Pengalaman Mencari Beasiswa
(Kejutan
yang Allah hadirkan pasti lebih indah)
Saya tak pernah membayangkan ketika dewasa bisa belajar samapi
ke perguruan tinggi. Bagiku bisa sekolah sampai SMA saja sudah patut disyukuri.
Pasalnya selain kondisi ekonomi keluarga yang serba kekurangan, budaya desa
menghalangiku untuk kuliah. Saat itu stigma yang beredar di masyarakat
mengatakan bahwa buat apa kuliah biayanya mahal, nanti di pertengahan studi gak
bisa bayar akhirnya berhenti di tengah jalan. Memang belum ada satupun
putra-putri desa yang melanjutkan belajar hingga jenjang perguruan tinggi,
paling banter sampai SMA, itupun
hanya segelintir orang saja, sehingga impianku bisa kuliah hanya sebatas mimpi
yang sulit diwujudkan.
Terlahir
dari sebuah keluarga yang sangat sederhana di sebuah desa di kabupaten
Pasuruan, dari ayah berpendidikan hanya tamat SD dan ibu tak tamat SD, membuat
saya hanya memiliki paradigma yang sempit dalam meraih sebuah impian. Semenjak
kecil saya lebih banyak mendapatkan pendidikan agama dari pada pendidikan
formal/umum. Sejak SD, saya hanya bercita-cita akan mondok di pondok Salaf
(pondok tradisional yang mengajarkan pendidikan agama saja). Untuk mewujudkan
cita-cita tersebut, saya rajin menabung karena memang ekonomi keluarga saya
sangat pas-pasan. Hampir semua keluarga besarku
dan masyarakat desa berpandangan bahwa pendidikan agama di pondok sangat
penting, bisa baca dan hitung saja sudah cukup, tak perlu sekolah formal
tinggi-tinggi. Namun cita-cita ku berubah dan berbalik menjadi 180 derajat
ketika keluarga saya terkena masalah yang membutuhkan penyelesaian dari orang
yang paham akan pengetahuan umum. Sejak saat itu saya tanamkan dalam diri saya,
harus berpendidikan formal sampai jenjang setinggi-tingginya, tidak hanya ingin
mondok saja tapi juga. Saya percaya bahwa terlahir dalam keluarga miskin dan
sederhana adalah sebuah ketentuan Tuhan, tapi jika hidup dalam keadaan miskin,
bodoh, bahkan menyusahkan orang lain adalah sebuah kemalasan. Semangat tersebut selalu saya jaga dengan rajin
menabung, sedekah, dan berdoa. Sejak lulus SD, untuk meringankan beban
orangtua, saya berusaha untuk membayar pendaftaran masuk MTs, SMA, dan
pesantren (pesantren Terpadu) dari tabungan saya.
Ketika
masa SMA dan di pesantren (SMA sambil mondok) saya banyak mengikuti organisasi
sekolah seperti ESSA (English Study Student Assosiation; sebagai ketua) yaitu sebuah program di bawah
OSIS yang bertugas dalam pengembangan bahasa Inggris di sekolah dan mengikuti
ekstrakuriler Video Editing. Sedangkan di pesantren saya diamanahi menjadi
ketua OMIM (Organisasi Murid Intra Madrasah) dan anggota petugas kebersihan
pondok pesantren. Selama masa itu saya merasakan betul beban ekonomi yang dipikul
orang tua, saya tak bisa membayangkan bagaimana susah payahnya orang mencari
uang jika saya kuliah dikampus nanti. Oleh karena itu tidak ada pilihan bagi
saya jika ingin kuliah selain harus dengan beasiswa. Saya berusaha keras
belajar dan bertanya kepada orang-orang yang telah sukses, baik kepada guru,
teman, dan kakak ulumni yang sudah mendapatkan beasiswa. Dari proses itu, saya
bisa belajar banyak tentang cara mendapat beasiswa sekaligus paradigma hidup
mereka. Saya juga sering mengikuti seminar motivasi dan leadership, baik
yang diselenggarakan oleh sekolah ataupun pesantren.
Keinginan untuk terus belajar sangat menggelora, sehingga
yang ada dipikiranku setelah lulus SMA adalah kuliah dengan beasiswa. masih
segar dalam ingatan, saya meulis puluhan cita-citaku dibuku catatan dan saya
mantap dalam hati seraya berniat akan berusaha mewujudkannya. Bagian dari upaya
tersebut, saya sering konsultasi dengan kakak senior yang telah berhasil kuliah
dengan beasiswa. Akhirnya beberapa tes beasiswa saya ikuti. Saya terpilih
mengikuti tes beasiswa PBSB yakni beasiswa khusus diperuntukkan kepada siswa
yang mondok dan santri pondok pesantren. Pengumuman pun bisa diakses, ketika
saya cek, hasilnya ternyata saya tidak lolos. Saya berusaha mempertahankan
semangat walaupun ada perasaan sedikit kecewa mengingat saya sudah
mempersiapkan tes ini dengan aktif bertanya kepada para guru, kakak senior dan
membeli buku-buku materi tes beasiswa. Ketika jadwal pendaftaran beasiswa
bidikmisi telah dibuka, saya terpilih lagi dan diajukan oleh pihak sekolah
untuk mendaftar beasiswa bidikmisi jalur undangan. Namun lagi-lagi saya harus
menerima kegagalan. Saat itu saya sempat putus asa dan hampir saja
menghilangkan mimpi kuliah dengan beasiswa.
Setelah sekian lama, saya merenungi kegagalan demi
kegagalan, saya menyadari kalau ibu tak merestui kuliah kecuali jika kuliahnya
di kampus yang ada di Malang. Sebelumnya saya mendaftar di UI, UIN Jakarta,
UGM, UNY. Akhirnya saya minta nasehat ustadz saya, beliau ternyata juga
mengamini saya kuliah dikota Malang. Semakin mantaplah niat saya mendaftar
beasiswa. Kali ini saya mendaftar beasiswa bidikmisi jalur ujian tulis SNMPTN.
Bagi saya ini adalah kesempatan terakhir mendaftar beasiswa. Sebelum saya berangkat
ke Malang untuk tes, saya menyempatkan diri sowan
ke ustadz Jazim untuk meminta berkah, beliau di pondok dikenal sebagai ustadz
yang memiliki amalan atau wirid yang ampuh dalam mengatasi kesulitan. Saya
diberikan bacaan wirid yang harus saya lakukan.
Saat pengumuman, saya berbicara pada diri sendiri untuk
berserah diri dan harus menerima apa yang akan terjadi, lolos atau tidak. Setelah saya masukkan nomor
pendaftaran dan email, saya tatap layar monitor yang bertuliskan "selamat
anda diterima beasiswa bidikmisi". Alhamdulillah tak henti-hentinya saya ucapkan
rasa syukur. Orang tua adalah
orang pertama yang saya kabari. Sebagai bentuk rasa syukur, bapak akan
mengadakan selametan agar berkah dan sebagai bentuk tahaddus binni'mah. Segera saya mengurus administrasi yang
diperlukan untuk registrasi di kampus. Saya diterima di kampus UIN Malang
jurusan Pendidikan Bahasa Arab (PBA).
Tak disangka setelah konfirmasi ke kampus untuk
melengkapi persyaratan berkas-berkas dan sebelumnya saya tidak bisa registrasi
online, pihak rektorat universitas menginformasikan kalau saya hanya diterima
jalur mandiri tidak lagi dengan beasiswa bidikmisi karena ada seleksi internal
kampus. Saat itu saya dibantu oleh kakak senior untuk mendatangi tempat
registrasi berkas-berkas di rektorat. Saya tidak menyerah untuk menghubungi
pihak rektorat, namun hasilnya nihil. Saya sangat terpukul dengan kegagalan
yang ketiga kalinya ini, saya merasa itu adalah titik terendah dalam hidup.
Saya bertanya-tanya kenapa tidak pemberitahuan jika ada seleksi internal kampus
mengingat pihak kampus hanya menerima 100 orang dan jumlah yang dinyatakan
tidak lolos atau masuk dengan jalur mandiri ada sekitar 65 orang. Saya shock, akhirnya kuputuskan untuk tidak
kuliah mengingat biaya kuliah yang tak terjangkau untuk standar keluarga saya.
Saat itu saya dalam keadaan bingung dan tak tentu arah. Orangtua menyarankan
saya tetap dipondok sambil kuliah. Namun saya tetap berat hati jika orangtua
harus membiayaiku lagi karena orangtua harus membiayai adik juga. Karena tidak
ada pilihan lagi, saya pun menuruti
saran orangtua.
Beberapa hari kemudian saya berubah pikiran, saya
mengajukan pendapat pada orangtua kalau saya ingin bekerja agar bisa membantu
ekonomi keluarga, akan tetapi orangtua tak mengizinkan karena beliau ingin saya
tetap mencari ilmu. Saya pun mengiyakan saran tersebut tanpa berani
menyanggahnya. Saya tak berani membahtah keputusan orangtua karena saya belajar
dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, saya akan gagal jika tak dapat restu
orang tua.
Dalam masa-masa
itu, saya sering merenung dan berdoa kepada Allah, memohon petunjuk. Beberapa
kawan seangkatan dipondok melanjutkan belajar di pondok salaf, akupun tergerak
untuk mengikuti jejak itu. Kuputuskan mondok di pondok Lirboyo kediri. Sebelum
saya benar-benar mondok dan agar saya mengetahui situasi di pondok tersebut,
saya mengikuti kegiatan pondok Ramadhan di Lirboyo dan sowan ke pengasuh.
Ketika saya ditanya oleh pengasuh pondok Lirboyo saat itu KH.Idris Marzuqi
apakah saya cuma pondok Ramadhan saja atau mondok terus, saya menjawab
mondokterus.
Ketika memasuki hari ke-19 Ramadhan tepatnya hari jumat,
bapak datang ke pondok bersama dengan kakak. Awalnya saya diberitahu oleh teman
kamar jika tadi ada keluarga saya. Saya tak percaya dengan informasi itu,
hingga aku benar-benar bertemu bapak dan kakakku di kantin pondok. Timbullah
tanda tanya besar di kepalaku, apakah gerangan yang menyebabkan beliau kesini.
Pikiran saya gak enak, saya kawatir jika terjadi apa-apa dengan keluarga di
rumah. Saat itu waktu maghrib telah tiba sehingga ketika kutanya maksud
kedatangannya, bapak tak lantas menjawab pertanyaanku. Beliau menunda jawaban
itu setelah sholat berjamaah maghrib. Karena pelaksanaan sholat maghrib
berjamaah masih lama, akhirnya kutanya lagi maksud kedatangan bapak. Bapak
menyampaikan kalau ada telpon dari Malang yang mengatasnamakan UIN Malang,
dijelaskan kalau saya diterima beasiswa. Mendengar berita itu, saya tak
langsung mempercayai. Saya trauma dengan kegagalan dimasa silam. Saya kawatir
ini ulah orang yang iseng. Saya mengecek nomor telp yang menghubungi bapak,
saya lihat nomor teleponnya memang benar kode Malang dan bapak menuturkan kalau
saya sendiri harus segera ke kampus untuk registrasi berkas-berkas.
Akhirnya dengan berat hati saya meninggalkan pondok
Lirboyo lebih cepat. Ditengah perjalanan pulang, pikiranku tak tenang, apakah
ini memang benar atau tidak, saya tidak mau percaya dulu sebelum benar-benar
itu kenyataan. Ketika saya mendatangi kabag administrasi kampus, ternyata
memang adanya informasi tersebut. Namun ada pertanyaan yang harus kusampaikan
kepada pak Sutikno kabag umum administrasi, "apakah nantinya ada seleksi
lagi" tanyaku. "lah wong ini mau saya kasih NIM (nomor induk
mahasiswa)" jawab beliau. Saya merasa lega dan bersyukur luar biasa kepada
Allah.
Memulai kuliah dengan perasaan was-was karena ada standar
nilai akademik atau indeks prestasi yang harus dicapai yaitu 3.25 untuk
non-eksak dan 3.00 untuk eksak. Saya aktif bertanya kepada kakak kelas dan
siapapun tentang strategi belajar dan dapat IP yang bagus. Saya ikuti semua
saran tersebut. Alhamdulillah Usaha dan doa tak pernah mengkhianati hasil, saya
selalu mendapatkan IP diatas 3.8 tiap semester dan pernah dapat IP 4.00. Ketika
semester 1 saya belum berani mengikuti organisasi satupun karena kawatir
mengganggu jadwal kuliah. Melihat banyak kawan yang prestasinya akademiknya
tetap bagus walaupun aktif diberbagai organisasi membuatku tergerak untuk
mencontohnya. Kalau mereka bisa, tentu kita bisa pula. Akhirnya kuputuskan mengikuti
beberapa organisasi baik organisasi intra dan ekstra.
Setelah satu tahun berada di mahad, saya bingung akan
tinggal dimana, antara kost, mondok, atau tetap di ma'had dengan menjadi
Musyrif. Akhirnya setelah konsultasi dengan orangtua, dosen, dan kawan-kawan, saya
tekadkan niat untuk mengabdi di ma'had hingga lulus kuliah. Bukan tanpa alasan
saya berada dima'had selama 4 tahun tanpa pernah mencoba kehidupan diluar
ma'had. Alasan pertama, saya bisa mempraktekkan ilmu yang saya dapatkan di
kegiatan ma'had mengingat jurusan saya pendidikan. Kedua, saya bisa membimbing
dan mengarahkan mahasiswa baru yang notabene masih polos. Ketiga, saya masih
bisa belajar ilmu agama dari para pengasuh ma'had. Selain saya aktif di ma'had,
saya juga mengajar privat atau menjadi tutor les di lembaga sandi privat. Saya
juga aktif di organisasi HMJ PBA sebagai sekretaris, LKP2M sebagai anggota, dan
INSANI (Ikatan Santri Alumni Al-Yasini) sebagai ketua serta PMII karena bagi
saya ilmu organisasi juga sangat penting melatih mental dan skill dalam
leadership.
Disaat sibuk-sibuknya mengerjakan tugas skripsi, ada
teman yang memberikan info beasiswa LPDP. Saya amati semua persyaratan yang
harus dipenuhi. Jika persyaratan tersebut dilihat secara sekilas memang agak
ribet dan complicated sekali, namun
kalau diamati secara mendetail dan dilist,
ternyata cuma beberapa persyaratan yang sangat jlimet berdasarkan pengalaman Scholarship
hunters yaitu persyaratan TOEFL atau IELTS. Saya menyadari betul kalau
kemampuan bahasa inggrisku sangat rendah sekali, nilai sertifikat PKPBI saja
dapat nilai 415, sedangkan untuk mengikuti kursus tidak sempat karena harus
menyelesaikan skripsi. Akhirnya saya download
panduan asli beasiswa LPDP, kulihat secata detail persyaratannya. Ternyata
untuk sertifikat bahasa tak harus TOEFL, boleh melampirkan TOAFL (Arabic) jika
dari jurusan bahasa arab. Saya merasa agak lega, TOEFL bisa diabaikan.
Saya mencari informasi terkait tempat tes TOAFL yang
diterima LPDP. Setelah mencari sekian lama, saya mendapatkan informasi tentang
sosialisasi beasiswa LPDP dari para awardee LPDP. Akhirnya kuikuti acara
tersebut. Teknis penyampaian beasiswa sangat memukau dan inspiratif sekali
sehingga membuatku semakin semangat mendaftar LPDP. Dalam acara itu ada sesi
per grup yaitu pengelompokkan peserta menjadi beberapa grup, masing grup
terdiri dari 15 orang sehingga lebih meningkatkan efisiensi informasi tentang
LPDP ditambah lagi saat sesi Tanya-jawab. Langsung saja saya melontarkan banyak
pertanyaan yang selama ini mengganjal dalam hati. Kebetulan awardee yang
menyampaikan adalah alumni LPDP dan satu jurusan pula dengan saya sehingga
semua pertanyaanku bisa terjawab salah satunya terkait tes TOAFL.
Alhasil semua
persyaratan sudah lengkap dan menunggu pengumuman tes administrasi sekaligus
jadwal tes subtansi jika lolos administrasi. Alhamdulillah saya dinyatakan
lolos persyaratan administrasi dan dapat jadwal tes subtansi LPDP yaitu
wawancara, Leaderless Group Discussion (LGD), dan Essay on the spot akan
dilaksanakan pada bulan Agustus dan mengenai rincian peserta dan lain
sebagainya akan diinfokan via email. Saya memilih tempat tes seleksi di jakarta
karena saya berencana setelah prosesi wisuda yaitu tanggal 13 Agustus 2015
untuk mengajar di kota Lebak Banten.
Saya sempat deg-degan menunggu jadwal lengkap tes seleksi
karena jadwal tes seleksi di jakarta 1 telah dilaksanakan pada 12-14 Agustus
2015 sedangkan saya memilih tempat seleksi dijakarta. Saya plototin layar
ponsel, berharap nama saya tidak tertera, untunglah nama ku tercantum di jadwal
jakarta 2 yang dilaksanakan pada 19-21 Agustus tepat di Sekolah Tinggi
Administrasi Negara (STAN) Bintaro Tangerang. Awalnya saya merasa minder saat
melihat para peserta seleksi karena melihat penampilan mereka yang begitu
necis, percaya diri, cerah kulitnya (dibandingkan diri saya, maklum arek ndeso)
yang sempat membuat nyaliku ciut. Namun saya mantapkan lagi dalam diri bahwa
saya harus yakin bahwa ada doa orangtua yang selalu mendokan. Sambil menunggu
giliran maju untuk tes, tak henti-hentinya bibirku komat kamit membaca sholawat
dan doa-doa yang pernah saya pelajari, saya percaya bahwa tidak ada yang bisa
merubah takdir kecuali Doa.
Ada pengalaman menarik ketika saya mengikuti tes LGD,
saya satu grup dengan artis Syafa Tsaya Kamila atau terkenal dengan panggilan
Tasya dan bisa berfoto bersama dengannya. Tak kalah mengejutkannya saat tes
wawancara, bahasa yang digunakan adalah bahasa arab dan Indonesia dengan
prosentase sekitar 70-30%. Saya tak menyangka jika saya akan diminta berbahasa
arab karena saya belum mendengan informasi ini sebelumnya. Alhamdulillah
walaupun tanpa persiapan praktek berbahasa arab, saya cukup lancar melahap
pertanyaan yang diajukan oleh reviewer, bahkan saya diminta untuk praktek
seakan-akan saya memaksa ibu saya agar saya diizinkan kuliah ke Luar Negeri
karena memang kampus yang saya saat pendaftaran adalah kampus dalam negeri dan
oleh penguji atau reviewer disarankan ke luar negeri dan setelah saya
menjelaskan panjang lebar tentang alasanku ambil kampus Dalam Negeri yaitu
karena orang tua khusunya Ibu tidak mengizinkan jika saya ambil kampus Luar
negeri dan para penguji memaklumi dan menyetujui bahkan salah satu penguji
menceritakan pengalamannya sama seperti yang saya alami.
Singkat cerita, saat pengumuman hasil seleksi, saya dinyatakan
lolos wawancara. Saya sempat bingung, kok cuma menyatakan seperti itu. Ternyata
jika lolos wawancara berarti dinyatakan telah resmi dinyatakan sebagai penerima
beasiswa LPDP. Alhamdulillah, berkat doa orangtua, keluarga, para kiai, guru,
dosen, dan teman-teman saya mendapatkan amanah untuk kuliah dengan beasiswa
LPDP yang sumber dananya dari kementerian Keuangan Republik Indonesia.
Ternyata kejutan belum berhenti disitu, saat saya bingung
ketika mendapatkan tawaran program pengayaan bahasa (PB) dari LPDP yaitu TOEFL
untuk yang mengambil kampus Dalam negeri dan IELTS untuk luar negeri. Akhirnya entah
kenapa saya tertarik untuk mengikuti program tersebut walaupun sebenarnya
kampus tujuan saya tidak mensyaratkan sertifikat TOEFL. Tak disangka setelah
beberapa hari saya join grup line PB, saya heran kenapa teman-teman grup sering
ngomongin IELTS, kok gak bahas TOEFL, lalu saya menanyakan perihal itu.
Ternyata grup itu memang untuk IELTS. Alhasil saya baru sadar jika saya
mendapatkan PB IELTS dan dijelaskan surat pengantar PB bahwa bagi yang
mendapatkan PB IELTS sedangkan saat pendaftaran mengambil kampus DN berarti
direkomendasikan untuk mengambil kampus LN.
Saya senang dan bingung karena
sejak awal ibu tidak mengizinkan ke LN, akhirnya saya mencoba meyakinkan beliau
dan disetujui dan saya memilih University of Malaya di Malaysia, Negara yang
pernah ingin saya kunjungi untuk Praktek Kerja Lapangan Integratif (PKLI),
namun saya dipindah ke Thailand, dan ternyata Allah mengabulkannya sebagai
Negara tempat saya menempuh studi magister. Ada juga yang unik, walaupun studi
S2 saya tidak jodoh dengan UIN Jakarta, ternyata saya tetap bisa belajar disana
dalam program PB IELTS selama 3 bulan dan juga merasakan aura belajar bahasa
inggris di ITB Bandung melalui program PB IELTS periode lanjutan.
Itulah sekelumit perjalanan hidup yang saya alami. Saya
baru sadar bahwa setiap impian yang tak sampai di masa lalu akan menjadi
kenyataan dimasa mendatang. Ternyata Allah subahnahu wa ta’ala hanya menundanya
saja. Mulai sejak itu saya yakin bahwa memiliki mimpi itu wajib karena Allah
pasti mengabulkannya diwaktu yang tepat sesuai dengan kebutuhan hamba-Nya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar