Senin, 24 Oktober 2016

Kekuatan Cita-cita

Jika burung terbang dengan sayapnya maka manusia terbang dengan cita-citanya. Kalimat ini selalu diingat oleh Sikun, anak seorang buruh tani yang masih duduk di bangku SMP. Walaupun kondisi ekonomi orang tuanya sangat dirasa jauh dari kata cukup, Sikun tetap yakin bahwa ia bisa menggapai cita-citanya. Ia memiliki prinsip bahwa terlahir dalam keadaan miskin adalah sebuah takdir dan hidup dalam lingkaran kemiskinan adalah sebuah kemalasan.

Setiap hari ia harus menempuh jalan kaki sejauh 5 km untuk sampai sekolahnya. Ia bangun dan berangkat pagi-pagi agar tiba di sekolah tepat waktu. Tak ada kendaraan umum yang melintas didesanya. Namun seandainya ada, Sikun tak akan menggunakannya mengingat ia tak pernah membawa uang jajan ke sekah. Perjalanan ke sekolah yang begitu jauh membuat Sikun melepas sepatunya alias berjalan tanpa alas kaki agar sepatutnya tidak cepat rusak.

Selepas pulang sekolah, ia habiskan waktunya dengan  belajar. Ia belajar tak kurang dari 5 jam setiap hari, 2 jam di siang hari dan 3 jam di malam hari. Orang tuanya tak mengizinkan sikun untuk membantu pekerjaannya dengan alasan agar sikun bisa fokus belajar dengan baik. Bahkan Ibu nya selalu menemaninya belajar meskipun beliau tak dapat membantunya. Ibunya selalu menyuguhkan teh hangat bercampur jahe setiap sikun belajar khususnya di malam hari. Perhatian yang besar inilah yang membuat sikun semakin semangat belajar. Ia tak ingin mengecewakan harapan orang tuanya. Semangat belajarnya seakan tak pernah surut.

Alhasil, setiap pembagian rapor, Sikun selalu mendapat ranking pertama sehingga ia mendapat keringanan tidak membayar tagihan SPP. Bahkan disaat wisuda SMP ia dinyatakan sebagai peraih nilai UN terbaik tingkat provinsi. Atas prestasinya itu, pemerintah setempat memberikan beasiswa penuh untuk menjamin keberlangsungan pendidikan bagi Sikun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar