Jumat, 21 Oktober 2016

Kompensasi Sebuah Prestasi

Tahukah kamu dibalik prestasimu menyisakan orang-orang yang terenggut impiannya? Mungkin kita masih bertanya-tanya apa maksud pernyataan tersebut. Saya pun sempat bingung saat pertama kali mendengar itu. Saya masih ingat pernyataan itu disampaikan oleh Tutor materi IELTS saat mengikuti program pengayaan bahasa (PB) di ITB Bandung Mei lalu. Pernyataan itu dikutip dari sebuah kisah nyata penuh inspirasi. Saya lupa nama Tutor tersebut. Kurang lebih awal mula kisahnya seperti yang akan dipaparkan berikut ini.

Dulu ada mahasiswa ITB yang berasal dari Sragen Jawa Tengah namanya Zaky. Dia tak percaya bisa kuliah di kampus yang telah menelorkan banyak ahli dibidang teknologi ini. Selama berkuliah, dia tercatat sebagai mahasiswa yang memiliki nilai akademis yang sangat bagus. Saat semester 1 dia memperoleh IPK sempurna 4.00. Dia juga sempat mendapat beasiswa study Oregon State University dari pemerintah Amerika Serikat selama 2 bulan pada tahun 2008.

Selain brilian di bidang akademis, dia sering menjuarai berbagai kompetisi tingkat  nasional dan aktif diberbagai organisasi kemahasiswaan ITB.

Pencapaian-pencapaian prestasi tersebut membuat kawan-kawan kuliahnya kagum dan heran akan cara belajarnya. Mengingat selain aktif dalam kegiatan akademik, dia juga tercatat sebagai mahasiswa yang aktif di berbagai organisasi.

Sebenarnya dia juga heran kenapa bisa seperti itu karena gaya belajarnya tak jauh berbeda dengan yang lain. Namun ada sedikit perbedaan dalam aspek cara pandang terhadap orang lain  yaitu dia selalu menganggap atau menyangka kawan-kawannya selalu belajar tiap hari, rajin diskusi, dan aktif organisasi. Sehingga setiap hari dia belajar dan selalu mengevaluasi setiap matakuliah yang telah dipejarinya meski tidak ada tugas. Segala bentuk diskusi dan seminar akademik diikutinya. Sehingga tak heran prestasi akademiknya membuat kawan-kawannya menggelengkan kepala.

Namun akhirnya dia tahu bahwa kebanyakan kawan-kawannya tak melakukan jadwal belajar yang padat seperti yang dia sangkakan.

Menjelang kelulusan kampus banyak kawan-kawannya yang menanyakan apa rencananya setelah lulus. Ada kawannya yang nyeletuk, "Dibalik prestasi-prestasi yang telah kau raih menyisakan orang-orang yang terenggut impiannya. Ketika kau berhasil menjadi mahasiswa ITB berarti kau telah mengalahkan banyak orang yang ingin menjadi mahasiswa sepertimu. Ketika kau menjuarai berbagai kompetisi berarti kau telah mengalahkan banyak peserta lain. Pernahkah kau memikirkan perasaan mereka yang gagal meraih impiannya karena kamu yang meraih impian itu. Apa kontribusimu sebagai kompensasi rasa kekecewaan dari ribuan orang yang telah kau kalahkan?".

Dari pertanyaan itu dia tergugah hatinya untuk menciptakan banyak  lapangan pekerjaan untuk orang lain bukan malah mencari pekerjaan. Dia mendirikan serusahaan E-Commerce Indonesia
berbasis marketplace C2C yang berfokus pada
pemberdayaan Usaha Kecil Menengah (UKM).

Semoga kita pun bisa tergugah untuk senantiasa istiqamah menebarkan kebaikan dan manfaat kepada orang lain, tak peduli sekecil apapun itu. Dan itu dimulai dari lingkungan sekitar kita.

#OneDayOnePost
#15thDay
#Batch3
#KeepFighting

4 komentar: