Rabu, 19 Oktober 2016

Gus Dur; Sang Guru Bangsa Sepanjang Masa (1)

Masih tergambar jelas dalam ingatan. Kita isak tangis dan gema takbir jutaan orang sebagai tanda penghormatan turut mengiringi kepulangan bapak pluralisme sejati ke haribaan sang pencipta.
Peristiwa tersebut terjadi 7 tahun silam tepatnya pada tanggal 30 Desember 2009. Mantan Presiden Republik Indonesia periode 1999-2001
tersebut tak lagi hadir di tengah-tengah kita, namun jasa-jasa- dan pemikirannya
selalu dikenang sepanjang zaman.

Kontroversial dan unik, namun selalu relevan dengan kata kreatif apabila kita
berbicara mengenai karakter seorang Gus Dur. Cara pandang dan sosok beliau
yang belum ada duanya di Indonesia, mungkin telah menjadikannya sebagai
manusia paling heboh. Entah beliau memilih menjadi berbeda atau tidak nyaman menjadi biasa, yang pasti
beliau telah banyak memberi inspirasi bagi pemikiran yang lebih kreatif untuk
kemajuan bangsa.

Gus Dur yang dibesarkan dalam keluarga intelektual religius Islam (NU) telah
banyak mengenyam pengalaman dari studi keIslamannya. Beliau pernah
bergaul dengan tokoh-tokoh
Muhammadiyah Yogyakarta ketika masih bersekolah di Krapyak, menamatkan
kuliah di Universitas Al Azhar Mesir, kemudian ke Universitas Baghdad Iraq,
dan terakhir di Universitas McGill Kanada untuk pengkajian Islam. Pengalaman organisasi dalam tubuh NU, pergaulannya yang sangat luas dan kemampuannya untuk dapat berpikir unik dan cenderung efektif telah
menempatkan beliau sebagai tokoh yang dihormati.

Mendiskusikan sosok seorang Gus Dur memang tak ada habisnya untuk
dikenang dan diteladani sepak terjangnya. K.H. Abdurrahman Wahid, nama lengkapnya adalah seorang
tokoh nasionalis yang humanis dan humoris. Puluhan gelar telah
disandangnya, baik dari dalam negeri atau mancanegara. Kiprahnya dalam kancah perpolitikan membawa perubahan yang sangat berarti dalam
kemajuan bangsa ini.
Bertepatan dengan momentum 7 Tahun
wafatnya seseorang yang memiliki julukan ad-Dakhil atau sang penakluk ini, banyak memori yang perlu dikenang dan diteladani oleh kita sebagai penerus tonggak perjuangan bangsa tercinta ini.

Ada beberapa suri teladan utama dari seorang gus dur yang patut kita teladani dan aplikasikan dalam mengarungi kehidupan ini, yakni: Menghargai setiap perbedaan Ketika jaman pra reformasi, kebebasan berekspresi dalam kemajemukan adat, tradisi, ras, etnis, agama, agak terkekang pelaksanaannya, maka pada era GusDur semua itu difasilitasi dengan mudah.

Beliau selalu mengingatkan pentingnya saling menghargai dan menghormati suasana perbedaan pruralisme (kemajemukan) yang terdapat dalam lingkungan pergaulan bangsa Sebagaimana spirit semboyan bangsa Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap dalam satu kesatuan bangsa.

Tidak ada kata menyerah pada keadaan Teladan semangat GusDur, turut berpartisipasi aktif dalam kancah dunia politik sampai mengantarkannya menjadi kepala negara, ditengah keterbatasan fisik yang dialaminya, merupakan rekor spesial dalam sejarah bangsa. Berarti, segala sesuatunya mungkin saja terjadi, bukan karena faktor kebetulan. Semuanya
membutuhkan semangat, kerja keras, pantang mundur, untuk tidak menyerah pada keadaan dan tidak menyalahkan keterbatasan.

2 komentar: