Minggu, 30 Oktober 2016

Perbedaan Kemampuan Individu


1. Pengertian Intelegensi
Secara Etimologis
Intelegensi berasal dari
bahasa
Inggris “Intelligence” yang
juga bersalal dari bahasa
Latin yaitu “Intellectus dan
Intelligentia”. Teori tentang
intelegensi pertama kali
dikemukakan oleh
Spearman dan Wynn Jones
Pol pada tahun 1951.
Spearman dan Wynn
mengemukakan adanya
konsep lama mengenai
suatu kekuatan (power)
yang dapat melengkapi akal
pikiran manusia tunggal
pengetahuan sejati.
Kekuatan tersebut dalam
bahasa Yunani disebut
dengan “Nous”, sedangkan
penggunaan kekuatannya
disebut “Noeseis”.
Ensiklopedia Indonesia,
Intelegensi adalah keahlian
memecahkan masalah dan
kemampuan untuk
beradaptasi pada, dan
belajar dari, pengalaman
hidup sehari-hari.
Dictionary of Psychology
Menurut JP Chaplin, 1975,
Intelegensi adalah:
1. Kemampuan
beradaptasi dan
memenuhi tuntunan
situasi (lingkungan) yang
kita hadapi dengan cepat
dan efektif.
2. Kemampuan
menggunakan konsep-
konsep abstrak secara
efektif.
3. Kemampuan
memahami hubungan
dan mempelajarinya
secara cepat.
Menurut beberapa Ahli
1.Alfred Binet
tokoh perintis
pengukuran intelegensi
mendefinisikan
intelegensi terdiri dari
tiga komponen, yaitu
a) Kemampuan
untuk mengarahkan
pikiran dan
tindakan
b) Kemampuan
untuk mengubah arah
tindakan
setelah
tindakan
tersebut
dilaksanakan
c) Kemampuan
untuk
mengkritik diri
sendiri atau
melakukan auto
criticism
2.David Wechsler
inteligensi adalah
kemampuan untuk
bertindak secara
terarah, berpikir secara
rasional, dan
menghadapi
lingkungannya secara
efektif. Secara garis
besar dapat
disimpulkan bahwa
inteligensi adalah suatu
kemampuan mental
yang melibatkan proses
berpikir secara
rasional. Oleh karena
itu, inteligensi tidak
dapat diamati secara
langsung, melainkan
harus disimpulkan dari
berbagai tindakan
nyata yang merupakan
manifestasi dari proses
berpikir rasional itu.
3.Waltres dan Gardnes
mendefinisikan
intelegensi sebagai
serangkaian
kemampuan-
kemampuan yang
memungkinkan individu
memecahkan masalah
atau produk sebagai
konsekuensi seksistensi
suatu budaya tertentu.
Secara garis besar dapat
disimpulkan bahwa
inteligensi adalah
a.Kemampuan untuk
berfikir secara
konvergen
(memusat) dan
divergen (menyebar)
b.Kemampuan
berfikir secara
abstrak
c. Kemampuan
berfikir dan
bertindak
secara terarah,
bertujuan, dan
rasional
d. Kemampuan untuk
menyatukan
pengalaman-
pengalaman
e. Kemampuan untuk
menggunakan apa
yang telah dipelajari
f. Kemampuan untuk
belajar dengan lebih
baik,
g. Kemampuan untuk
menyelesaikan tugas-
tugas yang sulit
dengan
memperhatikan
aspek psikologis dan
intelektual
h. Kemampuan untuk
menyesuaikan diri
dan merespon
terhadap situasi-
situasi baru
i. Kemampuan untuk
memahami masalah
dan
memecahkannya.
2. Faktor- faktor yang
Mempengaruhi
Perkembangan Intelegensi
1) Pembawaan ,
Pembawaan ditentukan
oleh sifat-sifat dan cirri
yang dibawah sejak lahir.
Batas kesangupan kita
yakni dapat tidaknya
memecahkan suatu soal,
pertama ditentukan oleh
pembawaan kita. Orang itu
ada yang pintar ada pula
yang bodoh. Sekalipun
menerima latihan dan
pelajaran yang sama,
perbedaan-perbedaan itu
masih tetap ada.
2) Kematangan , tiap organ
dalam tubuh manusia
mengalami pertumbuhan
dan perkembangan. Tiap
organ (fisik maupun non
fisik) dapat dikatakan telah
matang jika telah mencapai
kesangupan menjalangkan
fungsinya masing-masing.
Anak tidak dapat
memecahkan soal-soal
tertentu karena soal-soal
itu masih terlampau sukar
baginya. Organ-organ
tubuhnya dan fungsi-fungsi
jiwanya masih belum
matang untuk mengenai
soalitu dan kematangan
erat hubungannya dengan
umur.
3) Pembentukan,
pembentukan ialah segala
keadaan diluar diri
seseorang yang
mempengaruhi
perkembangan intelegensi.
Dapat kita bedakan
pembentukan sengaja
seperti yang dilakukan
disekolah-sekolah) dan
pembentukan tidak sengaja
(pengaruh alam sekitar)
4) Minat dan pembawaan
yang khas, Minat
mengarahkan perbuatan
kepada suatu tujuan dan
merupakan dorongan bagi
perbuatan itu. Dalam diri
manusia terdapat dorongan
– dorongan(motif-motif)
yang mendorong manusia
untuk berinteraksi dengan
dunia luar. Motif
menggunakan dan
menyelidiki dunia luar
( manipulate and exploring
motivasi ) dari manipulasi
dan eksplorasi yang
dilakukan terhadap dunia
luar itu, lama kelamaan
timbulah minat terhadap
sesuatu, apa yang mereka
minat seseorang
mendorongnya untuk
berbuat lebih giat dan lebih
baik
5) Kebebasan , kebebasan
berarti bahwa manusia itu
dapat memilih metode-
metode yang tertentu
dalam memecahkan
masalah-masalah.
Manusia mempunyai
kebebasan memilih metode
juga bebas dalam memilih
masalah sesuati dengan
kebutuhannya. Dengan
adanya kebebasan ini
berarti bahwa minat itu
tidak selamanya menjadi
syarat dalam pembentukan
intelegensi. (Dalyono,
2007.)
3. Ciri-Ciri Intelegensi
Ciri-ciri intelegensi yaitu :
1) Intelegensi
merupakan suatu
kemampuan mental
yang melibatkan
proses berfikir
secara rasional
(intelegensi dapat
diamati secara
langsung).
2) Intelegensi
tercermin dari
tindakan yang
terarah pada
penyesuaian diri
terhadap lingkungan
dan pemecahan
masalah yang timbul
daripadanya.
4. Ciri-Ciri Tingkah Laku
Intelegensi
Ciri – ciri tingkah laku
yang intelegen menurut
Effendi dan Praja (1993):
1) Purposeful
behavior, artinya
selalu terarah pada
tujuan atau
mempunyai
     tujuan yang
jelas.
2) Organized
behavior, artinya
tingkah laku yang
terkoordinasi,
senua tenaga dan
alat – alat yang
digunakan dalam
suatu pemecahan
masalah
terkoordinasi
dengan baik.
3) Physical well
toned behavior,
artinya memiliki
sikap jasmaniah
yang baik, penuh
tenaga,
ketangkasan, dan
kepatuhan.
4) Adaptable
behavior, artinya
tingkah laku yang
luas fleksibel, tidak
statis, dan kaku,
tetapi selalu siap
untuk mengadakan
penyesuaian/
perubahan
terhadap situasi
yang baru.
5) Success
oriented behavior,
artinya tingkah
laku yang didasari
rasa aman, tenang,
gairah, penuh
kepercayaan, akan
sukses/optimal.
6) Clearly
motivated behavior ,
artinya tingkah
laku yang
memenuhi
kebutuhannya dan
bermanfaat bagi
orang lain atau
masyarakat.
7) Rapid
behavior, artinya
tingkah laku yang
efisien, efektif dan
cepat atau
menggunakan
waktu yang
singkat.
8) Broad
behavior, artinya
tingkah laku yang
mempunyai latar
belakang dan
pandangan luas
yang meliputi sikap
dasar dan jiwa
yang terbuka.
5. Pengukuran Intelegensi
v Sejarah Pengukuran
Adapun sejarah
pengukuran inteligensi
yaitu pada abad XIV, di
negeri Cina, telah
berlangsung usaha
untuk mengukur
kompetensi para
pelamar jabatan
sebagai pegawai
negara. Untuk dapat
diterima sebagai
pegawai, para pelamar
harus mengikuti ujian
tertulis mengenai
pengetahuan Confucian
Classics dan mengenai
kemampuan menulis
puisi dan komposisi
karangan. Ujian ini
berlangsung sehari
semalam lamanya di
tingkat distrik. Kurang
dari 7% pelamar yang
biasanya lulus di
tingkat lulus ujian di
tingkat distrik tersebut
harus mengikuti ujian
berikutnya yang berupa
kemampuan menulis
sajak puisi dan prosa.
Dalam ujian kedua ini
hanya kurang dari 10%
dari sisa peserta yang
dapat lulus. Akhirnya
barulah ujian tingkat
akhir diadakan di
Peking dimana
diantara para peserta
terakhir ini dapat
diangkat menjadi
mandarin dan boleh
bekerja sebagai
pegawai negara.
Dengan demikian, dari
ketiga tahap ujian
tersebut, hanya 5
diantara 100.000
pelamar saja yang pada
akhirnya dapat
mencapai Status
mandarin (Djphie’s
Blog).
Tidaklah jelas jenis
pekerjaan kantor apa
saja yang dapat
dipegang oleh para
lulusan yang telah
berstatus mandarin itu.
Apabila status
mandarin itu
merupakan semacam
lisensi untuk bekerja di
mana saja pada jenis
pekerjaan apa saja,
tentulah mata ujian
yang berupa
pengetahuan sastra dan
kemampuan menulis
prosa tidak merupakan
prediktor prestasi yang
cukup baik.
Diferensiasi
kemampuan pada jenis
pekerjaan yang
berbeda tidaklah dapat
dilakukan dengan
hanya mengujikan satu
bidang kemampuan
saja. Apabila pekerjaan
yang dapat dimasuki
oleh para mandarin itu
memang pekerjaan
yang menuntut
pengetahuan luas
mengenai sastra dan
kemampuan
mengarang, maka
sebenarnya apa yang
dilakukan oleh para
penguasa di Cina waktu
itu dapat dikatakan
telah sesuai dengan
prinsip pengukuran
yang berkembang lebih
akhir dan masih
dipegang sampai
sekarang ini. Baru pada
awal abad XIX ujian
semacam itu mulai
dihilangkan sejalan
dengan pesatnya
kemajuan universitas-
universitas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar