Kulihat matanya tajam. Penuh kekesalan. Sepertinya pertentangan batin telah menggelayut di pikirannya. Matanya tak berkedip. Mulutnya menutup rapat serupa gerbang istana di mata pemberontak.
"Pasti ada yang tidak beres nih, apa yang merela lakukan di masjid ini" tukasku dalam hati. Siang itu sinar matahari terasa sangat terik. Keringat tak terasa mengalir di dahi. Segera kuhampiri Toni.
"woy... ngelamun aja lho, Ton" tegurku sambil menepuk pundaknya dari belakang. "Ah kamu Rik ngangetin aja" ujarnya. Tak biasanya Toni duduk di teras masjid sambil memandangi sekelompok pemuda-pemudi yang saling berboncengan naik motor hendak berlalu.
"Apakah gerangan yang kau pikirkan, Ton" kucoba menenangkannya. Aku mengenal betul pribadi kawanku yang satu ini. Tak perlu diragukan lagi, apa yang menghinggap di benaknya pasti erat kaitannya dengan kebaikan umat.
Walaupun usianya masih muda, dia sangat rajin beribadah. Malam-malamnya senantiasa dilalui dengan qiyamul lail. Dia sosok pemuda yang memiliki hablum minallah dan hablum minannash yang seimbang.
"sedih ya, sob" ujarnya sambil mengelus-elus jenggotnya yang hanya beberapa helai saja. "Apa.... sedihhh? Sebentar lagi kan mau menikah? Masak sedih? Udah calonnya shalehah, primadona desa pula, gue juga mau kalo dijodohin sama dia" selorohku. "bukan sedih itu yang kumaksud sob, kalo urusan itu saya sudah mantap lahir batin, saya yakin dia adalah jodoh dunia akhiratku" jawabnya tenang. Saya hanya menggelengkan kepala mendengar ucapannya yang meneduhkan itu.
"Lalu apa?" tanyaku tak sabar.
"Sedih, melihat orang tak berinfaq usai masuk toilet masjid,
Di lain sisi kita tak pernah absen melihat orang mengulurkan lembaran rupiah di toilet umum usai buang hajat. Sedih, kini masjid menjadi tempat yang paling cocok melepaskan hajat pribadi disaat kantong kosong melompong. Sedih, tak semua masjid mendapat tunjangan setiap bulan dari pemerintah. Sedih ya, Masjid kalah dengan tempat wisata, taman kota. Tempat-tempat seperti itu yang sering mendapatkan anggaran dari pemerintah. maka tak heran jika banyak bermunculan para pencari sumbangan keliling mengatasnamakan masjid. Sungguh miris."jelasnya panjang.
Kutertegun mendengarkan paparannya yang menohok itu. memang pemuda yang murah senyum ini selalu blak-blakan mengungkapkan apa yang sedang terlintas dipikirannya.
"Coba kalau setiap orang sadar lalu mau mengisi kotak amal walau hanya dengan beberapa koin rupiah saja." sambungnya. Kulihat keningnya mengkerut. Pandangannya menerawang langit-langit masjid.
"Rombangan pemotor tadi gak ngisi ya, Ton?" tanyaku. Dia diam sejenak, tak menggubris pertanyaanku. Tampaknya dia enggan membicarakan tingkah mereka. "Padahal masjid kita ini berada di desa yang menjadi akses satu-satunya ke pantai Pesona, pantai terfavorit se-provinsi. Dan sering menjadi tempat persinggahan para traveler untuk shalat, buang hajat, mandi, atau sekadar melepas penat. Tapi kenapa perolehan infaq dimasjid ini tetap saja sama, tak ada kenaikan signifikan, tak ada perbedaan antara sebelum dan sesudah pantai itu terkenal seperti sekarang ini. Justru tagihan listrik terus membengkak setiap bulan. Kita harus cari cara supaya masjid kita ini tak lagi kekurangan dana" Saya manggut-manggut saja mendengarnya.
Memang masjid di desa kami selalu ramai disinggahi para pelancong. paling tidak 100 orang mampir setiap harinya. Apa lagi saat musim liburan tiba, lahan parkir sampai tak dapat menampung jumlah kendaraan yang didominasi oleh motor dan mobil pribadi. Namun anehnya kondisi keuangan masjid tetap saja tak bertambah secara berarti.
Tetiba pengurus masjid menghampiri kita. "kalian sedang ngapain? Sepertinya serius sekali perbincangannya?" selidiknya.
Terjadilah diskusi yang cukup serius yang kami lakukan dengan pak Sholeh. Akhirnya beberapa langkah konkrit dihasilkan dari mufakat kami demi terwujudnya masjid yang lebih baik. Diantaranya penempelan stiker persuasif yang menarik untuk gerakan berinfaq usai memakai kamar mandi masjid.
Menohok banget, Mas. Kadang mental gratis.an itu masih melekat pada diri #Istaghfir 😢
BalasHapusTerima kasih Mas tulisannya sangat mengingatkan saya 👍
Sama-sama mba'... Semoga kita termasuk orang-orang yang cinta masjid
HapusNice ideny mas...tpi endingnya dipoles dikit biar tambah greget mas...hehhe
BalasHapusKeep spirit... We are writter
Iya mas Rohmat, endingnya emang gak nendang... Waktunya mepet mau dibedah.... Hehehe... Kudu dipoles....
Hapus