Arsitektur merupakan sebuah pekerjaan yang membutuhkan tingkat kreatifitas yang tinggi. Seorang arsitek dituntut untuk menciptakan bangunan yang tidak hanya kokoh dan indah, tapi juga unik dan inovatif. Oleh karena itu jalan menuju pekerjaan ini membutuhkan kerja keras dan kerja cerdas.
Masih segar dalam ingatan saya saat menjadi mahasiswa. Banyak kawan-kawan di jurusan arsitektur yang dianjurkan untuk tidak mengikuti organisasi apapun kecuali organisasi yang berkaitan dengan arsitektur. Alasannya selain tugas-tugas mahasiswa arsitektur sangat banyak juga sebagian besar tugas tersebut adalah tugas individu sehingga mereka seringkali lembur untuk menyelesaikannya.
Baik, disini saya tidak akan panjang lebar tentang seluk beluk arsitektur.
Dalam tulisan ini, saya ingin menceritakan kisah tentang seorang arsitek dan pimpinannya.
Dalam tulisan ini, saya ingin menceritakan kisah tentang seorang arsitek dan pimpinannya.
Alkisah ada seorang arsitek hebat yang bekerja di sebuah perusahaan. Si arsitek tersebut telah menciptakan ratusan jenis rumah yang fonomenal. Hampir semua pemilik rumah mengacungi dua jempol atas hasil karyanya. Setiap tahun sang arsitek mendapatkan penghargaan sebagai arsitek top spesialis rumah.
Suatu saat sang arsitek merasa jenuh dengan pekerjaannya. Dia ingin mengundurkan diri dari profesi yang telah membesarkan namanya itu.
Dibuatlah surat pengunduran diri ditujukan kepada pimpinannya. Sang pimpinan tak menyetujui dan ingin mempertahankannya. Pimpinan merasa si arsitek masih dibutuhkan di perusahaannya karena karya-karya begitu memukau dan berbeda dengan para arsitek pada umumnya.
Setelah didesak oleh arsitek, sang pimpinan tak punya jawaban lain selain jawaban mengiyakan. Namun sebelum si arsitek berhenti dari profesi itu, dia diminta untuk merancang sebuah rumah untuk terakhir kalinya.
Akhirnya dibuatlah sebuah desain rumah yang begitu sederhana oleh si arsitek. Desain rumah tersebut sangat berbeda dengan desain-desain yang pernah dibuat sebelumnya. Tak biasanya dia membuat jenis rumah yang sangat sederhana dan kecil.
Setelah beberapa bulan bangunan rumah pun selesai didirikan. Si arsitek melapor pada pimpinan. "saya sudah memenuhi persyaratannya". Tegas si arsitek. "Seandainya kau membuat rumah itu indah dan megah sebagaimana kau ciptakan sebelum-sebelumnya, tentu itu akan jadi kenangan yang indah. Aku memberikan rumah itu sebagai hadian pensiunmu.
Aku minta kau membuat rumah itu adalah sebagai hasil dari kerja keras dan jerih payahmu untuk perusahaan ini". Jawab sang pimpinan.
Aku minta kau membuat rumah itu adalah sebagai hasil dari kerja keras dan jerih payahmu untuk perusahaan ini". Jawab sang pimpinan.
Dengan rasa sesal di dada, si arsitek hanya tertunduk lemas. yang ada dalam benaknya, kenapa dia tak membuat rumah yang megah sebagaimana yang selama ini dia lakukan.
Itu salah satu buah dari inkonsistensi dalam sebuah profesi. Konsistensi perlu diterapkan dalam hal apapun demi meraih hasil yang maksimal. Sebuah inkonsistensi hanya akan melahirkan sebuah penyesalan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar