Jumat, 25 Mei 2018

Hari Bahagiamu

Sanah Helwah....
Wahai engkau yang nun jauh disana
Hari ini adalah hari bahagiamu
Tepat 23 tahun silam engkau terlahir ke dunia ini
Hari itu kau menangis sedangkan Abi dan Umi engkau tersenyum bahagia
Dan hari ini kau bersyukur atas usia ini begitupun kita semua

Wahai engkau yang nun jauh disana
Maafkan, tak banyak yang dapat kupersembahkan untukmu
Hanya untaian doa penuh harap
Semoga setiap langkahmu dirahmati
setiap impianmu diberkati
setiap ikhtiarmu diridhoi
setiap doamu diijabahi
setiap kesalahanmu diampuni

Wahau engkau yang nun jauh disana
Bulan suci nan berkah sebentar lagi
Aku bermunajat
Semoga ramadhan tahun ini saja kita menyambutnya sendiri-sendiri
Aku mendambakan
Pada suatu malam bulan suci
aku membisik....
"Dinda! yukkk bangun sahur....

KL, 12 Mei 2018

Senin, 09 April 2018

Mutiara Ceriaku

Mimpilah yang Indah wahai Mutiara Ceriaku

Akan ku sebut namamu dalam setiap munajatku

Namamu telah terukir abadi dalam relung hati

Ia kokoh bagaikan karang di tepian pantai

Tak tergoyahkan meski badai menerjang

Kuyakin rasa ini tak kan sampai jika Sang Maha Pemberi Rasa tak dihiraukan

Kuyakin kamu lah bidadari yang dijanjikan itu

Izinkan aku menjadi sosok yang setia nan penyayang

Bak seorang Pangeran dalam hikayat cinta

Sekali lagi, Mimpi yang Indah wahai Mutiara Ceriaku

Gontor, 10/04/2018

Kamis, 15 Maret 2018

Berhati-hati lah, Setiap Ucapan Adalah Doa


Banyak orang yang beranggapan jika doa adalah permohonan kita kepada Tuhan yang dipanjatkan dalam waktu tertentu atau istilahnya dalam waktu yang mustajab dalam berdoa. Sedikit sekali dari kita yang meyakini bahwa setiap ucapan yang keluar dari lisan kita adalah juga doa, walupun dalam keadaan bercanda. Coba kita perhatikan kondisi atau hal-hal yang telah diraih oleh keluarga, guru, sahabat atau orang-orang terdekat kita. Kebanyakan apa yang telah mereka raih hari ini adalah buah dari ucapan yang pernah atau sering mereka utarakan kepada orang lain. Contoh nyata, saya masih ingat cerita ini meskipun sudah hampir 10 tahun lalu saya mendengarnya. Di suatu momen seminar entrepreneurship, salah satu pembicara bercerita bahwa ada seorang gadis cantik jelita yang sering mengalami putus cinta. Si gadis tersebut seakan tak percaya walaupun dia memiliki paras cantik menawan tapi banyak lelaki yang mecintainya hanya sesaat saja. Hingga dia berazam bahwa dia ingin jodohnya seorang lelaki yang akan mencintai dia seutuhnya bukan karena parasnya.  Qadarullah, dia benar-benar mendapatkan apa yang dia idam-idamkan. Dia mendapati suaminya adalah seorang perjaka yang sangat mencintai si gadis jelita tersebut seutuhnya bukan karena kecantikannya karena lelaki tersebut tak dapat melihat alias kedua matanya buta.

Akupun juga sering mengalami apa yang pernah sekali atau sering saya ucapkan kepada orang lain misalkan saat diskusi atau sharing seputar kuliah, karir dimasa depan, atau jodoh. Berbicara tentang jodoh, sungguh saya benar-benar merasakan  apa yang pernah saya utarakan pada temen dekat saya saat diskusi tema ini. Saya sering ketika ditanya oleh teman “jodoh seperti apa yang kamu inginkan, san?”. Dengan mantap aku menjawab ”aku ingin seseorang yang akan menjadi bidadari dunia akhiratku adalah dia yang aku dapatkan dengan penuh perjuangan dan doa, dan aku bertemu dia saat aku sedang sibuk-sibuknya penelitian tesis”. Pun dulu saat akan intake studi Master, aku juga berjanji pada Allah bahwa aku tidak akan pacaran, dan aku yakin bahwa Allah akan mempertemukanku dengan dia saat studiku akan selesai misalnya saat sudah mulai tesis.

Dan ternyata innallaha yaf’alu ma yurid aku menemukan dia saat aku sedang sibuk-sibuknya akan sidang proposal tesis. Aku tak pernah mendapati hati ini bertaut dengan dengan seorang gadis manapun kecuali saat aku mulai sibuk meyiapkan penelitian tesis ini. Dan aku merasakan keyakinan yang sangat kuat bahwa dia lah bidadari dunia akhiratku yang telah Allah janjikan. Pun aku juga merasakan perjuangan yang luar biasa untuk menjadikan dia sebagai kekasih halalku. Segala macam perasaan dari kegalauan, kebimbangan, kecemasan, kekhawatiran, keyakinan, harapan, optimisme, selalu mencoba berprasangka baik pada Allah, bercampur aduk dalam diri ini. Aku baru mengerti seperti inilah proses yang harus kujalani dalam menjemput jodohku. Mungkin ini akibat ulah dari ucapanku sendiri terkait jodoh. Dan hingga tulisan ini di post, aku sedang menunggu momentum, yang sempat tertunda, untuk silaturahim ke rumah orang tuanya. Hehehe, mohon doanya guys.

Melalui tulisan yang singkat ini, apalagi dalam momentum sayyidul ayyam, aku ingin mengingatkan diri ini dan  siapapun yang membaca tulisan bahwa berhati-hatilah dengan setiap ucapan, candaan, harapan  yang kita sampaikan pada orang lain. Tak menutup kemungkinan justru ucapan itulah yang diamini oleh Malaikat. Wallahu a’lam. 

Selasa, 06 Februari 2018

Cerita perjalanan menuju Kuala Lumpur (Studi S2)




Malam itu sungguh sebuah malam yang takkan pernah kulupakan dalam hidupku. Saya melihat usaha orang tua begadang demi kelancaran perjalanan salah satu buah hatinya menuntut ilmu ke negeri jiran. Ya, saat itu saya hendak bepergian cukup jauh dalam rangka melanjutkan studi master di Universitas no.1 di Malaysia yaitu University of Malaya.




Sebelum hari keberangkatan, segala persiapan sudah saya persiapkan dengan matang dan saya pastikan tidak ada dokumen perkuliahan yang tertinggal. Tak lupa ibu dan bapak senantiasa menanyakan hal-hal apa saja yang bisa beliau persiakan. Malam itu terasa sangat deg-degan bagi kami sekeluarga. Pasalnya, cuaca saat itu tak menentu dan cenderung mendung bahkan sering hujan. Saya amati berita di sosmed banyak terjadi banjir dimana-dimana termasuk daerah yang akan saya lewati menuju bandara Juanda. Ditambah lagi saya harus berangkat pukul 5 pagi karena waktu check in paling lambat pukul 7.15 WIB. Tidak hanya itu, sopir mobil yang akan mengemudi berdomisili di rumah mertuanya sedangkan mobil yang akan digunakan berada di rumah orang tuanya. Sehingga untuk mengantisipasi agak tak terlambat, bapak saya meminta dia tidur di rumah orang tuanya.

Malam sebelum keberangkatan, saya dan bapak tidur di ruang tamu. Namun mata saya tak bisa terpejam karena hati tak tenang. Diluar kulihat rintik hujan seakan menambah kekhawatiranku. Saya dan bapak berdiskusi terkait dengan segala hal yang bisa terjadi ditengah perjalanan. Saat itu sering terjadi kemacetan karena banjir. Saya melihat kabar di sosial media bahwa didaerah pasuruan terjadi banjir beberapa hari yang lalu dilanda banjir. Saya khawatir kejadian tersebut akan terulang.

Oleh karena itu, kami bersepakat untuk berangkat sebelum subuh dan menjemput sopir agar solat di rumah kami. Sehingga sebelum adzan subuh, kami sudah siap tinggal shalat subuh dan langsung berangkat. Sekitar pukul 2 dinihari saya merasakan kantuk yang luar biasa dan mengatakan ke bapak agar nanti dibangunin jika bapak ingin tidur agar ada yang berjaga. Menjelang subuh saya terbangun dan melihat jam 4.30 lantas saya bangunkan bapak dan berniat untuk menjemput sopir sesuai dengan rencana kami. Sebelumnya saya bangunkan ibu untuk bersiap-siap, lalu pergi ke rumah bibik dan kakak yang jaraknya sekitar 5-10 menit naik motor.

Bibik saya sebagai narahubung dengan sopir karena sang sopir keponakan suaminya mengatakan bahwa dia akan ke rumah setelah shalat subuh, namun khawatir dia lupa untuk tidur di rumah orang tuanya. Karena itu, kita langsung ke rumah orang tua si sopir. Dan benar ternyata kekhawatiran saya terjadi, si sopir tidak tidur dirumah orang tuanya, dia tidur dirumah mertuanya. Hati saya terasa berdebar dan berdecak kencang mengingat rumahnya cukup jauh dan jalanan becek akibat genangan sisa air hujan.

Dengan perasaan khawatir, kupacu motorku berboncengan dengan bapak dengan kencang. Saya tak menghiraukan jalanan yang becek dan licin. Dan braakkkkkkkk..... ban motor saya terpleset ke selokan depan masjid. Beruntung selokan tersebut agak sempit sehingga motor tak masuk ke dalam selokan dan kami bersyukur kami tak mengalami luka serius hanya luka lecet terjepit dan motor tidak mengalami kerusakan berarti. Namun kami kesulitan mengangkat motor yang terjepit karena licin, beruntung ada seorang pemuda yang melintas dan membantu kami mengangkat motor.




Kuteruskan perjalanan kami sambil ekstra hati-hati. Bapak mengingatkan agar pelan-pelan saja dan perbanyak doa. Astaghfirullah, saya tadi lupa membaca doa sebelum nge-gas motor. (bersambung)