Minggu, 03 Desember 2017

Pendekatan Transformatif Generatif



Aplikasi Pembelajaran Bahasa Arab Melalui Pendekatan Transformatif Generatif
Chomsky mengatakan bahawa pemerolehan bahasa tidak perlu proses pembelajaran dan juga buka hasil dari setting lingkungan tidak boleh digeneralisir pada seluruh jenis bahasa. Selain itu, dalam teorinya chomsky lebih condong pada pemerolehan bahasa ibu dan kurang terlalu memperhatikan pemerolehan bahasa kedua dan seterusnya. Tentu saja, pembelajaran bahasa Arab sebagai bahasa asing jauh berbeda dengan pemerolehan bahasa Arab oleh masyarakat Arab sendiri. Meskipun Chomsky mengatakan bahwa bahasa itu universal, ia mengartikan bahwa di samping satu bahasa dan bahasa lain memiliki karakteristik yang berbeda, ada juga kesamaan dari sisi core grammar (kaidah dasar) atau istilah lainnya ‘unmarked rules’. Namun demikian, karakteristik yang dimiliki bahasa Arab, terutama pada ‘peripheral grammar’ (kaidah parameter), jauh melampaui tingkat universalnya. Sebagaimana telah dijelaskan bahwa sekalipun bahasa Arab dan bahasa Indonesia  memiliki  beberapa  kesamaan, keduanya juga punya banyak sekali perbedaan fundamental sehingga menjadikan bahasa Arab sebagai sebuah bahasa rumit dan unik.
Teori  ‘nature’,  yang  merupakan pengejawantahan  teori  generatif- transformative, lebih tepat jika diorientasikan pada pemerolehan bahasa ibu (bahasa Indonesia) atau bahasa lain yang serumpun dengan bahasa Indonesia. Alasannya, piranti pemerolehan bahasa (language acquisition device) yang dimiliki oleh seseorang dan bersifat kodrati (innate) jika dikaitkan dengan pemerolehan bahasa Arab sebagai bahasa kedua, maka dipastikan hanya akan relevan dalam batasan-batasan tertentu karena kuatnya perbedaan karakter antara kedua bahasa tersebut. Perlawanan teori generatif-transformatif atas  madzhab  behaviorisme  yang mengasumsikan  tidak  perlunya  proses pembelajaran bagi pemerolehan bahasa juga tidak berlaku dalam konteks pembelajaran bahasa Arab.
Jika pandangan ini benar-benar diterapkan, maka untuk bisa berkomunikasi bahasa Arab tidak perlu lagi sebuah proses pembelajaran yang meliputi perencanaan, pendekatan, metode, strategi dan media. Kondisi ini tampaknya belum pernah terjadi di Indonesia, meskipun terdapat beberapa lembaga pendidikan yang menyelenggarakan kegiatan aktif berbahasa Arab, namun itu pun tetap tidak bisa dilepaskan dari setting lingkungan dan proses pembelajaran. Pendek kata, teori ‘nature’, yang merupakan bagian dari gagasan besar teori generatif-transformatif, tidak relevan bagi pembelajaran bahasa Arab. Bagian  lain  dari  teori  generatif- transformatif, yaitu struktur dalam (deep structure) dan struktur luar (surface structure) bila diimplementasikan dalam pemerolehan bahasa Arab sebagai bahasa kedua, maka akan muncul permasalahan secara kolektif. Hal ini karena kemampuan intelektual (kompetensi) yang meliputi komponen fonologi, sintaksis dan semantik yang dimiliki oleh seseorang pada bahasa ibunya tidak serta merta bisa langsung diadopsi pada bahasa kedua secara general, terlebih bahasa Arab memiliki banyak karakteristik yang unik sebagaimana telah dijelaskan di atas.
Kelemahan dari teori Chomsky lain dalam konteks pembelajaran bahasa Arab adalah isu sentral tentang warisan bahasa. Jika ini benar maka dapat dipastikan akan tertutup peluang bagi seseorang untuk bisa menguasai bahasa Arab jika orang tuanya tidak bisa berbahasa Arab. Faktanya, banyak dijumpai mereka yang mahir bahasa Arab lahir dari keluarga sederhana bahkan sama sekali tidak bisa berbicara bahasa Arab atau hanya mengenalnya. Meskipun teori generatif-transformatif yang digagas oleh Chomsky lebih relevan dengan pemerolehan bahasa ibu, bukan pemerolehan bahasa Arab sebagai bahasa asing, namun teori tersebut juga telah memberikan kontribusi besar dan determinasi tinggi terhadap perkembangan ilmu pendidikan bahasa. Misalnya, dalam konteks metode pembelajaran bahasa Arab sebagai bahasa asing, muncul methode seperti :
a)      mubāsharah (direct methods), yaitu metode pembelajaran dengan cara langsung atau bahasa yang digunakan adalah bahasa asing sehingga meminimalisir bahasa ibu dalam bahasa pengajaran. Sedangkan untuk menjelaskan arti suatu kata atau kalimat menggunakan gambar atau peragaan. Misalnya untuk menjelaskan arti kata قَلَمٌ  seorang pengajar tak perlu menyebutkan arti secara langsung yaitu pena, tetapi boleh menggunakan benda pena itu sendiri atau dengan peragaan seperti orang sedang menulis dan sebagainya, sehingga murid faham maksud arti kata tersebut tanpa terjemahan langsung.
b)      metode sam’iyyah shafahiyah (audio-oral), yaitu  metode yang memprioritaskan kemahiran mendengar dan bertutur sebelum kemahiran membaca dan menulis. Dalam istilah lain metode ini dilakukan dengan mendengarkan bunyi dan menirukannya atau melafalkannya. Dalam metode ini juga ditekankan adanya drill dalam mempelajari suatu kata yang baharu. Misalnya ketika seorang murid mengetahui arti kata كتاب maka murid tersebut di stimulus untuk mengembangkan kata tersebut menjadi sebuah jumlah walaupun sederhana contoh menjadi كتاب المدرسة atau yang lebih kompleks أنظر كتابا في الفصل dan seterusnya. Metode ini selaras dengan aliran Transformatif generatif yang menekankan pada penggunaan bahasa secara nature dalam momen-momen yang sesuai.
Dalam pembelajaran bahasa Arab dengan menggunakan pendekatan Transformatif generatif akan memunculkan pembelajaran yang luas dalam hal membuat ayat baharu dengan kata baharu dipelajari dengan jumlah yang tak terbatas. Misalnya kata باب  kata ini bisa dikembangkan dengan kata lain secara luas dan tak terbatas menjadi باب البيت, باب الفصل, باب الحجرة, باب المكتبة مغلق, هذا الباب لونه أحمر dan seterusnya karena bahasa bisa diperluas sesuai dengan apa yang didengar dan diterapkan secara automatik melalui proses pemerolehan bahasa sejak lahir dan kerana bahasa bersifat universal. Sehingga guru boleh mengajarkan murid dengan dua metode diatas. 
Contoh Aplikasi Teori Transformatif-Generatif dalam Pembelajaran Nahwu dan Shorf
Teori gramatika transformasi generative (an-nahw at-tahwiliy at-taulidiy) mempunyai tiga sendi utama, yaitu:
Pertama, kaidah struktur ungkapan, yaitu kaidah yang menjelaskan bahwa kalimat ungkapan itu terstruktur dari ungkapan-ungkapan, sedangkan ungkapan-ungkapan itu terbentuk dari kata-kata.
Kedua, kaidah transformasi, yaitu sejumlah aturan yang harus diterapkan secara ketat. Sebagian kaidah itu bersifat keharusan (ijbariy/obligatori) dan sebagian lagi bersifat pemilihan (ikhtiyariy/optional).
Ketiga, kaaidah-kaidah morfologi bunyi, yaitkaidah yang menetapkan bentuk akhir suatu kata yang diucapkan atau ditulis.
Dari teori  di atas telah diketahui  teori Transformatif-Generatif dan beberapa penjabarannya. Dapat diterapkan dalam pembelajaran Bahasa Arab, dalam hal ini pada pembelajaran Nahwu dan Shorf. Dengan mengacu pada pola-pola transformasi kalimat yang dapat dikembangkang melalui:
1.      Penghilangan/pembuangan (al-hazf/delation) seperti:
كتب أحمد درسا جديدا← كتب أحمد درسا
1.      Penempatan (al-ihlal) seperti:
الله سميع عليم predikatnya ditempati kata lain, sehingga menjadi الله غفور رحيم
1.      Perluasan (al-ittisa) seperti perluasan dengan sifat atau idhafah:
الجامعة مبشهورة menjadi الجامعة الكبيرة مبشهورة
الباب مفتوح menjadi باب الفصل مفتوح
1.      Penyingkatan (al-iktishar/reduction) seperti:
رئس القرية جديد  menjadi رئس جديد
1.      Penambahan (az-ziyadah/additional) yakni penambahan unsure baru dalam kalimat dengan struktur athfi seperti:
الطالب نشيط menjadi الطالب والمدرس نشيطان
1.      Pengulangan urutan (i’adah at-tartib/permutation) misalnya dengan merubah jumlah ismiyyah menjadi jumlah fi’liyyah atau sebaliknya, seperti:
يحضر الطلاب menjadi الطلاب يحضرون .
Berdasarkan dari uraian tentang konsep dan asumsi-asumsi teori transformatif –generatif dan aplikasinya dalam pembelajaran, dapat dirumuskan prinsip-prinsip pembelajaran bahasa yang juga didasarkan pada teori Chomsky. Yaitu:
1.      Pembelajar tidak harus diberikan latihan (drill) secara intensif tetapi hanya dibimbing saja oleh gurunya
2.      Karena kemampuan belajar bahasa adalah sebuah proses kreatif, maka pembelajar harus diberi kesempatan yang luas untuk mengkreasi ujaran-ujaran dalam situasi komunikatif yang sebenarnya, bukan sekedar menirukan dan menghapal.
3.      Guru memberikan kaidah bahasa dan selanjutnya dikembangkan oleh pembelajar.
4.      Pemilihan materi pelajaran tidak ditekankan pada hasil analisis kontrastif, melainkan pada kebutuhan komunikasi dan penguasaan fungsi-fungsi bahasa.
5.      Kaidah nahwu dapat diberikan sepanjang hal ini diperlukan oleh pembelajar sebagai landasan untuk mengkreasi ujaran-ujaran sesuai dengan kebutuhan komunikasi.
6.      Guru harus yakin bahwa siswa mampu menginternalkan kaidah-kaidah yang memungkinkan siswa mampu menghasilkan kalimat.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar