Sabtu, 15 Oktober 2016

Maqamat dan Ahwal

A. PENGERTIAN MAQAMAT
Maqamat adalah jama' dari
maqam, yang berarti tempat atau kedudukan (station). Dalam Sufi terminology : The Mystical Language Of Islam, maqam diterjemahkan sebagai kedudukan spiritual. Karena sebuah maqam
diperoleh melalui daya dan upaya (mujahadah) dan ketulusan dalam
menempuh perjalanan spiritual. Maqam juga dapat diartikan sebagai tahapan adap (etika) seorang hamba dalam wushul kepada-Nya dengan macam upaya,
diwujudkan dengan suatu tujuan pencarian dan ukuran tugas. Suatu maqam tidak lain adalah merupakan kualitas kejiwaan yang
bersifat tetap. Inilah yang membedakan dengan keadaan spiritual (hal) yang bersifat sementara.
Seseorang tidak dapat
beranjak dari suatu maqam ke maqam yang lain sebelum ia memenuhi semua
persyaratan yang ada pada maqam tersebut.

Sebagaimana yang telah
digambarkan oleh Al-Qusyairi yang dikutip
oleh Hasyim Muhammad bahwa seorang yang belum qona'ah tidak bisa mencapai
tawakkal .Dan siapa yang tidak tawakkal tidak bisa mencapai taslim. Dan barang
siapa yang belum taubat tidak bisa sampai pada inabat .Dan barang siapa tidak wara' tidak akan bisa mencapai tingkat zhuhud,
begitu seterusnya 3.Tahapan – tahapan spiritual ini saling berkaitan sepertihalnya
tangga, dimana mustahil bagi kita untuk mencapai anak tangga yang ada diatas
tanpa harus melalui anak tangga yang ada dibawahnya. Dengan demikian kualitas – kualitas tingkatan tersebut akan senantiasa melekat, semakin tinggi kedudukan yang
dicapainya akan semakin sempurna dan utuh kualitas diri seseorang.

Adapun tentang berapa jumlah tangga atau maqamat yang harus ditempuh
oleh seorang sufi untuk sampai menuju Tuhan, dikalangan sufi tidak sama
pendapatnya. Menurut Muhammad Al-Kalabazy dalam kitabnya Al-Ta'aruf Li Al-Tasawwuf yang di kutib oleh Abuddin Nata mengatakan bahwa maqamat itu jumlahnya
ada sepuluh yaitu Al-Taubah, Al-Zuhud, Al-Sabr,  Al-Faqr, Al-Tadlu', Al-Taqwa, Al-
Tawakkal, Al-Ridla, Al-Mahabbah, dan Al-
Ma'rifah. 4. Sementara Abu Nasr Al-Sarraj Al-Tusi didalam kitab Al-Luma'
menyebutkan bahwa maqamat itu jumlahnya hanya tujuh, yaitu Al-Taubah, Al-Wara',  Al-Zuhud, Al-Faqr, Al-Tawakkal, dan Al-Ridla. Lainhalnya dengan pendapat
Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya' Ulum Al-Din yang dikutip oleh Abuddin
Nata mengatakan bahwa maqamat itu ada delapan, yaitu Al-Taubah, Al-Sabr, Al-
Zuhud, Al-Tawakkal, Al-Mahabbah, Al-Ma'rifah, dan Al-Ridla. Namun dari perbedaan pendapat
diatas ada maqamat yang mereka sepakati yaitu : Al-Taubah, Al-Zuhud, Al-Wara', Al-Faqr, Al-Shabr, Al-Tawakkal, dan Al-Ridla.
Sedangkan Al-Tawaddlu', Al-Mahabbah dan Al-Ma'rifah oleh mereka tidak disepakati
sebagai maqamat.
1. Taubah
Sebagai awal dari perjalanan yang harus dilakukan oleh seorang Sufi ialah maqam taubah yang berasal dari bahasa Arab yaitu taba – yatubu – taubatan yang
artinya kembali. Sedang taubat yang dimaksud oleh kalangan Sufi adalah
memohon ampun atas segala dosa dan kesalahan disertai janji yang sungguh-
sungguh tidak akan mengulangi dosa tersebut yang disertai melakukan amal kebajikan. Menurut Harun Nasution yang dikutip oleh Abuddin Nata mengetakan taubah yang dimaksud oleh seorang Sufi adalah taubah yang sebenarnya, taubah yang tidak membawa dosa lagi.
ﻭَﺗُﻮْ ﺑﻮﺍ ﺍﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪِ ﺟَﻤِﻴْﻌًﺎ ﺍﻳُّﻪَ ﺍﻟﻤُﺆْﻣِﻨُﻮْﻥَ ﻟَﻌَﻠَّﻜُﻢْ ﺗُﻔْﻠِﺤُﻮْﻥَ
‏(ﺍﻟﻨﻮﺭ : 31‏)
Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang – orang yang beriman
supaya kamu beruntung (QS. An-Nur, 24:31)
2. Wara'
Secara harfiyah Al-Wara' artinya saleh, menjauhkan diri dari perbuatan dosa.
Dalam tradisi Sufi yang dimaksud dengan wara' adalah meninggalkan sesuatu yang belum jelas hukumnya (subahat), hal ini
berlaku pada segala hal atau aktifitas manusia baik yang berupa benda maupun
perilaku seperti makanan, minuman, pakaian, pembicaraan, perjalanan, duduk, berdiri, bersantai, bekerja dan lain-lain.
ﻓَﻤَﻦِ ﺍﺗَّﻘَﻲ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺸُّﺒَﻬَﺎﺕِ ﻓَﻘَﺪِ ﺍﺳْﺘَﺒْﺮَﺃَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺤَﺮَﺍﻡِ ‏( ﺭﻭﺍﻩ
ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ‏)
Barang siapa yang dirinya terbebas dari syubahat, maka seseungguhnya ia telah
terbebas dari yang haram. (HR. Bukhari)
3. Zuhud
Secara harfiyah Al-Zuhud berarti tidak ingin pada sesuatu yang bersifat
keduniawian8. Dalam pandangan kaum Sufi,
dunia dan segala isinya adalah sumber segala kemaksiatan dan kemungkaran yang dapat menjauhkan diri dari tuhan. Karena hasrat, keinginan dan nafsu seseorang sangat berpotensi untuk menjadikan.kemewahan dan kenikmatan duniawi
sebagai tujuan hidupnya, sehingga memalingkannya dari tuhan. Menurut Al-
Junaidi yang dikutip oleh Hasyim Muhammad mengatakan bahwa, zuhud
adalah kosongnya tangan dari pemilikan dan kosongnya hati dari pencarian.
ﻓَﻤَﺎ ﻣَﺘَﺎﻉُ ﺍﻟﺤَﻴَﻮﺓِ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻓِﻲ ﺍﻷﺧِﺮَﺓِ ﺇﻻّ ﻗَﻠِﻴْﻞ ‏(ﺍﻟﺘﻮﺑﺔ :
38‏)
Padahal kenikmatan hidup didunia ini (dibandingkan kehidupan) akhirat hanyalah
sedikit (QS. Al-Taubah, 9:38)
4. Faqr
Secara harfiah faqr biasanya diartikan sebagai orang yang berhajat, butuh ataupun
orang miskin. Sedang menurut pandangan
Sufi faqr adalah tidak meminta lebih dari apa yang telah ada pada diri kita. Tidak meminta rezeki kecuali hanya untuk dapat
menjalankan kewajiban – kewajiban. Tidak meminta sesungguhpun tak ada pada diri kita, kalau diberi diterima. Tidak meminta
tetapi tidak menolak.
5. Sabar
Secara harfiah biasanya sabar berarti tabah hati. Menurut Zun Al-Nun Al-Mishry yang dikutip oleh Abuddin Nata, sabar
artinya menjauhkan diri dari hal-hal yang bertentangan dengan kehendak Allah, tetapi tenang ketika mendapat cobaan, dan
menampakkan sikap cukup walaupun sebenarnya berada dalam kefakiran dalam bidang ekonomi.
Nafsu (nafs) memiliki kecendrungan untuk memaksakan hasrat-hasratnya dalam upaya memuaskan diri. Sedangkan akal (aql) berperan sebagai kekuatan pengendali dan penasehat yang senantiasa memberikan pertimbangan kepada nafsu tentang
tindakan-tindakan positif yang harus dilakukan dan tindakan negatif yang harus
ditinggalkan Agar manusia senantiasa menempatkan
akal sebagai dorongan yang mendominasi kehendak dan perilakunya, maka diperlukan kesabaran (shabr). Dengan kata
lain, kesabaran adalah kendaraan bagi orang-orang yang menghendaki kebaikan.
ﻓَﺎﺻْﺒِﺮْ ﻛَﻤَﺎ ﺻَﺒَﺮَ ﺍُﻭﻟﻮ ﺍﻟﻌَﺰْﻡِ ﻣﻦ ﺍﻟﺮُّﺳُﻞِ ﻭﻻ ﺗَﺴْﺘَﻌْﺠِﻞْ ﻟَّﻬُﻢْ
‏(ﺍﻻﺣﻘﺎﻑ : 35‏)
Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul dan jangan kamu meminta
disegerakan (azab) bagi mereka (QS. Al-
Ahqaf, 46 :35)
6. Tawakkal
Secara harfiah tawakkal berarti menyerahkan diri. Menurut Sahal bin
Abdullah bahwa awalnya tawakkal Adalah apabila seorang hamba dihadapan Allah seperti bangkai dihadapan orang yang
memandikannya, ia mengikuti semaunya
yang memandikan, tidak dapat bergerak
dan bertindak. Hamdun Al-Qashshar mengatakan bahwa tawakkal adalah
berpegang teguh pada Allah.
ﻭَﻋَﻠﻲ ﺍﻟﻠﻪَ ﻓَﻠْﻴَﺘَﻮَﻛَّﻞِ ﺍﻟﻤُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ ‏( ﺍﻟﻤﺎﺋﺪﺓ : 11‏)
Dan bertawakwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang
mukmin bertawakkal (QS. A-Maidah, 5:11)
7. Ridla
Secara harfiah ridla artinya rela, suka, senang. Ridla juga merupakan buah dari
tawakkal, dimana jika seorang sufi telah
benar – benar melaksanakan tawakkal maka dengan sendirinya ia akan sampai
pada maqam ridla. Dzunnun Al-Mishri berpendapat bahwa ridla adalah menerima tawakkal dengan kerelaan hati. Adapun
tanda-tandanya adalah mempercayakan hasil pekerjaannya sebelum dating
ketentuan, tidak resah sesudah terjadi ketentuan dan cinta yang membara ketika tertimpa malapetaka.

B. PENGERTIAN AHWAL
Ahwal adalah jama' dari hal yang berarti keadaan atau situasi kejiwaan (state). Secara terminology ahwal berarti keadaan spiritual yang menguasai hati. Hal
masuk dalam hati sebagai anugerah yang diberikan oleh Allah. Hal datang dan pergi dari diri seseorang tanpa usaha ataupun
perjalanan tertentu. Karena hal datang dan pergi secara tiba-tiba dan tidak disengaja,
maka Al-Qusyairi mengatakan bahwa pada
dasarnya maqamat adalah upaya (makasib)
sedangkan hal adalah karunia.(mawahib)yang diberikan Allah sehingga
hal datang tidak ditentukan oleh waktu tertentu.
Menurut Harun Nasution hal
merupakan keadaan mental, seperti perasaan senang, perasaan sedih, perasaan
takut dan sebagainya. hal yang biasa disebut sebagai hal adalah takut (al-khauf),
rendah hati (al-tawadlu'), patuh (al-taqwa), ikhlas (al-ikhlas), rasa berteman (al-uns), gembira hati (al-wajd), berterima kasih (al-
syukr). Selain melaksanakan berbagai kegiatan dan usaha sebagaimana disebutkan diatas, seorang sufi juga harus melakukan serangkaian kegiatan mental
yang berat. Kegiatan mental tersebut seperti riyadah (latihan mental dengan
melaksanakan dzikir dan tafakkur yang sebanyak- banyakknya serta melatih diri bersifat yang terdapat dalam maqam), mujahadah. (berusaha sungguh-
sungguh dalam melaksanakan perintah
Allah), khalwat (Menyepi atau bersemedi), uzlah (mengasingkan diri dari keduniaan), muraqabah ( mendekatkan diri kepada
Allah), dan suluk (menjalankan hidup
sebagai sufi dengan cara dzikir dan dzikir)
Wassalam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar