Minggu, 03 Desember 2017
Belajar di Negeri Jiran
"Saya ingin menulis". Mungkin kalimat inilah yang kerap menggaung di kalbu kecilku. ia seakan rindu akan untaian-untaian kata demi kata yang kemudian menjadi kalimat yang entah memotivasi atau tidak. Namun setidaknya pasti memotivasi diri ini.
Sungguh cukup lama saya tak merasakan otak ini menggerakkan tangan diatas keyboard dan menginstruksi mata untuk menatap tajam layar kaku. Seingat saya, terakhir kali saya aktif menulis di blog setahun lalu. dan baru kali ini saya bertekad untuk aktif menulis lagi.
Mungkin dengan tulisan ini, saya ingin berbagi pengalaman yang saya alami di negeri Jiran Malaysia, negara tempatku melanjutkan studi Master. ok, langsung saja.
Saya ingin cerita sebuah pengalaman belajar di negeri yang memiliki banyak kesamaan dengan Indonesia ini. Pertama saya akan cerita terkait jumlah matakuliah yang wajib saya ambil selama studi master 2 tahun. jJmlah matakuliah yang harus diambil tak banyak, hanya 5 matakuliah dengan bobot masing-masing 3 sks dengan rincian 2 matakuliah umum dan sisanya matakuliah yang berkaitan dengan spesialisasi jurusan. Akan tetapi jumlah sks untuk penulisan tesis sebanyak 40 sks. oleh karena itu kualitas penelitian yang paling ditekankan disini. Dan saya merasakan betapa sulitnya metodologi penulisan tesis di kampus University of Malaya ini.
Saat ini saya mamasuki semester 2.di semester 2 ini tak banyak matakuliah yang saya ambil hanya 1 matakuliah saja. namun saya mengambil matakuliah Audit yang sifatnya tidak wajib yakni Statistics for research in Education. sebenarnya saya bisa saja mengambil semua matakuliah yang jumlah 5 pada semester pertama sebagaimana anjuran Pensyarah (baca: Dosen), namun kata temen senior "lebih baik ambil 4 matakuliah saja nanti kelabakan dengan tugas-tugasnya", akhirnya saya mengiyakan saran tersebut.
Kedua, sistem pembelajaran disini tidak melulu dilaksakan didalam kelas, sedikitnya ada 3 kelas Online. artinya pembelajaran dan pengajaran dilakukan secara online melalui Spectrum yakni sebuah program yang disediakan oleh kampus. dalam spectrum ini, mahasiswa tidak hanya bisa mengikuti kelas Online, namun juga bisa melihat matakuliah, mengupload tugas-tugas, dan men-download silabus dan materi kuliah yang disediakanoleh pensyarah.
Ketiga, gaya mengajar pensyarah sangat fleksibel dan tidak strict dengan peraturan. Misalnya, tidak ada aturan jika mahasiswa terlambat masuk kelas maka dilarang mengikuti pekuliahan. Mahasiswa diberi kebebasan untuk masuk jam berapapun. saya sering melihat ada beberapa mahasiswa yang baru datang sebelum 30 menit perkuliahan selesai, padahal durasi perkuliahan 3 jam. Namun jangan dikira, dengan bebasnya aturan ini membuat mahasiswa malas dan sering terlambat. Beberapa mahasiswa yang terlambat tadi bukan karena malas tetapi karena mayoritas mereka masih memiliki tanggung jawab mengajar disekolah alias staus mereka masih cikgu aktif (baca: guru).
Ada beberapa pengalaman teman saya yang mengambil jurusan seni musik bercerita bahwa pensyarahnya mengizinkan dia pulang selama 3 minggu ke kampungnya di Medan karena dia menjadi bagian dari panitia festival. padahal dalam rentang waktu tersebut, dia mendapat jadwal presentasi, sehingga oleh pensyarahnya, jadwal tersebut diundur sampai dia kembali ke kampus. Luar biasa bukan? gaya mengajar Dosen tak menghalangi mahasiswa untuk terlibat aktiv dan berkontribusi dalam masyarakat secara nyata.
Keempat, Aturan dipatuhi. ya, setiap aturan disini senantiasa dipatuhi oleh para warga kampus hatta aturan sekecil apapun. Misalnya aturan dikantin yang menganjurkan untuk meletakkan piring, gelas, dan sisa makanan di tempat yang telah disediakan. Tak pernah saya melihat piring atau gelas yang sudah digunakan kecuali sudah berada ditempatnya.
Kelima, Perpusatakaan selalu ramai. kenapa hal ini bisa terjadi? karena selain koleksi buku, jurnal, artikel, dan koleksi lainnya yang sangat lengkap juga suasana dan desain perpustakaan yang sangat nyaman untuk belajar dan melepas lelah. ada ruang khusus yang kedap suara untuk belajar, ruang diskusi, ruang komputer, sofa-sofa empuk untuk tempat rehat dan merebahkan badan, tempat pengisian air minum gratis di setiap sudut ruangan, dan lain sebagainya. Sehingga pastilah yang namanya perpustakaan tak akan pernah sepi.
Itulah sekelumit tentang pengalaman yang bisa share pada kesempatan ini. Semoga bermanfaat!!!
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar