Minggu, 03 Desember 2017

Lika-liku Memburu Beasiswa LPDP




Pengalaman Mencari Beasiswa
(Kejutan yang Allah hadirkan pasti lebih indah)

Saya tak pernah membayangkan ketika dewasa bisa belajar samapi ke perguruan tinggi. Bagiku bisa sekolah sampai SMA saja sudah patut disyukuri. Pasalnya selain kondisi ekonomi keluarga yang serba kekurangan, budaya desa menghalangiku untuk kuliah. Saat itu stigma yang beredar di masyarakat mengatakan bahwa buat apa kuliah biayanya mahal, nanti di pertengahan studi gak bisa bayar akhirnya berhenti di tengah jalan. Memang belum ada satupun putra-putri desa yang melanjutkan belajar hingga jenjang perguruan tinggi, paling banter sampai SMA, itupun hanya segelintir orang saja, sehingga impianku bisa kuliah hanya sebatas mimpi yang sulit diwujudkan.

Terlahir dari sebuah keluarga yang sangat sederhana di sebuah desa di kabupaten Pasuruan, dari ayah berpendidikan hanya tamat SD dan ibu tak tamat SD, membuat saya hanya memiliki paradigma yang sempit dalam meraih sebuah impian. Semenjak kecil saya lebih banyak mendapatkan pendidikan agama dari pada pendidikan formal/umum. Sejak SD, saya hanya bercita-cita akan mondok di pondok Salaf (pondok tradisional yang mengajarkan pendidikan agama saja). Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, saya rajin menabung karena memang ekonomi keluarga saya sangat pas-pasan. Hampir semua keluarga besarku  dan masyarakat desa berpandangan bahwa pendidikan agama di pondok sangat penting, bisa baca dan hitung saja sudah cukup, tak perlu sekolah formal tinggi-tinggi. Namun cita-cita ku berubah dan berbalik menjadi 180 derajat ketika keluarga saya terkena masalah yang membutuhkan penyelesaian dari orang yang paham akan pengetahuan umum. Sejak saat itu saya tanamkan dalam diri saya, harus berpendidikan formal sampai jenjang setinggi-tingginya, tidak hanya ingin mondok saja tapi juga. Saya percaya bahwa terlahir dalam keluarga miskin dan sederhana adalah sebuah ketentuan Tuhan, tapi jika hidup dalam keadaan miskin, bodoh, bahkan menyusahkan orang lain adalah sebuah kemalasan. Semangat  tersebut selalu saya jaga dengan rajin menabung, sedekah, dan berdoa. Sejak lulus SD, untuk meringankan beban orangtua, saya berusaha untuk membayar pendaftaran masuk MTs, SMA, dan pesantren (pesantren Terpadu) dari tabungan saya.

Ketika masa SMA dan di pesantren (SMA sambil mondok) saya banyak mengikuti organisasi sekolah seperti ESSA (English Study Student Assosiation;  sebagai ketua) yaitu sebuah program di bawah OSIS yang bertugas dalam pengembangan bahasa Inggris di sekolah dan mengikuti ekstrakuriler Video Editing. Sedangkan di pesantren saya diamanahi menjadi ketua OMIM (Organisasi Murid Intra Madrasah) dan anggota petugas kebersihan pondok pesantren. Selama masa itu saya merasakan betul beban ekonomi yang dipikul orang tua, saya tak bisa membayangkan bagaimana susah payahnya orang mencari uang jika saya kuliah dikampus nanti. Oleh karena itu tidak ada pilihan bagi saya jika ingin kuliah selain harus dengan beasiswa. Saya berusaha keras belajar dan bertanya kepada orang-orang yang telah sukses, baik kepada guru, teman, dan kakak ulumni yang sudah mendapatkan beasiswa. Dari proses itu, saya bisa belajar banyak tentang cara mendapat beasiswa sekaligus paradigma hidup mereka. Saya juga sering mengikuti seminar motivasi dan leadership, baik yang diselenggarakan oleh sekolah ataupun pesantren.

Keinginan untuk terus belajar sangat menggelora, sehingga yang ada dipikiranku setelah lulus SMA adalah kuliah dengan beasiswa. masih segar dalam ingatan, saya meulis puluhan cita-citaku dibuku catatan dan saya mantap dalam hati seraya berniat akan berusaha mewujudkannya. Bagian dari upaya tersebut, saya sering konsultasi dengan kakak senior yang telah berhasil kuliah dengan beasiswa. Akhirnya beberapa tes beasiswa saya ikuti. Saya terpilih mengikuti tes beasiswa PBSB yakni beasiswa khusus diperuntukkan kepada siswa yang mondok dan santri pondok pesantren. Pengumuman pun bisa diakses, ketika saya cek, hasilnya ternyata saya tidak lolos. Saya berusaha mempertahankan semangat walaupun ada perasaan sedikit kecewa mengingat saya sudah mempersiapkan tes ini dengan aktif bertanya kepada para guru, kakak senior dan membeli buku-buku materi tes beasiswa. Ketika jadwal pendaftaran beasiswa bidikmisi telah dibuka, saya terpilih lagi dan diajukan oleh pihak sekolah untuk mendaftar beasiswa bidikmisi jalur undangan. Namun lagi-lagi saya harus menerima kegagalan. Saat itu saya sempat putus asa dan hampir saja menghilangkan mimpi kuliah dengan beasiswa.

Setelah sekian lama, saya merenungi kegagalan demi kegagalan, saya menyadari kalau ibu tak merestui kuliah kecuali jika kuliahnya di kampus yang ada di Malang. Sebelumnya saya mendaftar di UI, UIN Jakarta, UGM, UNY. Akhirnya saya minta nasehat ustadz saya, beliau ternyata juga mengamini saya kuliah dikota Malang. Semakin mantaplah niat saya mendaftar beasiswa. Kali ini saya mendaftar beasiswa bidikmisi jalur ujian tulis SNMPTN. Bagi saya ini adalah kesempatan terakhir mendaftar beasiswa. Sebelum saya berangkat ke Malang untuk tes, saya menyempatkan diri sowan ke ustadz Jazim untuk meminta berkah, beliau di pondok dikenal sebagai ustadz yang memiliki amalan atau wirid yang ampuh dalam mengatasi kesulitan. Saya diberikan bacaan wirid yang harus saya lakukan.

Saat pengumuman, saya berbicara pada diri sendiri untuk berserah diri dan harus menerima apa yang akan terjadi,  lolos atau tidak. Setelah saya masukkan nomor pendaftaran dan email, saya tatap layar monitor yang bertuliskan "selamat anda diterima beasiswa bidikmisi". Alhamdulillah tak henti-hentinya saya ucapkan rasa syukur. Orang tua adalah orang pertama yang saya kabari. Sebagai bentuk rasa syukur, bapak akan mengadakan selametan agar berkah dan sebagai bentuk tahaddus binni'mah. Segera saya mengurus administrasi yang diperlukan untuk registrasi di kampus. Saya diterima di kampus UIN Malang jurusan Pendidikan Bahasa Arab (PBA). 

Tak disangka setelah konfirmasi ke kampus untuk melengkapi persyaratan berkas-berkas dan sebelumnya saya tidak bisa registrasi online, pihak rektorat universitas menginformasikan kalau saya hanya diterima jalur mandiri tidak lagi dengan beasiswa bidikmisi karena ada seleksi internal kampus. Saat itu saya dibantu oleh kakak senior untuk mendatangi tempat registrasi berkas-berkas di rektorat. Saya tidak menyerah untuk menghubungi pihak rektorat, namun hasilnya nihil. Saya sangat terpukul dengan kegagalan yang ketiga kalinya ini, saya merasa itu adalah titik terendah dalam hidup. Saya bertanya-tanya kenapa tidak pemberitahuan jika ada seleksi internal kampus mengingat pihak kampus hanya menerima 100 orang dan jumlah yang dinyatakan tidak lolos atau masuk dengan jalur mandiri ada sekitar 65 orang. Saya shock, akhirnya kuputuskan untuk tidak kuliah mengingat biaya kuliah yang tak terjangkau untuk standar keluarga saya. Saat itu saya dalam keadaan bingung dan tak tentu arah. Orangtua menyarankan saya tetap dipondok sambil kuliah. Namun saya tetap berat hati jika orangtua harus membiayaiku lagi karena orangtua harus membiayai adik juga. Karena tidak ada pilihan lagi,  saya pun menuruti saran orangtua.

Beberapa hari kemudian saya berubah pikiran, saya mengajukan pendapat pada orangtua kalau saya ingin bekerja agar bisa membantu ekonomi keluarga, akan tetapi orangtua tak mengizinkan karena beliau ingin saya tetap mencari ilmu. Saya pun mengiyakan saran tersebut tanpa berani menyanggahnya. Saya tak berani membahtah keputusan orangtua karena saya belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, saya akan gagal jika tak dapat restu orang tua.

 Dalam masa-masa itu, saya sering merenung dan berdoa kepada Allah, memohon petunjuk. Beberapa kawan seangkatan dipondok melanjutkan belajar di pondok salaf, akupun tergerak untuk mengikuti jejak itu. Kuputuskan mondok di pondok Lirboyo kediri. Sebelum saya benar-benar mondok dan agar saya mengetahui situasi di pondok tersebut, saya mengikuti kegiatan pondok Ramadhan di Lirboyo dan sowan ke pengasuh. Ketika saya ditanya oleh pengasuh pondok Lirboyo saat itu KH.Idris Marzuqi apakah saya cuma pondok Ramadhan saja atau mondok terus, saya menjawab mondokterus.

Ketika memasuki hari ke-19 Ramadhan tepatnya hari jumat, bapak datang ke pondok bersama dengan kakak. Awalnya saya diberitahu oleh teman kamar jika tadi ada keluarga saya. Saya tak percaya dengan informasi itu, hingga aku benar-benar bertemu bapak dan kakakku di kantin pondok. Timbullah tanda tanya besar di kepalaku, apakah gerangan yang menyebabkan beliau kesini. Pikiran saya gak enak, saya kawatir jika terjadi apa-apa dengan keluarga di rumah. Saat itu waktu maghrib telah tiba sehingga ketika kutanya maksud kedatangannya, bapak tak lantas menjawab pertanyaanku. Beliau menunda jawaban itu setelah sholat berjamaah maghrib. Karena pelaksanaan sholat maghrib berjamaah masih lama, akhirnya kutanya lagi maksud kedatangan bapak. Bapak menyampaikan kalau ada telpon dari Malang yang mengatasnamakan UIN Malang, dijelaskan kalau saya diterima beasiswa. Mendengar berita itu, saya tak langsung mempercayai. Saya trauma dengan kegagalan dimasa silam. Saya kawatir ini ulah orang yang iseng. Saya mengecek nomor telp yang menghubungi bapak, saya lihat nomor teleponnya memang benar kode Malang dan bapak menuturkan kalau saya sendiri harus segera ke kampus untuk registrasi berkas-berkas.

Akhirnya dengan berat hati saya meninggalkan pondok Lirboyo lebih cepat. Ditengah perjalanan pulang, pikiranku tak tenang, apakah ini memang benar atau tidak, saya tidak mau percaya dulu sebelum benar-benar itu kenyataan. Ketika saya mendatangi kabag administrasi kampus, ternyata memang adanya informasi tersebut. Namun ada pertanyaan yang harus kusampaikan kepada pak Sutikno kabag umum administrasi, "apakah nantinya ada seleksi lagi" tanyaku. "lah wong ini mau saya kasih NIM (nomor induk mahasiswa)" jawab beliau. Saya merasa lega dan bersyukur luar biasa kepada Allah.

Memulai kuliah dengan perasaan was-was karena ada standar nilai akademik atau indeks prestasi yang harus dicapai yaitu 3.25 untuk non-eksak dan 3.00 untuk eksak. Saya aktif bertanya kepada kakak kelas dan siapapun tentang strategi belajar dan dapat IP yang bagus. Saya ikuti semua saran tersebut. Alhamdulillah Usaha dan doa tak pernah mengkhianati hasil, saya selalu mendapatkan IP diatas 3.8 tiap semester dan pernah dapat IP 4.00.  Ketika semester 1 saya belum berani mengikuti organisasi satupun karena kawatir mengganggu jadwal kuliah. Melihat banyak kawan yang prestasinya akademiknya tetap bagus walaupun aktif diberbagai organisasi membuatku tergerak untuk mencontohnya. Kalau mereka bisa, tentu kita bisa pula. Akhirnya kuputuskan mengikuti beberapa organisasi baik organisasi intra dan ekstra.

Setelah satu tahun berada di mahad, saya bingung akan tinggal dimana, antara kost, mondok, atau tetap di ma'had dengan menjadi Musyrif. Akhirnya setelah konsultasi dengan orangtua, dosen, dan kawan-kawan, saya tekadkan niat untuk mengabdi di ma'had hingga lulus kuliah. Bukan tanpa alasan saya berada dima'had selama 4 tahun tanpa pernah mencoba kehidupan diluar ma'had. Alasan pertama, saya bisa mempraktekkan ilmu yang saya dapatkan di kegiatan ma'had mengingat jurusan saya pendidikan. Kedua, saya bisa membimbing dan mengarahkan mahasiswa baru yang notabene masih polos. Ketiga, saya masih bisa belajar ilmu agama dari para pengasuh ma'had. Selain saya aktif di ma'had, saya juga mengajar privat atau menjadi tutor les di lembaga sandi privat. Saya juga aktif di organisasi HMJ PBA sebagai sekretaris, LKP2M sebagai anggota, dan INSANI (Ikatan Santri Alumni Al-Yasini) sebagai ketua serta PMII karena bagi saya ilmu organisasi juga sangat penting melatih mental dan skill dalam leadership. 

Disaat sibuk-sibuknya mengerjakan tugas skripsi, ada teman yang memberikan info beasiswa LPDP. Saya amati semua persyaratan yang harus dipenuhi. Jika persyaratan tersebut dilihat secara sekilas memang agak ribet dan complicated sekali, namun kalau diamati secara mendetail dan dilist, ternyata cuma beberapa persyaratan yang sangat jlimet berdasarkan pengalaman Scholarship hunters yaitu persyaratan TOEFL atau IELTS. Saya menyadari betul kalau kemampuan bahasa inggrisku sangat rendah sekali, nilai sertifikat PKPBI saja dapat nilai 415, sedangkan untuk mengikuti kursus tidak sempat karena harus menyelesaikan skripsi. Akhirnya saya download panduan asli beasiswa LPDP, kulihat secata detail persyaratannya. Ternyata untuk sertifikat bahasa tak harus TOEFL, boleh melampirkan TOAFL (Arabic) jika dari jurusan bahasa arab. Saya merasa agak lega, TOEFL bisa diabaikan.

Saya mencari informasi terkait tempat tes TOAFL yang diterima LPDP. Setelah mencari sekian lama, saya mendapatkan informasi tentang sosialisasi beasiswa LPDP dari para awardee LPDP. Akhirnya kuikuti acara tersebut. Teknis penyampaian beasiswa sangat memukau dan inspiratif sekali sehingga membuatku semakin semangat mendaftar LPDP. Dalam acara itu ada sesi per grup yaitu pengelompokkan peserta menjadi beberapa grup, masing grup terdiri dari 15 orang sehingga lebih meningkatkan efisiensi informasi tentang LPDP ditambah lagi saat sesi Tanya-jawab. Langsung saja saya melontarkan banyak pertanyaan yang selama ini mengganjal dalam hati. Kebetulan awardee yang menyampaikan adalah alumni LPDP dan satu jurusan pula dengan saya sehingga semua pertanyaanku bisa terjawab salah satunya terkait tes TOAFL. 

Alhasil semua persyaratan sudah lengkap dan menunggu pengumuman tes administrasi sekaligus jadwal tes subtansi jika lolos administrasi. Alhamdulillah saya dinyatakan lolos persyaratan administrasi dan dapat jadwal tes subtansi LPDP yaitu wawancara, Leaderless Group Discussion (LGD), dan Essay on the spot akan dilaksanakan pada bulan Agustus dan mengenai rincian peserta dan lain sebagainya akan diinfokan via email. Saya memilih tempat tes seleksi di jakarta karena saya berencana setelah prosesi wisuda yaitu tanggal 13 Agustus 2015 untuk mengajar di kota Lebak Banten.

Saya sempat deg-degan menunggu jadwal lengkap tes seleksi karena jadwal tes seleksi di jakarta 1 telah dilaksanakan pada 12-14 Agustus 2015 sedangkan saya memilih tempat seleksi dijakarta. Saya plototin layar ponsel, berharap nama saya tidak tertera, untunglah nama ku tercantum di jadwal jakarta 2 yang dilaksanakan pada 19-21 Agustus tepat di Sekolah Tinggi Administrasi Negara (STAN) Bintaro Tangerang. Awalnya saya merasa minder saat melihat para peserta seleksi karena melihat penampilan mereka yang begitu necis, percaya diri, cerah kulitnya (dibandingkan diri saya, maklum arek ndeso) yang sempat membuat nyaliku ciut. Namun saya mantapkan lagi dalam diri bahwa saya harus yakin bahwa ada doa orangtua yang selalu mendokan. Sambil menunggu giliran maju untuk tes, tak henti-hentinya bibirku komat kamit membaca sholawat dan doa-doa yang pernah saya pelajari, saya percaya bahwa tidak ada yang bisa merubah takdir kecuali Doa.

Ada pengalaman menarik ketika saya mengikuti tes LGD, saya satu grup dengan artis Syafa Tsaya Kamila atau terkenal dengan panggilan Tasya dan bisa berfoto bersama dengannya. Tak kalah mengejutkannya saat tes wawancara, bahasa yang digunakan adalah bahasa arab dan Indonesia dengan prosentase sekitar 70-30%. Saya tak menyangka jika saya akan diminta berbahasa arab karena saya belum mendengan informasi ini sebelumnya. Alhamdulillah walaupun tanpa persiapan praktek berbahasa arab, saya cukup lancar melahap pertanyaan yang diajukan oleh reviewer, bahkan saya diminta untuk praktek seakan-akan saya memaksa ibu saya agar saya diizinkan kuliah ke Luar Negeri karena memang kampus yang saya saat pendaftaran adalah kampus dalam negeri dan oleh penguji atau reviewer disarankan ke luar negeri dan setelah saya menjelaskan panjang lebar tentang alasanku ambil kampus Dalam Negeri yaitu karena orang tua khusunya Ibu tidak mengizinkan jika saya ambil kampus Luar negeri dan para penguji memaklumi dan menyetujui bahkan salah satu penguji menceritakan pengalamannya sama seperti yang saya alami.

Singkat cerita, saat pengumuman hasil seleksi, saya dinyatakan lolos wawancara. Saya sempat bingung, kok cuma menyatakan seperti itu. Ternyata jika lolos wawancara berarti dinyatakan telah resmi dinyatakan sebagai penerima beasiswa LPDP. Alhamdulillah, berkat doa orangtua, keluarga, para kiai, guru, dosen, dan teman-teman saya mendapatkan amanah untuk kuliah dengan beasiswa LPDP yang sumber dananya dari kementerian Keuangan Republik Indonesia.

Ternyata kejutan belum berhenti disitu, saat saya bingung ketika mendapatkan tawaran program pengayaan bahasa (PB) dari LPDP yaitu TOEFL untuk yang mengambil kampus Dalam negeri dan IELTS untuk luar negeri. Akhirnya entah kenapa saya tertarik untuk mengikuti program tersebut walaupun sebenarnya kampus tujuan saya tidak mensyaratkan sertifikat TOEFL. Tak disangka setelah beberapa hari saya join grup line PB, saya heran kenapa teman-teman grup sering ngomongin IELTS, kok gak bahas TOEFL, lalu saya menanyakan perihal itu. Ternyata grup itu memang untuk IELTS. Alhasil saya baru sadar jika saya mendapatkan PB IELTS dan dijelaskan surat pengantar PB bahwa bagi yang mendapatkan PB IELTS sedangkan saat pendaftaran mengambil kampus DN berarti direkomendasikan untuk mengambil kampus LN. 

Saya senang dan bingung karena sejak awal ibu tidak mengizinkan ke LN, akhirnya saya mencoba meyakinkan beliau dan disetujui dan saya memilih University of Malaya di Malaysia, Negara yang pernah ingin saya kunjungi untuk Praktek Kerja Lapangan Integratif (PKLI), namun saya dipindah ke Thailand, dan ternyata Allah mengabulkannya sebagai Negara tempat saya menempuh studi magister. Ada juga yang unik, walaupun studi S2 saya tidak jodoh dengan UIN Jakarta, ternyata saya tetap bisa belajar disana dalam program PB IELTS selama 3 bulan dan juga merasakan aura belajar bahasa inggris di ITB Bandung melalui program PB IELTS periode lanjutan.

Itulah sekelumit perjalanan hidup yang saya alami. Saya baru sadar bahwa setiap impian yang tak sampai di masa lalu akan menjadi kenyataan dimasa mendatang. Ternyata Allah subahnahu wa ta’ala hanya menundanya saja. Mulai sejak itu saya yakin bahwa memiliki mimpi itu wajib karena Allah pasti mengabulkannya diwaktu yang tepat sesuai dengan kebutuhan hamba-Nya.









Tidak ada komentar:

Posting Komentar