Kamis, 15 Maret 2018

Berhati-hati lah, Setiap Ucapan Adalah Doa


Banyak orang yang beranggapan jika doa adalah permohonan kita kepada Tuhan yang dipanjatkan dalam waktu tertentu atau istilahnya dalam waktu yang mustajab dalam berdoa. Sedikit sekali dari kita yang meyakini bahwa setiap ucapan yang keluar dari lisan kita adalah juga doa, walupun dalam keadaan bercanda. Coba kita perhatikan kondisi atau hal-hal yang telah diraih oleh keluarga, guru, sahabat atau orang-orang terdekat kita. Kebanyakan apa yang telah mereka raih hari ini adalah buah dari ucapan yang pernah atau sering mereka utarakan kepada orang lain. Contoh nyata, saya masih ingat cerita ini meskipun sudah hampir 10 tahun lalu saya mendengarnya. Di suatu momen seminar entrepreneurship, salah satu pembicara bercerita bahwa ada seorang gadis cantik jelita yang sering mengalami putus cinta. Si gadis tersebut seakan tak percaya walaupun dia memiliki paras cantik menawan tapi banyak lelaki yang mecintainya hanya sesaat saja. Hingga dia berazam bahwa dia ingin jodohnya seorang lelaki yang akan mencintai dia seutuhnya bukan karena parasnya.  Qadarullah, dia benar-benar mendapatkan apa yang dia idam-idamkan. Dia mendapati suaminya adalah seorang perjaka yang sangat mencintai si gadis jelita tersebut seutuhnya bukan karena kecantikannya karena lelaki tersebut tak dapat melihat alias kedua matanya buta.

Akupun juga sering mengalami apa yang pernah sekali atau sering saya ucapkan kepada orang lain misalkan saat diskusi atau sharing seputar kuliah, karir dimasa depan, atau jodoh. Berbicara tentang jodoh, sungguh saya benar-benar merasakan  apa yang pernah saya utarakan pada temen dekat saya saat diskusi tema ini. Saya sering ketika ditanya oleh teman “jodoh seperti apa yang kamu inginkan, san?”. Dengan mantap aku menjawab ”aku ingin seseorang yang akan menjadi bidadari dunia akhiratku adalah dia yang aku dapatkan dengan penuh perjuangan dan doa, dan aku bertemu dia saat aku sedang sibuk-sibuknya penelitian tesis”. Pun dulu saat akan intake studi Master, aku juga berjanji pada Allah bahwa aku tidak akan pacaran, dan aku yakin bahwa Allah akan mempertemukanku dengan dia saat studiku akan selesai misalnya saat sudah mulai tesis.

Dan ternyata innallaha yaf’alu ma yurid aku menemukan dia saat aku sedang sibuk-sibuknya akan sidang proposal tesis. Aku tak pernah mendapati hati ini bertaut dengan dengan seorang gadis manapun kecuali saat aku mulai sibuk meyiapkan penelitian tesis ini. Dan aku merasakan keyakinan yang sangat kuat bahwa dia lah bidadari dunia akhiratku yang telah Allah janjikan. Pun aku juga merasakan perjuangan yang luar biasa untuk menjadikan dia sebagai kekasih halalku. Segala macam perasaan dari kegalauan, kebimbangan, kecemasan, kekhawatiran, keyakinan, harapan, optimisme, selalu mencoba berprasangka baik pada Allah, bercampur aduk dalam diri ini. Aku baru mengerti seperti inilah proses yang harus kujalani dalam menjemput jodohku. Mungkin ini akibat ulah dari ucapanku sendiri terkait jodoh. Dan hingga tulisan ini di post, aku sedang menunggu momentum, yang sempat tertunda, untuk silaturahim ke rumah orang tuanya. Hehehe, mohon doanya guys.

Melalui tulisan yang singkat ini, apalagi dalam momentum sayyidul ayyam, aku ingin mengingatkan diri ini dan  siapapun yang membaca tulisan bahwa berhati-hatilah dengan setiap ucapan, candaan, harapan  yang kita sampaikan pada orang lain. Tak menutup kemungkinan justru ucapan itulah yang diamini oleh Malaikat. Wallahu a’lam. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar