Pagi itu suasana pasar merjosari mulai cukup ramai dipadati para pengunjung yang hendak membeli berbagai keperluan khususnya keperluan sehari-hari. Lalu lalang kendaraan sudah mulai terlihat di jalanan depan pasar. Terlihat di pojok depan area pasar seperti biasanya Pak Nasir, seorang tukang becak memarkir becaknya sambil duduk-duduk diatas becaknya. Bapak tiga anak ini sedang menunggu calon penumpang yang ingin menggunakan jasanya.
***
Dari ujung jalan datang lelaki paruh baya berpakaian rapi terlihat tergesa-gesa sambil lari-lari kecil. Lelaki berkulit putih ini tampaknya terlambat berangkat kerja.
"Pak antarkan saya ke jalan Ahmad Yani no.12!, ban mobil saya bocor pak" pinta lelaki itu. Tanpa basa-basi pak nasir mengantarkan lelaki itu ke tujuan yang diminta.
Setelah sampai ditempat tujuan, ketika lelaki yang juga berdasi itu menyodorkan uang dua puluh ribu rupiah, lelaki itu kaget karena si tukang becak menolaknya. Lelaki itupun bertanya "kenapa bapak tak mau menerima upah ini?" tukang becak itu hanya tersenyum dengan pertanyaan itu.
Setelah didesak beberapa kali, tukang becak itupun menuturkan alasan ia menolak untuk terima upah dari penumpangnya. Ia menceritakan bahwa dirinya ingin sekali bersedekah di hari jumat, hari yang penuh berkah, hari yang sangat dianjurkan untuk berinfaq atau bersedekah. Namun baginya buat makan saja susah apa lagi mau bersedekah. Cara satu-satunya agar ia bisa bersedekah pada hari jumat ialah tak meminta upah dari jasa becaknya artinya penumpang yang naik becaknya pada hari jumat tak perlu bayar alias gratis.
Lalu lelaki berdasi itu bertanya, "Tapi bagaimana dengan nasib istri dan anak-anak anda pak?". Sambil mengusap keringat yang mengucur di keningnya pak Nasir menceritakan bahwa keputusan untuk berbuat demikian sudah didiskusikan dengan sang istri dan anak-anaknya dan mereka menyetujui niat mulia itu. Untuk belanja atau keperluan pada hari jum'ah, ia sisihkan sebagian dari hasil narik becak pada hari-hari yang lain.
*****
Kebiasaan bersedekah dengan menggratiskan tumpangan becaknya itu sudah dilakukan sejak lama. Pak Nasir berharap amal itu bisa diterima oleh Yang Maha Kuasa. Mendengar ucapan itu, lelaki paruh baya itu tak kuasa menahan air mata. Ia kagum pada si tukang becak. Walaupun kondisi ekonominya serba kekurangan, ia masih sempat untuk bersedekah tiap minggu. Sementara dirinya yang dianugerahi rizqi yang cukup oleh Allah, masih selalu merasa kurang akan harta dan jarang sekali bersedekah.
Akhirnya lelaki yang berprofesi sebagai Kepala Bank swasta di kota Malang ini berniat ingin mengunjungi rumah si tukang becak. Di suatu pagi menjelang siang, lelaki itu mengunjungi rumah tukang becak itu. Kondisi rumah tersebut sangat sederhana dan sangat kecil namun lantunan ayat-ayat-ayat al-Qur'an senantiasa terdengar dari rumah itu setiap pagi, membuat aura positif terpancar dari bangunan mungil itu.
Setelah diketuknya pintu rumah, keluar seorang perempuan yang berusia sekitar 50 tahun lebih dengan memakai mukena. Sepertinya Perempuan itu usai melaksanakan shalat dhuha.
Setelah berbincang-bincang dengan istri tukang becak, lelaki itu semakin terenyuh hatinya melihat ketabahan dan kesalehan keluarga ini. Tanpa berpikir lama, Kepala Bank itu menyampaikan keinginannya untuk mengajak mereka berdua umroh bersamanya secara gratis. Semua biaya akan ditanggung oleh pak direktur.
Sontak si istri tukang becak itu tak kuasa menahan haru. Ia tak percaya dengan apa yang telah dialaminya. Ia bersujud syukur atas nikmat besar yang diterimanya. Keinginan untuk bertamu ke Baitullah datang melalui rizqi yang tak disangka-sangka.
NB: Tulisan ini terinspirasi dari kisah nyata.
#OneDayOnePost
#ODOPBatch3
Tidak ada komentar:
Posting Komentar