NB: Tulisan ini merupakan essay yang saya buat untuk pendaftaran LPDP periode 4 2015
Saya Muhammad Hasan, lulusan sarjana S1 Pendidikan Bahasa Arab
tahun 2015. Saya termasuk Fresh Graduate
dari kampus yang tersohor dengan bahasa arab dan ilmu agamanya, yaitu UIN
Maulana Malik Ibrahim Malang. Saya menempuh kuliah S1 selama 8 semester dengan
IPK 3.88 dengan skripsi berbahasa Arab. Saya mendapatkan kesempatan PKLI di
Thailand tepatnya di distrik Khokpho Provinsi Pattani selama hampir 1 bulan.
Sewaktu kuliah saya aktif di berbagai bidang akademik dan organisasi misalnya
Lembaga Kajian, Penelitian dan Pengembangan Mahasasiswa (LKP2M) dan organisasi
Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) PBA sebagai sekretaris. Hal itulah yang turut
pula mengantarkan proposal saya lolos Penelitian Kompetitif Mahasiswa (PKM)
2014 yang diselenggarakan oleh Fakultas.
Selama 3 tahun saya mengabdikan diri menjadi Musyrif yakni tutor
sebaya, pembimbing, dan pembina mahasiswa baru semester pertama dan kedua di
pusat Ma’had Al-Jamiah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. di Ma’had saya sering mengikuti
pelatihan bimbingan dan pembinaan Mahasiswa dan
Workshop berbahasa Arab dan Inggris. Saya sering dipercaya
menjadi kepanitiaan di berbagai acara ma’had seperti panitia ujian, gebyar
bahasa, dan pekan kreatifitas mahasiswa Ma’had UIN Malang. Selain itu saya juga
aktif mengajar secara privat semua mata pelajaran selain IPA dari tingkat SD,
SMP, sampai kalangan Masyarakat umum di lembaga Bimbingan Belajar.
Secara
personal saya alumni penerima beasiswa Bidikmisi yang telah sangat membantu
pribadi saya dalam mengembangkan keilmuan, menggali potensi diri serta tentunya
meringankan beban orang tua dalam biaya kuliah. Ketika liburan semester 4
Saya mengikuti program pengabdian
masyarakat selama 1 bulan di daerah terpencil yang diselenggarakan oleh pihak
kampus. Dari pengabdian tersebut saya bisa berinteraksi langsung dengan
masyarakat, mengajar di berbagai sekolah yang sangat minim sarana-prasana serta
bisa mengetahui lingkungan masyarakat pedalaman. Ada satu hal menarik yang akan
selalu saya ingat yakni betapa sulitnya mendapatkan pendidikan yang layak di
daerah terpencil.
Dari pengalaman berinteraksi dengan para guru bahasa arab, bisa
disimpulkan bahwa tidak sedikit dari guru bahasa arab yang kesulitan dalam
menerapkan pembelajaran bahasa arab yang menyenangkan. Salah satu penyebabnya
adalah kesulitan dalam pemanfaatan teknologi pembelajaran berbasis aplikasi. Oleh
karena itu saya berencana ketika studi magister ingin lebih konsentrasi dan fokus
dalam pengembangan dan penciptaan strategi belajar dan Media pembelajaran
berbasis aplikasi.
Menurut pandangan saya, Indonesia akan menjadi negara maju pada
tahun 2045 bertepatan dengan 100 tahun kemerdekaan Bangsa indonesia seperti
telah ramai diperbincangkan karena mayoritas penduduk bangsa ini berusia
produktif dan memiliki sumber daya alam (SDA) yang melimpah. Namun itu semua
tidak akan terwujud tanpa dibarengi dengan kualitas sumber daya manusia (SDM)
yang memiliki daya saing dengan negara-negara lain. Apa lagi gempuran warga
asing yang bekerja di indonesia tidak dapat terelakkan lagi. Jika SDM kita
masih stagnan, maka bisa dipastikan kita akan menjadi penonton di negeri
sendiri. Hemat saya, untuk menanggulangi masalah tersebut salah satu cara paling
jitu adalah dengan memperbaiki kualitas lembaga pendidikan kita. Apabila
lembaga pendidikan kita dari tingkat bawah sampai atas sudah terstruktur rapi, memiliki
visi, misi, tujuan, sarana-prasana, dan kualitas pendidik yang baik, maka tentu
akan mencetak lulusan-lulusan yang memiliki daya saing, terampil dan integritas
yang tinggi.
Oleh karena itu saya akan mengabdikan diri menjadi dosen dan
peneliti sesuai dengan konsentrasi studi saya yaitu pendidikan bahasa arab,
sehingga saya bisa berkontribusi langsung dalam mendidik insan-insan kebanggaan
bangsa indonesia. Disamping menjadi dosen dan peneliti, saya akan memajukan
desa dimana saya lahir dan dibesarkan. Saya tidak akan menjadi kacang yang lupa
pada kulitnya. Sebagai wujud terima kasih, saya akan membangun Rumah Belajar dan
Taman Baca. Impian ini sudah saya tanamkan sejak saya menuntut ilmu di
pesantren, karena anak-anak usia sekolah di desa saya minim sekali yang
mengenyam pendidikan.
Mayoritas setelah lulus SMA/SMK langsung bekerja sebagai
buruh pabrik. Apa lagi untuk perempuan, mayoritas menikah pada usia dini. Semua
itu terjadi selain karena rendahnya pemahaman orang tua, juga karena rendahnya
tingkat membaca anak-anak usia sekolah yang menyebabkan rendahnya pula tingkat
pemahaman mereka akan masa depan mereka. Sehingga harapan saya dengan adanya
rumah belajar dan taman baca akan menumbuhkan semangat belajar mereka untuk
selalu optimis dalam menatap masa depan dan memberikan pemahaman pada para
orang tua akan pentingnya pendidikan untuk anak-anak.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar