Sanah Helwah....
Wahai engkau yang nun jauh disana
Hari ini adalah hari bahagiamu
Tepat 23 tahun silam engkau terlahir ke dunia ini
Hari itu kau menangis sedangkan Abi dan Umi engkau tersenyum bahagia
Dan hari ini kau bersyukur atas usia ini begitupun kita semua
Wahai engkau yang nun jauh disana
Maafkan, tak banyak yang dapat kupersembahkan untukmu
Hanya untaian doa penuh harap
Semoga setiap langkahmu dirahmati
setiap impianmu diberkati
setiap ikhtiarmu diridhoi
setiap doamu diijabahi
setiap kesalahanmu diampuni
Wahau engkau yang nun jauh disana
Bulan suci nan berkah sebentar lagi
Aku bermunajat
Semoga ramadhan tahun ini saja kita menyambutnya sendiri-sendiri
Aku mendambakan
Pada suatu malam bulan suci
aku membisik....
"Dinda! yukkk bangun sahur....
KL, 12 Mei 2018
Jumat, 25 Mei 2018
Senin, 09 April 2018
Mutiara Ceriaku
Mimpilah yang Indah wahai Mutiara Ceriaku
Akan ku sebut namamu dalam setiap munajatku
Namamu telah terukir abadi dalam relung hati
Ia kokoh bagaikan karang di tepian pantai
Tak tergoyahkan meski badai menerjang
Kuyakin rasa ini tak kan sampai jika Sang Maha Pemberi Rasa tak dihiraukan
Kuyakin kamu lah bidadari yang dijanjikan itu
Izinkan aku menjadi sosok yang setia nan penyayang
Bak seorang Pangeran dalam hikayat cinta
Sekali lagi, Mimpi yang Indah wahai Mutiara Ceriaku
Gontor, 10/04/2018
Akan ku sebut namamu dalam setiap munajatku
Namamu telah terukir abadi dalam relung hati
Ia kokoh bagaikan karang di tepian pantai
Tak tergoyahkan meski badai menerjang
Kuyakin rasa ini tak kan sampai jika Sang Maha Pemberi Rasa tak dihiraukan
Kuyakin kamu lah bidadari yang dijanjikan itu
Izinkan aku menjadi sosok yang setia nan penyayang
Bak seorang Pangeran dalam hikayat cinta
Sekali lagi, Mimpi yang Indah wahai Mutiara Ceriaku
Gontor, 10/04/2018
Kamis, 15 Maret 2018
Berhati-hati lah, Setiap Ucapan Adalah Doa
Banyak
orang yang beranggapan jika doa adalah permohonan kita kepada Tuhan yang
dipanjatkan dalam waktu tertentu atau istilahnya dalam waktu yang mustajab
dalam berdoa. Sedikit sekali dari kita yang meyakini bahwa setiap ucapan yang
keluar dari lisan kita adalah juga doa, walupun dalam keadaan bercanda. Coba kita
perhatikan kondisi atau hal-hal yang telah diraih oleh keluarga, guru, sahabat
atau orang-orang terdekat kita. Kebanyakan apa yang telah mereka raih hari ini
adalah buah dari ucapan yang pernah atau sering mereka utarakan kepada orang
lain. Contoh nyata, saya masih ingat cerita ini meskipun sudah hampir 10 tahun
lalu saya mendengarnya. Di suatu momen seminar entrepreneurship, salah satu
pembicara bercerita bahwa ada seorang gadis cantik jelita yang sering mengalami
putus cinta. Si gadis tersebut seakan tak percaya walaupun dia memiliki paras
cantik menawan tapi banyak lelaki yang mecintainya hanya sesaat saja. Hingga dia
berazam bahwa dia ingin jodohnya seorang lelaki yang akan mencintai dia
seutuhnya bukan karena parasnya. Qadarullah, dia benar-benar mendapatkan apa
yang dia idam-idamkan. Dia mendapati suaminya adalah seorang perjaka yang sangat
mencintai si gadis jelita tersebut seutuhnya bukan karena kecantikannya karena
lelaki tersebut tak dapat melihat alias kedua matanya buta.
Akupun
juga sering mengalami apa yang pernah sekali atau sering saya ucapkan kepada
orang lain misalkan saat diskusi atau sharing seputar kuliah, karir dimasa
depan, atau jodoh. Berbicara tentang jodoh, sungguh saya benar-benar merasakan apa yang pernah saya utarakan pada temen dekat
saya saat diskusi tema ini. Saya sering ketika ditanya oleh teman “jodoh
seperti apa yang kamu inginkan, san?”. Dengan mantap aku menjawab ”aku ingin
seseorang yang akan menjadi bidadari dunia akhiratku adalah dia yang aku
dapatkan dengan penuh perjuangan dan doa, dan aku bertemu dia saat aku sedang
sibuk-sibuknya penelitian tesis”. Pun dulu saat akan intake studi Master, aku juga
berjanji pada Allah bahwa aku tidak akan pacaran, dan aku yakin bahwa Allah akan
mempertemukanku dengan dia saat studiku akan selesai misalnya saat sudah mulai
tesis.
Dan ternyata
innallaha yaf’alu ma yurid aku menemukan dia saat aku sedang sibuk-sibuknya
akan sidang proposal tesis. Aku tak pernah mendapati hati ini bertaut dengan
dengan seorang gadis manapun kecuali saat aku mulai sibuk meyiapkan penelitian
tesis ini. Dan aku merasakan keyakinan yang sangat kuat bahwa dia lah bidadari
dunia akhiratku yang telah Allah janjikan. Pun aku juga merasakan perjuangan
yang luar biasa untuk menjadikan dia sebagai kekasih halalku. Segala macam
perasaan dari kegalauan, kebimbangan, kecemasan, kekhawatiran, keyakinan,
harapan, optimisme, selalu mencoba berprasangka baik pada Allah, bercampur aduk
dalam diri ini. Aku baru mengerti seperti inilah proses yang harus kujalani
dalam menjemput jodohku. Mungkin ini akibat ulah dari ucapanku sendiri terkait
jodoh. Dan hingga tulisan ini di post, aku sedang menunggu momentum, yang
sempat tertunda, untuk silaturahim ke rumah orang tuanya. Hehehe, mohon doanya
guys.
Melalui
tulisan yang singkat ini, apalagi dalam momentum sayyidul ayyam, aku ingin
mengingatkan diri ini dan siapapun yang
membaca tulisan bahwa berhati-hatilah dengan setiap ucapan, candaan, harapan yang kita sampaikan pada orang lain. Tak menutup
kemungkinan justru ucapan itulah yang diamini oleh Malaikat. Wallahu a’lam.
Selasa, 06 Februari 2018
Cerita perjalanan menuju Kuala Lumpur (Studi S2)

Malam itu sungguh sebuah malam yang takkan pernah kulupakan dalam
hidupku. Saya melihat usaha orang tua begadang demi kelancaran perjalanan salah
satu buah hatinya menuntut ilmu ke negeri jiran. Ya, saat itu saya hendak
bepergian cukup jauh dalam rangka melanjutkan studi master di Universitas no.1
di Malaysia yaitu University of Malaya.
Sebelum hari keberangkatan, segala persiapan sudah saya persiapkan
dengan matang dan saya pastikan tidak ada dokumen perkuliahan yang tertinggal.
Tak lupa ibu dan bapak senantiasa menanyakan hal-hal apa saja yang bisa beliau
persiakan. Malam itu terasa sangat deg-degan bagi kami sekeluarga. Pasalnya,
cuaca saat itu tak menentu dan cenderung mendung bahkan sering hujan. Saya
amati berita di sosmed banyak terjadi banjir dimana-dimana termasuk daerah yang
akan saya lewati menuju bandara Juanda. Ditambah lagi saya harus berangkat
pukul 5 pagi karena waktu check in paling lambat pukul 7.15 WIB. Tidak hanya
itu, sopir mobil yang akan mengemudi berdomisili di rumah mertuanya sedangkan
mobil yang akan digunakan berada di rumah orang tuanya. Sehingga untuk
mengantisipasi agak tak terlambat, bapak saya meminta dia tidur di rumah orang
tuanya.
Malam sebelum keberangkatan, saya dan bapak tidur di ruang tamu.
Namun mata saya tak bisa terpejam karena hati tak tenang. Diluar kulihat rintik
hujan seakan menambah kekhawatiranku. Saya dan bapak berdiskusi terkait dengan
segala hal yang bisa terjadi ditengah perjalanan. Saat itu sering terjadi
kemacetan karena banjir. Saya melihat kabar di sosial media bahwa didaerah
pasuruan terjadi banjir beberapa hari yang lalu dilanda banjir. Saya khawatir
kejadian tersebut akan terulang.
Oleh karena itu, kami bersepakat untuk berangkat sebelum subuh dan
menjemput sopir agar solat di rumah kami. Sehingga sebelum adzan subuh, kami
sudah siap tinggal shalat subuh dan langsung berangkat. Sekitar pukul 2
dinihari saya merasakan kantuk yang luar biasa dan mengatakan ke bapak agar
nanti dibangunin jika bapak ingin tidur agar ada yang berjaga. Menjelang subuh
saya terbangun dan melihat jam 4.30 lantas saya bangunkan bapak dan berniat
untuk menjemput sopir sesuai dengan rencana kami. Sebelumnya saya bangunkan ibu
untuk bersiap-siap, lalu pergi ke rumah bibik dan kakak yang jaraknya sekitar
5-10 menit naik motor.
Bibik saya sebagai narahubung dengan sopir karena sang sopir
keponakan suaminya mengatakan bahwa dia akan ke rumah setelah shalat subuh,
namun khawatir dia lupa untuk tidur di rumah orang tuanya. Karena itu, kita
langsung ke rumah orang tua si sopir. Dan benar ternyata kekhawatiran saya
terjadi, si sopir tidak tidur dirumah orang tuanya, dia tidur dirumah
mertuanya. Hati saya terasa berdebar dan berdecak kencang mengingat rumahnya
cukup jauh dan jalanan becek akibat genangan sisa air hujan.
Dengan perasaan khawatir, kupacu motorku berboncengan dengan bapak
dengan kencang. Saya tak menghiraukan jalanan yang becek dan licin. Dan
braakkkkkkkk..... ban motor saya terpleset ke selokan depan masjid. Beruntung
selokan tersebut agak sempit sehingga motor tak masuk ke dalam selokan dan kami
bersyukur kami tak mengalami luka serius hanya luka lecet terjepit dan motor
tidak mengalami kerusakan berarti. Namun kami kesulitan mengangkat motor yang
terjepit karena licin, beruntung ada seorang pemuda yang melintas dan membantu
kami mengangkat motor.
Kuteruskan perjalanan kami sambil ekstra hati-hati. Bapak
mengingatkan agar pelan-pelan saja dan perbanyak doa. Astaghfirullah, saya tadi
lupa membaca doa sebelum nge-gas motor. (bersambung)
Langganan:
Postingan (Atom)


