Pernahkan terpikirkan kenapa ketika kecil kita berani bercita-cita besar namun ketika telah dewasa semangat itu surut walaupun hanya mengambil langkah kecil yang nyata untuk mewujudkan cita-cita yang telah lama diidam-idamkannya tersebut. Kenapa dengan adanya perkembangan dan pertumbuhan yang dialaminya baik secara psikologis dan biologis, justru semakin membuatnya mencari alasan untuk menjauhi cita-cita. Contoh sederhana, ketika masih duduk di bangku SD cita-citanya ingin menjadi astronot, masuk suasana SMP bergeser menjadi Pilot, masa-masa SMA membujuknya menjadi pegawai negeri, dan dunia kuliah membawanya menjadi karyawan. Sebenarnya apa yang terjadi pada manusia modern.
Kita sering membaca literatur sejarah bahwa orang-orang dahulu telah menanamkan semangat untuk mengukir sejarah peradaban dunia sejak masih anak-anak dan impian itu telah mengantarkannya menuju sebuah pengalaman hidup yang luar bisa dan menginspirasi orang banyak. Salah satu faktor keberhasilan mereka adalah rela meninggalkan kampung halamannya demi mencapai misi hidupnya. Tak ada alasan bagi mereka untuk mundur walaupun banyak aral melintang dan jalan terjal menghadang. Keterbatasan modal bahkan fisik tak menyurutkan semangat mereka justru dengan semakin ditempa terus-menerus dengan berbagai problema semakin memompa semangatnya.
Ketika menelusuri jejak era milenium dengan melimpahnya kemajuan di segala bidang yang kita rasakan selama ini justru terkadang membuat kita semakin terpuruk dalam hal mengambil sikap. Hanya sebagian kecil yang bisa keluar dari zona nyaman dengan segala kemewahan yang ditawarkannya.
Pendidikan yang dianggap sebagai salah satu solusi topcer tak lantas serta merta membuat manusia masa kini mau berpikir visioner namun malah materialistis dan hedonis yang lebih dominan dalam kamus pribadinya. Peran Pendidikan masih dianggap belum mampu mencetak insan-insan berkualitas secara maksimal. Apa yang salah dengan pendidikan? Apa karena kesejahteraan para guru yang diabaikan oleh pemerintah sehingga para pahlawan tanda jasa tersebut harus mencari pekerjaan sambilan untuk menutupi kebutuhan hidupnya? Ataukah karena kurikulum pendidikan yang sering diotak-atik dan dirombak seiring dengan pergantian menteri disetiap periode atau di setiap reshuffle kabinet? ditambah lagi kurangnya perhatian orang tua dalam memonitoring perkembangan putra-putrinya dalam hal akademik dan akhlaknya. Mereka para orang tua mungkin terlalu sibuk mencari kebutuhan finansial penunjang keberlanjutan pendidikan sehingga tak jarang banyak kaum remaja yang merasa kekurangan rasa kasih sayang. Pada akhirnya mereka mudah tergerak melakukan tindakan kenakalan remaja yang marak terjadi dewasa ini. ditambah lagi peran media yang lebih banyak kontra dengan tujuan pendidikan. Media dipandang lebih berorientasi pada hiburan dan profit dari pada edukasi.
Tak perlu saling menyalahkan siapapun, saling lempar kesalahan, saling berapologi, dan lain sebagainya. Tugas menanamkan cita-cita besar pada tunas bangsa adalah tugas bersama. Bersinergi antar elemen terkait merupakan solusi yang perlu dititikberatkan dengan merealisasikannya bukan hanya wacana saja yang digulirkan. Generasi muda tak ubahnya gambaran masa depan suatu bangsa. Jika sebagian besar kaula mudanya hanya terkungkung dalam zona hedonisme dan apatisme, maka nasib bangsa ini sudah bisa diteropong akan menjadi apa dan akan dibawa kemana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar