Rabu, 16 November 2016

Kekerasan (Hukuman) dan Guru

Akhir-akhir ini marak terjadi kekerasan dan pelecehan yang dilakukan oleh guru terhadap muridnya. Sungguh miris dunia pendidikan di negeri ini.

Tadi siang diberitakan di televisi ada seorang guru sekolah dasar di Jember, Jawa Timur  memaksa 3 siswinya memakan kapur dan lem kertas sebagai hukuman gara-gara mereka berjalan-jalan didalam kelas saat guru menerangkan pelajaran. Kontan salah satu dari mereka ada yang muntah-muntah dan yang lain merasa mual-mual.  Tak hanya itu, siswi-siswi tersebut juga diancam akan diberikan hukuman yang lebih berat jika menceritakan kejadian tersebut. Namun akhirnya ulah guru tersebut terbongkar. (maaf, mungkin kata-katanya kurang berkenan dan terkesan menyudutkan si guru)

Terlepas dari kasus tersebut, kadang kita langsung menghujat si guru yang seharusnya mengajari murid-muridnya dengan penuh kasih sayang, senantiasa memaafkan kesalahan anak didik, dan sifat-sifat penuh kelembutan. Namun kenyataannya ada saja segelintir pendidik yang menghukum secara berlebihan hingga mencelakakan si murid. Alasannya demi mendisiplinkan. Tapi kenapa harus dengan kekerasan? (upsss, agak mendiskreditkan si pendidik lagi nih, maafkan!!!)

Ada juga pendidik yang melakukan pelecehan seksual terhadap muridnya. Guru yang katanya "digugu" dan "ditiru", kenapa berani berbuat sekeji itu? Kenapa mental guru tak ubahnya mental seorang yang tak berpendidikan? Dimanakah moral seorang guru? (lagi-lagi, memojokkan profesi guru, maapkeun)

Tapi sudah seyogyanya kita yang hidup di era kemajuan seperti saat ini harus lebih arif dalam menilai sebuah peristiwa. Jangan hanya memandang sesuatu dari satu sisi saja. Masih banyak sisi-sisi yang lain yang perlu ditelisik.

Bila beberapa paragraf sebelumnya mengulas hal-hal dari sudut pandang negatif alias su'udzon, maka coba kita gali dari perspektif yang baik atau dikenal dengan istilah husnudzon.

Pernahkah kita bertanya apakah kehidupan mayoritas pendidik itu sejahtera atau paling tidak berkecukupan? Apakah honor mereka perbulan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya? Tidakkah kita sering melihat bahwa gaji guru itu sangat kecil tapi tugasnya sangat besar?

Ya, pertanyaan-pertanyaan tersebut kadang kita abaikan. Padahal ini memiliki implikasi yang besar terhadap kualitas seorang guru.

Coba kita bayangkan, kita pakai bahasa blak-blakan saja, jika seorang guru gajinya rendah yakni kisaran 500 ribu setiap bulannya, sedangkan ia memiliki istri dan anak, maka bagaimanakah kondisi keluarga tersebut? Tentu itu sangat jauh dari kata cukup. Apa lagi kalau istrinya cerewet, selalu menuntut suaminya. Maka perselisihan tak bisa dihindarkan. Akibatnya emosi tersebut terbawa ke dalam kelas dan mudah tersulut dengan ulah-ulah siswa yang sebenarnya remeh dan wajar. Namun karena emosi itu sudah terbentuk sejak sebelum berangkat ke sekolah, maka ledakan emosi tak bisa dikontrol oleh sang pendidik.

Hal-hal seperti ini yang perlu kita renungkan pula. Kita harus memahami beratnya tugas guru dan kondisi ekonominya agar tak melulu menghujat secara membabi buta. Saya pribadi yakin Jika kesejahteraan menyelimuti kehidupan pendidik, maka insya Allah kasus-kasus diatas sulit terjadi. Semoga.

#maafkan jika ada yang tersinggung.

#OneDayOnePost
#ODOPBatch3
#Semangat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar