Jumat, 07 Oktober 2016

KENANGAN PALING MENGESANKAN

Masih segar dalam ingatan pada tahun 2014 silam ketika masih menjadi mahasiswa aktif strata satu, saya mengikuti seleksi program PKLI (Praktek Kerja Lapangan Integratif) yaitu praktek mengajar di sekolah yang diselenggarakan oleh FITK (Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan) UIN Malang. Program ini diperuntukkan untuk mahasiswa semester 6 dan akan ditempatkan di Luar negeri yaikni Malaysia dan Thailand.

Tidak semua mahasiswa bisa mengikuti program ini mengingat kuota yang terbatas hanya menampung 50 orang sehingga seleksi akademik mutlak dilalui. Ada beberapa aspek yang harus dimiliki oleh peserta untuk bisa diterima dalam program yang baru memasuki periode kedua ini yaitu kemampuan bahasa inggris atau Arab dan good personality.

Pada awalnya peserta diberikan  pilihan untuk memilih negara tujuan. Saat itu saya sangat berhasrat bisa berfoto digedung Petronas atau Twin Tower Kuala Lumpur Malaysia sehingga saya memantapkan pilihan di negara serumpun melayu itu. Untuk mewujudkan impian tersebut, segala upaya kulakukan diantaranya meminta restu orang tua, melakukan istikharah, dan berkonsultasi dengan beberapa dosen. Namun Tuhan berkehendak lain, ketika kucari namaku di daftar peserta yang lolos seleksi di web fakultas kulihat namaku tertera di kolom Thailand. Tak henti-hentinya aku melafadzkan syukur kepada yang maha kuasa, sontak kutelpon orang tua yang turut pula menunggu kabar bahagia ini. Namun timbul pertanyaan dibenakku, kenapa aku ditempatkan di Thailand. Beberapa kawan juga diputuskan dinegara yang bukan pilihannya. Apa alasan pihak fakultas memutuskan secara sepihak perihal penempatan ini.

Setelah mengkonfirmasi ke fakultas, penanggung jawab PKLI mengatakan bahwa pengelompokan perihal negara didasarkan pada permintaan lembaga di negara tujuan. Oleh karena itu, semua peserta dari jurusanku yaitu (Pendidikan Bahasa Arab) dialihkan ke lembaga-lembaga di Thailand karena dibutuhkan tenaga pengajar bahasa Arab. Sedangkan lembaga di Malaysia mengutamakan mahasiswa yang memiliki skill bahasa Inggris yang mumpuni. Walaupun harus menelan sedikit kekecewaan, saya paksa diriku untuk menerima keputusan ini. Saya tanamkan dan yakinkan diri kalau ini pasti adalah yang terbaik.

Persiapan demi persiapan yang berkaitan dengan materi program telah kuikuti sebagai pembekalan sebelum berangkat ke Thailand. Alhasil aku mengetahui kalau penempatanku di negeri gajah putih ini memang sangat cocok dengan kondisiku saat itu. Menurut penanggung jawab program, dijelaskan bahwa bagi mahasiswa yang bertugas di Malaysia, mulai tahun tersebut semua biaya hidup, akomodasi dan transportasi pulang-pergi ditanggung oleh mahasiswa dan waktu pelaksanaannya hanya 2 minggu. Sedangkan di Thailand hanya merogoh kocek untuk transportasi saja, mengenai akomodasi dan biaya hidup ditanggung oleh lembaga tempat tugas dan masa tugas nya 3 minggu. Sungguh berbeda dan lebih menguntungkan ditempatkan di negeri yang menggunakan mata uang Bath ini. Perbedaan ini dikarenakan sistem yang berbeda di kedua negara tersebut.

Ternyata kejutan tidak hanya datang dari perbedaan finansial yang mencolok. Menurut penuturan kawan-kawan yang di Malaysia, mereka tak mendapatkan fasilitas seperti kami peroleh dari lembaga sekolah diantaranya diajak mengunjungi tempat bersejarah dan obyek wisata, sagu hati atau uang saku, konsumsi, dan dilibatkan dalam kegiatan belajar mengajar serta perlombaan-perlombaan di sekolah.

Dari peristiwa itu, saya sadar kalau ternyata rencana Allah lebih indah dari pada rencana kita. Walaupun 2 tahun lalu keinginanku menginjakkan kaki di negeri upin ipin tak terwujud ternyata sang Khalik hanya menundanya saja. Saya mendapatkan kesempatan melanjutkan studi magister di Kuala lumpur dengan beasiswa full LPDP dan Insya Allah akan berangkat Januari tahun depan. Subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaha illah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar