiran. Ya, saat itu saya hendak
bepergian cukup jauh dalam rangka melanjutkan studi master di Universitas no.1
di Malaysia yaitu University of Malaya.
Sebelum hari keberangkatan, segala persiapan sudah saya persiapkan
dengan matang dan saya pastikan tidak ada dokumen perkuliahan yang tertinggal.
Tak lupa ibu dan bapak senantiasa menanyakan hal-hal apa saja yang bisa beliau
persiakan. Malam itu terasa sangat deg-degan bagi kami sekeluarga. Pasalnya,
cuaca saat itu tak menentu dan cenderung mendung bahkan sering hujan. Saya
amati berita di sosmed banyak terjadi banjir dimana-dimana termasuk daerah yang
akan saya lewati menuju bandara Juanda. Ditambah lagi saya harus berangkat
pukul 5 pagi karena waktu check in paling lambat pukul 7.15 WIB. Tidak hanya
itu, sopir mobil yang akan mengemudi berdomisili di rumah mertuanya sedangkan
mobil yang akan digunakan berada di rumah orang tuanya. Sehingga untuk
mengantisipasi agak tak terlambat, bapak saya meminta dia tidur di rumah orang
tuanya.
Malam sebelum keberangkatan, saya dan bapak tidur di ruang tamu.
Namun mata saya tak bisa terpejam karena hati tak tenang. Diluar kulihat rintik
hujan seakan menambah kekhawatiranku. Saya dan bapak berdiskusi terkait dengan
segala hal yang bisa terjadi ditengah perjalanan. Saat itu sering terjadi
kemacetan karena banjir. Saya melihat kabar di sosial media bahwa didaerah
pasuruan terjadi banjir beberapa hari yang lalu dilanda banjir. Saya khawatir
kejadian tersebut akan terulang.
Oleh karena itu, kami bersepakat untuk berangkat sebelum subuh dan
menjemput sopir agar solat di rumah kami. Sehingga sebelum adzan subuh, kami
sudah siap tinggal shalat subuh dan langsung berangkat. Sekitar pukul 2
dinihari saya merasakan kantuk yang luar biasa dan mengatakan ke bapak agar
nanti dibangunin jika bapak ingin tidur agar ada yang berjaga. Menjelang subuh
saya terbangun dan melihat jam 4.30 lantas saya bangunkan bapak dan berniat
untuk menjemput sopir sesuai dengan rencana kami. Sebelumnya saya bangunkan ibu
untuk bersiap-siap, lalu pergi ke rumah bibik dan kakak yang jaraknya sekitar
5-10 menit naik motor.
Bibik saya sebagai narahubung dengan sopir karena sang sopir
keponakan suaminya mengatakan bahwa dia akan ke rumah setelah shalat subuh,
namun khawatir dia lupa untuk tidur di rumah orang tuanya. Karena itu, kita
langsung ke rumah orang tua si sopir. Dan benar ternyata kekhawatiran saya
terjadi, si sopir tidak tidur dirumah orang tuanya, dia tidur dirumah
mertuanya. Hati saya terasa berdebar dan berdecak kencang mengingat rumahnya
cukup jauh dan jalanan becek akibat genangan sisa air hujan.
Dengan perasaan khawatir, kupacu motorku berboncengan dengan bapak
dengan kencang. Saya tak menghiraukan jalanan yang becek dan licin. Dan
braakkkkkkkk..... ban motor saya terpleset ke selokan depan masjid. Beruntung
selokan tersebut agak sempit sehingga motor tak masuk ke dalam selokan dan kami
bersyukur kami tak mengalami luka serius hanya luka lecet terjepit dan motor
tidak mengalami kerusakan berarti. Namun kami kesulitan mengangkat motor yang
terjepit karena licin, beruntung ada seorang pemuda yang melintas dan membantu
kami mengangkat motor.
Kuteruskan perjalanan kami sambil ekstra hati-hati. Bapak
mengingatkan agar pelan-pelan saja dan perbanyak doa. Astaghfirullah, saya tadi
lupa membaca doa sebelum nge-gas motor. (bersambung)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar