Berpenampilan Sahaja Dan Sederhana
Penampilan GusDur yang bersahaja, bersahabat, dan berbicara santai apa adanya, telah banyak memberikan
inspirasi bagi berbagai pihak. Dalam setiap pertemuan formal ataupun informal, Gus Dur selalu menyempatkan diri menyelipkan selingan kata-kata humor, sehingga bisa mencairkan suasana yang kaku menjadi rileks.
Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Surjono Hadi Sutjahjo, mengatakan, perjuangan Gus Dur dalam
mewujudkan keadilan dalam berbangsa dan bernegara harus dilanjutkan. Ia
mengatakan, selama hidup Gus Dur telah mengajarkan bangsa Indonesia mengenai banyak hal terkait mulai
hubungan agama (Islam) dengan negara, toleransi antar umat beragama hingga
persamaan hak sebagai warga negara.
Selain itu, Gus Dur juga mengajarkan pentingnya menghargai perbedaan
pendapat, menghilangkan diskriminasi berdasarkan ras dan agama serta mewujudkan kemandirian bangsa dalam arti luas. "Gus Dur telah memberikan
banyak pelajaran kepada bangsa ini.
Teladan yang telah ditunjukkannya harus dapat dilanjutkan oleh bangsa
ini," imbuh anggota tim ahli evaluasi program 100 hari SBY-Boediono. Surjono
yang juga ketua program studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan
Lingkungan (PSL) Pascasarjana IPB
menambahkan, Gus Dur juga telah memberikan teladan kepada bangsa ini berupa kesederahaan. Mesti menjadi
pemimpin besar dan pernah menjabat presiden, namun Gus Dur selalu menunjukkan kesederhanaan. Selain itu,
Gus Dur juga memiliki tipe pemimpin bekarakter. Tak ayal saat memimpin bangsa ini, mesti tengah dilanda situasi krisis multi dimensi, namun Gus Dur selalu mengedepankan kemandirian dalam mewujudkan pembangunan.
"Teladan dan perjuangan yang pernah dilakukan Gus Dur semasa hidup harus
dilanjutkan untuk mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran Indonesia secara berlelanjutan,"
ujarnya.
Terlepas dari berbagai kekurangan dan
keterbatasannya secara fisik, Gus Dur telah melakukan yang terbaik bagi bangsa dan negara Indonesia yang patut
diapresiasi. "Kita harus menjadi bangsa yang tahu cara berterima kasih kepada
jasa pemimpin. Kita tidak boleh menghilangkan atau melupakan sejarah, karena bangsa yang besar adalah
bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Gus Dur pernah berkata“Hal yang
tersulit bagi seseorang adalah meyakini apa yang telah diketahuinya”.
Seperti pemberitaan berbagai media massa, di penghujung tahun 2009 lalu,
bangsa Indonesia telah kehilangan mantan Presiden Republik Indonesia periode 1999-2001, KH. Abdurrahman Wahid, lebih akrab dipanggil GusDur, seorang tokoh nasionalis yang humanis dan humoris. Dari pemaparan media massa cetak maupun elektronika, dapat disimak bagaimana kiprah GusDur
sebagai bapak bangsa, saat memimpin negara ataupun ketika membesarkan
organisasi keumatan. Ada beberapa teladan utama, menurut opini pribadi,
yang terkesan tampak secara personal, dari kisah biografi GusDur sebagai panutan bangsa.
1. Hargai dan Hormati Setiap Perbedaan Ketika jaman pra reformasi, kebebasan berekspresi dalam kemajemukan adat, tradisi, ras, etnis, agama, agak terkekang pelaksanaannya, maka pada era GusDur
semua itu difasilitasi dengan mudah. Beliau selalu mengingatkan pentingnya
saling menghargai dan menghormati suasana perbedaan pruralisme
(kemajemukan) yang terdapat dalam lingkungan pergaulan bangsa. Sebagaimana spirit semboyan bangsa Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap dalam satu kesatuan bangsa.
2. Jangan Menyerah Pada Keadaan dan Keterbatasan
Teladan semangat GusDur, turut berpartisipasi aktif dalam kancah dunia
politik sampai mengantarkannya
menjadi kepala negara, ditengah keterbatasan fisik yang dialaminya,
merupakan rekor spesial dalam sejarah bangsa. Berarti, segala sesuatunya mungkin saja terjadi, bukan karena faktor kebetulan. Semuanya membutuhkan semangat, kerja keras, pantang mundur, untuk tidak menyerah pada keadaan dan tidak menyalahkan keterbatasan.
3. Katakan Sesuatu dengan Santai Penuh Humor Penampilan GusDur yang bersahaja, bersahabat, dan berbicara santai apa adanya, telah banyak memberikan inspirasi bagi berbagai pihak. Dalam setiap pertemuan formal ataupun informal, GusDur selalu menyempatkan diri menyelipkan selingan kata-kata humor, sehingga bisa mencairkan suasana yang kaku menjadi rileks. Segala ucapan dan limpahan rasa belasungkawa terdalam telah diwujudkan oleh segenap komponen bangsa. Semoga beliau mendapatkan tempat yang layak, sesuai amal budi baiknya kepada bangsa dan negara tercinta.
Setelah berpulangnya Gus Dur, akankah ada tokoh nasionalis yang bisa menjadi suri teladan spesial bagi perjalanan anak bangsa?. Usulan berbagai tokoh partai politik untuk menobatkan Gus Dur sebagai pahlawan nasional, patut ditindaklanjuti dengan
pertimbangan sikap arif dan bijaksana. Apalagi tanggal 02 Januari ini, pas momentumnya peringatan Hari Legiun Veteran Republik Indonesia. Karena jasa-jasa perjuangan para pejuang veteran tanah air ataupun tokoh nasionalis yang telah berjuang mempertahankan kehormatan bangsa perlu dihargai dan diteladani bersama. Unik bahkan ajaib, namun selalu relevan dengan kata kreatif apabila kita berbicara mengenai karakter Gus Dur. Cara pandang dan sosok beliau yang belum ada duanya di Indonesia, mungkin telah menjadikannya sebagai
manusia paling heboh. Entah beliau memilih menjadi berbeda atau tidak nyaman menjadi biasa, yang pasti beliau telah banyak memberi inspirasi bagi pemikiran yang lebih kreatif untuk kemajuan bangsa.
Gus Dur yang dibesarkan dalam keluarga intelektual religius Islam (NU) telah banyak mengenyam pengalaman dari studi keIslamannya. Beliau pernah bergaul dengan tokoh-tokoh Muhammadiyah Yogyakarta ketika masih bersekolah di Krapyak, menamatkan kuliah di Universitas Al Azhar Mesir, kemudian ke Universitas Baghdad Iraq, dan terakhir di Universitas McGill Kanada untuk pengkajian Islam. Pengalaman organisasi dalam tubuh NU, pergaulannya yang sangat luas dan kemampuannya untuk dapat berpikir unik dan cenderung efektif telah menempatkan beliau sebagai tokoh yang dihormati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar