Aplikasi Pembelajaran Bahasa Arab Melalui Pendekatan Transformatif
Generatif
Chomsky mengatakan bahawa pemerolehan bahasa tidak perlu proses
pembelajaran dan juga buka hasil dari setting lingkungan tidak boleh
digeneralisir pada seluruh jenis bahasa. Selain itu, dalam teorinya chomsky
lebih condong pada pemerolehan bahasa ibu dan kurang terlalu memperhatikan
pemerolehan bahasa kedua dan seterusnya. Tentu saja, pembelajaran bahasa Arab
sebagai bahasa asing jauh berbeda dengan pemerolehan bahasa Arab oleh
masyarakat Arab sendiri. Meskipun Chomsky mengatakan bahwa bahasa itu universal,
ia mengartikan bahwa di samping satu bahasa dan bahasa lain memiliki
karakteristik yang berbeda, ada juga kesamaan dari sisi core grammar (kaidah
dasar) atau istilah lainnya ‘unmarked rules’. Namun demikian, karakteristik
yang dimiliki bahasa Arab, terutama pada ‘peripheral grammar’ (kaidah
parameter), jauh melampaui tingkat universalnya. Sebagaimana telah dijelaskan
bahwa sekalipun bahasa Arab dan bahasa Indonesia memiliki
beberapa kesamaan, keduanya juga
punya banyak sekali perbedaan fundamental sehingga menjadikan bahasa Arab
sebagai sebuah bahasa rumit dan unik.
Teori ‘nature’, yang
merupakan pengejawantahan
teori generatif- transformative,
lebih tepat jika diorientasikan pada pemerolehan bahasa ibu (bahasa Indonesia)
atau bahasa lain yang serumpun dengan bahasa Indonesia. Alasannya, piranti
pemerolehan bahasa (language acquisition device) yang dimiliki oleh seseorang
dan bersifat kodrati (innate) jika dikaitkan dengan pemerolehan bahasa Arab
sebagai bahasa kedua, maka dipastikan hanya akan relevan dalam batasan-batasan
tertentu karena kuatnya perbedaan karakter antara kedua bahasa tersebut.
Perlawanan teori generatif-transformatif atas
madzhab behaviorisme yang mengasumsikan tidak
perlunya proses pembelajaran bagi
pemerolehan bahasa juga tidak berlaku dalam konteks pembelajaran bahasa Arab.
Jika pandangan ini benar-benar diterapkan, maka untuk bisa
berkomunikasi bahasa Arab tidak perlu lagi sebuah proses pembelajaran yang
meliputi perencanaan, pendekatan, metode, strategi dan media. Kondisi ini
tampaknya belum pernah terjadi di Indonesia, meskipun terdapat beberapa lembaga
pendidikan yang menyelenggarakan kegiatan aktif berbahasa Arab, namun itu pun
tetap tidak bisa dilepaskan dari setting lingkungan dan proses pembelajaran.
Pendek kata, teori ‘nature’, yang merupakan bagian dari gagasan besar teori
generatif-transformatif, tidak relevan bagi pembelajaran bahasa Arab.
Bagian lain dari
teori generatif- transformatif,
yaitu struktur dalam (deep structure) dan struktur luar (surface structure)
bila diimplementasikan dalam pemerolehan bahasa Arab sebagai bahasa kedua, maka
akan muncul permasalahan secara kolektif. Hal ini karena kemampuan intelektual
(kompetensi) yang meliputi komponen fonologi, sintaksis dan semantik yang
dimiliki oleh seseorang pada bahasa ibunya tidak serta merta bisa langsung
diadopsi pada bahasa kedua secara general, terlebih bahasa Arab memiliki banyak
karakteristik yang unik sebagaimana telah dijelaskan di atas.
Kelemahan dari teori Chomsky lain dalam konteks pembelajaran bahasa
Arab adalah isu sentral tentang warisan bahasa. Jika ini benar maka dapat
dipastikan akan tertutup peluang bagi seseorang untuk bisa menguasai bahasa
Arab jika orang tuanya tidak bisa berbahasa Arab. Faktanya, banyak dijumpai
mereka yang mahir bahasa Arab lahir dari keluarga sederhana bahkan sama sekali
tidak bisa berbicara bahasa Arab atau hanya mengenalnya. Meskipun teori
generatif-transformatif yang digagas oleh Chomsky lebih relevan dengan
pemerolehan bahasa ibu, bukan pemerolehan bahasa Arab sebagai bahasa asing,
namun teori tersebut juga telah memberikan kontribusi besar dan determinasi
tinggi terhadap perkembangan ilmu pendidikan bahasa. Misalnya, dalam konteks
metode pembelajaran bahasa Arab sebagai bahasa asing, muncul methode seperti :
a)
mubāsharah
(direct methods), yaitu metode pembelajaran dengan cara langsung atau bahasa
yang digunakan adalah bahasa asing sehingga meminimalisir bahasa ibu dalam
bahasa pengajaran. Sedangkan untuk menjelaskan arti suatu kata atau kalimat
menggunakan gambar atau peragaan. Misalnya untuk menjelaskan arti kata قَلَمٌ seorang pengajar tak
perlu menyebutkan arti secara langsung yaitu pena, tetapi boleh menggunakan
benda pena itu sendiri atau dengan peragaan seperti orang sedang menulis dan
sebagainya, sehingga murid faham maksud arti kata tersebut tanpa terjemahan
langsung.
b)
metode
sam’iyyah shafahiyah (audio-oral), yaitu metode yang memprioritaskan kemahiran
mendengar dan bertutur sebelum kemahiran membaca dan menulis. Dalam istilah
lain metode ini dilakukan dengan mendengarkan bunyi dan menirukannya atau
melafalkannya. Dalam metode ini juga ditekankan adanya drill dalam
mempelajari suatu kata yang baharu. Misalnya ketika seorang murid mengetahui
arti kata كتاب maka murid tersebut
di stimulus untuk mengembangkan kata tersebut menjadi sebuah jumlah walaupun
sederhana contoh menjadi كتاب المدرسة
atau yang lebih kompleks أنظر كتابا في الفصل
dan seterusnya. Metode ini selaras dengan aliran Transformatif generatif yang
menekankan pada penggunaan bahasa secara nature dalam momen-momen yang sesuai.
Dalam pembelajaran bahasa Arab dengan menggunakan pendekatan
Transformatif generatif akan memunculkan pembelajaran yang luas dalam hal
membuat ayat baharu dengan kata baharu dipelajari dengan jumlah yang tak
terbatas. Misalnya kata باب kata ini bisa dikembangkan dengan kata lain
secara luas dan tak terbatas menjadi باب البيت, باب
الفصل, باب الحجرة, باب المكتبة مغلق, هذا الباب لونه أحمر dan seterusnya karena
bahasa bisa diperluas sesuai dengan apa yang didengar dan diterapkan secara
automatik melalui proses pemerolehan bahasa sejak lahir dan kerana bahasa
bersifat universal. Sehingga guru boleh mengajarkan murid dengan dua metode
diatas.
Contoh
Aplikasi Teori Transformatif-Generatif dalam Pembelajaran Nahwu dan Shorf
Teori
gramatika transformasi generative (an-nahw at-tahwiliy at-taulidiy)
mempunyai tiga sendi utama, yaitu:
Pertama, kaidah struktur ungkapan, yaitu kaidah yang
menjelaskan bahwa kalimat ungkapan itu terstruktur dari ungkapan-ungkapan,
sedangkan ungkapan-ungkapan itu terbentuk dari kata-kata.
Kedua, kaidah transformasi, yaitu sejumlah aturan yang
harus diterapkan secara ketat. Sebagian kaidah itu bersifat keharusan (ijbariy/obligatori) dan sebagian lagi bersifat
pemilihan (ikhtiyariy/optional).
Ketiga, kaaidah-kaidah morfologi bunyi, yaitkaidah yang
menetapkan bentuk akhir suatu kata yang diucapkan atau ditulis.
Dari
teori di atas telah diketahui teori Transformatif-Generatif dan
beberapa penjabarannya. Dapat diterapkan dalam pembelajaran Bahasa Arab, dalam
hal ini pada pembelajaran Nahwu dan Shorf. Dengan mengacu pada pola-pola
transformasi kalimat yang dapat dikembangkang melalui:
1. Penghilangan/pembuangan (al-hazf/delation)
seperti:
كتب أحمد
درسا جديدا← كتب أحمد درسا
1. Penempatan (al-ihlal) seperti:
الله سميع
عليم predikatnya ditempati kata lain, sehingga menjadi الله غفور رحيم
1. Perluasan (al-ittisa) seperti
perluasan dengan sifat atau idhafah:
الجامعة
مبشهورة menjadi الجامعة الكبيرة مبشهورة
الباب
مفتوح menjadi باب الفصل مفتوح
1. Penyingkatan (al-iktishar/reduction)
seperti:
رئس القرية جديد menjadi رئس جديد
1. Penambahan (az-ziyadah/additional)
yakni penambahan unsure baru dalam kalimat dengan struktur athfi seperti:
الطالب نشيط menjadi الطالب والمدرس نشيطان
1. Pengulangan urutan (i’adah at-tartib/permutation)
misalnya dengan merubah jumlah ismiyyah menjadi jumlah fi’liyyah atau sebaliknya, seperti:
يحضر الطلاب menjadi الطلاب يحضرون .
Berdasarkan
dari uraian tentang konsep dan asumsi-asumsi teori transformatif –generatif dan
aplikasinya dalam pembelajaran, dapat dirumuskan prinsip-prinsip pembelajaran
bahasa yang juga didasarkan pada teori Chomsky. Yaitu:
1. Pembelajar tidak harus diberikan latihan (drill)
secara intensif tetapi hanya dibimbing saja oleh gurunya
2. Karena kemampuan belajar bahasa adalah sebuah proses
kreatif, maka pembelajar harus diberi kesempatan yang luas untuk mengkreasi
ujaran-ujaran dalam situasi komunikatif yang sebenarnya, bukan sekedar
menirukan dan menghapal.
3. Guru memberikan kaidah bahasa dan selanjutnya
dikembangkan oleh pembelajar.
4. Pemilihan materi pelajaran tidak ditekankan pada hasil
analisis kontrastif, melainkan pada kebutuhan komunikasi dan penguasaan
fungsi-fungsi bahasa.
5. Kaidah nahwu dapat diberikan sepanjang hal ini
diperlukan oleh pembelajar sebagai landasan untuk mengkreasi ujaran-ujaran
sesuai dengan kebutuhan komunikasi.
6. Guru harus yakin bahwa siswa mampu menginternalkan
kaidah-kaidah yang memungkinkan siswa mampu menghasilkan kalimat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar