Rabu, 06 Desember 2017

Kontribusiku Bagi Indonesia



NB: Tulisan ini merupakan essay yang saya buat untuk pendaftaran LPDP periode 4 2015

Saya Muhammad Hasan, lulusan sarjana S1 Pendidikan Bahasa Arab tahun 2015. Saya termasuk  Fresh Graduate dari kampus yang tersohor dengan bahasa arab dan ilmu agamanya, yaitu UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Saya menempuh kuliah S1 selama 8 semester dengan IPK 3.88 dengan skripsi berbahasa Arab. Saya mendapatkan kesempatan PKLI di Thailand tepatnya di distrik Khokpho Provinsi Pattani selama hampir 1 bulan. Sewaktu kuliah saya aktif di berbagai bidang akademik dan organisasi misalnya Lembaga Kajian, Penelitian dan Pengembangan Mahasasiswa (LKP2M) dan organisasi Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) PBA sebagai sekretaris. Hal itulah yang turut pula mengantarkan proposal saya lolos Penelitian Kompetitif Mahasiswa (PKM) 2014 yang diselenggarakan oleh Fakultas.

Selama 3 tahun saya mengabdikan diri menjadi Musyrif yakni tutor sebaya, pembimbing, dan pembina mahasiswa baru semester pertama dan kedua di pusat Ma’had Al-Jamiah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. di Ma’had saya sering mengikuti pelatihan bimbingan dan pembinaan Mahasiswa dan  Workshop berbahasa Arab dan Inggris. Saya sering dipercaya menjadi kepanitiaan di berbagai acara ma’had seperti panitia ujian, gebyar bahasa, dan pekan kreatifitas mahasiswa Ma’had UIN Malang. Selain itu saya juga aktif mengajar secara privat semua mata pelajaran selain IPA dari tingkat SD, SMP, sampai kalangan Masyarakat umum di lembaga Bimbingan Belajar. 

Secara personal saya alumni penerima beasiswa Bidikmisi yang telah sangat membantu pribadi saya dalam mengembangkan keilmuan, menggali potensi diri serta tentunya meringankan beban orang tua dalam biaya kuliah. Ketika liburan semester 4 Saya  mengikuti program pengabdian masyarakat selama 1 bulan di daerah terpencil yang diselenggarakan oleh pihak kampus. Dari pengabdian tersebut saya bisa berinteraksi langsung dengan masyarakat, mengajar di berbagai sekolah yang sangat minim sarana-prasana serta bisa mengetahui lingkungan masyarakat pedalaman. Ada satu hal menarik yang akan selalu saya ingat yakni betapa sulitnya mendapatkan pendidikan yang layak di daerah terpencil.

Dari pengalaman berinteraksi dengan para guru bahasa arab, bisa disimpulkan bahwa tidak sedikit dari guru bahasa arab yang kesulitan dalam menerapkan pembelajaran bahasa arab yang menyenangkan. Salah satu penyebabnya adalah kesulitan dalam pemanfaatan teknologi pembelajaran berbasis aplikasi. Oleh karena itu saya berencana ketika studi magister ingin lebih konsentrasi dan fokus dalam pengembangan dan penciptaan strategi belajar dan Media pembelajaran berbasis aplikasi.

Menurut pandangan saya, Indonesia akan menjadi negara maju pada tahun 2045 bertepatan dengan 100 tahun kemerdekaan Bangsa indonesia seperti telah ramai diperbincangkan karena mayoritas penduduk bangsa ini berusia produktif dan memiliki sumber daya alam (SDA) yang melimpah. Namun itu semua tidak akan terwujud tanpa dibarengi dengan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang memiliki daya saing dengan negara-negara lain. Apa lagi gempuran warga asing yang bekerja di indonesia tidak dapat terelakkan lagi. Jika SDM kita masih stagnan, maka bisa dipastikan kita akan menjadi penonton di negeri sendiri. Hemat saya, untuk menanggulangi masalah tersebut salah satu cara paling jitu adalah dengan memperbaiki kualitas lembaga pendidikan kita. Apabila lembaga pendidikan kita dari tingkat bawah sampai atas sudah terstruktur rapi, memiliki visi, misi, tujuan, sarana-prasana, dan kualitas pendidik yang baik, maka tentu akan mencetak lulusan-lulusan yang memiliki daya saing, terampil dan integritas yang tinggi.


Oleh karena itu saya akan mengabdikan diri menjadi dosen dan peneliti sesuai dengan konsentrasi studi saya yaitu pendidikan bahasa arab, sehingga saya bisa berkontribusi langsung dalam mendidik insan-insan kebanggaan bangsa indonesia. Disamping menjadi dosen dan peneliti, saya akan memajukan desa dimana saya lahir dan dibesarkan. Saya tidak akan menjadi kacang yang lupa pada kulitnya. Sebagai wujud terima kasih, saya akan membangun Rumah Belajar dan Taman Baca. Impian ini sudah saya tanamkan sejak saya menuntut ilmu di pesantren, karena anak-anak usia sekolah di desa saya minim sekali yang mengenyam pendidikan. 

Mayoritas setelah lulus SMA/SMK langsung bekerja sebagai buruh pabrik. Apa lagi untuk perempuan, mayoritas menikah pada usia dini. Semua itu terjadi selain karena rendahnya pemahaman orang tua, juga karena rendahnya tingkat membaca anak-anak usia sekolah yang menyebabkan rendahnya pula tingkat pemahaman mereka akan masa depan mereka. Sehingga harapan saya dengan adanya rumah belajar dan taman baca akan menumbuhkan semangat belajar mereka untuk selalu optimis dalam menatap masa depan dan memberikan pemahaman pada para orang tua akan pentingnya pendidikan untuk anak-anak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar